Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Maaf


__ADS_3

Andra mengetuk pintu kamar Rea. Karena ternyata gadis itu menguncinya manual. Bukan menggunakan kunci digital. Kesal, sudah pasti.


Rea melemparkan bantal dan selimutnya, ke sembarang arah. Dia marah. Dia cemburu. Bagaimana bisa Andra melakukan itu di kantornya.


"Dasar pria brengsek. Menyebalkan!"


Teriak Rea. Semua bantal sudah berhamburan di lantai karpet kamar Rea. Sementara di luar kamar. Terdengar ketukan pintu yang tidak berhenti dari tadi. Bisa dipastikan jika itu adalah Andra.


Setelah lelah dengan aksi lempar barang. Giliran air mata Rea yang luruh di pipi gadis itu. Emang sesakit ini ya, melihat orang yang kita cintai mencium wanita lain. Ya, Rea melihat Andra tengah berciuman dengan seorang wanita di ruangan pria itu.


"Aku benci....benci...benci.....!"


Teriak Rea marah. Perlahan Rea memeluk lututnya. Menempatkan kepalanya diatas dengkulnya. Gadis itu telah melepas kemejanya. Meninggalkan tank top hitam yang menutupi tubuh mulusnya.


Ketika Rea menangis tersedu, pintu kamarnya terbuka. Rea tidak melihat siapa yang masuk. Dia pikir itu pasti kakaknya. Sementara Andra, yang masuk adalah Andra langsung tercengang melihat kamar Rea yang seperti kapal pecah.


Matanya makin melotot melihat Rea yang hanya memakai tank topnya. Bahu polos Rea terpampang jelas di depan mata. Sebab Rea menggulung tinggi rambutnya.


Andra langsung berjongkok didepan Rea.


"Re...."


Panggil Andra lirih. Rea cukup terkejut ketika itu Andra...bukan Gina. Saking marahnya. Rea memilih diam.


"Baby...aku bisa jelaskan. Itu tidak seperti yang kamu lihat."


Akhirnya, Andra berkata to the point. Sebab dia merasa kalau itu adalah masalahnya. Rea tidak menjawab. Dia masih terisak dengan bahu naik turun.


"Rea, dengarkan aku."


Rea langsung menepis dua tangan Andra yang menyentuh lengannya. Rasa marah itu jelas terlihat di raut wajah Rea.


"Pembohong. Playboy!"


Maki Rea tanpa ragu. Andra mendelik mendengar umpatan Rea. Pria itu sedikit banyak mulai terpancing emosinya. Terlebih detik berikutnya, Rea terus saja mengoceh. Membuat telinga Andra panas dibuatnya.


Rea masih terus mengumpat ketika Andra benar-benar jengkel dengan ulah sang tunangan. Detik berikutnya, dua tangan Andra langsung menangkup wajah Rea. Lantas tanpa ragu mencium Rea kasar. Rea menolak, gadis itu mendorong bahu Andra agar pria itu melepaskan ciumannya.


Tapi bukannya menyudahi ciumannya. Andra justru melembutkan ciumannya. Perlahan, satu tangan Andra bergerak ke arah tengkuk Rea. Menekannya lembut. Agar gadis itu tidak menghindar dari pagutannya.


Merasakan ciuman Andra yang melembut. Membuat Rea terbuai. Dorongan di bahu Andra, berubah menjadi cengkeraman ketika Rea mulai terhanyut dalam permainan bibir Andra. Pria itu menggerakkan bibirnya lembut. Membuat Rea tak lama membalas ciuman itu.


"Brengsek!"


Rea mendorong tubuh Andra, setelah dia sadar terbuai dalam permainan bibir sang tunangan. Andra tersenyum meski Rea menyebutnya brengsek.


"Marah?"


Rea mendelik mendengar pertanyaan Andra.


"Nggak!"


"Kalau begitu cemburu?"


"Idih ngapain juga cemburu?"

__ADS_1


Rea melengos setelah menjawab pertanyaan Andra. Gadis itu tidak mau ketahuan berbohong.


Hal itu membuat Andra terkekeh.


"Okay, gak cemburu. Jadi boleh dong kalau dia nyium aku. Aku biarin aja."


Lagi-lagi Rea mendelik mendengar ucapan Andra. Gadis itu segera berdiri.


"Dasar pria di mana-mana sama aja."


Rea asal bicara. Hal itu membuat Andra sedikit tersinggung. Pria itu langsung menarik tangan Rea. Menghempaskan tubuh gadis itu ke ranjang Rea.


"Katakan lagi."


"Lepas!" Rea berusaha mendorong tubuh Andra yang berada di atas tubuhnya. Pria itu hanya menahan tangan Rea. Menempatkannya di sisi kiri dan kanan tubuh gadis itu.


"Katakan lagi kalau semua pria sama."


"Memang iya. Apa aku salah?"


Rea terus menggeliat. Mencoba melepaskan kuncian dua kaki Andra di pinggangnya.


"Salah. Baby, dengarkan. Aku cuma punya dirimu. Dan satu mantan. Mantanku meninggalkanku karena aku miskin...."


"Berarti dia bodoh."


Celetuk Rea tanpa sadar. Sungguh Rea tidak habis pikir dengan pola pikir para gadis di luar sana. Mereka selalu menjadikan materi sebagai patokan untuk menilai seorang pria.


"Jadi kamu gak keberatan kalau aku kere."


"Kamu kenapa jadi ngomongin harta sih. Gak relate tahu. Aku melihatmu berciuman dengan dia..."


Andra menjawab santai sembari menatap intens pada Rea yang terbaring tepat di bawah tubuhnya. Ampun deh...otak liar Andra langsung bereaksi melihat mulusnya dada Rea dengan belahan dada yang sedikit mengintip dari balik tank topnya.


"Jangan aneh-aneh kalau ngomong."


"Siapa yang bicara sembarangan...segel bibirmu aku yang membukanya. Juga......."


Pria itu merendahkan tubuhnya, lantas berbisik di telinga Rea.


"Semua segel di tubuhmu, aku yang akan membukanya."


Deg...deg....deg......


Jantung Rea berdebar kencang, mendengar perkataan Andra. Terlebih nafas hangat Andra menyapu telinganya. Tubuh Rea meremang seketika. Apalagi ketika pria itu mengangkat wajahnya, Rea reflek menoleh. Hingga dua wajah mereka saling berdekatan.


"Akan kubuktikan kalau aku tidak pernah mencium wanita itu. Tapi dia yang lebih dulu menciumku."


Mata Rea dan Andra saling pandang. Rea berusaha mencari kebenaran di mata Andra dan Andra yang berusaha meyakinkan Rea. Dua pasang mata itu terus berpaut, hingga Andra kembali melabuhkan bibirnya ke bibir Rea. Menikmati manis dan lembutnya bibir sang tunangan. Satu hal yang membuatnya kecanduan.


"I love you, Baby."


Andra berucap sembari menatap dalam bola mata Rea.


*

__ADS_1


*


"Lama!"


"Astaga, Re. Nama juga minjam. Harus seluangnya yang punya. Lagian kamu sih suruh minjam, laptop kamu kenapa?"


Rea langsung salah tingkah. Laptopnya tertinggal di ruko baru mereka.


"Ketinggalan di ruko."


"Seleder!" (Ceroboh)


Rea langsung melotot mendengar ledekan Andra.


Setelahnya, Rea hanya mengikuti Andra yang duduk di sofa, mulai mengutak atik laptop Gina. Pria itu mulai mengakses video kiriman dari Jack. Video rekaman CCTV ruang kantor Andra.


"Kamu pasang kamera pengawas di ruangannmu?"


Tanya Rea cemas. Bagaimana dia tidak khawatir. Berapa kali dia dan Andra berciuman di ruangan pria itu. Oohh, mau ditaruh di mana mukanya kalau rekaman itu dilihat bagian keamanan.


"Kenapa?"


Andra terkekeh melihat wajah panik Rea. Dia tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.


"Aku mematikannya kalau ada kamu. Enak saja mereka mau lihat adegan 18+ kita."


Rea membulatkan matanya. Dia baru saja akan menjawab ucapan Andra ketika pria itu membalikkan laptopnya. Dan terlihatlah rekaman CCTV di kantor pria itu.


Di sana jelas terlihat kalau memang wanita itu yang mencium Andra, dan Andra langsung berdiri menghindari ciuman wanita itu.


"See, aku tidak pernah membiarkan tubuhku disentuh oleh wanita selain kamu."


Rea seketika menggigit bibirnya. Ucapan Andra sedikit menyentil dirinya. Mengingat dia pernah memberitahu Andra kalau Brad pernah menciumnya.


"Jadi masih mau marah atau cemburu?"


Andra bertanya sembari menatap santai ke arah sang tunangan. Membiarkan Rea mencerna apa yang dilihatnya dan memutuskannya. Meski Andra sepertinya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Bodo amat!"


Andra melebarkan senyumnya. Dia sudah menduga kalau Rea tidak akan mengakui rasa cemburunya. Gadis dengan gengsi setinggi gunung itu tidak akan sudi meminta maaf atas ulahnya yang salah paham padanya.


"Re....sayang...beneran ni gak mau minta maaf gitu. Kamu ngatain aku brengsek lo."


Goda Andra dari luar pintu kamar mandi Rea. Sengaja menunggu Rea di sana. Sementara di dalam, Rea langsung mengusak rambutnya kesal. Bagaimana dia terlihat jelas cemburu pada Andra.


"Gak!" Jawab Rea.


Gadis itu buru-buru mencuci wajahnya. Menghilangkan rasa malu yang masih tersisa di wajahnya.


"Dia benar-benar membuatku tidak bisa berkata-kata."


Rea mengumpat kesal. Lalu keluar dari kamar mandinya. Masuk ke walk in closet, mengganti bajunya. Begitu dia kembali ke kamarnya, dilihatnya Andra yang tidur di kasur. Memeluk guling kesayangannya.


"Maaf. Dan I love you too."

__ADS_1


Satu kalimat terucap dari bibir Rea. Perlahan diciumnya kening Andra. Lalu gadis itu keluar dari sana. Meninggalkan Andra yang seketika mengulum senyum.


****


__ADS_2