Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Perampokan


__ADS_3

Rea berlari masuk ke UGD rumah sakit, tempat Mark bekerja. Tidak peduli pada teriakan Ken yang menyuruhnya pelan-pelan.


"Kumat keseleonya, kita yang abis kena omel ma kakaknya."


Gerutu Ken, menyusul Rea bersama Devi dan Jerry. Setiba di dalam, mereka terkejut melihat keadaan Nana yang terbaring lemah, dengan beberapa luka memar di tubuhnya. Kaki, tangan, wajah dipenuhi lebam. Dengan kepala terbalut perban. Warna merah masih terlihat di perban Nana.


Sementara Rea sudah terisak lirih di dekat Nana yang masih terpejam matanya. Dilihatnya sang kakak, masih memeriksa keadaan Nana. Hingga Rea belum berani bertanya.


Setelah beberapa waktu, Nana bisa dipindahkan ke ruang rawat. Mark memutuskan untuk menahan Nana, paling tidak sampai besok. Untuk melihat ada yang serius atau tidak dengan cidera di kepala gadis itu.


"Apa yang terjadi?"


Rea bertanya dengan rasa kepo menggebu-gebu. Bagaimana bisa Nana berakhir babak belur begitu.


"Dia mengalami perampokan."


Rea dan Devi langsung menutup mulutnya bersamaan. Mark lantas menceritakan bagaimana dia menemukan Nana bersimbah darah, ketika dirinya lewat di ruang UGD setelah memeriksa pasien jantung koroner yang datang pagi ini.


Dari orang yang menemukan Nana, mereka mengatakan kalau menemukan Nana tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan pingsan. Mereka lalu membawanya ke sini.


"Sudah ketemu rampok sialan itu?"


Ken bertanya, ikut marah melihat keadaan Nana. Bagaimanapun mereka teman, meski keduanya cuma saling ledek kalau bertemu.


"Jack masih mencarinya. Tapi sepertinya sebentar lagi juga ketemu. Tahu sendiri kan anak buah Andra kalau bekerja bagaimana."


Semua terdiam. Semua mengakui bahkan Ken juga tidak menampik kinerja anak buah Andra, memang patut diacungi jempol.


Tak berapa lama terdengar suara lirih Nana. Rea dan Mark dengan cepat mendekat.


"Bagaimana keadaanmu, Na?"


Rea bertanya cemas. Dia hampir menangis melihat Nana yang kesusahan bergerak.


"Sakit, sesak...."


Mark dengan cepat menarik selang oksigen lantas memakaikannya di hidung Nana. Menyelipkan alat saturasi di jempol Nana. Setelah beberapa menit. Nana memberi kode kalau dia sudah merasa lebih baik.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Mereka penipu. Mereka berkomplot...."


Detik berikutnya, Nana menangis tersedu. Mengingat mereka membawa semua cash yang dia bawa, mereka juga berhasil menggasak uang di rekeningnya setelah memaksa Nana melakukan scan sidik jari.


"Modal kita Re. Mereka mengambilnya. Aku ceroboh."


Nana menangis dalam pelukan Rea. Sedang yang lain langsung melempar pandang. Perlu beberapa waktu hingga Nana merasa tenang. Tak berapa lama pintu terbuka. Menampilkan sepasang suami istri yang terlihat marah.


"Dasar ceroboh. Bagaimana bisa kamu kerampokan begini!"


Teriakan papa Nana menggelegar di ruang rawat gadis itu. Melihat situasi itu Jerry, Devi dan Ken, memilih keluar dari sana. Tidak ingin ikut campur.


"Bapaknya galak ya. Anake kerampokan malah di marahi."


Ken berujar. Lalu Devi menjelaskan kalau yang dirampok adalah uang pemberian papa Nana yang akan digunakan untuk modal membuka usaha Nana dan Rea.


Dari luar ruangan, ketiganya masih bisa mendengar kalau papa Nana tidak peduli pada keadaan Nana. Pria itu hanya fokus pada kehilangan uangnya.

__ADS_1


"Kasihan Nana ya."


Ken sesaat terdiam. Dia tidak menyangka di balik sikap cerewer Nana, ternyata itu hanya topeng untuk menutupi kesedihan hatinya. Mereka kembali saling pandang ketika mendengar Nana hanya bisa menangis ketika papanya memarahinya. Hingga terdengar suara Mark yang ikut campur.


Pria itu membela Nana, tapi papa Nana tidak peduli. Dia tetap ingin modalnya kembali setengahnya dalam dua tahun. Tak berapa lama, terdengar suara pintu yang dibanting bersamaan dengan papa dan mama Nana yang keluar dari sana.


Ken menggelengkan kepalanya, setidaknya papa dan mamanya selalu mengkhawatirkan dirinya dan sang kakak.


"Sudahlah. Nanti kita pikirkan caranya untuk mencari modal tambahan."


Rea menghibur Nana. Gadis itu masih terisak, bahkan ketika Mark sudah memberikan segelas air putih untuk menenangkan gadis itu.


"Pakai aja black cardmu dulu. Nanti setelah kalian dapat untung bisa dicicil.


Saran Mark, setelah mendengar kalau sisa uang Nana tinggal 20 juta di ATM. Dan itu tidak akan bisa dijadikan modal usaha mereka. Meski kalau diikutkan mereka bisa saja memberikaan modal itu pada Rea dan Nana.


"Sebenarnya kalian mau bisnis apa sih?"


Ken kepo. Pria itu duduk di sofa sembari memeriksa ponselnya.


"Impor berlian."


Tukas Jerry. Ken menghentikan gerakan jarinya. Impor berlian?


"Dari mana?"


"Luar negerilah. Namanya juga impor."


"Kenapa kalian tidak bilang kalau impor kan aku bisa bantu."


Semua menatap ke arah Ken. Detik berikutnya mereka menepuk jidat berbarengan. Mereka lupa kalau Ken adalah bos muda ekspor dan impor.


Seloroh Jerry. Wajah Rea dan Nana mula tersenyum. Kini tinggal mereka di sana karena Mark harus pergi melakukan operasi.


"Aku punya daftar distributor hampir semua barang. Baik dalam dan luar negeri. Termasuk berlian. Aku bisa merekomendasikannya kalau kalian mau. Dan aku berani menjamin kalau mereka sangat bisa dipercaya."


"Mau banget." Teriak Rea dan Nana bersamaan.


Meski babak belur, akhirnya Nana bisa tersenyum walau sambil meringis. Tak berapa lama, Andra masuk. Melihat Ken di sana, bisa dipastikan kalau keduanya akan adu debat lagi. Dan benar saja.


"Ngapain anak ingusan ada di sini."


Salak Andra, meski dia berjalan ke arah ranjang Nana.


"Jengukin Nana lah Om. Ngapain lagi. Nanti kalau aku bilang mau nemuin Rea, Om marah."


Andra langsung mendelik, mendengar Ken yang lagi-lagi memanggilnya Om. Terlebih Ken menjawab pertanyaannya sembari memainkan ponselnya.


"Ehhh, anak pak Sammy ini benar-benar membuatku uji nyali."


"Enak aja uji nyali. Om kira Ken makhluk astral apa."


Protes Ken. Semua yang hadir hampir meledakkan tawanya, mendengar adu mulut absurb sampai makhluk tak kasat mata pun dibawa-bawa. Andra baru saja akan membalas cuitan Ken, tapi Rea memberi kode untuk diam.


"Rumah sakit. Lagian ngapain kemari? Kalau cuma mau ribut. Keluar aja sana."


Andra mendengus geram mendengar pengusiran Rea. "Mau lihat dia."

__ADS_1


Jawab Andra, melirik ke arah Nana.


"Gak apa-apa kok."


"Bohong kamu. Muka kayak tempe dibejeg-bejeg gitu bilang gak apa-apa."


Nana reflek mencubit lengan Andra. Enak saja mengatainya tempe dibejeg-bejeg.


"Sakit, Na. Iihh duo ini kalau nyubit gak kira-kira. Panas, Re."


Adu Andra pada Rea. Sementara Rea hanya mengulum senyumnya.


"Sudah ketemu belum rampoknya?"


Celetuk Ken dari sofanya.


"Sudah, makanya aku mau lhat dia hajar Nana kayak apa. Aku mau suruh Jack buat balas gitu ke mereka."


Mendengar perkataan Andra semua orang menarik nafasnya lega.


"Balikin aja duit gue. Soal hajar menghajar urusan nanti."


Mohon Nana. Karena yang penting itu sekarang. Yang lain bisa belakangan.


Andra menggaruk kepalanya. Bingung harus menjawab apa. Sebab ketika Jack dan yang lainnya melacak keberadaan uang Nana. Uang tersebut sudah hilang ke mana.


Tangis Nana pecah, mendengar jawaban Andra.


"Diam iihh, nanti tak sokong deh modalnya."


Tangis Nana seketika berhenti mendengar ucapan Andra.


"Bener ya, 70 persen."


"Aje gila! Gue bilang nyokong, itu namanya rampok. Elu kata beli berlian duitnya sedikit. Pajaknya banyak itu."


"Alah itung-itung modalin istri."


Nana menaikturunkan alisnya. Andra langsung melirik Rea mendengar kata istri. Sementara Ken mendengus kesal. Jerry dan Devi saling pandang melihat reaksi Ken.


"Ya..ya...pak akuntan. Duitnya situ kan banyak. Kagak ngurangin setengah rekening bank Swissmu."


Andra membulatkan mata, mendengar Nana menyebut bank Swiss. Rea saja tidak tahu, kalau dirinya punya dua rekening di negara yang terkenal dengan keamanan banknya nomor satu itu.


"50%, nyicil mahar ya, By."


Terdengar suara muntah dari arah belakang. Apa lagi kalau bukan ulah Ken. Pria itu kesal dengan perkataan Andra soal mahar.


"Kenapa? Anak ingusan pengen ngasih mahar juga. Kasih tu ke Devi, dia masih single and free."


Sebuah bantal melayang ke arah Andra.


"****** lu, Om!"


Umpat Ken.


"Ehh, anak sialan. Sekolahin dulu tu mulut!"

__ADS_1


Berikutnya gelud ala anak TK dengan peserta orang dewasa pun terjadi. Heran deh sama kelakuan dua orang itu.


***


__ADS_2