Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Menggaggu Saja!


__ADS_3

Rea mendesah kesal. Saat ini gadis itu sedang berada di sebuah butik ternama di kota tersebut. Berdalih calon tunangannya masih berada di luar negeri, Andra meminta tolong pada dirinya untuk fitting gaun pertunangan mereka. Menggantikan calon tunangan Andra.


"Kenapa harus aku?! Minta orang lain, aku gak mau," tolak Rea pada awalnya.


"Ayolah Re, tolongin aku kali ini. Postur tubuh Rana persis kayak kamu. Dia baru bisa balik pas hari H," mohon Andra.


Semakin ke sini, sikap Andra semakin manis pada Rea. Gadis itu benar-benar berpikir kalau Andra kesambet jin tomang yang mangkal di kantor pria itu.


"Rana?" Rea mengerutkan dahinya. "Namanya Rana, ayolah," kali ini raut wajah memelas siap Andra suguhkan. Pada akhirnya, di sinilah Rea. Menarik nafasnya berkali-kali. Mencoba menetralisir rasa marah dan kecewa.


"Dia yang tunangan kenapa aku repot," gerutu Rea. Gadis itu sudah hampir 5 kali bolak balik ganti baju. Dan menurut Andra semua tidak cocok dengan Rea. Kependekanlah, terlalu seksilah, inilah, itulah. Rea pikir akan menyenangkan melakoni adegan gonta ganti baju ala kaum jetset, seperti di film Pretty Woman atau drama yang sering Rea tonton. Nyatanya tidak. Capek, lelah, kesal sejak tadi Rea rasakan. Mana dia harus memakai heels sepuluh senti untuk tiap gaun yang dia coba. Alasannya untuk menyeimbangkannya dengan Andra yang memang menjulang tinggi, hampir 185 cm.


"Nggak, itu terlalu terbuka. Kamu gak lihat dadanya hampir meledak gitu," protes Andra. Rea seketika melirik dadanya melalui pantulan kaca di depannya. Gadis itu membulatkan matanya, melihat dadanya meluber ke mana-mana.


"Ganti!" Satu kata dan Rea langsung diseret ke balik tirai untuk mengganti gaun kembali.


"Sreeeettt"


Tirai dibuka kembali, Tuan Sky...." panggil staf butik itu. "Itu....." Andra baru saja akan membuka mulutnya ketika Rea melepas sepatunya. Lalu melemparnya ke arah Andra.


"Suruh tunanganmu pulang! Jangan suruh aku jadi kelinci percobaanmu!" teriak Rea marah. Gadis itu lantas keluar dari butik. Rea ingin menangis saat itu juga. Dia suka pada Andra, tapi dia pun tidak berharap lebih pada rasa yang ia punya. Berharap pria model Andra akan merespon perasaannya, impossible. Tidak mungkin.


Jadi dia sedari awal sudah mempersiapkan dirinya untuk kecewa, misalnya Andra menemukan wanita yang dia cinta. Tapi ternyata rasanya sakit sekali. Baru juga disuruh menggantikan fitting gaun pertunangan mereka. Dia sudah menangis bombay dari tadi. Apalagi kalau melihat mereka bertunangan atau menikah nanti. Ohhhhh, bisa bunuh diri kali Rea.

__ADS_1


Rea duduk di bangku taman setelah lelah berjalan. Gadis itu masih terisak pelan. Hingga tiba-tiba seorang pria berjongkok di hadapannya. Memakaikan sepasang sneakers pada kakinya.



Kredit Pinterest.com


Rea hampir saja menendang pria itu, jika pria itu tidak langsung bersuara. "Kamu boleh pakai flat shoes atau sneakers kalau tidak suka pakai heels," kata pria itu yang tidak lain adalah Andra.


"Ngapain kamu di sini? Sana pergi urusin pertunanganmu!" judes Rea. Gadis itu jadi semakin berani sejak Andra mulai bersikap manis padanya. Ditambah rasa marah dan kecewa. Sepertinya Rea perlu pelampiasan. Dan Andra bisa jadi pilihan yang tepat.


"Tinggal nyari cincin doang," jawab pria itu santai. Rea melengos mendengar ucapan Andra. Wajahnya terasa panas dengan mata siap menurunkan hujannya, ketika Andra terdengar antusias soal pertunangannya.


"Ayo," pria itu mengulurkan tangannya, saat sneakers itu sudah terpasang di kaki Rea. "Pulang?" Andra menggeleng. Pria itu lantas menarik tangan Rea untuk pergi dari sana.


Kembali Rea manyun, kala Andra mengajaknya masuk ke sebuah outlet perhiasan. "Nggak mau!" tolak Rea. "Re...tolong deh. Habis ini sudah. Aku janji. Es krim vanila sekotak," bujuk Andra. Dia tahu Rea pecinta es krim rasa itu. Rea berdecih pelan.


"Duh... pengen tak karungin tak bawa pulang, kalau dia terus bertingkah manis begini," batin Rea sebal.


"Kamu suka yang mana?" tanya Andra ketika beberapa cincin pilihan Andra tidak pas di jari Rea. Gadis itu menghela nafasnya pelan. "Yang simple. Mata tunggal. Yang batunya kecil," jawab Rea asal. Gadis itu sudah terlalu lelah hari ini. Mereka keluar dari pagi, dan ini hampir jam tujuh malam.


Staf outlet itu mulai bergerak. Mencari cincin yang mungkin di sukai Rea. Hingga akhirnya ada satu cincin yang benar-benar menarik hati Rea. Cincin sederhana bermata biru safir, simple tapi terlihat anggun di mata Rea.


"Aku ambil yang itu," hati Rea mencelos, dia hampir menangis. Jika Andra memilih cincin itu, berarti Rana yang akan memakainya. "Berikan satu set yang sesuai dengan cincin itu," perintah Andra lagi.

__ADS_1


"Ayo pulang," ajak Andra. Rea melangkah gontai mengekor Andra. Sesaat melihat pada cincin yang tidak mungkin dia miliki. Andra mengulum senyumnya, melihat wajah tidak rela Rea.


Pria itu melajukan mobilnya menuju kediaman Aherne, setelah dua box besar es krim vanila berada di jok belakang mobil Andra. Meski Rea sama sekali tidak memintanya.


"Re....." Andra memanggil Rea yang sudah terkantuk-kantuk.


"Hmmmm,"


"Kamu kalau nikah, pengen kayak apa?" pancing Andra. Rea seketika mendelik ke arah Andra. Pria itu terlihat santai saat menanyakan pertanyaan yang bagi Rea terasa menyakitkan.


"Nih orang gak peka atau gimana sih?" gerutu Rea dalam hati. Sungguh, Rea ingin mengumpat wajah innocent milik Andra yang benar-benar tidak paham dengan perasaannya. "Dijawab dong Re," kata Andra lagi.


Rea tidak langsung menjawab. Sebab dia sudah kepalang enggan memikirkan soal nikah atau apapun itu. Rea patah hati, bahkan ketika dia belum maju berjuang untuk menyatakan perasaannya. Tapi Rea sendiri merasa tidak punya keberanian untuk mengungkapkan rasa hatinya pada Andra. Biarlah menjadi rahasia, akhirnya sebaris kalimat itu yang menjadi penutup rasa yang ia punya untuk Andra.


Tidak masalah untuknya, asal Andra bahagia, beeuuuhhh sok bijaksana lu, Re, padahal hatimu hancur berkeping-keping. Ciihhh, memang sudah seberapa besar rasa cintamu padanya? Satu sisi Rea bertanya. Cinta? Aku menyukainya, apa itu bisa dikatakan aku mencintainya? Batin Rea malah sibuk berdebat sendiri.


"Re....kok nggak dijawab?" suara Andra membubarkan adu debat batin Rea. Konsep menikah? Dia belum terpikirkan, hanya saja, sebagai pecinta drama. Tentu dia ingin sesuatu yang romantis untuk pernikahannya......nanti. Pada akhirnya Rea hanya menjawab," Aku belum kepikiran untuk menikah. Aku masih ingin kuliah dan meraih cita-citaku."


Andra hampir menarik tuas remnya, ketika Rea menjawab pertanyaannya. Tapi dia urung melakukannya. Pikiran pria itu bercabang, apa Rea tidak bersedia diikat untuk saat ini, batin Andra ragu.


Selanjutnya hanya keheningan yang menyelimuti dua orang itu, hingga mobil Andra perlahan masuk ke rumah besar Aherne. Pria itu menarik nafasnya melihat Rea yang tidur di sampingnya. "Màaf untuk hari ini, tapi aku sungguh jatuh cinta padamu. Aku tidak mau kehilanganmu. Karena itu aku melakukan semua ini," sebuah ciuman mendarat di kening Rea. Lama Andra mencium gadis itu. Hingga sebuah deheman mengacaukan moment tersebut


"Eheemmmm....."

__ADS_1


"Ckkk mengganggu saja!" maki Andra langsung.


*****


__ADS_2