
Andra benar-benar kesal dengan Rea, bagaimana bisa, gadis itu malah balik tidur lagi setelah Gina membangunkannya. Nasib baik dia datang ke rumah itu untuk mengambil dokumen yang Matt tinggalkan untuknya. Seorang ART memberitahunya kalau nona mudanya belum juga turun. Andra lupa dengan kebiasaan Rea yang hanya memakai pakaian minim itu saat di kamarnya. Alhasil, jakun Andra turun naik melihat bokong sintal nan padat milik Rea saat pria itu masuk ke kamar adik Gina itu, pasalnya Rea tidur tengkurap. Dengan buku bertebaran di kasur besarnya.
Kredit Pinterest.com
Anggap Rea tidurnya begitu ya guys, plus bayangin aja dia pakai tank top bukan kaos......
"Berapa kali dibilangin, kalau pakai baju yang benar!" sembur Andra begitu mereka berada di mobilnya. Andra tidak mengizinkan Rea membawa mobilnya sendiri.
"Kan aku di kamarku sendiri," bantah Rea lirih. Memangnya salah ya pakai baju begituan di kamar sendiri. Andra langsung mendelik mendengar bantahan Rea. Gadis itu langsung menciut mundur. Tidak berani memandang Andra lagi. "Setidaknya kuncilah pintu," Kata Andra setelah pria itu beberapa kali menarik nafasnya. Guna menurunkan emosi juga juga gejolak di dirinya. Pria itu melirik Rea yang terlihat cantik dengan setelah kerja berwarna orange cerah. Rambutnya dicepol sembarangan, yang malah membuatnya semakin menawan.
"Lima menit dandan saja sudah kinclong hasilnya. Bagaimana kalau di make up beneran," Andra mulai memperhatikan penampilan Rea. Pria itu tidak menampik, semua kursus yang Gina dan Berta berikan, membuat Rea benar-benar berada di next level dibanding dulu.
"Kebiasaan di panti, tidak ada acara kunci pintu kamar," jawab Rea lirih. Hati Andra mencelos mendengar jawaban Rea. "Sekarang biasakan, kamu tidak tinggal di panti lagi. Kamu putri bungsu Mattew Aherne. Ingat itu," Andra mengingatkan. Rea mengangguk paham.
Keheningan sesaat menyelimuti mereka berdua.
"Hari ini kamu ada schedule dengan Steve lagi, ingat?" Andra mengingatkan. Rea mengangguk mendengar perkataan sang mentor. Pria itu tersenyum, melihat gelang pemberianya masih terpasang cantik di tangan Rea. Untuk sesaat, Andra mengulum senyumnya. Desir aneh itu kian terasa di hati Andra. "Tertarikkah aku pada adik Gina ini," batin Andra kembali melirik Rea yang sibuk dengan ponselnya.
"Jangan mainkan ponselmu jika sedang bersama orang lain, kecuali urusan penting," Andra merebut ponsel Rea. Meletakkannya di dashboardd mobilnya.
Ha? Rea melongo mendengar ucapan ketus Andra. "Ni orang kesambet setan mana lagi. Jadi sok perhatian gini," batin Rea bingung.
__ADS_1
******
Andra berlari keluar dari sebuah meeting room di hotel X, telepon dari Mark membuat Andra ketakutan, hingga membiarkan Shane menyelesaikan sisa urusannya dengan klien mereka. "Kau yakin dia tidak ada di sana?" tanya Andra panik.
"Aku yakin, Steve berkata dia sudah keluar sejak setengah jam sebelum aku datang," Mark menjawab juga dengan panik dari ujung sana.
"CCTV?" tanya Andra.
"Dia keluar dari kantor Steve, tapi tidak tahu pergi ke mana," balas Mark.
Sambungan terputus. Beberapa kali Andra menghubungi ponsel Rea. Tapi tidak aktif. Pria itu mengumpat kesal. Dia sudah menghubungi rumah besar Aherne, ART mereka mengatakan nona mudanya belum pulang. Dan ini sudah dua jam sejak Rea keluar dari kantor Steve.
Seminggu menjalani hipnoterapi dengan Steve, keadaan Rea membaik dengan cepat. Gadis itu lebih terbuka dengan orang di sekelilingnya. Dia lebih ekspresif, kecuali depan Andra. Hanya satu hal yang mengganggu pikiran Andra. "Dia tidak mungkin pulang ke kotanya, kan?" gumam Andra.
Jika Andra sudah seperti kebakaran jenggot mendengar Rea tidak ada di manapun, Gina malah sudah menangis di pelukan Nicky. Satu, dia takut terjadi sesuatu dengan Rea. Dua, dia takut dengan kemarahan Matt, sang papa kalau adiknya menghilang.
Semua saling pandang mendengar curhatan Gina. Mereka semua tahu betapa sayangnya Matt dan Berta pada Rea, sama besarnya dengan mereka menyayangi Gina.
"Dia gak mungkin pulang ke kotanya kan," lirih Gina. Wanita itu teringat perkataan Steve yang mengatakan Rea ingin pulang ke kotanya dan menyelesaikan SMA-nya di sekolah lamanya. Dengan resiko, dia harus menghadapi Clara.
"Aku rasa tidak," Nicky yang menjawab. Hening menyelimuti ruang keluarga Gina yang besar dan mewah.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
"Dia menghilang atau diculik ya?" celotehan Terry membuat semua orang menatap gadis manis itu. "Begini deh, kita tahu Rea bukan tipe anak yang main kabur tanpa kabar. Dia pasti kasih kabar ke kita. Dia di mana, sama siapa. Nah ini, bahkan kalau ponselnya mati, dia tetap cari cara buat menghubungi kita kan?"
Semua manggut-manggut mendengar analisa Terry yang sangat masuk akal. "Diculik? Jangan nakutin aku dong, Ter, ngeri," Gina bergidik takut. Sebab dia dulu pernah mengalaminya, untungnya pengawal bayangan Gina bisa menyelamatkan wanita itu. Salahnya Matt, pria itu memang tidak memberi pengawal bayangan pada Rea, putri bungsunya. Matt berpikir dia belum mengumumkan status Rea yang adalah putrinya. Jadi dia merasa Rea masih aman tanpa pengawalan. Terlebih Rea magang di kantor Andra, jadi sebagian waktunya di kelilingi Andra dan stafnya.
"Lalu kandidat penculiknya siapa? Rea adikmu, hanya kalangan kita sendiri yang tahu. Dan...."
"Staf Andra, mereka tahu Rea adik Gina," Nicky memotong perkataan Bryan.
"Kita tidak tahu kan, seberapa lemes mulut para staf Andra itu. Mengingat mereka gak cuma satu, tapi banyak," sambung Nicky
"GPS ponsel Rea di mana?" tanya Shane yang baru nimbrung. Pria itu turut panik mendengar kabar Rea yang hilang. Mereka semua menggeleng mendengar pertanyaan Shane. "Oh my God, kenapa jadi ruwet begini," gumam Terry.
Tak berapa lama, dua mobil masuk ke pelataran rumah Gina yang luas. Bisa dipastikan itu Mark dan Andra. "Aku coba melacak GPS ponsel Rea. Dan aku menemukan posisinya di sini," Andra membuka laptopnya. Menunjukkan lokasi ponsel Rea. "Itu...."
"Sebuah losmen murah di pingggir kota. Satu jam dari sini," jelas Andra cepat. Semua orang kembali beradu pandang.
"Ngapain dia di sana?" Gina bertanya. "Salah, kenapa dia di sana?" Mark menyahut. "Sama saja, O...on," bentak Gina sebal. Mark nyengir mendengar bentakan Gina. Pria itu sedang membuat lelucon agar semua orang tidak terlalu panik. Dan hasilnya, semua orang memandang judes padanya. "Oke, aku diam," Mark mengangkat tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Duh, anak pak Mattew ini hilang ke mana sih?" seloroh Bryan. Pria itu asal bicara tanpa tahu di pintu masuk ruang keluarga itu, Matt dan Berta berdiri. Matt jelas memicingkan mata mendengar perkataan Bryan.
"Putriku yang mana yang hilang?" suara tegas Matt membuat semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. "Yah, bapaknya Rea tahu. Makin gawat ni kasus," batin semua orang hampir bersamaan.
__ADS_1
"Duh Rea...Rea pakai acara hilang segala sih," oceh Shane tertahan.
******