Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Sering Bertemu


__ADS_3

Andra benar-benar terpana dengan penampilan Rea. Keduanya baru saja keluar dari kamar make up di sebuah hotel, di mana pernikahan Gina dan Nicky dihelat.


Pria itu tidak hentinya menatap penuh cinta dan kagum pada sang tunangan. Keduanya akan bergabung dengan yang lainnya untuk menjadi bridemaids dan grooman pada pernikahan Gina.


"Gila adek gue cakep bener ya."


Seloroh Mark, yang langsung disetujui oleh yang lain. Hal itu membuat telinga Andra panas. Pria itu menarik pinggang Rea untuk mendekat ke arahnya.


"Dia milik gue. Awas ya lu pada."


"Apaan sih, Kak."


Rea protes sembari melepaskan belitan tangan Andra di tubuhnya. Sementara celetukan, "Posesif mode on." Terdengar dari arah belakang.


Mereka menoleh dan melihat Gina yang terrlihat begitu mengagumkan dengan gaun pengantin mewahnya. Semua memuji kecantikan si pengantin wanita malam ini.


"Gue jamin, Nicky langsung gas pol malam ini."


Seloroh Shane. Sedang Andra langsung memutar matanya jengah. Gina hanya nyengir melihat wajah Andra. Tak lama, pintu ballroom di buka. Masuklah Gina yang diantar Matt. Menyusul di belakangnya adalah Andra dan Rea. Serta beberapa teman Helena yang diminta menjadi pengiring pengantin wanita.


Ketika Rea mulai melangkah masuk, semua perhatian sontak terbagi dua. Gina dan Rea, dua wanita itu tampak menyedot perhatian para tamu undangan yang hadir di sana. Terlebih seorang pemuda tanggung yang turut hadir di sana.


Pemuda itu adalah Ken. Dia terpaksa mengikuti permintaan sang ayah untuk ikut ke pernikahan Gina. Sebagai langkah awal dirinya untuk terjun ke dunia bisnis. Sebab di sini banyak pengusaha yang diundang.


Ken pikir dia akan bosan berada di sana. Tanpa dia sangka, dia seperti mendapat jackpot. Melihat betapa cantiknya Rea malam itu, hati Ken semakin dalam jatuh pada pesona Rea.


Mata Ken tidak berkedip saat menatap Rea. Hal itu disadari oleh sang ayah. "Kau menyukainya?"


Sammy, ayah Ken tahu sepak terjang sang putra yang terkenal dengan julukan playboy buaya buntung. Pria itu cukup terkejut ketika mendapati Ken melihat Rea penuh rasa ketertarikan.


"Dia teman sekolahku. Dia yang membuatku pulang. Aku ingin mengejarnya meski dia sainganku."


Ken menatap lurus pada Andra yang berjalan di samping Rea. Sammy jelas terkejut melihat siapa yang menjadi rival Ken.


"Kau yakin?"


"Setidaknya aku akan berusaha dan tidak akan menyerah dengan mudah."


Sammy hanya bisa menarik nafasnya dalam. Dia akan membiarkan sang putra bersaing asal secara sehat.


Acara pernikahan Gina berlanjut ke pesta resepsi, setelah akad nikah dan tukar cincin selesai dilakukan. Tamu undangan semakin banyak yang hadir. Tepat di tengah acara, Matt menyampaikan sebuah pengumuman yang langsung membuat heboh jagat pemberitaan. Pria itu mengumumkan kalau sejak sepuluh bulan lalu, dia telah mengadopsi seorang anak dari panti asuhan.

__ADS_1


Pria itu lantas membawa Rea ke sampingnya. Betapa terkejutnya semua orang. Termasuk Ken, ketika Matt Aherne mengumumkan kalau Andrea Kirana Aherne adalah putrinya.


Setelahnya, pria itu meminta publik untuk menganggap Rea adalah putrinya. Memperlakukannya sama, seperti mereka memperlakukan Gina selama ini. Tidak ada keistimewaan, tidak ada pengecualian. Rea akan dilayani seperti warga sipil lainnya.


Ken sejenak menggelengkan kepalanya, melihat siapa orang tua Rea. Gunernur kota ini. Putri pengusaha di lini properti dan kostruksi. Tunangan dari akuntan terbaik negeri ini.


"Pantas saja pihak sekolah lama begitu melonggarkan aturan untuk Rea."


Batin Ken, melihat Rea yang kembali ke tempat duduknya. Di antara para pria yang Ken tahu adalah kakak Rea.


"So.....masih punya nyali untuk mengejar putri gubernur dan tunangan akuntan terbaik tahun ini?"


Ken berdecih pelan mendengar ledekan sang papa. "Apa aku kurang pantas untuk bersanding dengannya. Aku putramu, pengusaha ekspor impor nomor satu di negeri ini."


Sammy cukup mengacungi jempol nyali sang putra. Meski bagi Sammy itu karena ledakan jiwa muda Ken yang masih menyala-nyala.


Tanpa semua orang ketahui, ada seorang pria yang duduk di meja di sudut ruangan. Sedikit terasing dari semua undangan. Pria itu tampak menarik sudut bibirnya. Saat dia tahu siapa Rea.


"Ini semakin semakin menarik. Andrea Kirana Aherne, putri gubernur sekaligus pengusaha Matt Aherne."


Sembari meminum minuman dari gelasnya, pria itu memandang pada Rea yang terlihat cantik saat membalas sapaan orang yang menyapanya.



Please welcome, Bradley Scott.


"Dia seratus kali lebih cantik dari gambar di fotonya." Tambah pria itu lagi.


Keasyikan pria tersebut terganggu ketika Sammy datang mendekat. Di belakangnya tampak mengekor Ken.


"Selamat malam tuan Scott."


Sapa Sammy. Pria itu mengangguk sembari menyambur uluran tangan Sammy. Wajah dingin dan tatapan mata menusuk. Untuk sesaat, Ken merasa ngeri melihat pria yang tengah bersalaman dengan sang papa.


Sammy tampak berbicara serius dengan pria itu. Setelah beberapa waktu, Ken akhirnya diperkenalkan pada pria itu.


"Ken, kenalkan ini tuan Bradley Scott, dia dosen yang akan membantumu masuk ke kampus itu."


Ken mengangguk, lantas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Tidak ada senyum yang terukir sama sekali di bibir pria yang bernama Bradley Scott itu.


"Dia pasti dosen killer di kampus. Tapi jelas jadi idola para cewek di sana."

__ADS_1


Batin Ken, pria itu cukup tahu. Pria model Bradley inilah yang bisa membuat gadis manapun tergila-gila.


"Aku jamin korbannya sudah banyak."


"Aku sudah menerima transkip nilaimu. Tidak terlalu buruk. Sedikit rekomendasi dariku akan memudahkan urusanmu."


Bradley mulai bersuara. Suara berat yang terdengar seksi di telinga kaum hawa. Ditambah pembawaan dewasa dari Bradley. Pesona yang mampu menjerat wanita manapun.


Dilihat dari ucapannya, sepertinya Bradley mempunyai posisi yang cukup berpengaruh di kampus itu. Hingga dirinya bisa menjamin Ken bisa masuk ke kampusnya.


Basa basi itu berakhir, dan ketiganya berpisah. Bradley kembali pada kegiatannya. Mengamati Rea. Dilihatnya, gadis itu berjalan keluar dari venue. Satu hal yang membuat senyum Bradley terukir tipis. Rea sendirian, tanpa kawalan siapapun.


"Kak Bryan gila!"


Rea memaki Bryan. Gadis itu berjalan menuju toilet untuk cuci muka. Setelah Bryan menjebaknya meminum sedikit alkohol yang dicampur es batu tanpa gadis itu tahu.


Kepala Rea pusing seketika. Untung saja acara sesi foto keluarga dengan pengantin sudah selesai. Jadi dia bisa kembali ke kamarnya. Bodo amat dengan pestanya.


"Adduuuhhh, maaf."


Rea reflek membungkukkan badan saat dia tidak sengaja menabrak seseorang setelah keluar dari toilet.


"Tidak masalah."


Rea seketika mengangkat wajahnya. Dilihatnya seorang pria yang wajahnya langsung membuat Rea memundurkan tubuhnya.


Seram. Itulah kesan pertama yang Rea dapat saat berhadapan dengan pria itu. Meski terlihat tampan, tapi aura dingin dan tatapan yang tajam membuat Rea bergidik ngeri.


"Maaf, saya terburu-buru, jadi tidak melihat Anda."


"Tidak apa-apa, Nona Andrea Kirana Aherne."


Jawaban pria itu membuat Rea mematung. Seolah ada hipnotis saat pria itu menyebut namanya.


Sementara Bradley, pria itu adalah Bradley yang mengikuti Rea. Pria itu tersenyum samar. Ini adalah kali pertama dia bertemu Rea secara langsung.


"What a beautifull girl. Gadis yang cantik."


"Senang bertemu denganmu. Semoga kita bisa bertemu kembali di lain waktu."


Bradley berbalik, meninggalkan Rea yang masih terdiam di tempatnya. "Kita akan sering bertemu, Cantik."

__ADS_1


****


__ADS_2