Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Ken, Anak Ingusan


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa ada di sini?"


Rea menatap tajam pada Ken yang berdiri tepat di hadapannya. Keduanya masih memakai seragam taekwondo mereka. Meski mendapat tatapan tajam, tapi tidak ada rasa marah di wajah Ken. Pemuda tanggung itu justru tersenyum.


"Aku ke sini dia juga di sini. Maunya apa sih?"


Gerutu Rea dalam hati. Lama tidak mendapat jawaban, Rea mulai gusar. Gadis itu langsung berbalik, tapi Ken dengan cepat mencekal tangannya. Menarik tubuh Rea dalam pelukannya.


"Aku rindu padamu, Rea."


Bisik Ken, tepat di telinga Rea. Gadis itu seketika meronta, melepaskan diri dari dekapan Ken. "Lepas atau aku teriak!"


Ancam Rea. Ken melepaskan dekapannya pada Rea dengan enggan. Satu tatapan penuh ancaman Rea layangkan pada Ken. Tapi lagi-lagi tidak ada rasa gentar dalam diri Ken. Pemuda itu sepertinya sudah kebal dengan semua kejudesan Rea.


"Aku tanya kenapa kamu ada di sini?"


"Kan sudah gue jawab. Gue kangen elu."


"Terus kamu ngikutin aku gitu?"


Ken nyengir menampilkan barisan gigi putihnya. Dia benar-benar tidak bisa jauh dari Rea. Melihat ekspresi Ken, Rea semakin sebal saja. Gadis itu berbalik meninggalkan Ken yang tetap berdiri di tempatnya.


"Kakaknya galak semua. Elu kudu hati-hati sama sabar."


Rio tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Ken. Melihat gadis itu yang masuk ke ruang ganti. Ken tersenyum miring. Rio tentu tidak tahu status Rea yang sudah bertunangan.


"Oh iya, bentar lagi ada pesta besar. Anaknya gubernur mau nikah. Papamu diundang tidak?"


Ken menggelengkan kepalanya. Dia sebenarnya baru datang pagi tadi. Tidur sebentar lalu pergi ke dojang ini, setelah Rio memberitahu kalau Rea datang berlatih hari ini. Rio adalah sepupu Ken.


Kenzo Alexander, putra tunggal, kakaknya seorang perempuan. Sang kakak memilih mengurus perusahaan garmen sang mama. Sedang dirinya digadang-gadang akan menjadi penerus bisnis ekspor impor sang papa.


"Awasi saja dia untukku."


"Kau benar-benar takhluk pada Rea, playboy cap buaya buntung."


Rio berteriak melihat Ken yang berlalu pergi dari hadapannya. Ditinggal Ken begitu saja, Rio mendesah kesal sambil berkacak pinggang, kesal diabaikan.


"Bareng aku aja yuk."


Rea menepis tangan Ken yang ingin menggandengnya. Memang tidak ada yang menjemput Rea hari itu. Ken membujuk dengan mengatakan kalau dirinya membawa mobil bukan motor. Tapi Rea kekeuh menolak.


Sampai sebuah mobil berhenti di hadapan mereka. Andra langsung keluar dari sana. Pria itu cukup kesal melihat seorang pemuda tanggung yang sepertinya mencoba mengganggu Rea.


"Ada apa? Siapa dia?"

__ADS_1


Suara Andra membuat Ken waspada. Pemuda itu tahu, pria inilah tunangan Rea. Tanpa takut, Ken menegakkan tubuhnya. Ken ingin menunjukkan kalau dirinya tidak takut berhadapan dengan Andra, rivalnya.


Untuk sesaat, dua pria itu saling pandang. Dalam sekali pandang, Andra tahu kalau pemuda tanggung di hadapannya ini menyukai Rea.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andra. Nadanya penuh tantangan pada Ken.


"Hanya ingin mengajaknya pulang bersama. Aku pikir dia tidak ada yang jemput."


Ken menjawab santai sembari melirik ke arah Rea. Gadis itu sendiri mulai menyadari situasinya. Hingga kemudian Rea mendekat ke arah Andra. Bermaksud mengajak Andra pulang. Menghindari adu jotos atau adu debat yang bisa saja terjadi.


Tapi sebelum sampai ke tempat Andra, Ken menahan tangan Rea. "Gue gak peduli, dia tunangan elu. Yang jelas, gue gak akan nyerah buat dapetin elu."


Rea membulatkan matanya mendengar bisikan Ken. Sementara Andra langsung meradang melihat sikap Ken.


"Jauhi dia!" Andra menarik tangan Rea, menjauh dari Ken. Tanpa banyak kata, Andra membawa Rea masuk ke mobilnya. Meninggalkan tatapan penuh peringatan pada Ken. Namun Ken sama sekali tidak takut akan hal itu.


"Elu jangan nyari perkara napa?" Rio berdiri di samping Ken.


"Gue hanya sedang memperjuangkan perasaan gue. Apa itu salah?"


Rio menghela nafasnya. Yang dilakukan Ken memang tidak salah. Hanya saja, di mata Rio, sepupunya itu sedikit nekat dengan menyukai Rea. Gadis yang Rio tahu adalah adik Andra.


"Elu tahu gak siapa ortunya Rea?"


*


*


"Siapa dia?"


Andra bertanya dengan nada kesalnya. Baru pulang empat hari dan Andra sudah dibuat emosi dengan kenyataan ada seorang pemuda tanggung yang mencoba mendekati tunangannya.


"Dia Ken. Teman sekolahku di kota lama."


Andra membulatkan matanya. Kenapa Alex tidak pernah melaporkan hal ini padanya.


"Lalu apa dia menyukaimu?"


Rea sedikit berpikir. Lalu mengangguk. Rea pikir Ken memang menyukainya. Andra mengeratkan rahangnya mendengar pengakuan Rea. "Tapi Rea tidak suka padanya."


Tambah Rea cepat. Andra menoleh ke arah Rea. Melihat gadis itu yang juga memandang ke arahnya. Sejenak dua pasang mata itu bertemu pandang. Andra jelas tengah mencari kebenaran di balik tatapan teduh Rea.


"Aku tidak akan lari darimu."


Pada akhirnya kalimat itu terucap spontan dari bibir Rea. Ditambah dengan Rea yang memeluk lengan kekar Andra. Haisshh, kenapa tingkah Rea jadi manis begini. Sejak kapan gadis ini belajar bersikap romantis. Apa Gina yang mengajarinya. Sesaat, Andra tertegun dengan aksi Rea tersebut.

__ADS_1


Tapi apapun itu, hal tersebut sukses membunuh rasa cemburu Arash meski untuk sejenak. Senyum tipis tertarik di dua sudut bibir Andra. Pria itu sangat menyukai Rea yang mulai bersikap manja padanya.


"Oh iya, apa kamu siap kalau papamu mengumumkan siapa dirimu nanti?"


Andra bertanya setelah berhasil menguasai diri dari sikap manja Rea yang tiba-tiba saja muncul. Masih memeluk lengan Andra, gadis itu menggeleng. Andra cukup paham dengan perasaan Rea.


*


*


Andra masuk ke kantornya dengan wajah ditekuk sepuluh. Dengan telunjuknya dia memberi kode pada Alex untuk mengikutinya. Melihat wajah Andra, Alex seketika menelan ludahnya. Menatap Shane yang duduk di depannya. Sementara Shane hanya mengedikkan bahunya, acuh.


"Kenapa elu gak ngasih tahu gue, kalau ada yang nguber Rea di sekolahnya."


Alex seketika menyadari kesalahannya.


"Gue pikir tu anak kagak serius sama Rea."


Satu tatapan maut, Andra layangkan pada asisten masa depannya tersebut.


"Elu tahu, tu anak di sini. Satu tempat latihan taekwondo sama Rea."


Satu info dari Andra membuat Alex membulatkan mata. Untuk pertama kalinya, Alex merasa kecolongan. Dia pikir Ken hanya tertarik sebentar pada Rea. Lalu sudah, dia akan cari mangsa lain. Seperti julukannya, playboy buaya buntung.


"Sorry, gue akui yang ini gue kecolongan. Gue salah."


Alex menunduk, lebih baik mengaku salah. Daripada dilahap habis oleh Andra. Andra menarik nafasnya pelan. Dia tahu sepak terjang Alex dalam bekerja. Pria itu sangat teliti, detail dalam bekerja. Biasanya tidak ada satu hal kecil yang lolos dari pengamatan Alex.


Pada akhirnya, Andra pun maklum, karena selama di sana, Alex tidak tahu kehidupan dalam sekolah Rea. Sebab akses Alex hanya sampai gerbang sekolah. Selebihnya, Rea harus menghadapinya sendiri.


"Cari tahu siapa anak ingusan itu. Gue mau data selengkapnya, secepatnya.


Perintah Andra, dan Alex langsung keluar dari ruangan Andra. Mulai melakukan perintah atasannya. Tugas yang melenceng jauh dari skill yang dia pelajari susah payah sampai S1.


Di dalam ruangannya, Andra mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Dia harus melakukan sesuatu untuk mengantisipasi semua hal yang mungkin terjadi. Dia tidak mau meremehkan Ken, anak ingusan yang sudah berani menabuh genderang perang dengannya.


*****



Kredit Pinterest.com


Andra yang pusing harus saingan sama anak ingusan 🤣🤣


****

__ADS_1


__ADS_2