Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Pelukan


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Air mata Rea mulai mengalir. Dia tidak tidak sanggup melawan Janson yang ingin menyentuh tubuhnya. Hati dan pikiran sinkron ingin melawan tapi tubuhnya menolak mentah-mentah. Dia baru sampai berciuman dengan Andra, tidak lebih. Maka dari itu, ketika Janson mulai menciumi lehernya, tubuh Rea langsung menegang.


Di depan sana, Clara tersenyum puas. Melihat wajah Rea yang terlihat putus asa. Sumpah serapah seketika terdengar dari bibir Clara.


"Sekarang rasakan bagaimana hancurnya dirimu saat kehormatanmu direnggut paksa."


Tawa Clara bergaung di gudang tua itu.


"Aku mohon jangan lakukan ini."


"Kau memintaku berhenti berhenti? Apa kau tidak sadar kalau sejak tadi bibirmu terus mendessah menikmati sentuhanku."


Srreettt!


Janson merobek kemeja Rea, hingga tubuh Rea hanya terbalut tank top hitamnya. Mata Janson melebar, melihat pemandangan menggoda di depannya. Sekilas pikiran masuk ke benak Janson. Bagaimana bisa Andra menahan diri untuk tidak menyentuh tubuh seseksi ini.


Rea tentu terkejut ketika Janson merobek pakaiannya. Gadis itu mencoba menghindar, tapi Janson lebih dulu menindih tubuhnya. Mulai mencumbu lehernya.


Rea menangis semakin kencang. Dia terus berontak, meski tubuhnya terasa sakit. Tidak adakah yang menolongku. Tolong aku. Suara hati Rea menjerit. Dia ingin lari dari sana. Dia ingin pergi dari tempat ini. Dia tidak mau berakhir di tangan Janson.


Tubuh Rea mulai melemas, efek dari obat yang kini menguasai tubuhnya. Janson hampir melepaskan tank top Rea ketika dia mendengar suara berteriak marah di belakangnya. Tak berapa lama, tubuh Janson sudah berpindah dari atas tubuhnya, diiringi bunyi berdebam, karena tubuh Janson dibanting oleh pria itu.


Rea langsung mendudukkan dirinya. Beringsut menjauh dari sana. Gadis itu memeluk lututnya. Memejamkan mata, berusaha menguasai diri. Menahan efek obat sialan yang masuk ke tubuhnya. Wajahnya memerah, tubuhnya menegang dengan rahang mengatup rapat.


Di depan sana samar-samar dia melihat, dua pria saling pukul. Saling hajar satu sama lain. Suara teriakan penuh kemarahan, makian, ringisan menjadi satu di telinga Rea. Membuat telinga Rea terasa berdengung.


Aarrgghhhh,


Rea meringis ketika merasakan rambutnya dijambak kuat.


"Enak saja kau bisa selamat!"


Itu ulah Clara. Gadis itu menarik rambut panjang Rea. Menamparnya berulang kali. Hingga bibir Rea berdarah. Rea tidak melawan, dia akan menggunakan rasa sakit yang diberikan Clara untuk mengalihkan otaknya dari hasrat yang membara dalam dirinya.


"Jangan menyentuhnya!"


Satu teriakan dan tubuh Clara langsung terbanting ke arah kiri. Suara itu mendekat ke arah Rea.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Bapak..."


Rea menangis melihat Bradley yang berjongkok di hadapannya. Ingin sekali Rea masuk ke pelukan Brad. Tapi gadis itu memilih mundur. Dia tidak mau Brad menyentuhnya.


"Pergi! Jangan dekati saya!"


Rea coba menghindar. Sementara itu Janson bisa bangun lagi setelah dihajar oleh sang adik. Pria itu berang dengan ulah Brad yang menggagalkan rencananya.


"Kalau aku tidak bisa menikmati tubuhnya. Maka dia lebih baik dihabisi saja."

__ADS_1


Pria itu mengambil pisau kecil dari pinggangnya. Menendang Brad agar menyingkir. Detik berikutnya Rea menjerit ketika tusukan Janson merobek lengannya. Brad jelas terkejut. Pria itu menubruk tubuh Janson.


Tanpa disangka, Janson malah menusuk perut Bradley. Kelopak mata Bradley melebar. Dia tidak percaya kalau kakaknya tega melukai dirinya.


"Akan kulenyapkan siapapun yang menghalangi rencanaku. Bahkan jika itu kau. Adikku sendiri."


Janson menekan kuat pisau yang dia tusukkan di perut Brad. Bersamaan dengan deru mobil yang masuk ke gudang itu. Clara langsung melarikan diri setelah ikut melukai Rea.


Tubuh Bradley langsung ambruk dengan darah mengalir deras dari luka di perutnya.


"Pak....Bapak tidak apa-apa?"


Rea menyeret tubuhnya mendekat ke arah Bradley. Lengan Rea juga mengeluarkan cairan merah tanpa henti.


"Re.....!"


Andra langsung menghampiri Rea yang langsung memundurkan dirimu. Tak lama, Andra pun meraung ketika merasakan tusukan dipunggungnya. Pria itupun tersungkur di samping Brad yang nyaris kehilangan kesadaran dirinya.


Suara mobil lain yang datang membuat Janson langsung kabur dari sana. Andra meringis menahan sakit. Sedang Rea kembali memeluk tubuhnya sendiri. Hasrat itu semakin menyala saat melihat Andra di depan matanya. Sementara Brad sudah tidak sadarkan diri.


*


*


Andra berlari masuk ke ruang tempat Rea diperiksa. Seorang dokter baru selesai membersihkan luka di punggungnya. Belum sempat dibalut. Tapi Alex sudah menerobos masuk ke ruangan Andra.


Di ruangan Rea, tampak Mark yang terlihat frustrasi. Rea menolak di dekati. Tubuhnya menggigil seperti orang demam. Tapi dia tidak demam.


"Ada apa dengannya?"


Andra bertanya dengan wajah cemas. Dia tidak peduli punggungnya yang berdarah lagi.


"Aku pikir traumanya kambuh."


Andra mencoba mendekati Rea, tapi gadis itu semakin memojokkan diri. Benar-benar tidak ingin didekati. Andra menggelengkan kepalanya. Dia bahkan sudah mengajak Rea bicara tapi gadis itu hanya menyahut lirih, "Jangan mendekat."


Hingga seorang perawat masuk dengan nafas tersengal, lantas membisikkan sesuatu kepada Mark. Mata Mark membulat sempurna.


"Janson brengsek!"


Mark kemudian minta obat untuk menurunkan reaksi obat yang diminum Rea.


"Ada apa?"


"Si brengsek itu memberikan afrodisiak pada Rea."


Andra mendelik mendengar perkataan Mark.


"Dia pasti sedang mencoba hasratnya sendiri. Hebat...dia menggunakan sakit di lengannya untuk mengalihkan pikirannya."


"Lalu sekarang bagaimana?"


Mark memberi kode ketika obat yang dia minta sudah datang. Pria itu langsung jarum suntik. Memasukkan obatnya.

__ADS_1


"Tahan dia. Bagaimanapun dia harus mendapatkan penawarnya kecuali kau mau menidurinya."


Andra menendang kaki Mark.


"Mau, tapi tidak sekarang."


Dua pria itu mendekati Rea. Dua perawat berjaga di dekat pintu. Melihat Andra dan Mark mendekat. Wajah Rea jelas ketakutan.


"Re...kita cuma mau bantu kamu. Biar efek obatnya hilang. Oke?"


Andra mendekat. Rea semakin menyudutkan tubuhnya. Andra menghela nafasnya.


"Dia harus dipaksa."


"Terserah. Tunangan elu ini."


Cuek Mark. Andra dengan cepat menarik tubuh Rea dari sudut ruangan. Membawanya ke tengah ruang agar Mark lebih leluasa bergerak. Merasakan sentuhan Andra, tubuh Rea bereaksi. Dan Andra paham akan hal itu.


Mark dengan cepat menyuntikan penawar afrodisiak melalui lengan Rea. Dengan bantuan dua perawat yang menahan kedua tangan Rea. Di saat bersamaan, Rea langsung menciumi leher Andra. Membuat pria itu gelagapan. Sementara Mark terkekeh melihat wajah merah Andra.


"Selamat menikmati harimu. Akan kutinggalkan kalian berdua."


Mark hampir tertawa saat keluar dari ruangan itu. Mengabaikan protes Andra. Mark tidak punya banyak waktu. Setidaknya Rea sudah bersama orang yang tepat. Kalaupun terjadi apa-apa, paling pol akan ada nikah dadakan. Mark terkikik sembari masuk ke ruang operasi.


"Re...Re...berhenti."


Andra jelas kewalahan menghadapi serangan Rea yang dengan liar menciumi leher pria itu. Sebagai pria normal, Andra tentu terpancing. Terlebih Rea satu-satunya wanita yang Andra inginkan dalam hidupnya.


"Obatnya akan bereaksi dalam 15 menit kedepan. Jadi cobalah menahannya selama itu."


Perkataan Mark membuat Andra frustrasi. Lima belas menit waktu yang cukup lama. Dia bisa melakukan apa pun dalam waktu itu.


"Aduuuuhhh."


Andra meringis ketika punggungnya yang terluka mengenai kasur pasien, saat Rea mendorongnya jatuh ke atas bed pasien. Tanpa ragu, Rea langsung naik ke atas tubuh Andra. Mencium bibir pria itu dengan kasar. Tidak sabaran. Sesekali terdengar geraman lirih di sela pagutan Rea.


Gadis itu tengah menahan puncak gairahnya. Andra dengan cepat membalikkan posisinya. Dia pikir bisa membantu Rea mendapatkan puncaknya tanpa menyentuh area sensitifnya.


Perlahan, pria itu mulai mencumbu tubuh Rea, hingga gadis itu mengerang lirih. Merasakan nikmat yang mulai mengalir ditubuhnya.


Sesuai dugaan Andra, ketika Andra mulai menciumi dada Rea, gadis itu melenguh panjang. Tubuhnya menegang. Dengan dua kaki Rea yang mengatup rapat.


"Sudah?"


Andra bertanya ketika Rea membuka matanya. Memandang Andra dengan mata berkaca-kaca. Selanjutnya tangis Rea pecah dalam pelukan pria itu.


"Sudah...tidak apa-apa. Semua sudah berlalu. Kamu aman sekarang."


Andra mendekap erat tubuh Rea. Lengan Rea terluka dengan bekas darah yang sudah mengering. Begitupun luka Andra. Rea menangis tersedu, sedang Andra beberapa kali mencium puncak kepala Rea. Menenangkan. Hingga tak berapa lama, gadis itu tertidur dalam pelukan nyaman Andra.


****


Jangan lupa ritual jempolnya ya...ditunggu..😘😘

__ADS_1


__ADS_2