Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Kecewa


__ADS_3

"Papamu terkena serangan jantung ringan. Tapi jangan khawatir. Keadaannya sudah membaik. Sekarang biarkan dia istirahat dulu."


Perkataan Mark membuat Katya lega. Tapi tidak dengan Andra. Pria itu seketika menyalahkan Rea. Jika bukan karena pertengkaran mereka soal Rea, sang papa tidak akan mengalami serangan jantung.


Andra duduk di sofa, memperhatikan Katya yang setia menunggu Daniar. Sesaat ada rasa iri dalam diri Andra. Kenapa dia tidak bisa mendapatkan pasangan yang mempercayai kejujurannya? Kenapa Rea tidak percaya padanya? Kenapa semua gadis yang dekat dengannya selalu meninggalkannya? Kenapa? Kenapa?


Pertanyaan itu berputar di kepala Andra. Salah paham antara dua orang itu sepertinya akan berkepanjangan. Andra yang mulai merasa benar sendiri dan Rea yang merasa dikhianati.


Pagi menjelang, Andra membuka perlahan matanya, saat sinar matahari menerobos masuk di sela-sela tirai kamar VIP itu. Dilihatnya sang mama yang tidur di samping sang papa. Pria itu menghela nafasnya, lantas bangun. Masuk ke kamar mandi.


Selang infus masih tertancap di tangan kiri Daniar. Begitu juga dengan selang oksigen. Monitor detak jantung pun masih terpasang dengan ujung kabel berada di dada pria itu. Mark baru saja datang memeriksa. Dan keadaan Daniar sudah stabil. Tapi Daniar masih harus menunggu observasi sampai besok siang.


Hari sudah menunjukkan pukul 10 siang, ketika serombongan orang yang masuk membuat Andra mengangkat wajahnya. Saat itu mata Andra bertemu dengan mata sembab Rea. Jelas jika gadis itu menangis semalam. Ingin rasanya Andra berlari memeluk Rea. Tapi tindakan Rea yang langsung memalingkan wajah membuat Andra geram.


Daniar tersenyum melihat Rea. Pria itu bahkan memeluk Rea erat. Ada rasa sayang yang Daniar alirkan saat pria itu mencium puncak kepala gadis tersebut.


"Tolong maafkan putra Papa."


Rea tertegun mendengar perkataan Daniar. Bahkan pria itu sudah menyebut dirinya papa. Mata Rea berkaca-kaca saat mendengar perkataan Daniar. Tidak dia pungkiri kalau dia sendiri masih bingung saat ini. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Dia tidak tahu keputusan apa yang akan dia ambil.


Meninggalkan papa dan mamanya berbincang dengan Daniar, Rea berjalan keluar dari ruang rawat papa Andra itu. Dia merasa sesak di sana. Karena itu dia bermaksud pergi ke ruangan sang kakak. Mark atau Gina. Siapa yang luang diantara keduanya.


Tapi gadis itu baru saja berbelok di ujung lorong tempat Daniar dirawat, ketika Andra memanggilnya.


"Re....bisa kita bicara?"


Rea langsung memejamkan mata mendengar suara Andra. Dia belum siap bertemu Andra sebenarnya. Meski begitu, Rea tetap menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik, memandang Andra yang tampak berantakan, seperti hatinya.


"Re, ayo bicara."


Rea menepis tangan Andra yang ingin menyentuh lengannya. Gadis itu juga memundurkan langkahnya. Andra tersenyum kecut melihat sikap Rea.


"Jadi bagaimana?"

__ADS_1


Pria itu mencoba sabar menghadapi Rea. Ada sebagian diri Andra yang mencoba mentolerir sikap Rea. Tapi sebagian yang lain, merasa terhina dengan reaksi Rea.


"Aku mau membatalkannya."


Rea langsung memejamkan matanya, begitu Andra mencengkeram lengannya. Mata gadis itu berkaca-kaca.


"Apa katamu?"


Rea meringis kala Andra semakin menekan lengan Rea. "Beri aku waktu...."


"Apa kau tahu kenapa papa sampai kena serangan jantung? Semua karena kamu!"


Rea mengangkat wajahnya. Membalas tatapan tajam Andra. Dua insan yang saling mencinta di masa lalu itu, kini tenggelam dalam kesalahpahaman yang rumit. Dua hati yang tengah panas, dibalut ego masing-masing, membuat keduanya lebih mengedepankan amarah dibanding mempertimbangkan setiap kata yang terucap dari bibir masing-masing.


"Jadi kamu menyalahkan aku?"


Rea yang sejak kemarin mencoba mencari kesalahannya sendiri, hingga berujung pada Andra yang menyentuh wanita lain. Kini berubah haluan. Sisi egois Rea mulai mengambil alih pikirannya. Dia yang biasa memanggil kakak pada Andra, kini mulai menggunakan bahasa formal, seolah mereka orang lain.


"Dia lebih membelamu ketimbang aku anaknya."


Potong Rea cepat. Dia lelah memberi toleransi pada dirinya soal kejadian Andra. Dia ingin mengakhiri rasa sesak di dada dan sakit di hati. Mendengar jawaban Rea, emosi Andra meroket naik. Cengkeraman tangan Andra berubah menjadi cekikan di leher Rea. Jelas Rea terkejut. Bola mata gadis itu membulat sempurna.


Hingga teriakan Mark membuat semua orang di dalam kamar Daniar keluar.


"Lepaskan dia! Apa kau gila? Apa kau ingin membunuhnya?"


Mark melepas paksa cekikan Andra, menarik Rea menjauh dari Andra. Gadis itu langsung menangis histeris dalam pelukan Rea. Matt hampir saja memukul Andra, jika saja Karl tidak mencegah.


"Putuskan hubungan kalian! Aku tidak mau putriku menjadi korban kekerasanmu!"


Berta dan Katya hanya bisa menutup mulut masing-masing. Mereka sempat melihat Andra yang mencekik Rea. Sungguh tidak terbayang oleh mereka kalau Andra sanggup melakukan hal itu pada Rea. Melihat Rea yang menangis dalam pelukan Mark, hati Andra terasa sakit. Dia tidak bermaksud melakukan hal itu pada Rea. Tapi emosi sudah membutakan mata hati dan pikiran pria itu.. Pria itu kini jatuh terduduk di lantai. Penyesalan tampak terlihat jelas di wajah Andra.


"Maafkan aku, Re. Aku tidak bermaksud melukaimu. Aku mohon...."

__ADS_1


Mendengar perkataan Andra, Rea melepaskan diri dari pelukan Mark. Gadis itu berjalan mendekati Andra, lantas melepaskan cincin pertunangan mereka. Melemparkannya ke arah Andra.


"Kita akhiri semua sampai di sini!"


Setelah mengatakan hal itu. Rea berbalik, lantas berlari meninggalkan semua orang. Meninggalkan Andra yang seketika menangis tergugu.


"Jangan pergi! Rea maafkan aku!"


Teriak Andra. Hari itu, dua hati tersebut memilih kalah pada ego masing-masing. Cinta yang telah bersemi hampir 3 tahun, kini hilang entah ke mana. Memudar ketika kesalahpahaman dan amarah mengambil alih situasi. Rea memilih menyerah, sedang Andra tidak punya keberanian untuk mempertahankan cinta mereka.


Semua yang ada di situ hanya bisa terdiam. Pesta pernikahan akbar yang sedianya akan dihelat lusa, benar-benar hancur berantakan. Urung dilakukan. Katya dan Berta bahkan saling berpelukan. Menangis tersedu.


"Sudah kubilang, kau masih terlalu muda untuk menghadapi tiga tekanan cinta yang datang sekaligus padamu."


Ucapan Steve terngiang kembali di kepala Rea. Gadis itu sudah berada di luar rumah sakit. Rea menyusut kasar air mata yang mengalir di kedua belah pipinya. Dia bingung harus ke mana. Dia ingin menangis sepuas. Berkali-kali Rea menengadahkan kepalanya. Mencegah agar air mata itu tidak tumpah. Tapi nyatanya dia gagal. Matanya kembali basah oleh bulir kristal bening yang keluar dari sudut matanya.


Sebuah mobil berhenti di depan Rea, pintunya langsung terbuka.


"Naiklah."


Ucapan dari pemilik mobil itu membuag Rea tanpa pikir panjang masuk ke dalamnya. Gadis itu mengabaikan teriakan Mark dan Andra yang mengejarnya. Andra mengumpat kesal, melihat siapa yang sudah membawa Rea pergi.


"Kau tahu siapa dia?"


Andra menghembuskan nafasnya kasar.


"Bradley Scott."


Giliran Mark yang menarik nafas panjang. Pria itu telihat sangat kecewa dengan semua yang terjadi hari ini.


****


Ritual jemplnya jangan lupa...

__ADS_1


Like, vote dan komennya, ditunggu selalu...


__ADS_2