
Rea berjalan mondar mandir di kamarnya. Dia teringat bagaimana Andra melihatnya. Dia tidak tahu apa maksudnya, tapi yang pasti, jantungnya berdebar kencang saat melihat tatapan Andra padanya.
"Hai, Na....rasanya pacaran tu bagaimana sih?"
Sebuah pesan Rea kirim pada Nana, sang sahabat. Sejak Matt membelikan ponsel untuknya. Gadis itu langsung menghubungi Nana. Dan beginilah mereka, saling ngobrol lewat video call atau sekedar chattingan via WA atau medsos lainnya. Setelah membaca pesan Rea, Nana pun menceritakan pengalamannya pacaran dengan anak sekolah sebelah. Bla....bla....bla...., "Intinya, jantungmu berdebar kencang kayak kalau kita habis disuruh lari keliling lapangan sama SKJ, kalau kamu dekat sama dia," Nana menutup penjelasan ngalor ngidul tidak jelasnya itu.
"Memang kamu suka sama siapa?" tanya Nana. Gadis itu tahu siapa saja yang berhubungan dengan Rea. "Nicky gak mungkin dong, Bryan sudah punya Terry, Mark you know kalau dia g**. Shane? Nggak mungkin dong kamu suka sama akuntan galak itu. Katamu dia illfeel banget sama kamu," celoteh Nana dari seberang.
Rea menggigit bibir bawahnya, ingatannya kembali pada waktu pria itu memegang tangannya, "kau ini ceroboh sekali!" maki Andra. Rea langsung menundukkan wajahnya. "Lihat aku kalau aku sedang bicara padamu!" Andra menarik tangan Rea. Membuat wajah mereka semakin dekat. Untuk sesaat Rea benar-benar terpana dengan wajah Andra. Meski detik berikutnya, gadis itu kembali menundukkan wajahnya.
Wajah Rea memanas mengingat kejadian itu. Wajah Andra benar-benar membuat Rea terpesona. "Kok malah diam?" pesan dari Nana masuk. Tapi Rea enggan membalasnya.
******
"Kakak! Stop!" Rea berteriak ketika Mark memacu Lambo miliknya dengan kecepatan penuh. Pria bermata biru, berhidung mancung dengan bibir tebal berwarna merah itu terbahak mendengar kepanikan Rea. Gadis itu berpegangan erat pada seatbeltnya. Mark jelas puas mengerjai sang adik."Nanti aku bilang sama Vio, kalau Kakak ngebut di jalan. Biar dimarahi!" maki Rea. Vio adalah kekasih g** Mark.
Kredit Pinterest.com
"Bilang saja, Kakak tidak takut," tantang Mark santai. Memacu kembali kendaraannya, menuju sebuah tempat yang Rea sendiri tidak tahu tempat apa itu.
__ADS_1
"Turunlah, yang lain sudah datang," kata Mark membukakan pintu untuk Rea. Gadis itu mengembangkan senyumnya melihat tempat apa itu. Sebuah tempat untuk latihan menembak. Rea jelas antusias saat tahu ke mana Mark membawanya. Rea hampir melompat saking senangnya. Menembak, archery (memanah) adalah salah satu hal selain akuntansi dan taekwondo yang ingin dia pelajari.
Tapi senyum Rea langsung memudar melihat Andra juga ada di sana. "Kak....." Rea menarik lengan Mark. "Kenapa?" tanya sang kakak."Oh tidak apa-apa, dia tidak akan menggigitmu," canda Mark. Rea menarik nafasnya, gigit sih tidak, tapi mulutnya itu galaknya minta ampun. Plus wajah judesnya membuat Rea ingin menenggelamkan pria itu ke laut Atlantik. Emang berani?
"Kau tahu dia yang paling lihai dalam hal ini, dia punya lisensi menembak. Mengingat profesinya sering jadi incaran klien yang tidak puas dengan auditnya," bisik Shane begitu Rea duduk di di sebelah pria itu. Gadis itu lantas melirik Andra yang tengah serius membidik sasarannya. Memakai hodie berwarna putih, membuat pria itu terlihat berbeda dari tampilan hariannya.
Kredit Pinterest.com
Gaya Andra terlihat begitu manly saat pria itu mengarahkan pucuk pistol miliknya ke sasaran yang ada di ujung sana. Fokus Andra sama sekali tidak terganggu dengan kebisingan yang Mark dan yang lainnya buat.
"Bravo!!!!!" Bryan berteriak ketika Andra sukses menembak dengan tepat pada sasarannya. Pria itu berbalik lantas melepas ear phone peredam bunyi di telinganya. "Cepat sana!" Bryan menyenggol lengan Rea yang sedang bercanda dengan Terry, kekasih Bryan. "Ke mana?" tanya Rea polos.
"Dia yang paling ahli dalam hal ini. Nanti kalau kau ingin belajar akuntansi dia juga ahlinya," kata Gina. "Di...dia?" Rea menatap horor ke arah Andra yang menatapnya tajam. Adik Gina itu langsung merapatkan tubuhnya pada Terry.
"Kemari kamu!" satu kalimat kembali terdengar. Kali ini Shane yang menarik tangan Rea untuk berdiri. Sebab pria itu juga akan berlatih menembak.
******
"Hah....hah....hah......" Rea berulangkali menarik nafasnya. Setelah sesi belajar menembak dengan Andra yang horornya melebihi nonton film Pengabdi Setan 2 karya Joko Anwar yang terkenal menakutkan. Bagaimana tidak, pria itu benar-benar menyeramkan saat menjadi mentor.
__ADS_1
"Kenapa pakai dress, padahal sudah tahu mau latihan menembak. Mau pamer paha ya?" kalimat pertama dari Andra sukses membuat Rea kelabakan. Melihat ke arah bawah. Paha? Dressnya sampai lutut kali, paha siapa yang dipamerkan? Batin Rea. "Malah bengong!" Rea sontak mengangkat wajahnya. Melihat Andra berdiri di depannya. Rea mana tahu kalau akan berlatih menembak hari ini. Sebab Mark langsung menjemput dirinya di tempat les biolanya.
Pria ini judesnya minta ampun pada Rea, tapi kenapa gadis itu merasa kalau Andra selalu ingin dekat dengannya? Tubuh Rea meremang kala Andra membenarkan posisi tangannya saat memegang pistol jenis Glock. Pistol yang lazim digunakan untuk latihan menembak. Sentuhan tangan Andra membuat dada Rea berdesir pelan.
"Fokus! Arahkan Glockmu ke depan sana!" Andra memberi arahan. Rea menurut, begitu dia dapat satu titik sasaran di depan sana. Mata Rea mulai memicing. "Tarik pelatuknya!" perintah Andra tepat di sisi wajah Rea. "Dor! Peluru dilesatkan dengan Rea yang langsung melempar Glocknya sembarangan, lantas berjongkok sambil menutup dua telinganya. Padahal peredam itu masih menempel di telinga Rea.
Melihat sikap Rea, Andra mengumpat seketika. "Jangan melempar pistol sembarangan. Nanti bisa meledak!" pekik pria itu. Andra menarik nafasnya dalam, sembari berkacak pingģang. Sementara yang lain malah terpingkal melihat tingkah dua manusia itu.
"Kebayang gak sih kalau mereka jadian?" bisik Terry. "Bisa saja. Apa kalian sadar, segalak-galaknya Andra pada Rea. Tapi dia tidak menolak Rea. Dia tidak mengusir Rea. Jika Andra tidak tertarik pada Rea. Dia pasti sudah benar-benar memblack list Rea dari hidupnya," Mark mulai menganalisa.
"......aku tidak peduli kau terkejut atau apa. Suara pistol memang seperti itu," bentak Andra.
Rea hampir menangis dibuatnya. "Dia menangis, kau tanggungjawab," Gina berkata penuh penekanan. "Jangan menangis!" Rea mengusap pelan air matanya.
"Kakak....." bisik Rea. Tanpa berani melihat ke arah Gina. Detik berikutnya, Andra menarik tangan Rea. "Kau mau bawa dia kemana?" teriak Bryan. "Healing!" teriak Andra keras. Pria itu membawa tubuh Rea yang hampir terseret, mengimbangi langkah lebar Andra.
"Kak...sakit!" rintih Rea ketika perih terasa di pergelangan tangannya. "Masuk!" Rea memundurkan langkahnya saat Andra membuka pintu mobilnya. Mobil yang hampir sama dengan milik Mark.
Andra melotot ke arah Rea. Pada akhirnya, Rea duduk dengan wajah ketakutan di samping Andra. Melihat pria itu mulai melajukan mobilnya.
"Apalagi sekarang, setelah horor latihan menembak, pria ini akan membawaku ke mana?" batin Rea cemas.
__ADS_1
*****