Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Berakhir


__ADS_3

"Jadi kau ingin membalas dendam?"


Clara mengangguk. Mereka berpelukan masih dalam keadaan polos. Setelah sesi panas mereka sepanjang malam. Clara tidak menyangka kalau Janson mengenal Rea dan memiliki niat yang sama dengannya.


Dia selama ini kesulitan bergerak untuk melancarkan aksinya. Terlebih setelah publik tahu siapa Rea. Tidak mudah untuk melakukan hal buruk pada rivalnya itu.


Selama sesi bercinta mereka berlangsung, rupanya Janson mengajak Clara bicara. Dari situlah, pria itu mengorek informasi soal Rea. Hingga Janson yakin kalau Clara bisa diajak bekerjasama untuk menjebak Rea.


Kepala Janson sudah dipenuhi rencana untuk menjebak gadis cantik itu. Satu-satunya halangan untuk rencananya adalah Bradley sang adik. Janson juga tahu benar kalau Bradley sangat konsisten. Jika dia sudah memutuskan maka akan sulit mengubah keputusannya.


"Aku ingin melihatnya hancur. Seperti aku yang hancur."


"Hancur? Bukankah kau sangat menikmatinya."


Janson berkata sembari mencium bahu polos Clara. Naik ke leher wanita itu. Baru kali ini Janson bercinta dengan gadis belia. Janson akui, Clara sangat liar di ranjang. Wanita itu mampu mengimbangi permainannya.


Mendengar perkataan Janson, Clara sedikit manyun. Dia memang menikmati profesinya sebagai penghangat ranjang kliennya. Bahkan mungkin dia mulai kecanduan dengan hal itu.


Wajah cemberut Clara berubah memerah ketika Janson mulai menyerangnya lagi. Pria itu lihai sekali memancing hasrat Clara naik lagi. Tak lama suara lenguhan mulai terdengar di kamar itu.


"Berjanjilah untuk membuat anak panti itu mengalami kesakitan yang amat sangat. Aku ingin mendengar dia merintih minta tolong, minta ampun dan minta dikasihani keluar dari mulut anak sialan itu!"


Pinta Clara di sela desahhannya saat Janson memainkan dadanya.


"As your wish baby, tapi untuk sekarang, puaskan aku dulu. Akan kuberi kau bonus jika kau mampu membuatku hilang kendali."


Clara menyeringai. Itu hal mudah untuknya.


*


*


Bradley tampak berlari masuk menyusuri rumah Janson. Satu pesan mencurigakan membuat pria itu merasa was-was. Kosong, rumah sang kakak tidak berpenghuni.


Pria itu keluar lagi. Menghubungi sebuah nomor. Lama tidak terdengar jawaban. Bradley hampir frustrasi dibuatnya. Dia masuk ke mobilnya. Melajukannya tanpa tujuan.


Nomor yang dia hubungi menjawab panggilannya.


"Rea....di mana?"


Diujung sana Andra mengerutkan dahinya. Rea baru saja keluar dari kantornya dua jam yang lalu.


"Dia pulang ke rumahnya."

__ADS_1


"Cepat periksa!"


Bradley melempar headset bluetoothnya. Gila, jantungnya berdebar tidak karuan. Pria itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu mencoba mengecek ponselnya. Melacak GPS ponsel sang kakak.


Pria itu mengerutkan dahinya. Ponsel sang kakak aktif dua jam lalu. Dan lokasi terakhirnya....berada di sebuah gudang, menurut maps yang Brad lihat. Tanpa ragu, Bradley melajukan mobilnya menuju tempat itu.


Di tempat lain, Andra langsung menghubungi Jack. Begitu dia mendapati kalau Rea tidak ada di rumah maupun toko Nana. Pria itu baru sadar kalau ponsel Rea tertinggal di sofa ruangannya.


"Cari koordinat cincin Rea."


Andra masuk ke mobilnya diikuti Shane dan Alex. Alex melajukan mobil Andra dengan kecepatan sedang. Menunggu instruksi dari Jack.


Di sisi lain, lebih tepatnya sebuah gudang terbengkalai di sisi timur kota itu. Lebih kurang 40 menit perjalanan. Terlihat Rea yang tergeletak tidak berdaya di atas lantai tanah gudang itu. Ruangan berdebu dengan pencahayaan minim.


Di depannya tampak Janson dan Clara yang melihat puas ke arah gadis itu.


"Lakukan saja sekarang. Aku yang akan merekamnya."


Clara berkata, sembari menendang-nendang tubuh Rea supaya bangun.


"Aku mau melakukannya saat dia sadar. Aku ingin mendengarnya mendessaah di bawah kungkunganku."


Janson lantas duduk di kursi tua yang ada di sana. Clara mendengus geram mendengar jawaban Janson. Dia takut mereka segera ketahuan.


Dan benar saja. Jack langsung melaporkan kalau dia tidak bisa melacak keberadaan Rea. Sebab anak buah Jack sudah menemukan cincin Rea. Andra seketika memukul kursi di depannya. Membuat Alex hampir berteriak dibuatnya. Untung kakinya tidak reflek menginjak pedal gas.


"Dia ke mana?"


Tak lama, Andra menghubungi nomor Brad. Pria itu langsung mengepalkan tangannya begitu mendengar ucapan Brad. Satu titik tempat Andra tunjukkan pada Alex. Alex paham lantas menaikkan kecepatan mobilnya. Mobil hitam mewah itu melesat membelah jalanan ibukota yang nampak lengang.


Sementara itu, kelopak mata Clara melebar melihat Rea yang mulai membuka matanya. Dari pintu masuklah Stacey, wanita itu menatap penuh cemooh pada Clara. Keduanya memang tidak saling menyukai sejak awal bertemu.


Satu rintihan Rea membuat tiga orang itu langsung memusatkan perhatiannya pada Rea yang mulai mendudukkan dirinya. Memakai kemeja bercorak kotak-kotak biru dengan celana jeans. Penampilan sangat sederhana untuk seorang putri gubernur.


Meski demikian, Janson tetap melihat kecantikan yang terpancar dari tunangan Andra itu.


"Cantik."


Clara dan Stacey memutar matanya malas. Sementara Rea langsung membulatkan mata melihat siapa yang sudah membawanya ke tempat ini.


"Kalian? Kenapa kalian membawaku ke sini?"


Ingatan soal kejadian hampir satu setengah tahun yang lalu, kembali berputar di kepala Rea. Terlebih melihat Janson yang menyeringai ke arahnya. Gadis itu memundurkan tubuhnya. Hingga mentok ke dinding.

__ADS_1


"Berikan obatnya."


Clara maju lantas tanpa ragu, membuka paksa mulut Rea. Rea berusaha menghindar, alhasil sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Rea. Rea seketika bangkit, lalu menendang Clara. Gadis itu terjungkal ke belakang sambil menjerit menahan sakit di perutnya.


"Anak panti kurang ajar. Beraninya kau menendangku!"


Maki Clara. Detik berikutnya gadis itu merangsek maju melawan Rea yang sigap menyerang. Janson sedikit menunduk ketika Stacey membisikkan sesuatu.


Setelah itu, Janson sendiri yang maju untuk melumpuhkan Rea. Rea yang hanya fokus pada Clara tidak sadar kalau Janson berada di belakangnya. Rea lengah, dan Janson bergerak. Pria itu langsung memiting tangan Rea ke belakang. Mengunci semua pergerakan Rea dengan menghimpit tubuh gadis itu ke dinding yang lapuk dan berdebu. Rea sampai terbatuk-batuk dibuatnya.


Clara mendekat lalu meminumkan paksa sebutir pil ke dalam mulut Rea. Rea berusaha memuntahkan kembali benda itu. Tapi Janson berhasil membuatnya menelan obat itu.


"Sebaiknya simpan saja tenagamu untuk kegiatan kita dalam sepuluh menit ke depan."


Rea jatuh terduduk, dengan tubuh yang mulai tidak karuan rasanya. Ada hawa panas yang muncul dalam dirinya. Semua itu membuat Rea merasa gerah.


Clara tersenyum puas, bisa dipastikan kalau obat itu mulai bereaksi. Wanita itu mulai menyalakan ponselnya, bersiap untuk merekam. Persis seperti kejadian waktu di sekolah Rea.


"Kali ini akan ada berita menggemparkan. Putri gubernur sedang bercinta dengan bandar narkoba buronann polisi."


Rea mendelik mendengar ucapan Clara. Terlebih Janson mulai membuka jasnya. Meninggalkan kemeja hitam yang mulai dia buka kancingnya. Rea seketika menelan ludah. Pikiran liar langsung muncul di kepala Rea. Ada keinginan agar Janson segera menyentuh dirinya.


Rea langsung memejamkan mata. Menggelengkan kepala. Berusaha menghilangkan pikiran kotor di otaknya.


"Kak Andra, tolong aku."


Hanya satu nama itu yang berusaha Rea ingat. Dia mulai menyadari apa yang Clara berikan untuknya. Satu keinginan Rea, kalaupun dia harus melepas mahkotanya, dia ingin memberikannya pada Andra. Bukan untuk pria lain. Terlebih Janson, pria brengsek yang dua kali berupaya menghancurkan hidupnya.


"Bagaimana, sayang. Kau sudah siap untuk melewati malam panjang bersamaku?"


Rea berusaha menjauhkan tubuhnya dari Janson. Di depan sana terlihat kalau Stacey beranjak pergi dari sana. Meninggalkan tiga orang di dalam gudang itu.


Otak Rea masih sadar tapi tidak dengan tubuhnya. Tubuh Rea merespon dengan baik sentuhan Janson di lengannya. Rasa ingin dijamah lebih dari itu segera menguasai otak Rea.


Meski begitu Rea masih mampu mengendalikan diri. Kendati tubuhnya mulai lemas. Dia berusaha menghindari ciuman Janson di lehernya.


"Ahh, kau terlalu lama. Cepat lakukan! Aku tidak sabar menunggu dia menangisi kehancurannya!"


Mendengar perkataan Clara. Janson dengan cepat menidurkàn paksa tubuh Rea. Gadis itu sontak berontak. Dua bola matanya melebar. Akankah dia akan berakhir hari ini?


***


Ritual jempolnya jangan lupa 😘😘

__ADS_1


***


__ADS_2