Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Ide Bagus


__ADS_3

Rea mengayunkan langkahnya menuju sebuah restauran Jepang, di mana Andra memintanya menunggu di sana untuk makan siang. Awalnya wanita itu kesal. Dia bermaksud menemui Bradley untuk menyerahkan hasil akhir skripsi yang sudah selesai ia kerjakan. Ternyata lima bab terakhir, Bradley langsung menolaknya. Menyuruh Rea untuk revisi ulang. Hingga Rea terpaksa lembur.


Revisi ulang? Lima bab? Yang benar saja. Dia sempat uring-uringan karena hal itu. Sampai akhirnya Andra meluangkan waktu mengecek naskah skripsi Rea. Dan menjelaskan letak kesalahannya di mana.


Andra memang kurang setuju Rea harus berinteraksi dengan Bradley dalam waktu lama. Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri tidak mau asal menggunakan kekuasaan untuk hal-hal yang tidak relevan. Urusan perkuliahan Rea jelas bukan hal yang bisa Andra usik sesuka hati. Memang ada beberapa peraturan yang mutlak dipatuhi oleh mahasiswa termasuk dosen pembimbing skripsi.


Begitu masuk ke ruangan yang sudah dipesan Andra, Rea lantas mengirim pesan pada sang suami, kalau dia sudah sampai ke restauran. Andra menyuruh Rea untuk menunggu lima belas menit lagi, dia masih dalam perjalanan menuju ke sana. Pria itu juga meminta Rea untuk memesan makanan lebih dulu.


"Re....kamu di sini?"


Suara Bradley mengalihkan perhatian Rea dari buku menu yang baru dia baca.


"Menunggu Andra."


Senyum Bradley berangsur hilang, dia pikir sebuah kebetulan dia dan Rea bertemu di tempat ini. Pria itu lantas mendudukkan diri di depan Rea. Satu hal yang membuat Rea mengerutkan dahi. Kalau Andra melihat, pria itu bisa salah paham. Dengan tingkat ketidakcocokan Andra dan Bradley yang mendekati seratus persen, bisa jadi sang suami langsung melayangkan bogem mentah pada Bradley.


"Pak, ngapain Bapak duduk di sini?"


"Mau buat suami kamu cemburu."


Jawab Bradley, mata pria itu menatap ke arah Rea setelah tadi mengedarkan pandangan menjelajahi sudut restaurant itu. Seolah mencari sesuatu. Rea mendelik mendengar jawaban Bradley.


"Bapak jangan aneh-aneh napa. Saya tahu, saya berutang budi pada Bapak karena Bapak menyelamatkan saya waktu itu, tapi....."


"Jangan mengungkitnya. Diamlah, aku sedang mencari seseorang."


Akhirnya Bradley jujur. Pria itu tengah mencari Yuki. Seminggu ini, gadis itu mangkir dari bimbingan skripsinya. Dan hari ini, Bradley bertekad akan menyeret gadis itu untuk duduk di ruangannya. Dan menjalani bimbingan dengannya.


Rea memicingkan mata, Bradley mencari seseorang. Siapa dia? Baru mau bertanya, pria itu malah melayangkan tatapannya pada Rea. Wanita itu reflek memundurkan tubuhnya.


"Apa?"


Bradley memindai penampilan Rea. Lantas memberi kode lima dengan jarinya. Menandakan kalau lima bab terakhirnya lulus review. Rea jelas senang bukan kepalang.


"Siapa yang membantumu?"


Bradley bertanya ketus. Lima bab terakhir Rea, gaya penulisannya berbeda. Yang ditulis di sana adalah tulisan orang yang sudah lama menggeluti dunia bisnis. Tulisannya jauh berbeda dengan gaya tulisan Rea. Mendapat pertanyaan seperti itu, Rea langsung nyengir, menampilkan deretan gigi rapinya. Melihat ekspresi Rea, Brad sudah bisa menemukan jawabannya.


"Kalian selingkuh ya?"


Satu suara penuh nada tuduhan muncul dari belakang Bradley. Rea dan Bradley memutar matanya jengah, mendengar perkataan Andra yang selalu sama, saat melihat mereka berdua.


"Selingkuh apanya sih? Kalau niat selingkuh aku gak nemuin istrimu di tempat ramai begini. Tapi aku bawa ke hotel."


Bradley mendelik ketika Rea menendang kakinya dari bawah meja.


"Sembarangan kalau ngomong."

__ADS_1


"Perumpamaan Re, alah buset sakitnya. Bercanda dikit aja gak boleh."


Andra dan Rea saling pandang. Sejak kapan seorang Bradley Scott yang ketus dan dingin berubah jadi receh begini.


"Kalau bukan nemuin istriku ngapain kamu duduk di sini?"


Andra melotot ketika Bradley tanpa basa basi mencomot udang tempura yang baru saja dihidangkan oleh pelayan restauran itu. Lalu meminum orange juice Rea yang baru datang.


"Bayar sendiri tahu!"


"Alah nyomot dikit aja."


Pasutri itu saling pandang. Heran dengan perubahan sikap Bradley.


"Lu gak otewe gila karena gak dapatin istri gue kan?"


"Ya, gaklah. Gue setres karena dapat mahasiswa yang kelakuannya melebihi pesona istri lu."


Dua pria itu seketika mengubah gaya bicara mereka ke informal. Andra dan Rea tentu terkejut. Terkejut karena Bradley secara blak-blakan mengakui terpesona pada Rea sekaligus kaget karena ada mahasiswa yang bisa membuat Bradley stres. Sebab biasanya para mahasiswa yang dibuat setres dengan tingkah Brad yang sesuka hati.


"Penasaran gue sama tu mahasiswa."


Bradley semakin menajamkan penglihatannya. Hingga dia menemukan apa yang dicarinya. Saat Bradley mau beranjak dari duduknya, secara mengejutkan, Rea memanggil nama yang Bradley cari.


"Yuki!"


Andra dan Bradley langsung menoleh ke arah Rea. Kemudian mengikuti arah pandang Rea. Pada seorang gadis cantik yang memakai pakaian pramusaji di restauran itu. Awalnya Yuki begitu gembira melihat Rea, tapi begitu melihat Bradley, Yuki langsung menghentikan langkahnya. Beringsut mundur. Terlebih ketika Bradley langsung berdiri. Melangkah ke arahnya.


"Omo! Dia bahkan mengejarku sampai kemari."


Yuki mengambil langkah seribu. Berlari dari sana. Tapi Brad tidak tinggal diam. Pria itu menggunakan langkah lebarnya untuk mengejar Yuki. Di pintu keluar, Bradley berhasil mencekal tangan Yuki setelah melompati satu meja kosong. Aksinya tentu saja menjadi tontonan pengunjung restauran itu. Termasuk Andra dan Rea.


"Kamu kenal gadis itu?"


"Kakak kelas."


Jawab Rea singkat. Keduanya melangkah ke pintu keluar. Dimana dua orang tengah saling menarik. Yang satu jelas mau kabur, yang satu sekuat tenaga menahan.


"Gak mau! Yuki gak mau!"


"Mau sampai kapan kamu jadi penghuni kampus itu. Ikut saya. Selesaikan skripsimu!"


"Gak mau. Re....tolongin."


Rengek Yuki ketika melihat Rea ada di depannya.


"Jangan diladenin. Betah amat jadi mahasiswa abadi."

__ADS_1


Yuki berontak tapi cekalan tangan Brad sangatlah kuat. Hingga Yuki malah kesakitan sendiri.


"Nurut aja napa Ki, sudah lima tahun."


"Kan baru lima tahun Re. Si Udin aja tujuh tahun"


"Udin tinggal nunggu DO tahun depan. Kamu mau ngikutin dia?"


Yuki terdiam. Dia tidak mau lulus kuliah dan nyemplung ke perusahaan sang kakek. Dia enggan menghadapi sang paman. Yang sejak awal sudah mengancamnya.


"DO ajalah Pak, saya gak masalah."


Tiga orang itu melongo. Terlebih Bradley. Dia sudah berjanji pada kakek Yuki untuk membuat anak itu lulus dan mendapatkan gelar sarjananya. Bradley sedikit banyak tahu kisah Yuki.


"Kamu harus lulus tahun ini."


Yuki mendongak, menatap Bradley yang tampak tinggi menjulang di depannya.


"Itu hak saya. Mau lulus atau kena DO."


"Nggak! Disini saya yang memutuskan!"


"Tukang paksa!"


Rea meledakkan tawa. Sedang Bradley mengerutkan dahinya. Yuki benar-benar mirip dengan Rea. Tukang paksa, Rea dulu juga pernah menyebut dirinya begitu. Sementara Andra mendengus kesal karena itu juga sebutan Rea untuknya.


"Ikut saya. Kita mulai bimbingan skripsinya sekarang."


Yuki menolak, karena dia harus bekerja. Hingga satu ucapan Bradley membungkam protes Yuki. Pria itu akan membiayai hidup Yuki sampai gadis itu menyelesaikan kuliahnya.


"Gak elu nikahin aja sekalian?"


Pertanyaan Andra membuat Bradley menatap Yuki yang rautnya wajahnya langsung bingung.


"Ide bagus!"


Yuki membulatkan matanya, mendengar perkataan Bradley.


"Ide bagus, pala bapakmu!"


Protes Yuki. Sementara Andra dan Rea langsung saling pandang. Pun dengan Bradley yang kini menatap intens pada Yuki. Sejak pertama, tingkah Yuki mampu mengalihkaan perhatian pria itu dari Rea.


"Kenapa tidak kucoba. Menikah? Tidak terlalu buruk."


Batin Bradley, yang kini melihat ke arah Andra dan Rea.


****

__ADS_1


Ritual jempolnya jangan lupa 😘😘😘


***


__ADS_2