
Daniar dan Katya menerobos masuk ke kamar Andra ketika mendengar bunyi benda jatuh di kamar sang putra. Mereka sengaja mengikuti Rea karena Alex melapor, keduanya sedang bertengkar. Jika Katya langsung masuk ke kamar mandi. Maka Daniar seketika memarahi Andra.
Mendengar Daniar yang lebih membela Rea, Andra jelas tidak terima. Tapi perselisihan mereka terjeda saat Katya memapah Rea yang terlihat lemah, dengan wajah pucat. Satu perintah dari Daniar terpaksa Andra turuti. Memanggil Mark.
Andra sedikit merasa bersalah melihat keadaan Rea. Tapi melihat Rea yang terus menahan mual membuat pria itu jengkel dan marah. Ingatan soal Rea hamil anak Arka kembali menyulut emosi Andra.
Dua puluh menit kemudian, Mark datang bersama seorang dokter perempuan. Benar bukan dugaan Andra. Rea hamil, dan dia yakin itu bukan anaknya. Entah bagaimana pikiran gila itu tiba-tiba muncul di kepala Andra.
Dokter perempuan itu memeriksa Rea sebentar. Hingga satu kalimat dari dokter itu membuat emosi Andra mencapai puncaknya.
"Kayaknya dia minta dikenalin ke papanya."
Terdengar bunyi muntah tertahan. Rea berusaha menekan rasa mualnya.
"Aku bukan papanya! Cari sana pria yang bernama Arka!"
Rea mendelik mendengar perkataan Andra. Sang suami benar-benar menuduh dirinya selingkuh dengan Arka. Astaga, bahkan sekarang Andra juga tidak mau mengakui anaknya sendiri.
"Maksudmu apa bicara begitu?" Daniar yang bertanya. Sementara semua orang mematung mendengar perkataan Andra. Rea sendiri mulai bekaca-kaca.
"Dia hamil, dan itu bukan anakku. Aku dan dia sudah lama tidak bercinta."
Mark seketika menepuk jidatnya. Otak Andra konslet sepertinya. Apa dia pikir hamil seperti beli gorengan. Langsung jadi.
"Kamu habis terbentur kemarin kok tambah slewah sih, An. Apa perlu discan ulang otakmu?"
Andra melotot mendengar ucapan Mark. Pria itu tambah kesal saja. Sesaat dia melirik Rea yang tampak terluka oleh perkataannya.
"Sudahlah Ma, Rea pergi aja. Kak Andra sudah berubah."
Wanita itu turun dari ranjangnya. Tapi Daniar mencegahnya. Meminta Rea tetap di tempatnya.
"Kalau ada yang harus pergi itu kamu, An. Sembarangan nuduh cucu papa, anak pria lain."
Andra terkejut mendengar ucapan sang papa. "Pa, yang anak Papa itu dia atau aku sih?"
Semua orang mengulum senyum mendengar protes Andra. Andra benar-benar tidak sadar kalau tuduhaannya pada Rea salah besar. Semua orang tahu benar bagaimana Rea. Wanita itu tidak pernah aneh-aneh.
"Katakan Dok, berapa umur kandungan Rea?"
__ADS_1
"Jalan tiga bulan, Tuan Sky."
"Sekarang ingat apa empat bulan lalu kalian sering melakukannya?"
Empat bulan lalu? Pikiran Andra seperti kembali ke masa lalu. Waktu itu keduanya baru saja saling menerima satu sama lain. Bisa dikatakan kalau setiap malam, kecuali Rea berhalangan, pria itu akan menabur benih di rahim Rea. Andra seketika menggaruk kepalanya. Dia baru ingat kalau hamil tidaklah instan. Ada proses dan waktu yang diperlukan untuk mengetahui kehamilan seorang wanita.
"Pintermu baru balik. Kamu pikir hamil instan. Sehari jadi?"
Ledek Mark. Setelah melihat wajah bersalah Andra. Pria itu seketika menatap Rea yang berada dalam pelukan Katya. Sang istri terisak lirih.
"Re...Baby...."
"Haisshhh menyebalkan!"
Mark mengumpat, diikuti Daniar yang melengos mendengar kemarahan Andra menguap entah kemana. Semua orang lantas keluar dari sana. Memberi waktu pada Andra dan Rea untuk menyelesaikan masalah mereka.
Ada bahagia membuncah di hati Andra, setelah dia tahu Rea mengandung anaknya. Tapi ada rasa bersalah yang sangat besar di dada Andra. Dia sudah menuduh Rea berselingkuh, bahkan menolak mengakui anaknya sendiri.
"Maaf."
Tidak ada kata lain yang sanggup dan mampu Andra pikirkan selain kata itu. Dia mendekat ke arah Rea yang mengusap air matanya kasar. Sakit rasanya dituduh selingkuh dan tidak diakui anaknya.
Judes Rea. Sementara Andra langsung kelabakan mendengar pengusiran sang istri.
"Ampuun Re, Baby.... aku salah. Aku cemburu. Aku tidak bisa berpikir jernih. Tolong maafin aku."
Mohon Andra di sisi Rea. Pria itu menekuk dua kakinya, hingga tingginya sejajar dengan Rea. Memegang lengan Rea, memasang wajah memelas. Berharap kalau Rea mau memaafkan kebodohannya. Sementara Rea bergeming, tidak ingin menanggapi permintaan maaf Andra. Dia masih kesal dengan tuduhan Andra.
Beberapa waktu berlalu, dan Andra terus memohon pada Rea. Rea mulai jengah, emosinya kembali merangkak naik. Entah kenapa akhir-akhir ini, dia sering merasa kesal dan marah tiba-tiba. Wanita itu baru akan bersuara, ketika perutnya terasa mual.
Menyingkirkan tubuh Andra, Rea berlari masuk ke kamar mandi. Lantas memuntahkan semua isi perutnya di wastafel. Tubuh Rea kembali lemas. Padahal tadi sudah mendingan. Wajah wanita itu juga pucat. Sementara di sampingnya, Andra berdiri menatap cemas pada Rea sembari memijat tengkuk sang istri.
Nafas Rea terengah, setelah membilas mulut dengan air. Wanita itu menatap judes pada Andra.
"Ini gara-gara kamu. Kemarin dia diam aja. Sekarang rewel...huwekkk...." Rea muntah kembali
Andra seketika membulatkan mata mendengar tuduhan absurd sang istri. Tapi memang betul sih semua salahnya. Rea tidak mungkin hamil kalau bukan karena kecebongnya. Astaga, kenapa otaknya mendadak kacau begini.
"Maaf deh maaf. Lagian kemarin dia diem aja. Makanya aku mana tahu kamu hamil. Kalian juga gak kasih tahu aku soal kehamilanmu. Ya aku langsung nethink-lah begitu tahu kamu hamil."
__ADS_1
"Gimana mau kasih tahu kamu. Kamunya aja masih uring-uringan gitu."
Andra langsung diam. Dia baru sadar kalau tindakannya selama dia sakit sangat keterlaluan.
"Maaf."
Lirih Andra. Pria itu membantu sang istri naik ke ranjangnya. "Maafin aku ya, please. Aku salah. Aku gak tahu ada dia. Baby...aku rela deh ngelakuin apa aja. Asal kamu maafin aku."
Rea seketika melihat tengil ke arah sang suami. Melihat tatapan sang istri, alarm waspada di otak Andra menyala seketika. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi padanya.
"Beneran...apapun?"
Andra menelan salivanya susah payah. Kata "apapun" terlanjur terucap dari bibirnya. Dan Andra tahu kalau Rea akan memanfaatkan hal itu sebaik mungkin.
"Apapun...ya apapun. Aku akan melakukan apapun asal kamu memaafkan aku."
Seringai Rea terukir samar di wajah wanita itu. Andra memaki dalam hati, atas kebodohan lidahnya saat berucap. Detik berikutnya, pria itu menarik nafasnya dalam. Bersiap menghadapi keinginan sang istri yang dipastikan absurd bin aneh plus menyiksa.
*
Sementara itu, tangan Arka bergetar saat membaca selembar surat yang baru saja dia keluarkan dari amplop coklat tebal. Berulangkali Arka membaca surat itu, dan berulangkali pula hasilnya tetap sama.
"Dia adalah...."
Arka seharusnya tidak terlalu terkejut. Tapi tidak tahu kenapa, pria itu justru berharap hasilnya tidak seperti itu. Satu sisi dirinya jelas bahagia. Satu sisinya malah nelangsa.
"Lalu bagaimana ini, Bos?"
Suara asisten Arka membuyarkan lamunannya. Sejenak pria itu terdiam. Hingga satu perintah terucap dari bibir pria itu. Dan asistennya langsung keluar dari sana. Meninggalkan Arka yang kembali berkutat dengan surat yang ada di tangannya.
"Baik, karena hasilnya seperti ini. Maka aku harus melindungimu. Satu-satunya yang tersisa untukku di dunia ini."
Satu tangan memegang surat dengan kop rumah sakit swasta ternama, dengan Tes DNA, sebagai subjeknya. Di tangan kanannya, lebih tepatnya ponselnya. Terpampang foto seorang wanita, dengan senyum manis yang beberapa waktu sempat menghipnotis Arka. Hingga pria itu berniat memilikinya.
Tapi setelah kebenaran terungkap. Dia memutuskan untuk melindungi wanita itu sampai akhir. Sebab dia tahu, para musuhnya akan mengincar wanita itu.
***
Up lagi readers, jangan lupa ritual jempolnya.
__ADS_1