Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Kesialan Yang Indah


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Rea melihat gelang dengan motif bunga mawar yang kini melingkar di pergelangan tangannya. Gadis itu menarik nafasnya pelan. Dia jelas bingung dengan sikap Andra pada dirinya. Kadang galak, judes minta ampun. Tapi terkadang penuh perhatian dan manis seperti tadi. "Dia itu sebenarnya maunya apa sih, bikin bingung orang aja," gumam Rea kembali melihat gelangnya. "Tapi ini cantik, aku suka," gumam Rea lagi sambil tersenyum. Terlebih gadis itu belum pernah memiliki perhiasan apapun sebelumnya.


Saat itulah Gina masuk ke kamarnya. Melihat sang adik tengah memandangi gelang di tangannya. "Baru beli kah?" tanya Gina. "Aaahh tidak," jawab Rea gelagapan. Gina hanya ber-oooo ria. Lalu meraih bag di atas kasur Rea. "Mampir ke toko buku?" tanya Gina lagi dan sang adik mengangguk.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Gina mengalihkan pembicaraan. "Aku...merasa lebih baik," jawab Rea sambil menunduk. "Kenapa kamu tidak pernah cerita soal dia," Gina bertanya sepelan mungkin. Bukannya menjawab, Rea malah menunduk. Gina menarik nafasnya pelan. "Rea, kamu sekarang tidak sendiri. Kamu punya kakak, papa, mama, mark, shane, bryan bahkan si jutek Andra pun akan membelamu sekarang. Jadi Kakak mohon jangan sembunyikan apa-apa lagi dari kami sekarang. Kami akan selalu ada untukmu. Jika kamu tidak nyaman curhat sama Kakak, kamu bisa pilih, siapa yang paling membuatmu nyaman dari kami semua untuk diajak bicara," Gina berkata dengan lembut.


Steve berpesan untuk tidak menyinggung langsung tindakan Clara di hadapan Rea. Itu bisa membuatnya frustrasi. Cukup dengarkan Rea saat dia ingin bicara.


Mendengar perkataan Gina, Rea seketika menangis dan memeluk tubuh Gina. "Rea takut, tidak ada yang membantu Rea. Cuma Nana yang baik sama Rea, yang lain tidak peduli," gadis mulai bicara.


Gina terdiam, sembari mengusap lembut punggung sang adik. "Kamu punya kami sekarang. Kami tidak akan pernah mengabaikanmu," Rea mengeratkan pelukannya pada sang kakak merasa terharu dengan ucapan Gina.


******


Suara gemericik air terdengar dari bilik shower sebuah kamar mandi mewah. Di sebuah kamar yang juga mewah dan luas. Andra membiarkan air shower mengalir, membasahi tubuh atletis miliknya. Tubuh sempurna yang menjadi idaman kaum hawa di luar sana. Meski Andra berprofesi sebagai akuntan, sebuah pekerjaan yang peminatnya sedikit, tapi percayalah, fans berat akuntan itu bisa bersaing dengan aktor dan aktris dari agensi Bryan.

__ADS_1


Bryan sendiri berkali-kali meminta Andra menjadi artisnya tapi Andra dengan judesnya menjawab,"Aku tidak gila popularitas dan uang." Satu jawaban yang membuat Bryan kicep tanpa bisa membalas perkataan Andra. Yah, sebagai pewaris maskapai penerbangan Sky Airlines, Andra sudah terlahir dengan sendok emas di tangannya. Terlebih dia putra tunggal.


Andra menyugar rambut basahnya beberapa kali. Masih membiarkan air itu membasahi kepalanya. Kelebatan peristiwa setahun lalu kembali terlintas di benaknya.


"Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa kurangnya aku?" tanya Andra waktu itu. Seorang wanita cantik berdecih pelan mendengar pertanyaan Andra. "Kau tidak cukup pantas bersanding denganku," jawab wanita itu dengan nada mengejek.


Setelahnya, wanita itu berlalu dari hadapan Andra, menggandeng mesra seorang pria yang Andra tahu putra seorang pengusaha ternama di negeri ini.


Andra menarik nafasnya berat. Berkali-kali dia mencoba menghilangkan ingatan itu. Tapi dia sulit melakukan. Andra cukup shock dengan ucapan wanita itu, dia lebih memilih uang dibanding kesungguhan dan ketulusannya. Sejak saat itulah, Andra yang memang sudah judes dan dingin dari sananya, semakin menjadi sikapnya. Pria itu tidak pernah memandang perempuan yang datang padanya. Semua dia tolak, bahkan ketika mereka baru datang mendekat. Satu-satunya pawang Andra hanyalah Gina, sebab wanita itulah tempat konsultasinya, konselingnya juga tempat curhatnya.


Andra menghentikan acara mandinya. Melilitkan handuk di pinggangnya. Menampilkan dada bidang dengan abs tertata rapi di perutnya. Menuju wastafel, pria itu melihat tampilannya di cermin besar di hadapannya.


Andra kembali menarik nafasnya. Karena alasan itulah kenapa sampai sekarang Andra belum memiliki kekasih lagi atau lebih tepatnya menemukan wanita yang tepat menurutnya. Hingga kehadiran Rea perlahan mengubah semua. Sorot mata ketakutan Rea membuat Andra selalu ingin menindasnya, mengerjainya dan menjahilinya. Tanpa Andra sadari, hal itu membuat Rea mulai masuk ke hatinya.


Andra tiba-tiba memijat pangkal hidungnya. "Kenapa aku jadi baik padanya?" gumam pria itu. Teringat dia tadi memberikan sebuah gelang pada Rea. Dia tidak tahu apa yang tengah dia pikirkan. Pria itu hanya berpikir, ini akan cantik jika dipakai Rea, saat melihat gelang itu di toko perhiasan tadi. "Aku pasti mulai gila!" umpat Andra pada dirinya sendiri.


Kenapa dia menjadi perhatian dan bersikap manis tadi. Apa karena dia tahu apa yang sudah Rea alami, lalu merasa kasihan. "Apa yang sebenarnya aku rasakan pada Rea?" kali ini Andra bertanya.


Pria itu keluar dari kamar mandi bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi. "Jangan bersikap baik pada Rea jika kau hanya ingin mempermainkannya." Satu pesan masuk, dan itu jelas dari Gina. Andra melempar ponselnya kesal. "Kau pikir aku ingin bermain-main dengan gadis bau kencur kemarin sore," maki Andra.

__ADS_1


****


"Rea bangun!" suara Gina melengking di kamar si adik. Itulah Gina, dia bisa jadi kakak yang begitu menyayangi Rea atau sebaliknya dia bisa jadi seorang komandan yang begitu tegas pada anak buahnya.


"Bangun, Rea! Kamu tu magang di kantor Andra sekarang," pekik Gina. Menyingkirkan selimut dari tubuh Rea yang hanya terbalut tank top dan hot pants. "Astaga Rea, besok lagi kalau tidur kunci pintu. Andra dan lainnya biasa datang ke sini. Dan mereka punya kebiasaan main nyelonong masuk kamar," oceh Gina.


Rea terbengong mendengar celotehan sang kakak pagi ini. Rea bangun karena Gina menyebut nama Andra, satu nama yang menjadi momok bagi Rea karena keplin-plan-an sikapnya. Kadang baik, kadang jutek.


"Bangun, Rea. Kau bisa menyetir mobilmu sendiri kan. Papa dan Mama harus berangkat pagi. Aku juga begitu," kata Gina. Gadis cantik itu mengangguk. "Bagus, Kakak pergi dulu kalau begitu," sebuah ciuman mendarat di pipi Rea. Gadis itu nyengir sambil mengusap pipinya yang baru saja dicium Gina. Pintu ditutup dan Gina menghilang di baliknya. Detik berikutnya, tubuh Rea ambruk lagi ke kasur. Melanjutkan tidurnya. Seolah yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi.


"Lumos Maxima," gumam Rea lirih. Gadis itu nyengir lagi lalu melanjutkan tidurnya. Dia kerasukan mantra Harry Potter, 🤣🤣🤣


Untuk beberapa waktu, Rea melanjutkan mimpi indahnya, sekolah di Hogward kali ya mimpinya. Hingga, suara baritone khas Andra langsung menarik Rea kembali ke dunia nyata.


"Andrea Kirana Aherne! Bangun!" Tubuh Rea otomatis bangun terduduk mendengar bentakan Andra. Sementara Andra, langsung menelan salivanya kasar. Pria itu kembali dihadapkan pada pemandangan yang membuat tubuhnya panas dingin, dengan jakunnya naik turun. Plus dibawah sana mulai bergejolak. "Gadis ini benar-benar berbahaya," menatap tubuh indah Rea dengan belahan dada mengintip dari balik tank topnya. Serta paha mulus tanpa cela terpampang di depan matanya.


"Sepertinya aku salah waktu lagi," gerutu Andra. Dua kali mendapat kesialan karena menuruti permintaan Gina. Kesialan yang indah, satu sisi Andra meledek pria tampan itu.


****

__ADS_1


__ADS_2