Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Malu


__ADS_3

"Dia sedang keluar kota."


Janson Scott, langsung mengangkat wajahnya. Melihat wajah pria yang umurnya lebih muda tiga tahun darinya. Janson Scott, pria yang menculik Rea dan mencecoki Rea dengan morfin cair hingga gadis itu hampir overdosis dibuatnya.


Gara-gara perbuatannya itu dia dihukum lima tahun penjara. Dan pria itu baru menjalani hukumannya beberapa minggu. Dia jelas dendam dengan semua orang yang sudah menjebloskan dirinya ke hotel prodeo. Terutama Andra. Sejak dulu, dia sangat membenci akuntan itu.


"Selidiki siapa yang dia kunjungi. Aku yakin, gadis itu masih jadi wanita yang spesial bagi Andra. Aku ingin kau menghancurkannya. Buat dia menderita seperti apa yang aku alami di sini."


Janson menatap lurus pria yang duduk di hadapannya. Sementara pria itu hanya tersenyum sinis. Dia sebenarnya sangat penasaran dengan gadis yang disebut-sebut dekat dengan Andra ini.


Sebab selama ini, dia tidak mendapatkan info soal gadis itu. Baik foto, data diri atau apapun itu. Hal itu membuatnya kepo. Siapa sebenarnya gadis ini, kenapa dia tidak bisa mengakses data apapun soal diri gadis itu. Seolah ada pengaruh besar yang melindunginya.


"Apa dia sangat cantik?"


"Cantik, sangat cantik. Cukup untuk membuatmu bergairah saat melihatnya. Pilihan Andra tidak pernah main-main. Pria itu hanya dua kali pernah dekat dengan wanita. Tapi yang ini aku akui. Dia benar-benar menggoda."


"Kau semakin membuatku penasaran saja. Apa aku boleh mencicipinya? Apa kau juga ingin minta jatah jika aku bisa menangkapnya?"


Senyum pria dihadapan Janson benar-benar mengerikan. Tampilan tampannya mampu menyembunyikan jiwa psycho-nya dengan baik.


"Terserah padamu, yang penting dia hancur. Dengan begitu Andra pasti akan hancur."


Senyum smirk langsung terukir di wajah pria itu.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau suka bermain dengan banyak mahasiswimu, Brad."


"Mereka sendiri yang datang padaku. Menyerahkan tubuh mereka cuma-cuma padaku."


Setelah menjawab, pria itu berlalu dari hadapan Janson Scott. Informasi soal bagaimana cantiknya wanita milik Andra membuatnya begitu penasaran. Hingga ingin segera mencari tahu dan melihat wajahnya.


*


*


"Astaga!"


Nana langsung berbalik melihat Mark yang baru keluar kamar hanya memakai celana pendek, shirtless tanpa baju. Sekilas, Nana bisa melihat bagaimana abs Mark terbentuk sempurna. Juga otot dada Mark yang liat.


"Baru pulang?" tanya Mark santai.


Pria itu berjalan santai melewati Nana, yang langsung memejamkan matanya. Selain menghindari menatap roti sobek dokter belok itu. Gadis itu juga menikmati aroma tubuh Mark yang baru saja mandi.


Aroma maskulin yang membuat otak Nana berkelana ke mana-mana. Hingga panggilan dari Rea membuyarkan angan au ah gelap Nana.

__ADS_1


"Melamun aja!"


Alex lewat sambil menyenggol lengan Nana, membuat gadis itu mendengus geram.


"Katanya mau ganti. Tu pakai celana panjang aku dulu. Banyak mata jelalatan kalau kamu pakai hot pants." Bisik Rea. Sebab Andra tidur di ranjang gadis itu. Dua kamar tamu dipakai Shane dan Mark.


"Aku ganti di luar aja deh. Gak enak ada tu."


Nana menunjuk Andra dengan dagunya. Pria itu terlelap begitu mereka sampai. Tanpa mengganti bajunya. Bahkan sepatu saja Rea yang melepasnya.


"Dia cukup stres akhir-akhir ini."


"Ada masalah?"


Shane menarik nafasnya lalu mulai bercerita. Meski para staf sudah ikut bersaksi kalau tuduhan mantan staf kantor Andra itu tidak benar. Tetap saja rumor itu sudah terlanjur menyebar. Membuat reputasi kantor Andra tercemar. Alhasil mereka semua banyak yang nganggur karena banyak klien yang menarik diri dari kantor Andra.


Rea mengerutkan dahinya. Merasa kalau ini masalah serius. Tapi Shane meyakinkan Rea, meski mereka sekarang sepi klien, tapi dia memastikan kalau keadaan mereka baik-baik saja. Masih bisa dikendalikan.


Rea melihat ke pintu kamarnya. Pada akhirnya dia paham kenapa wajah Andra terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


"Biarkan dia tidur. Dia pasti susah tidur akhir-akhir ini. Dia dan Jack sibuk mencari dalang di balik perusakan reputasi Andra."


Makan malam sudah selesai disiapkan, tapi Andra belum juga mau bangun.


Rea menggoyangkan bahu Andra. Tapi pria itu hanya menggeliat pelan. Lalu melanjutkan tidurnya lagi. Beberapa kali mencoba tapi hasilnya sama. Pria itu tidak mau membuka matanya.


"Ya sudah kalau tidak mau bangun, lapar tengah malam baru tahu rasa."


Rea turun dari kasurnya. Tapi Andra mencegahnya. Pria itu menahan tangan Rea. "Temani aku."


Pinta Andra. Rea menggeleng, gadis itu bersikeras agar Andra makan dulu.


"Makan yang lain boleh?"


Modus on, pria itu menaikkan satu alisnya. Rea balas mengerutkan dahinya. Hingga Andra dibuat gemas jadinya.


"Minta cium, gitu aja kok ndak paham."


Andra dengan cepat mendaratkan bibirnya di bibir Rea. Gadis itu jelas terkejut. Untuk beberapa waktu dia membiarkan Andra beraksi, hingga lima menit kemudian, Rea mendorong tubuh Andra.


"Masih kurang, Re."


Rengek Andra. Baru juga mau french kiss, sudah disudahi saja ciumannya. "Makan dulu. Atau mandi dulu. Bau..."

__ADS_1


Rea balik protes. Setelah berdebat cukup lama. Akhirnya Andra memutuskan untuk mandi dulu. Pria itu masuk ke kamar mandi, sementara Rea keluar dari kamarnya.


Gadis itu tidak melihat Nana, ternyata Nana sudah pulang diantar Alex. "Aduuhhhh, bisa gelut tu dua orang."


Mark kepo seketika mendengar ucapan Rea. Hingga Rea bercerita kalau Nana dan Alex hanya akan berdebat jika sudah bersama.


"Lama-lama bisa bucin mereka."


Raut wajah Mark berubah, mendengar celetukan Shane. Dia terlihat tidak suka mendengar Nana dekat dengan Alex.


Wajah Mark tetap mendung, meski ketika Andra selesai makan dan ikut bergabung dalam obrolan mereka.


"Kenapa Kak Mark wajahnya begitu?" Rea bertanya sembari bersandar di dada Andra.


"Kamu gak tahu. Dia naksir Nana."


Rea membulatkan matanya. Tidak percaya. Kalau Mark suka Nana, berarti yang belok sudah lurus lagi.


"Berarti Kak Mark sembuh dong beloknya."


Andra mengulum senyumnya. Mengacak gemas rambut Rea. Kenapa istilahnya jadi belok.


"Kalau Kak Mark suka Nana. Kak Vio gimana?"


Andra kemudian menjelaskan kalau Vio dan Mark sudah lama putus. Rea sekali lagi membulatkan matanya.


"Alah sudahlah ngomongin orang lain. Sekarang waktunya ngomongin kita. Aku rindu kamu, Re."


Kata Andra sembari menciumi wajah Rea. Gadis itu berusaha menghindar. Tapi Andra menangkup wajah Rea hingga gadis itu tidak berkutik.


Lama kelamaan ciuman Andra mulai mendarat di bibir Rea. Kali ini gadis itu membalas setiap pagutan Andra. Hingga suasana makin panas.


Cukup lama keduanya menikmati penyatuan bibir mereka. Hingga perlahan Andra melepaskan tautan bibir mereka. Ditatapnya wajah sang tunangan. Diusapnya lembut pipi Rea yang kini merona merah.


"Kakak...."


Rea memalingkan wajahnya. Sementara Andra malah tersenyum gemas. "Kenapa?" Goda Andra.


"Kakak buat aku jantungan. Kakak buat aku malu."


Bisik Rea lirih. Kali ini, Andra meloloskan tawanya. Bagaimana bisa Rea kini bisa mengatakan malu setelah berciuman dengannya. Meski begitu, Andra menyukai ekspresi malu Rea, rona merah di wajah gadis itu semakin menambah kecantikan Rea.


****

__ADS_1


__ADS_2