
Kredit Pinterest com
Pagi menjelang, cahaya matahari mulai mengusik pandangan mata Andra. Pria itu perlahan membuka matanya. Saat itulah dia melihat dirinya dan Rea yang tidur di satu kasur dengan posisi Rea memeluk dirinya.
Pria itu mengumpat kesal karena tidak ada yang mengganti baju Rea. Dari semalam, gadis itu memakai tank topnya saja. Wajah gadis itu kusam, rambut berantakan. Bisa dipastikan kalau Rea tidak mandi sejak kemarin.
Saat pria itu masih menggerutu dalam hati. Pintu ruangan VIP itu terbuka. Ini bukanlah rumah sakit tempat Mark bekerja. Tapi pria itu masih bisa menggunakan kekuasaannya di tempat itu. Mengingat Rea adalah putri gubernur.
"Enak?"
Ledek Gina yang masuk membawa dua paper bag di tangannya. Andra mendengus geram, mendengar pertanyaan Gina.
"Enak apanya. Tersiksa tahu."
Tawa Gina hampir meledak. Jika saja Andra tidak memperingatkan kakak Rea itu. Andra akan membiarkan Rea tidur sampai dia bangun sendiri. Kejadian semalam pasti membuat gadis itu shock berat.
"Biarkan dia tidur lebih lama."
Andra melirik Rea yang meringkuk di kasur empuknya.
"Kau tidak membobolnya kan semalam?"
"Astaga G, lihat dia kayak gitu, aku gak tega. Gimana mau acara icip-icip. Brengsek sekali si Janson ini."
Selanjutnya Andra mengambil sarapan yang di sediakan oleh Mama Rea, Berta. Wanita itu sudah berada di sana sejak semalam. Jadi otomatis, semalam yang menjaga Rea dan Andra banyak. Untung saja Andra tidak main terkam Rea tengah malam. Kalau tidak, bisa jadi tontonan banyak orang.
"Bagaimana dia?"
Andra bertanya setelah menyelesaikan ritual mandinya. Tubuhnya benar-benar terasa segar. Seorang perawat juga sudah memeriksa luka di punggung Andra. Lukanya memang cukup dalam. Seharusnya dijahit. Tapi karena darahnya sudah berhenti, mungkin tidak akan terjadi masalah.
"Pendarahan lambung. Kakaknya benar-benar gila."
Andra melotot mendengar Gina menyebut Bradley adik Janson. Wanita itu lalu menjelaskan. Bradley sempat sadar sebentar semalam. Dia menceritakan pada Mark semuanya. Dia mengaku kalau dia adik Janson. Tapi dia tidak tahu menahu soal rencana Janson menculik Rea.
"Dan kau percaya padanya?"
Gina mengedikkan bahunya. Dia belum bertemu Bradley langsung. Keadaan pria itu masih lemah. Hingga masih berada dalam pantauan tim dokter.
"Setidaknya dia memberitahu tempat Rea disekap. Dia menyelamatkan Rea. Jika dia tidak datang lebih dulu. Mungkin Rea sudah berakhir di tangan Janson."
Andra terdiam mendengar perkataan Gina.
"Lalu Janson dan teman-temannya?"
"Mereka berhasil kabur."
Andra mengepalkan tangannya. Dia sangat kesal tidak bisa menangkap Janson. Pria itu merasa bersalah sudah melibatkan Rea dalam urusan ini.
"Polisi akan terus mencarinya. Jangan khawatir. Terlebih dia buronan polisi, kan?"
Mereka berbincang untuk beberapa waktu. Hingga lenguhan Rea terdengar. Mark sendiri baru keluar setelah memerirksa Rea. Luka di lengan Rea juga sebenarnya sangat panjang. Tapi berhubung lukanya sudah menutup. Dan perdarahannya sudah berhenti. Jadi dia akan memeriksanya lagi nanti.
"Sudah bangun?"
Gina bertanya cemas. Melihat sang kakak berada di hadapannya. Tangis Rea pecah lagi. Gadis itu merasa takut. Dia takut kalau dirinya tidak selamat kemarin malam.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Semua sudah selesai."
Gina memeluk sang adik. Tak berapa lama Matt dan Berta datang. Disusul Alex dan Shane. Bisa dibayangkan bagaimana penuhnya ruangan itu. Kalau Matt dan Berta sibuk menenangkan sang putri yang kembali menangis. Alex dan Shane justru saling senyum penuh arti sambil menatap ke arah Andra.
"Apa?"
"Apa semalam ada yang nyicil belah duren?"
Goda Alex. Pria itu bertanya dengan ekspresi wajah tengilnya.
"Nyicil apanya?"
Sangkal Andra. Pria itu melengos ketika Shane memandangnya kepo. Selanjutnya ketiga terlibat dalam debat yang sama sekali tidak ada gunanya.
"Astaga, cuma tidur sambil pelukan doang."
"Doang...apanya. Gak percaya aku."
"Terserah."
Andra memilih pergi ke sofa dekat jendela. Menjauhi duo tengil itu. Tak berapa lama, Rea keluar dari kamar mandi. Dibantu oleh Gina dan Katya. Mama Andra datang menjenguk bersama sang papa. Tapi Daniar sudah kembali ke kantor.
Andra tersenyum, sedang Rea langsung menunduk malu. Dia sedikit banyak ingat soal kejadian semalam. Bagaimana dia dengan agresifnya mencium Andra.
"Kamu yang buat ya?"
Andra memicingkan matanya. Tidak tahu arah pembicaraan Gina. Hingga wanita itu menunjuk leher Rea dengan dagunya. Andra sontak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dikit doang. Cuma di situ thok gak ke mana-mana."
Cengir Andra mengakui perbuatannya. Gina mendelik, pasalnya meski cuma di leher Rea, bekasnya terlihat sekali. Terlihat kalau Andra benar-benar niat saat membuatnya.
"Buat apa itu?"
Tanya Rea polos. Gadis itu tidak suka dandan. Jadi tidak terlalu tahu soal begituan.
"Buat make up-lah apalagi."
Rea ber-ooo ria, sementara Andra langsung memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan menuduh dari semua orang. Terutama sang mama.
"Awas ya kamu."
"Alah...dikit doang. Lagian itu buat bantuin Rea."
"Bantuin apa cari kesempatan?"
"Dua-duanya."
Cengir Andra lagi. Dan sebuah bantal sofa melayang pas di wajah Andra. Pria itu hanya bisa mengumpat lirih, sembari menyingkirkan bantal dari wajahnya.
Rea mendudukkan tubuhnya di ranjang. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Apalagi lengannya. Mark sudah memberikan obat penahan sakit. Tapi rasa nyerinya tidak kunjung hilang.
"Kenapa?"
Andra bertanya ketika melihat Rea meringis dari tadi. Gadis itu langsung menundukkan wajahnya. Dia masih malu untuk berhadapan langsung dengan Andra.
Pria itu ikut duduk di samping Rea. Sebab Gina sedang keluar, memberikan paper bag pakaian kotor Rea dan Andra yang menunggu di luar pintu. Sementara Katya sudah pamit pulang. Dan Alex serta Shane sedang menemui polisi yang ingin bertanya soal kejadian semalam.
__ADS_1
"Kamu kenapa, By?"
"Malu."
Lirih Rea. Gadis itu meremas ujung baju yang dia pakai. Sebuah piyama lengan pendek.
"Ha?"
Andra melongo mendengar ucapan Rea. Malu? Malu kenapa? Pikir Andra bingung.
"Rea malu soal semalam."
Untuk sesaat Andra terdiam. Tapi tak lama, pria itu meledakkan tawanya. Dia heran kenapa juga Rea harus malu.
"Kenapa harus malu. Kalau sudah waktunya akan lebih dari semalam."
Andra berkata sembari menaikkan satu alisnya.
"Mesum...malah godain lagi."
Rea manyun mendengar ucapan sang tunangan.
"Aku mesum cuma sama kamu aja kok. Tenang aja."
"Receh amat gombalannya."
Andra semakin keras tertawa.
*
*
"Bagaimana bisa semua gagal begini. Padahal kita sudah merencanakannya dengan matang."
Clara menendang kaleng soda ke sudut ruangan hingga berbunyi klontang. Dia dan Janson terpaksa bersembunyi untuk sementara waktu. Di luar sana, banyak polisi berkeliaran. Juga selebaran yang berisi wajah Clara dan Janson yang kini resmi masuk list DPO (Daftar Pencarian Orang)
"Sial! Bagaimana Brad bisa tahu tempat itu."
Clara mengerutkan dahinya, mendengar nama Brad dari bibir Janson. Ketika Clara bertanya siapa Brad. Wanita itu terkejut ketika Janson menyebut Brad adalah adiknya. Janson bahkan tega melukai adiknya sendiri.
"Pria ini sadis sekali."
Clara membatin. Sedikit takut pada Janson. Tapi gadis itu berpikir. Selama dia baik dengan Janson, pria itu pasti tidak akan melakukan hal buruk padanya.
"Sementara kita akan sembunyi dulu. Setelah semua aman. Kita akan pikirkan cara lain untuk membalas dendam pada mereka."
Janson menatap tajam pada Clara. Keduanya berada di apartemen Clara. Sebuah tempat yang lumayan bagus. Maklum, penghasilan Clara termasuk besar. Dia adalah bunganya kupu-kupu malam saat ini. Banyak yang berebut untuk menikmati tubuh Clara yang masih kencang khas anak belia.
Tak berapa lama, Janson memberi kode untuk mendekat pada Clara dengan jarinya. Kejadian semalam membuat kepala Janson pusing. Dia perlu sesuatu untuk menghilangkan sakit di kepalanya.
"Ayo bermain, aku sakit kepala dan perlu pengalihan."
Clara tersenyum mendengar perkataan Janson. Dia jelas tahu arah pembicaraan pria itu. Tak lama suara decapan mulai terdengar di ruangan itu. Awal mula sesi panas mereka. Yang mungkin saja, bisa berlangsung sepanjang hari.
***
Jangan lupa ritual jempolnya ditunggu..
__ADS_1
Like, vote, gift dan komennya jangan sampai ketinggalan 😘😘😘