Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Pertunangan


__ADS_3

Hari pertunangan Andra.


"Ma, kenapa Rea harus perawatan salon. Kan Rea cuma tamu," tolak Rea ketika sang mama mengajaknya nyalon dari pagi buta. Semua perawatan salon komplit diambil oleh Berta.


Sang mama beralasan agar Rea terlihat cantik. Padahal kalau boleh, Rea tidak mau hadir di sana. Menyakitkan hati saja, umpat Rea dalam hati.


"Kamu harus jadi yang tercantik malam ini," seloroh Berta antusias. Yang tunangan siapa, yang dipermak habis-habisan siapa. Rea hanya bisa menggerutu dalam diam. Meski pada akhirnya, gadis itu tertidur ketika sesi pijat refleksi tengah berlangsung.


Berta menepuk dahinya, mendapat laporan kalau Rea malah tidur. "Ya sudah biarkan saja. Toh acaranya masih nanti malam." Berta melirik jam tangannya. Masih jam 2. Dia masih ada waktu sampai jam delapan.


Dalam tidurnya, Rea bermimpi. Andra mendatanginya, mencium keningnya lantas mengatakan kalau pria itu mencintai dirinya. Rea seketika tersentak dari tidurnya. "Aduuhhh otak, kalau ngehaluuu jangan ketinggian dong. Tunangan orang itu," omel Rea sendiri.


Padahal kenyataannya, Andra memang datang. Pria itu ingin merapikan sedikit potongan rambutnya. Melihat Berta di sana, pria itu menduga kalau Rea juga ada di sana. Dan benar saja, Andra mengulum senyumnya, saat melihat Rea tidur pulas dengan posisi tengkurap. "Sepertinya kamu suka tidur dengan posisi itu ya," gumam Andra. Pria itu mendekat, lantas mencium kening Rea. Sekaligus berbisik. "Aku mencintaimu."


Satu kalimat dari Andra yang membuat Rea terbengong. Bahkan ketika dia di make up, dia sama sekali tidak protes. Gadis itu baru protes ketika Berta dan Gina menyuruhnya berganti baju. "Kenapa pakai baju ini. Ini kan gaun tunangannya Kak Andra?" tanya Rea curiga.


"Mana ada. Warnanya saja yang sama," Gina menjawab santai. Rea mengerutkan dahinya. Walau pada akhirnya gadis itu menurut juga. Memakai gaun pilihannya sendiri.Gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin. "Cantik." Rea memuji dirinya sendiri.


"Sneakers atau heels?" Gina memberikan dua pilihan pada Rea. "Lama tidak acaranya?" Rea bertanya. Setelah sang kakak menjawab sekitar satu jam, Rea memilih heels yang lagi-lagi dia sendiri seperti pernah mencobanya. Satu set perhiasan dengan batu safir sebagai berliannya kini sudah menempel di tubuh Rea.


"Kak Gina, memang tunangannya Kak Andra sudah datang?" kepo Rea. "Sudah. Kenapa? Penasaran?" goda Gina.


"Dia cantik. Tapi bagi Kakak, adik Kakaklah yang tercantik." Gina memeluk tubuh Rea sembari mencium sayang pipi sang adik. Rea tersenyum lebar mendengar perkataan Gina. "Kakak buat aku GeeR deh," kata Rea sembari memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Perlu waktu dua puluh menit perjalanan ke venue pertunangan Andra. Sebuah villa di pinggiran kota menjadi tujuan mereka. Baik Andra dan Matt sepakat kalau pertunangan ini masih dirahasiakan dari publik. Hanya teman terdekat yang diundang ke pesta kecil itu. Meski begitu bisa dipastikan kalau akan ada kehebohan di sana. Mengingat semua teman Andra adalah biangnya rusuh.



Kredit Pinterest.com


Mata Rea membulat melihat betapa mewahnya villa itu. "Punya Andra," bisik Gina. Rea semakin tidak percaya mendengar info dari kakaknya. Ketika mereka masuk ke dalam. Suasana sudah ramai oleh celotehan teman-teman mereka.


Melihat Rea datang. Mark langsung menyambut gadis itu. Karena kali ini, dialah yang akan mengantarkan Rea pada Andra. "Cantik sekali," puji Mark.


Wajah Rea memerah mendengar pujian Mark. Rea memang terlihat cantik dengan gaun pink lengan panjang transparan. Gaun itu pun panjang sampai mata kaki. Mark mulai membawa Rea menuju sebuah panggung kecil. Di mana secara mengejutkan, Andra sudah berada di sana sembari tersenyum. "Tunangannya Kak Andra mana?" tanya Rea.


"Ada," jawab Mark singkat, sembari mengulum senyumnya. "Habis ini, gue jamin ni anak bakalan ngamuk," batin Mark. Rea tipe tidak suka kebohongan. Meski menyakitkan tapi dia lebih suka kejujuran. Di depan sana, Andra tak berhenti mengulas senyumnya. Di belakang Andra berdiri dua orang tuanya bersama.....papa dan mamanya.


"Kak Rana mana?" tanya Rea polos. Namun tidak ada yang menanggapi.


Kini semua orang sudah berdiri, seolah menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga akhirnya Andra membuka suaranya. "Aku tidak akan berbasa basi, karena aku memang tidak suka basa basi. Malam ini aku ingin mengumumkan pertunanganku dengan....."


Andra berjalan ke arah Rea yang malah sibuk memperhatikan kemewahan villa milik Andra. "Andrea Kirana Aherne...."pria itu berucap di hadapan Rea. Ha? Rea melongo tidak percaya.


"Jangan ngaco kamu! Tunanganmu Rana bukan aku!" tolak Rea. Semua langsung mengulum senyumnya. Mereka sudah mengira kalau kekacauan ini akan terjadi. Ide Andra untuk mengikat Rea diam-diam akan membuat pria itu berada dalam masalah. Rea yang sekarang berbeda. Dia berani, kepribadiannya berubah setelah berbagai kursus yang dia terima. Meski keberanian Rea masih dalam konteks benar.


"Rana ya kamu, Sayang," Katya yang menjawab. Wanita itu maju ke depan Rea. Andra benar-benar pintar menjerat Rea. Gadis itu tidak akan berani melawan orang tuanya.

__ADS_1


"Jika kamu menolak karena Andra yang meminta. Maka kali ini Tante yang meminta. Mau ya bertunangan dengan Andra," pinta Katya lembut. Rea jelas tidak bisa menolak. Gadis itu menatap semua yang hadir di sana. Semua seolah tidak terkejut dengan kejadian. Hingga satu kesimpulan masuk ke kepala Rea. Mereka sudah merencanakan semua ini dari awal. Mereka semua tahu ini kecuali dirinya.


Rea seketika merasa dikerjai oleh semua orang. Dalam kemarahan terpendam itu, tanpa sadar Katya sudah memasangkan sebentuk cincin yang kemudian Rea ingat.....itu cincin pilihannya.


"Baru kali ini Andra mau serius dengan seorang gadis. Dan Tante bersyukur itu adalah kamu, adiknya Gina." Katya tersenyum penuh arti pada Matt dan Berta. "Mereka benar-benar berniat besanan dengan kita, Ma" kesal Matt.


Suara tepuk tangan terdengar kala Berta selesai menyematkan cincin di jari Andra. "Terima kasih, Ma."


"Belum sah, Andra," bentak Matt. "Ye nyicil memang tidak boleh ya," jawab Andra. Matt mendelik ke arah Andra, si mantu otewe. "Gak ada acara cicil mencicil, itu rule nomor satu. Kamu langgar, pertunangan ini bubar!" tegas Matt lagi.


Dalam pada itu, kepala Rea berdenyut nyeri. Jadi mereka semua merencanakan semua ini di belakangnya. Mereka membohonginya. Rasa marah seketika menyeruak di dada Rea. Gadis cantik itu bahkan tidak membalas ketika mereka semua memberi selamat padanya. Bahkan pelukan mereka tidak ada yang Rea hiraukan.


"Re.....aku minta maaf....." suara Andra mengembalikan kesadaran Rea. Sorot mata Rea jelas penuh binar marah. "Kau bohong padaku!" Pekik Rea. Detik berikutnya, gadis itu berlari keluar dari sana. "Re....pelan-pelan." Andra jelas cemas kala Rea berlari dengan heels sepuluh senti itu.


"Biarlah dia kena marah. Kan semua ide dia. Mari kita nikmati pestanya," ucap Matt keras. Semua bersorak gembira. Mengabaikan entah apa yang akan terjadi dengan Rea dan Andra.


****



Kredit Pinterest.com


Andra yang otewe kena marah, 🤭

__ADS_1


****


__ADS_2