Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Ijab Kabul


__ADS_3

Rea melihat ke arah luar rumah. Dia mendengar keributan di depan tempat tinggalnya. Sementara Andra, menunggu aba-aba dari Jack. Ketika keributan semakin mendekat ke arah rumah Rea, gadis itu bermaksud untuk memeriksanya. Saat itulah, Andra menarik tangan Rea, menjatuhkannya di sofa, lantas menindihnya. Bola mata Rea membulat, seiring pintu yang dibuka dari luar.


"Astaga, Bu Rea!"


"Andra sialan!"


"Tidak mau! Pak itu tadi tidak sengaja. Dia kepleset, terus jatuh di atas tubuh saya."


"Kalau kepleset kenapa Bu Rea pakaiannya begitu?"


"Mampus!"


Rea seketika mendelik ke arah Andra yang diam-diam tersenyum simpul. Rencananya sukses, membuat dirinya dan Rea digerebek warga. Kaki Rea menendang kaki Andra, meminta bantuan.


"Apa?"


"Bantuin ngomong."


"Ngomong apaan, la wong keadaannyaa begitu, mau bagaimana lagi."


"Nah tu masnya sudah ngaku."


Rea melotot ke arah Andra yang tersenyum puas ke arahnya.


"Kamu pikir setelah menggagalkan pernikahan kita enam bulan lalu. Aku akan melepaskanmu. Tidak Rea, aku akan menjeratmu sampai kamu tidak bisa lari dariku."


Andra semakin melebarkan senyumnya ketika pak RT dan pak Kades memutuskan kalau Andra dan Rea akan segera dinikahkan. Dalam tiga hari ke depan, keduanya harus sudah menikah. Itulah aturan yang ada di desa itu. Jika ada pria dan wanita yang bukan suami istri terciduk sedang berduaan, maka keduanya otomatis akan dinikahkan.


Rea langsung menyerang Andra begitu dua perangkat desa dan beberapa warga membubarkan diri.


"Kamu sengaja kan melakukan itu, supaya kita dinikahkan. Kamu masih sakit hati karena aku membatalkan pernikahan kita kemarin. Jadi sekarang kamu buat skenario agar kita digerebek begitu "


Rea mencecar Andra sembari memukul dada pria itu. Tidak peduli itu sakit atau tidak, Rea terus melayangkan pukulan asal ke tubuh Andra.


"Jawab! Kenapa diam!"


Raung Rea. Gadis itu langsung menjambak rambutnya kasar. Sekarang bagaimana dia harus menjelaskannya pada sang papa. Bisa-bisa Matt kena serangan jantung kalau mendengar berita ini. Seperti Daniar waktu itu.


Andra hanya diam seribu bahasa, tanpa membalas satupun perkataan Rea. Dia cukup puas melihat kemarahan sekaligus kebingungan Rea.


"Apa yang kamu takutkan?"


Akhirnya Andra membuka suaranya. Emosi Rea yang tadi menurun kini melonjak naik lagi. Hingga akhirnya teriakan Rea kembali menggelegar di ruang tamu. Pria itu bertanya apa yang Rea takutkan. Tentu saja dia ketakutan, dia tidak ada rencana menikah, dan sekarang tiba-tiba dia harus segera menikah. Apa yang akan dipikirkan oleh keluarganya. Pikiran Rea semakin kalut saat mengingat pandangan orang akan dirinya. Rea menghembuskan nafas, lantas meraup wajahnya kasar.


"Dengarkan aku, yang perlu kamu lakukan hanyalah diam dan ikuti semua pengaturanku."


"Kamu merencanakan ini semua?"


Potong Rea. Dia tidak menyangka jika kedatangan Andra kali ini benar-benar jadi mimpi buruk untuknya.


"Terus terang, iya."

__ADS_1


Rea berusaha menyerang Andra kembali. Tapi pria itu kali ini menahan tangan Rea yang ingin memukulnya.


"Dengar Rea, aku bertekad mengikatmu sejak hari itu. Hari kamu melemparkan cincin pertunangan kita. Kamu tahu, aku bahkan masih memakainya. Aku tidak akan melepasnya sampai ini berganti menjadi cincin pernikahan kita. Kamu tahu kenapa? Karena aku tidak bisa hidup tanpamu."


Rea seketika kehilangan kata, saat mendengar jawaban Andra. Gadis itu menatap dalam wajah Andra. Berusaha mencari kejujuran di sana. Untuk beberapa waktu, keduanya terdiam, tanpa mengatakan apapun.


"Kamu tinggal duduk, semua persiapan pernikahan sudah diurus...."


"Tapi Papa....."


"Papaku sudah melamarmu secara resmi. Mereka akan tiba lusa, saat kita menikah."


Rea kembali terdiam, hingga suara pintu yang dibuka Jack menghilangkan kesunyian di rumah itu.


"Sorry Re, kamu tahu dia kan. Apapun yang diinginkannya harus menjadi miliknya."


"Tapi aku bukan barang, Jack."


Kini Rea tahu kalau semua yang terjadi sudah direncanakan dengan matang oleh Andra bersama Jack mungkin. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di puggung sofa. Frustrasi. Kenapa Papa begitu mudah menerima lamaran om Daniar.


Hari berlalu dengan cepat, hari ini Andra dan Rea akhirnya menikah. Dua hari sebelumnya Rea tetap mengajar, dia tidak bisa jika disuruh duduk manis di rumah. Dia bisa mati bosan. Meski yang terjadi akhirnya membuat Rea mencak-mencak tidak karuan. Bibirnya lelah menjawab pertanyaan soal rumor dia yang digrebek warga tengah berduaan dengan pria tampan dan berakhir dengan dia harus menikah.


Beuuhh Rea rasanya ingin menenggelamkan diri ke dasar samudera Atlantis yang dingin. Mengubur dalam-dalam rasa malunya di sana. Itu urusan dengan warga, belum urusan dengan Matt dan Nicky. Kali ini Rea membayangkan punya ilmu halimunan atau bisa menghilang. Tatapan Matt dan Nicky terlihat menghakiminya. Belum lagi pertanyaan yang dua pria itu ajukan. Ini lebih parah dari sidangnya Sambo dan Brigadir E.


Meski semua itu bisa dicairkan dengan tingkah konyol Kai. Tetap saja, ketegangan itu tidak bisa hilang dari wajah Rea begitu saja.


"Papa tidak masalah kamu menikah dengannya, yang penting kamu mau, tidak terpaksa."


"Ya terpaksalah, Pa. Rea belum mau menikah."


Tangis Rea pecah begitu mendengar perkataan Nicky.


"Kakak ini bukannya belain malah nyudutin."


Nicky terkekeh mendengar ucapan Rea.


"Kenyataannya begitu mau bagaimana lagi."


"Rea kabur aja ya."


Gadis itu menaikturunkan alisnya, membuat wajah seimut mungkin.


"Coba saja kabur."


Suara Andra terdengar di belakang Matt dan Nicky. Bisa dibayangkan hebohnya tetangga Rea. Melihat dua mobil mewah berada di depan ŕumah Rea. Mereka mengintip dari jendela rumah masing-masing, bahkan ada yang terang-terangan memeriksa mobil tersebut. Yeh, mode kepo on.


Rea langsung memanyunkan bibirnya, melihat kedatangan Andra. Pria itu tanpa ragu duduk di samping Nicky. Dengan Rea duduk di hadapannya.


"Katakan kamu mau melarikan diri dari pernikahan ini."


Adik Gina itu langsung melirik judes pada Andra yang melipat tangan. Seolah menantangnya.

__ADS_1


"Coba saja kamu kabur. Lalu lihat apa yang bisa aku lakukan padamu."


Kata Andra penuh penekanan. Maka dengan setengah hati, akhirnya Rea mulai dimake up untuk pernikahan mereka beberapa jam lagi. Mungkin ada yang penasaran kenapa Matt dan Nicky tidak menolak lamaran Andra. Sebab Daniar datang dengan bukti kalau Andra dijebak waktu itu. Ditambah rekaman kamera pengawas menunjukkan kalau Andra dan wanita itu belum melakukan penyatuan.


Sebuah dekor simple tapi elegan dipersiapkan tak kurang dari setengah hari. Katering sudah siap di atas meja prasmanan. Dengan menu yang membuat ngiler para warga yang melihat. Perrnikahan dadakan Rea dan Andra memang berkonsep open house. Semua boleh datang dan makan sepuas kalian. Katering disewa sekalian dengan jasa cuci piringnya.



Kredit Pinterest.com


Matt dan Daniar tampak saling berbisik, saat menunggu waktu ijab kabul tiba. Seorang wali hakim sudah disewa untuk menikahkan Rea.


"Ini kalau di sana, gak bakalan kita bisa pesta tanpa ada paparazi yang meliput. Putramu pandai memilih tempat dan waktu."


Daniar terkekeh mendengar pujian Matt, salah paham mereka sudah berakhir. Kini mereka bisa tersenyum lega melihat pernikahan Andra dan Rea yang akan segera digelar. Untuk resepsi, rencana akan dihelat setelah Rea bersedia pernikahannya di ekspose ke public. Sebab gadis itu masih belum mau menerima pernikahan ini.


Andra tampak tegang di depan penghulu yang akan menikahkannya. Beberapa kali si penghulu terdengar menggoda Andra.


"Pas digrebek gak tegang. Ini sudah mau ijab kabul baru tegang."


"Isshh bapak ini. Ini gak tegang tapi panik. Tegangnya disimpan buat entar malam."


Si penghulu ngakak mendengar jawaban absurd Andra. Hingga tawa si penghulu menghilang kala melihat si pengantin wanita keluar diapit Berta dan Katya.


"Pantas tegang gak kenal tempat. La wong istrinya secantik itu."


Andra langsung memutar tubuhnya. Pria itu terpesona pada Rea yang terlihat cantik dengan gaun pengantin pilihannya.



Kredit Pinterest.com


Anggap saja gaunnya begini....


Pria itu melihat Rea tanpa berkedip. Hingga pertanyaan wali Rea soal mahar pun tidak di dengar Andra.


"Ha? Apa Pak?"


Tawa sontak pecah di tempat itu. Andra reflek menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini maharnya bagimana cara bacanya?"


Giliran Andra yang tersenyum simpul. Lantas menjelaskan bagaimana cara menyebut mahar yang ia persiapkan sejak lama.


"2090 lot saham dan uang $9800."


"Itu kalau dijadiin duit, ada berapa ya Mas.


"Itung aja ndiri. Cepetan nikahin saya. Biar tegang saya ilang."


"Tegang yang atas mah ilang Mas, giliran yang bawah pula yang tegang."

__ADS_1


Tawa mengiringi prosesi ijab kabul Andra dan Rea gara-gara ulah pak Kades yang waton mangap waktu bercanda.


****


__ADS_2