
Ken beberapa kali melirik cemas ke arah kirinya. Di sampingnya Rea, berdiri dengan jarak satu lengan gadis itu. Keduanya berada di halaman sekolah, berdiri sembari memberi hormat pada bendera yang dikibarkan dihadapannya, sebagai hukuman atas keterlambatan keduanya.
Pada akhirnya, Rea memilih terlambat daripada harus membuat Andra meradang di ujung sana. Katakanlah Rea bodoh, dia pikir dia hanya akan disemprot oleh guru karena terlambat. Nyatanya tidak, terlambatnya Rea berbuntut panjang. Dia dihukum dengan cara berdiri di halaman sekolah sambil memberi hormat pada bendera selama tiga puluh menit.
30 menit? Rea pikir itu tidak masalah. Fisiknya cukup baik akhir-akhir ini. Tapi bagian terburuk dari ini semua adalah Ken, yang tiba-tiba ikut terlambat bersamanya. Dan di sinilah keduanya, berdua menjalani hukuman yang menurut Rea menjadi hal paling menyebalkan.
Sedari tadi banyak siswa yang memberi siulan menggoda pada keduanya. Mereka pikir Ken dan Rea sangatlah romantis. Menjalani hukuman berdua. Hal itu membuat Rea semakin kesal. Jika bukan karena Ken, dia tidak akan terlambat dan mendapat hukuman ini.
Wajah Rea semakin sebal melihat wajah bahagia Ken. Lima belas berlalu, sudut mata Rea menangkap tawa mengejek dari Clara yang sengaja lewat di hadapannya. "Asyik ni, dapat hukuman berdua."
Rea mendengus geram mendengar ejekan Clara, sementara Ken malah menampilkan senyum termanisnya. "Dia benar-benar bencana untukku."
"Re, masuklah. Aku akan menggantikan sisanya."
Ken mulai terlihat cemas. Dari tempatnya berdiri, bisa dilihatnya, wajah Rea yang mulai pucat. Dengan keringat sebesar biji jagung mulai keluar dari dahi gadis cantik itu. Nafas Rea mulai terasa berat.
Tapi Rea jelas menolak permintaan Ken, dia tidak mau membuat anak remaja yang mulai dewasa itu merasa menjadi pahlawan. Meski Rea rasa tubuhnya mulai limbung.
Di depan sana, Nana terlihat cemas. Gadis itu beberapa kali menggigit bibir bawahnya. "Rea tidak bisa kena panas terlalu panas. Itu bisa menyebabkan asmanya kambuh."
Dan deretan penjelasan medis dari Mark langsung terngiang di kepalanya. Sampai tiba-tiba, Ken berteriak ketika Rea jatuh terduduk.
Pria itu cepat menahan tubuh Rea."Jangan menyentuhku!" Desis Rea penuh ancaman. Nafasnya mulai tersengal. Dia perlu inhaler-nya.
"Bisa tidak gengsimu itu suruh lihat tempat. Aku cuma mau nolong kamu. Pak, Rea gak kuat!" teriak Ken pada pak Marjuki, guru BK sementara, pembantu pak Budi yang entah kenapa pagi ini terlambat datang.
"Pakai ini Rea."
Nana dengan cepat memberikan inhalernya. Dan Rea menyambutnya lantas menghirup isinya. Sementara Nana langsung menyelipkan alat saturasi (pengukur kadar oksigen, denyut nadi dan detak jantung) di jempol Rea. Gadis itu bersandar di bed UKS.
"70%." Gumam Nana. Gadis itu baru saja akan meraih ponselnya. Ketika Rea menahannya. "Jangan menghubunginya, atau mereka akan membuat ini menjadi rumit."
"Tapi Re, oksigenmu cuma 70%."
"Aku...bisa...mengatasinya. Beri...aku sepuluh menit." Kata Rea terbata. Selanjutnya gadis itu memberi kode pada Nana untuk diam. Sementara Bu Ratna, penanggungjawab UKS terlihat cemas.
Nana menggeleng ketika Bu Ratna bertanya bagaimana. Guru itu hanya bisa memastikan, kalau Rea tidak apa-apa.
"Dia kenapa sih?" Ken tiba-tiba bertanya.
"Dia punya asma!" jawab Nana setengah berteriak. Nana jadi ikut sebal dengan Ken.
Sementara di luar ruangan UKS, terjadi perdebatan antara pak Marjuki dan pak Budi. "Kenapa kau menghukumnya dengan cara itu. Kau tidak lihat riwayat Rea. Dia punya asma. Dan satu lagi, kau itu harus berhati-hati soal Rea. Ada orang penting yang berdiri di belakang Rea. Jika dia tahu Rea mendapat masalah, sampai keadaannya begini. Bisa habis sekolah kita."
Pak Marjuki hanya bisa menunduk tanpa bisa membalas perkataan seniornya. Dia pikir sudah menjalankan hukuman sesuai peraturan. Ternyata dia salah sasaran, lawannya bukan orang sembarangan. Tanpa mereka tahu, pembicaraan mereka di dengar oleh Sita, satu anak buah Clara.
__ADS_1
"Eh guys mau dengar gak berita terbaru soal anak panti itu."
Dan acara gibah pagi itu dimulai. "Dia punya asma?" tanya Clara tidak percaya. Sita mengangguk. Clara tersenyum jahat. Merasa kalau hal ini bisa gunakan untuk mengerjai Rea.
"Pak Budi bilang kalau ada orang penting di belakang Rea. Apa kalian memikirkan hal sama denganku?" tanya Clara.
Mereka lantas terlibat bisik-bisik. Hingga Sita berteriak," Serius lu? Isshh menjijikkan banget sih."
"Kalian pikir darimana si anak panti itu bisa dapat duit banyak dan cepat, lalu jadi glow up seperti sekarang ini, kalo nggak jadi....."
*
*
Ken mengulurkan air minum pada Rea yang mengkode meminta minum. "Ngapain kamu masih di sini?" Rea jelas terkejut melihat Ken yang masih menungguinya.
"Kan nungguin pacar yang lagi sakit."
"Siapa pacarmu?" Rea mendelik mendengar Ken menyebut kata pacar. Gadis itu melirik saturasi di jempolnya. "93%"
"Kamulah pacarku." Rea semakin melebarkan matanya. "Jangan mulai gila kamu!" Judes Rea. Sementara Ken hanya tersenyum mendengar penolakan Rea.
"Sejak kapan kamu punya asma?"
"Bukan urusanmu!" Gadis itu meraih ponsel di saku jasnya. Sebuah panggilan dari Andra membuat gadis itu gelagapan. Tanpa menerimanya, Rea langsung mematikan telepon Andra. Sebuah pesan langsung Rea kirim sebagai ganti.
"Ini gara-gara Kak Andra. Dia minta aku buat ngerjain buku besar sampai jam dua. Ya keoklah aku."
"Nanti aku protes sama dia. Magangnya kalau weekend aja. Malam dihitung lembur."
"Mending jangan kasih tahu dia. Kalau dia cari tahu, bisa kena omel papa sama kak Gina tujuh hari tujuh malam aku."
Ken hanya melongo mendengar obrolan Rea dan Nana itu. Sama sekali tidak paham. Dan sepertinya dua gadis itu tidak sadar kalau Ken masih ada di sana. Hingga deheman pria itu mengagetkan Nana.
"Eh elu....ngapain masih di sini. Balik sana ke kelas elu. Nanti cewek elu ngamuk. Berabe tahu!"
"Gue gak punya cewek, for your info."
"Terus Nita lu kemanain?"
"Gue putusin kemarin. Cewek gue kan sekarang dia." Ken melempar tatapan menggodanya pada Rea.
"Anjiirrrr, anak pak Somat pede amat. Emang elu jadian ma ni buaya buntung?"
Rea menggeleng sambil mengelap bibirnya. Dia tersedak mendengar Ken menyebutnya pacar.
__ADS_1
"Kamu jangan buat masalah denganku atau..."
"Pacarmu marah?" Potong Ken cepat.
Rea dan Nana saling pandang. "Pacar?" Dua gadis itu menyahut bersamaan.
"Itu yang kemarin jemput kamu?"
"Alex?" Batin Rea dan Nana.
"Dia pacarmu atau bukan?"
*
*
"Andra bisa menghajar Alex kalau dia tahu semua orang menganggap Alex pacarku." Kata Rea setengah tertahan.
"Habis mau bagaimana lagi. Ken kadung menganggapnya begitu."
Keduanya berjalan beriringan, kebetulan Nana tadi pagi dijemput pacarnya jadi mereka akan pulang jalan kaki ke rumah Rea.
Drama hari itu berakhir dramatis dengan pak Marjuki meminta maaf pada Rea soal kesalahannya yang tidak tahu mengenai asma Rea. Gadis itu tidak mempermasalahkannya, meski Ken yang mencak-mencak tidak karuan.
Mereka baru saja keluar gerbang ketika sebuah klakson mobil mengagetkan keduanya.
"Tunangan Mr Sky!" teriak Alex dari dalam mobil Pajeronya di seberang jalan.
"Andwae!! Biang kerok lain datang." Pekik Nana.
"Tu.....sudah dijemput sama sugar daddynya,"
Sebuah suara penuh cemooh terdengar dari arah belakang Rea dan Nana.
"Elu bilang apa?"
"Gue bilang sugar daddy lu jemput. Kagak dengar kuping lu."
Dan sebuah teriakan langsung terdengar kala Nana menginjak kaki Clara tanpa ampun. "Sekali lagi elu bicara aneh-aneh soal Rea bukan gue yang ngehajar elu tapi dia yang bakal kasih elu pelajaran. Paham elu!"
"Sudah Na...sudah!" Rea melerai. Jangan sampai Alex turun atau keadaan akan semakin kacau.
"Brengsek lu!" teriak Clara dan Nana hanya menunjukkan isyarat dengan jarinya.
"Sialan!" Clara mengumpat marah.
__ADS_1
"Lihat aja. Akan gue buat hidup elu gak asyik selama enam bulan ini!" batin Clara penuh dendam.
****