
Rea manyun, hari ini dia mendapat hukuman dari Brad. Gegara sibuk dengan pembukaan outletnya dan Nana. Gadis itu lupa mengerjakan tugas dari si dosen brengsek itu. Seperti sudah lama mengintai kesempatan itu. Brad langsung menggunakannya.
Jerry dan Devi terlihat khawatir. Bagaimana jika Brad macam-macam pada Rea. Mereka tidak seperti Ken yang berani melabrak Brad langsung. Mereka harus patuh pada peraturan kampus. Atau akan di-DO.
Tapi Rea berusaha menenangkan sahabatnya. Dia menjamin kalau Brad tidak akan berani melakukan apapun padanya. Pada akhirnya, Jerry dan Devi melepas Rea masuk ke ruangan Brad dengan perasaan was-was.
Hari ini semua orang sibuk. Ken ada meeting dengan klien mungkin sampai sore. Andra apalagi. Dua audit kantor elite menunggu dia selesaikan. Mark sudah masuk ruang operasi dari tadi. Nicky sedang di luar kota. Yang paling luang waktunya Bryan. Sebab Alex dan Shane sama sibuknya dengan Andra.
"Apa kita perlu menghubungi Jack?"
"Kita lihat saja dulu. Kalau dalam satu jam Rea tidak kembali. Kita hubungi Bryan atau Jack."
"Satu jam itu lama. Brad bisa melakukan apa pun dalam satu jam."
Devi berujar serius.
"Jangan khawatirkan aku. Bantu Nana saja. Aku pulang agak sorean. Ini aku sudah mulai mengerjakan tugasnya."
Pesan dari Rea membuat kedua orang itu saling pandang. Pada akhirnya dua orang itu berbagi tugas. Devi yang membantu Nana dan Jerry menunggu Rea menjalani hukumannya.
"Rea...."
Panggilan penuh penekanan dari depan Rea, membuat gadis itu buru-buru menyimpan ponselnya.
"Apa sih?"
Brad mengulum senyumnya. Di luar kelas, Rea benar-benar tidak menunjukkan respectnya pada Brad. Menurut Rea, dengan kelakuan Brad, pria itu tidak layak disebut dosen. Tapi Brad sama sekali tidak masalah dengan hal itu. Dia menyukai Rea dengan sikap apa adanya.
"Kau ingin ponselmu aku sita lagi?"
Brad menunjukkan ponsel Rea yang ternyata digunakan pria itu.
"Ah elah Pak, Bapak suruh saya buka konter hape apa. Bentar-bentar ganti hape. Capek Pak saya ditanya Papa. Kenapa hapenya ganti lagi."
Brad semakin melebarkan senyumnya. Meski mata dan tangan Rea sibuk mengerjakan tugas. Tapi bibirnya tidak berhenti mengoceh. Menggemaskan. Pria itu jadi teringat ciuman paksanya pada Rea beberapa waktu lalu. Sangat nikmat. Seketika otak Brad fokus pada bibir pink Rea. Menggoda.
"Jangan mandangin saya terus. Nanti jatuh cinta saya gak nanggung."
Celetuk Rea. Brad langsung menghentikan gerakan tangannya dari memeriksa tugas teman Rea. Pria itu lantas menopang wajahnya dengan satu tangannya.
"Kalau aku bilang, aku sudah jatuh cinta padamu. Bagaimana?"
Rea mengangkat wajahnya. Melihat Brad yang berada di seberang meja. Gadis itu lantas mengikuti sikap Brad.
"Saya sudah bilang. Saya tidak akan menanggungnya. Juga tidak akan membalasnya."
__ADS_1
Dua pasang mata itu saling tatap. Brad sudah melupakan niat awalnya untuk membalas dendam pada Rea. Pria itu kini jatuh sepenuhnya pada pesona Andrea Kirana. Tunangan Andra Sky.
"Kalau begitu biar aku yang bertanggungjawab."
"Bapak jangan aneh-aneh ya!"
Ancam Rea. Gadis itu tidak mau mengulangi kejadian terakhir bersama dosen brengsek itu.
"Tidak. Cepat selesaikan tugasmu. Atau akan ada yang mendobrak masuk kantorku lagi."
Pria lanjut memeriksa pekerjaan para siswanya. Di depannya Rea mulai ikut mengerjakan tugasnya. Untuk sejenak, tidak ada yang bersuara di ruangan itu. Hanya ada bunyi kertas yang digeser Brad dan bunyi keyboard laptop Rea.
Setengah jam berlalu, Brad melirik ponsel Rea yang kini resmi menjadi ponselnya. Lucu dan aneh. Brad memilih membuang ponsel miliknya dan menggunakan ponsel Rea. Dia tidak mengutak atik media sosial atau file penting di ponsel Rea. Dia hanya menyukai galeri Rea yang berisi foto gadis itu. Termasuk ketika Rea yang berpose seksi saat mengenakan tanktop dan hot pants-nya. Seksi dan menggoda.
"Re...kamu...."
Astaga....Bradley menepuk jidatnya pelan. Melihat Rea yang kembali tidur di ruangannya. Padahal dia tidak menambahkan obat tidur di aromaterapi ruangannya.
"Lama-lama kamu bisa tak tidurin juga Re. Tidur kok gak mandang tempat. Tidak tahu apa kalau aku menginginkanmu."
Bradley menggerutu dalam hati. Pria itu lantas mengambil foto Rea yang tengah tidur. Menjadikannya wall paper. Telunjuk Brad mulai menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Rea. Pria itu tersenyum. Cantik. Dia tahu Rea sangat lelah akhir-akhir ini. Brad sering mengikuti Rea di luar kampus.
Setelah beberapa waktu asyik memandangi wajah Rea yang tidur. Brad lantas menghubungi Jerry. Dia tahu teman Rea itu menunggu gadis ini di luar ruangannya.
Begitu masuk, Jerry langsung melotot melihat Rea yang tidur di meja Brad.
Jerry bertanya curiga.
"Tidak. Bawa dia pergi. Biar aku beri C tugasnya. Dua kali gagal dia mengerjakannya." Ancam Brad.
Sepeninggal Jerry yang berhasil membangunkan Rea. Pria itu termenung. Dia teringat bagaimana Rea bisa dengan tegas menolak pesonanya. Juga ciumannya.
Beberapa waktu lalu, Brad sempat bertemu Rea di perpustakaan. Pria itu menyudutkan Rea, bermaksud menciumnya. Tapi ketika bibir keduanya hampir bertemu, Rea dengan cepat melengos. Alhasil aksi almost kissing ala drama Korea dan Cina sukses terjadi.
Pria itu melihat wajah Rea yang terus menghindarinya, sampai dia menjauhkan tubuhnya dari Rea.
"Is he a good kisser? Or a good player on your bed?"
(Apakah dia pencium yang baik? Atau pemain bagus di tempat tidurmu?)
Rea seketika menendang tulang kering Brad.
"Bapak jangan sembarangan bicara ya. Saya tidak serendah itu. Meski dia tunangan saya!"
Brad menarik sudut bibirnya. Jawaban Rea menyiratkan kalau dia dan Andra belum pernah bercinta. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Brad sama sekali tidak bisa mundur dari perasaannya pada Rea.
__ADS_1
*
*
Malam hari, sebulan setelah kejadian Rea mendapat C dalam tugasnya. Brad berjalan tergesa-gesa keluar dari rumahnya. Pria itu melajukan mobilnya menuju sebuah klub malam elite di pusat kota. Memakai hodie dan masker. Pria itu langsung masuk ke dalam bangunan empat lantai yang tampak temaram. Empat lantai tanpa penerangan yang cukup.
Pria itu seketika berdesakan dengan ratusan pengunjung di dalam tempat itu. Menyibak kerumunan orang yang tengah berpesta. Berjoget di bawah pimpinan DJ berpakaian seksi di ujung sana.
Mengabaikan sentuhan menggoda dan panggilan sensual para wanita seksi yang berkeliaran di sana. Sungguh jika ini adalah Brad setahun yang lalu, pria itu akan menarik satu dari mereka. Lantas membawanya masuk ke kamar VIP untuk melewatì malam panas bersama.
Tapi Brad bukan lagi pria yang suka dengan kehidupan malam. Dia sepenuhnya sudah berubah setahun belakangan ini. Berubah setelah mengenal Rea.
Pria itu memeriksa ponselnya. Lantas naik ke lantai 3, di mana deretan kamar tersedia di sana. Setelah menemukan kamar yang di maksud. Brad berhenti sejenak. Dia menarik nafasnya dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Dia harus terlihat tenang. Hingga orang yang akan ditemuinya tidak curiga.
Begitu pintu dibuka, dilihatnya ruangan temaran dengan suasana cukup gelap. Sama dengan lantai lainnya. Seseorang tampak duduk di dalam ruangan itu.
"Maaf aku lama."
Kata Brad, lalu duduk di depan orang itu. Bisa dia dengar kalau pria itu menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku akan sediakan yang kau minta. Tapi jangan menghubungiku lebih dulu. Mereka bisa melacaknya."
"Berikan dulu uangnya. Aku perlu mencari tempat tinggal sementara. Aku tidak bisa bersembunyi di sini terus."
Brad paham lalu mengeluarkan satu amplop tebal. Dia tidak bisa menggunakan transaksi elektronik.
"Aku pergi dulu. Berhati-hatilah. Jika kau ada masalah hubungi aku."
Brad jelas tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Sebab klub malam akan merusak imagenya sebagai dosen. Dia tidak mau itu terjadi.
Sepeninggal Brad, orang itu langsung membuka amplop yang diberikan Brad. Sebuah seringaian muncul di wajahnya. Tak berapa lama, seorang perempuan seksi datang, lalu tanpa ragu duduk di pangkuan orang itu.
"Dia berubah bukan?"
Orang itu mendengus kesal. Lalu meraih pinggang wanita itu.
"Mari bersenang-senang malam ini. Aku sudah berpuasa cukup lama."
Si wanita hanya tersenyum. Tak lama, keduanya sudah memulai permainan panas mereka malam itu.
"Bersiaplah kalian. Ancaman datang."
****
Ritual jempolnya jangan lupa 😘😘😘
__ADS_1
****