
Kredit Pinterest.com
"Kenapa gak ikut pas papa ke sini?"
Rea bertanya sembari memainkan ponselnya. Gadis itu tiduran dalam pelukan Andra, bersandar pada dada bidang pria itu. Sementara Andra hanya memperhatikan Rea yang tengah main game.
Akhirnya Rea mau ikut masuk ke kamar Andra. Setelah pria itu berkata kalau Rea boleh menghajarnya kalau dia berani macam-macam.
"Iihh ada papamu ya gak bisa berduaan dong. Yang ada dia ngomel mulu."
"Tak laporin ke papa lo, kalau kak Andra ngomongin dia. Biar nanti dia mutusin tunangan kita.
Andra mendesah kesal.
"Laporin aja. Kalau papamu berani mutusin tunangan kita. Ooo lihat aja, tak bikin hamil kamu. Biar kamu gak bisa lari dari aku."
Ancam Andra. Rea seketika bangun dari tidurannya. "Kok gitu sih?"
"Habisnya....kamu tu serius gak sih sama aku? Re aku tu cinta mati sama kamu. Kamu tahu gak?"
Rea melengos mendengar perkataan Andra.
"Rayuan pulau kelapa meluncur."
Seloroh Rea. Detik berikutnya, Andra menarik tubuh Rea mendekat. Tubuh Rea kini dalam dekapan Andra. Pria itu menatap tajam pada Rea. Andra paham, perlu waktu bagi Rea untuk bisa menerima dirinya dan juga cintanya. Andra tahu, Rea belum bisa melupakan perlakuan buruknya pada Rea di awal pertemuan mereka.
"Re, please....beri aku kesempatan. Aku akan buktikan kalau aku serius padamu."
"Dengan menghamiliku? No way!"
Rea bergidik ngeri membayangkan dirinya bercinta dengan Andra. Meski secara fisik, tubuh Rea bisa mengimbangi Andra. Tapi mengingat jarak usia mereka hampir lima tahun. Bisa dipastikan kalau keahlian Andra pasti sudah pro.
"Siapa juga yang mau menghamilimu sekarang?"
Tantang Andra. Wajah Rea memerah malu. Sudah salah sangka pada Andra. "Eeehhh..Kak!"
Rea berteriak ketika Andra semakin mengeratkan pelukannya pada Rea. Hingga dada mereka saling bersentuhan. Debar jantung masing-masing bisa didengar oleh keduanya. Andra menatap dalam wajah Rea, begitupun sebaliknya.
Tangan Andra terulur untuk merapikan helaian rambut Rea yang jatuh ke wajah pria itu.
"Bercinta sangat dilarang untuk kita. Aku sendiri berjanji akan menahan diri. Tapi yang lain tidak dilarang."
"No making out, no blo*****." Tegas Rea.
"Tahu dari mana kamu soal itu?"
Tidak mungkin Rea yang polos bisa tahu soal begituan. Kalau tidak ada yang memberitahu.
"Kak Gina yang ajarin. Dia bilang aku harus hati-hati sama kak Andra. Kak Andra lama jadi jomblo. Takutnya main terkam aja."
__ADS_1
Andra seketika memaki Gina dalam hatinya. Pintar sekali dia ngomong. Ingatkan dia tidak tahu, kalau Gina dan Nicky sering making out. Semua temannya perasaan gak ada yang bener. Si Bryan malah sudah sukses menghamili Terry.
"Main terkam bagaimana?" Andra coba menguji Rea. Sejauh mana Gina mengajari Rea.
Rea sesaat berpikir. Tanpa dia tahu, tangan Andra mulai mengusap bagian belakang tubuh Rea. Naik ke punggung ke gadis itu. Hingga berakhir di tengkuk Rea.
"Menerkam...ya mungkin seperti ini."
Rea memperagakan gerakan memakan ala dirinya. Andra seketika terkekeh melihat tingkah Rea. Ternyata Gina hanya memberi mentahnya tanpa mendalaminya.
"Menerkam itu seperti ini."
Detik berikutnya, Rea terkejut. Kala Andra menekan tengkuknya. Tubuhnya kini menindih Andra sepenuhnya. Sementara bibirnya langsung menempel pada bibir Andra. Dua pasang mata itu kembali beradu. Hingga Andra semakin menarik tengkuk Rea.
Pria itu bergerak cepat dengan memagut bibir pink Rea. Rea jelas makin kelabakan ketika ciuman Andra makin liar, pria itu bahkan memaksa untuk masuk ke mulutnya. French kiss, yang kemarin hanya di otak Rea, kini dia praktekkan dengan Andra.
"Lepas!"
Rea menekan dada Andra, kala dia mulai kehabisan nafas. Pria itu terlihat meringis meski bibirnya tersenyum bahagia.
"Manis banget sih bibirnya. Bikin nagih tahu Re."
Rea langsung memalingkan wajahnya. Malu, karena dia dengan mudah terhanyut dalam permainan bibir Andra.
"Lepasin, aku mau turun."
Rea berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Andra, tapi pria itu tidak melepaskan belitan tangannya di pinggang Rea.
"Doa Shane terkabul. Aku bucin akut ma ni cewek."
"Sesek Kak, gak bisa nafas."
Keluh Rea, terlebih dia risih dengan posisi mereka. Dia menindih tubuh Andra dengan sempurna. Dia takut kalau Andra lepas kontrol dan dia ikut terpengaruh.
"Re.....Re....jangan bergerak. Kamu bisa bangunin yang dibawah. Bahaya nanti."
Rea langsung menghentikan gerakannya. Terdengar helaan nafas lega dari bibir Andra. Sementara Rea menatap tidak paham pada Andra.
"Aku bisa terpancing kalau kamu goyang terus begitu."
"Kalau begitu aku mau turun. Lepasin ini tangannya."
Rea mulai merengek ketakutan. "Nggak ah, nanti saja. Begini enak."
Andra menjawab santai. Sedang Rea langsung menggerutu. Tadi katanya bisa mancing. Sekarang bilang enak. Dasar akuntan plin plan.
"Re...kamu beneran mau masuk STAN?"
Setelah beberapa waktu, mereka sudah merubah posisi. Keduanya masih di sofa tapi sudah duduk berdampingan. Pria itu sedang berkutat dengan laptopnya.
"Iya, kenapa?"
__ADS_1
"Kamu tahu kan masuk ke sana susah. Cuma 0.6% yang bisa lulus seleksi dari seluruh negeri."
"Aku tahu. Susah kan berarti tidak mungkin."
Andra menghela nafasnya. Yang dikatakan Rea benar.
"Syarat lain kan harus lulus ujian berbasis komputer mereka. Nilai minimal 70 dari skala 100...."
"Matematikamu bisa?"
Potong Andra cepat. Dari semua mapel, matematika Rea paling rendah nilainya. Bukan dia tidak bisa. Tapi dibanding nilai temannya yang hampir sempurna 100, nilai Rea jelas bermasalah.
"Aku masih berhubungan dengan Miss Karen, dia bersedia jadi tutor aku kalau ada materi yang aku tidak paham. Lagipula guru matematika aku di sekolah juga paham dengan aku yang bego soal mapel itu. Dia juga siap bantu....seperti ngasih aku remidi.
Rea nyengir, dia ingat betapa stressnya dia harus ikut remidi. Yang kata bu Nina untuk meninggikan komanya biar aman. Dan itu sukses membuat Clara senang bukan kepalang. Bisa dibayangkan bagaimana Clara habis-habisan membulinya.
"Remidi kok bangga. Kamu harus tahu STAN itu kan under goverment. Gak semua lulusannya jadi akuntan. Karena sebagian akan ditempatkan di bagian keuangan, pajak dan lembaga keuangan negara. Dan semua siswanya tidak boleh memilih mau ditempatkan di mana...."
Rea langsung memasang wajah seriusnya. Kalau begitu, dia harus siap dikirim ke pelosok negeri.
"Yang bener, semua harus manut penempatan mereka."
Andra mengangguk. Rea mendesah frustrasi. Kalau begitu dia bisa pisah lama sama keluarganya....juga Andra tentunya.
"Tapi ada pengecualian...mereka bisa memilih di mana akan ditempatkan. Yang jelas tidak akan dikirim ke luar daerah. Tapi ada syaratnya."
Mata Rea berbinar. Masih ada celah untuk tidak dikirim ke pelosok. "Apa syaratnya?"
Rea bertanya antusias.
"Syaratnya kamu harus masuk dalam top ten mereka. Peringkat 10 besar tidak akan di kirim ke luar daerah."
Andra menatap intens pada Rea yang langsung lemas tubuhnya. 10 besar di sana, yang benar saja. Bisa lulus seleksi dan kuliah di sana saja sudah beruntung.
"Bagaimana? Masih berani?"
Rea terdiam. Dia tahu masuk ke sana susah sekali. Lalu bagaimana kelanjutan cita-citanya.
"Saranku kalau masih mau ke sana. Kamu gak cuma mendaftar ke sana. Di kampus lain, fakultas ekonominya kan banyak yang bagus."
Rea kembali diam.
"Apa mau kuliah di luar Harvard, Oxford, Cambrigde. Atau di Singapura apa itu kampusnya aku lupa, di sana prodi akuntansinya juga bagus."
Kepala Rea malah puyeng di buatnya. Hingga akhirnya gadis itu malah menyandarkan kepalanya di bahu Andra.
"Mau kuliah aja kok mumet to."
Keluh Rea. Dan keluhan Rea sukses membuat Andra terbahak.
"Pusing gak tu?" Ledek Andra.
__ADS_1
*****