Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Cinderella and The Three Knights


__ADS_3

"Dasar nenek sihir!" umpat Nana.


Keduanya sudah ada di parkiran sekolah mereka. Nana akan mengantar Rea ke rumah barunya. Sebab Andra dan Mark sudah menunggu mereka di sana. Rea tidak mengizinkan dua pria itu menjemputnya.


"Jangan menjemputku. Nanti sekolahku geger karena ulah kalian!"


Rea menulis pesan itu pada Andra. Nana seketika membulatkan matanya. Melihat Rea yang hidup dengan fasilitas kelas wahid sekarang. Ponsel terbaru, sepatu model terbaru juga.....tas keluaran brand ternama. Meski sekarang, Rea hanya bisa memeluk tasnya.


Karena tas Rea sudah berlubang di beberapa tempat. Plus putus pada tali gendongannya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Clara, yang Nana baru saja menyebutnya dengan nenek sihir.


"Wah nebeng bestie nihhh, aku pikir elu bakal naik sepeda butut elu lagi."


Cibir Clara yang muncul dari pintu parkir. Rea hanya menarik nafasnya pelan. Berusaha menahan emosinya. Dia tidak ingin terlalu meladeni Clara. Satu hal lagi yang diajarkan Steve. "Jangan terlalu terpancing provokasi lawan. Itu akan membuatnya senang. Bertindaklah jika kau sudah habis kesabaran."


Tanpa mengindahkan cibiran Clara, Rea mengajak Nana berlalu dari sana. Hal itu membuat Clara marah. Hingga ketika Rea sudah naik ke motor Nana, gadis itu menendang motor Nana. Sampai Nana dan Rea terjatuh dengan motor Nana membentur tembok parkiran.


"Uppsss sorry, sepertinya aku menyenggolmu terlalu kencang," tawa Clara lolos dengan wajah mengejek dan tawa meremehkan, gadis itu berlalu dari hadapan Rea dan Nana.


Rea jelas panik melihat kerusakan motor Nana. "Na, aku minta maaf, motormu rusak."


Melihat bemper samping motornya rusak cukup parah, membuat Nana menarik nafasnya pelan.


"Sudahlah, aku memang sedang mengajukan proposal motor baru. Ini sudah sejak kelas satu. Mau yang model...." Nana memperagakan gaya duduk motor ninja yang dia inginkan.


"Tapi Na....." Rea menggigit bibir bawahnya. Tidak tahu apa yang harus dia katakan. "Rea....lututmu!" teriak Nana tiba-tiba.


*


*


Rea beringsut mundur ketika Mark membawa alkohol ke arahnya. "Perih....." rengek Rea.


"Sebentar doang." Mark membujuk, sementara di sampingnya Andra berdiri dengan wajah marahnya. Nana seketika menundukkan wajah melihat ekspresi menakutkan Andra.


"Ganteng- ganteng menyeramkan."


"Jadi ceritanya hari pertama dan dia sudah melukaimu. Minta dihajar ya tu anak."

__ADS_1


Rea dengan cepat meraih tangan Andra lantas menggenggamnya erat. "Tolong deh, jangan diperpanjang lagi."


Andra menghembuskan nafasnya kasar setelah Mark memberinya kode untuk tenang. Pria itu lalu mendudukkan diri di samping Rea, melihat Mark yang mulai menempelkan plester di luka Rea.


"Kak, motornya Nana rusak."


"Aku tahu, Alex sedang mengurusnya." Jawab Andra. Rea mengerutkan dahinya. Dari kemarin Andra selalu menyebut nama Alex tapi dia belum pernah bertemu dengannya. "Duduklah."


Mark memberi kode pada Nana untuk duduk di sampingnya. Mark cukup paham dengan Nana yang ketakutan melihat kemarahan Andra. Dengan ragu Nana mendudukkan diri di sebelah Mark. Gadis itu cukup mengagumi ketampanan Mark yang bule abis.


"Tampan sayang g**."


Giliran Nana yang menghembuskan nafasnya kasar. Keempatnya sudah berada di sebuah rumah cukup mewah. Matt sengaja mencarikan rumah untuk Rea yang dekat dengan sekolah putrinya. Dari rumah itu, Rea cukup berjalan 15 menit ke sekolah.


Semua perabot sudah siap bahkan walk in closet gadis itu sudah ditata rapi oleh orang suruhan sang kakak, Gina. Seorang ART akan menemani Rea di rumah itu. Meski tidak ada satpam di sana. Tapi Matt menempatkan kamera pengawas hampir di semua sudut rumah itu.


Dalam kesempatan itu, Mark menjelaskan sedikit soal keadaan Rea. Setelah Andra membantu Rea masuk ke kamarnya. Nana cukup terkejut ketika Mark mengatakan kalau Rea memiliki asma karena hampir overdosis morfin. Pria itu secara rinci memberikan petunjuk bagaimana menghandle asma Rea.


"Kamu paham?" Mark bertanya dan Nana mengangguk. Tak berapa lama, seorang pria dengan aksen oriental lokal masuk ke rumah itu sembari mengumpat.


"An....aku ini akuntan bukan tukang bengkel motor." Gerutu pria yang tak lain bernama Alex itu. Pria itu asal nyelonong masuk dapur. Membuka kulkas besar itu lantas mengambil tiga kaleng soda.


"Masalahnya pak dokter. Gak ada yang bisa menyelesaikannya hari ini. Gue udah muterin tu kota. Sparepartnya harus pesen dulu, kalau mau yang ori."


"Gak jadi hari ini juga gak apa-apa. Aku bisa naik bus, buat pergi sama pulang."


Suara Nana membuat dua pria itu saling pandang. Mereka lupa ada Nana di sana. Mark reflek menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia juga lupa mengenalkan Alex pada Nana juga Rea.


"Bos gue yang baru mana?" tanya Alex. Pria itu baru menyelesaikan kalimatnya ketika mulutnya menganga melihat Andra menggandeng Rea keluar dari kamarnya.


"Tuh bos elu!"


"Cewek, bro?" tanya Alex tidak percaya. Jadi selama enam bulan ini, dia harus "nyambi" jadi bodyguard cewek cantik ini.


"Dia tunangan gue! Awas kalau elu macam-macam!"


Alex dan Nana membulatkan matanya mendengar ucapan Andra. Tunangan? Nana berulangkali menajamkan pendengarannya dan memang benar, Andra menyebut Rea sebagai tunangannya.

__ADS_1


Ampun deh. Nasib Rea beneran kayak Cinderella. Diadopsi keluarga kaya. Dan sekarang tunangan dengan pria setampan Andra. Nana menjerit dalam hatinya.


Alex pikir bos yang harus dia "kintilin" itu pria. Lah kalau begini acaranya, bisa kacau hatinya. Mana Rea cantiknya kebangetan. Pria itu beberapa kali melirik ke arah Rea yang tengah mencari camilan di dapur.


"Kalau gue tahu, elu mencoba menggoda dia. Gua cabut sertifikasi akuntanmu." Desis Andra penuh ancaman.


"Jangan dong An. Mau makan apa gue nanti."


Andra buat wajah tidak tahu. "Re....kenalin ini Alex." Mark mengenalkan Alex pada Rea. Gadis itu tersenyum pada Alex. "Maaf kalau merepotkan."


"Ahh tidak juga. Kantorku di kota jadi tidak terlalu jauh kalau harus bolak balik ke sini kalau kamu perlu sesuatu." Kata Alex kelabakan.


"Kenapa sih, Andra selalu dapat barang bagus."


"Soal motormu bagaimana kalau kau pakai motor Rea dulu. Alex baru membelinya. Untuk berjaga-jaga kalau dia mau pergi ke mana-mana." Tawar Mark.


"Pakai saja. Sekolah dekat dan aku belum mau ke mana-mana."


"Siapa suruh, gak mau bawa Audi-nya ke sini." Kata Andra. Matt membelikan sebuah Audi ketika Rea mendapatkan SIM-nya.


"Buat apa? Aku bisa naik bus atau taksi kalau mau ke mana-mana."


Mark terbahak mendengar jawaban sederhana Rea. "Apa kata media kalau mereka tahu. Putri bungsu Matt Aherne naik bus ke mana-mana."


Nana hanya melongo melihat perdebatan antara temannya dan tiga pria tampan itu.


"Seperti di drakor Cinderella and The Four Knights saja eh salah Three Knights." Gumam Nana pelan.


"Yang itu malah melamun." Nana langsung gelagapan ketika Alex melempar kacang ke arahnya. "Semprul!" seru Nana reflek.


Dan tawa pun pecah di ruang keluarga itu. Dengan Nana yang menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Mark. Nana malu sampai ke ubun-ubun dengan spontanitas dirinya.


Untuk sesaat Mark terkejut, biasanya dia selalu risih saat skinship dengan "wanita" yang tidak dekat dengannya.


Tapi dengan Nana berbeda. Pria itu tidak merasa risih ataupun terganggu dengan sikap Nana, yang kini bahkan tanpa sadar memainkan lengan bajunya. Ada rasa nyaman saat Nana menyentuh kulit lengannya.


"Ada apa denganku?" batin Mark heran.

__ADS_1


*****


__ADS_2