
Andra memukul kemudinya, kesal. Sikap Andra membuat Rea langsung merapatkan tubuhnya ke pintu mobil, takut. Sekali lagi, Andra melirik ke arah ponsel yang baru saja dia lempar ke dashboard di mobilnya. "Mengganggu saja," gerutu pria itu. Andra benar-benar tidak peduli pada wajah Rea yang pucat pasi.
Pria itu melajukan mobilnya, membelah kepadatan jalan raya yang ramai. Hari baru saja berubah gelap ketika mobil Andra memasuki parkiran sebuah gedung berlantai lima. "Tunggu di sini, jangan ke mana-mana," pesan Andra singkat. Tanpa menunggu jawaban dari Rea, pria itu melesat keluar dari mobilnyĆ . Meninggalkan Rea yang malah terbengong mendengar ucapan Andra. Gadis itu melihat ke papan nama gedung megah itu, "Sky's Public Accounting Office," gumam Rea. Gadis itu mengembangkan senyumnya. Menjadi akuntan adalah cita-citanya.
Tapi senyum Rea memudar seketika, mengingat cita-citanya. Sudah sebulan ini dia berada di ibukota, meninggalkan sekolahnya. Gadis itu menghela nafasnya, Rea belum berani mengutarakan keinginannya untuk kembali ke kotanya. Dia ingin menyelesaikan sekolahnya di sana, tanggung. Meski dia harus berhadapan kembali dengan Clara. Sejenak terdiam, gadis itu akhirnya meraih ponselnya, lantas berbagi pesan dengan Nana.
"Na, sepertinya aku menyukai....."
Tanpa Rea tahu seseorang mengawasi dirinya. Orang itu menyeringai licik.
*****
Andra hampir saja membanting ponselnya, jika saja Shane tidak mencegahnya. "Bagaimana bisa dia malah menuduh kalau aku yang memanipulasi hasil auditnya," marah Andra. Berantakan sudah acara healing yang dia rencanakan.
"Dia sepertinya ingin menghancurkan reputasimu," jawab Shane enteng. Andra mendengus kesal. "Mau main-main denganku ya," kata Andra sembari tersenyum smirk.
"Aku? Memanipulasi hasil audit pajaknya. Yang benar saja," kata Andra tidak percaya. Pria itu mulai menjelajah dengan laptopnya. Dengan lincah jemari Andra menari di atas keyboard benda persegi itu. Hal yang sama juga Shane lakukan, namun bedanya pria itu mengurusi pekerjaannya sendiri. Seolah tidak peduli pada kepala Andra yang seolah mengepulkan asap, saking jengkelnya.
"Ketemu!" Andra bersorak senang setelah beberapa waktu berlalu. "Enak saja bilang aku begitu. Kau tu yang memanipulasi pajakmu," gerutu Andra. Untuk sejenak, dua pria itu tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Hingga Shane tiba-tiba berkata, "Bukannya kau bersama Rea," tanya pria itu.
"Hah? Apa?" Andra bertanya balik. "Rea mana? Kau mengantarnya pulang kan?" tanya Shane. Otak Andra blank sesaat, hingga pria itu menepuk jidatnya pelan.
__ADS_1
Tak berapa lama, "Duduklah di sana sebentar, sebentar lagi aku selesai," perintah Andra dingin. "I...iya," jawab Rea, takut.
"Kau ini bisa tidak sih bersikap manis padanya sedikit saja," Shane sedikit kasihan, melihat wajah tertekan Rea saat berhadapan dengan Andra. "Kenapa aku harus bersikap baik padanya? Dia bukan siapa-siapaku," jawab Andra judes.
"Setidaknya jangan terlalu galak padanya," bisik Shane. "Nope!" jawab Andra tegas. "Gue doain lu bucin abis sama Rea suatu hari nanti," doa Shane.
"Kagak bakalan!" Andra berkata.....setengah yakin. Sementara, Rea langsung antusias melihat keseluruhan kantor Andra. Berbagai sertifikat penghargaan terpampang di dinding kantor Andra yang berbahan kayu. Terlihat klasik namun berkelas.
Kredit Pinterest.com
"Minum dulu, maafkan kelakuan manusia yang satu itu ya." Andra langsung melirik judes pada Shane.
"Kalau begitu kau bisa membantuku membuat neraca rugi labanya, buku besarnya sudah selesai aku kerjakan, sudah balance," kata Shane. Dia tahu Rea bosan gegara ulah Andra yang asal membawa Rea ke kantor. "Nanti salah," takut Rea.
"Nanti aku cek lagi," kata Shane. Detik berikutnya, Rea sudah asyik dengan laptop yang Shane berikan. Sebuah kacamata blue ray, pemberian Shane membuat tampilan Rea terlihat smart. Beberapa kali gadis itu terlihat mengerutkan dahinya atau memanyunkan bibirnya.
Dan tingkah Rea itu tidak lepas dari pengawasan sudut mata Andra yang malah jadi tidak fokus pada pekerjaannya sendiri."Sial! Kenapa sekarang dia jadi imut begitu?!" maki Andra dalam hati. Sementara Shane, diam-diam mengulum senyumnya, melihat Andra seperti orang yang kebakaran jenggot melihat tingkah menggemaskan Rea. "Makan tu gengsi, kagak nyadar lu, kalau elu sebenarnya perhatian sama Rea, tertarik sama Rea, ha...ha..ha....," tawa Shane pecah dalam batinnya.
"Lain kali bisa dong bantuin Kakak lagi," kata Shane. Ketiganya sedang berjalan keluar dari kantor Andra. Hampir jam sembilan malam."Boleh," jawab Rea senang. "Alah, setakat rugi laba dengan buku besar sudah balance, anak SD juga bisa buat," ketus Andra. Sebenarnya dia enek saja melihat keakraban Shane dan Rea.
__ADS_1
"Cemburu bilang bos," ledek Shane. Andra mendelik ke arah Shane. "Masuk!" satu perintah dari Andra membuat senyum Rea hilang seketika. Rea tersenyum setelah melambaikan tangannya pada Shane yang keluar lebih dulu dari kantor Andra. "Ya....," Andra melirik Rea saat menjawab teleponnya.
"Ada bersamaku, aku akan mengantarnya pulang....ponselnya....."
Andra melihat Rea yang langsung melihat ponselnya. "Mati," lirih Rea pelan. "Ponselnya mokat.......iya....iya....aku antar dia. Bawel banget sih," gerutu Andra. Mobil itu melaju keluar dari gedung itu. Andra perlahan membuka dashboard mobilnya. Mengeluarkan seutas kabel. Mengulurkannya pada Rea. Gadis itu tanggap. Lantas mencharger ponselnya. Begitu ponselnya hidup, sebuah panggilan langsung masuk. "Ya Na," gadis itu melirik takut pada Andra.
"Nggak kok. Bukan dia," jawab Rea gelagapan. Andra sedikit mengerutkan dahinya. Mendengar pembicaraan Rea. Tak lama, mobil Andra masuk ke sebuah restauran Italia. "Dua orang," Andra berkata pada pelayan yang menyambutnya. "Kak, aku tidak makan jam segini," cicit Rea.
Bukannya menjawab, Andra dengan cuek mengikuti pelayan itu. Mereka diarahkan ke lantai dua tempat itu. Rooftop yang viewnya menghadap langsung ke pusat kota. "Waaaahhhh," ucap Rea tanpa sadar, dengan mata gadis itu berbinar senang. Untuk sesaat Andra terpaku dengan senyum cantik Rea. Pria itu akui, perubahan fisik Rea benar-benar membuatnya terpana. Terlepas dari keengganannya untuk mengakui.
"Makanlah, jangan terlalu mengikuti kakakmu yang gila diet," Andra menyuruh Rea, ketika pesanan mereka datang. Masih dengan wajah ketus dan dinginnya. "Tapi......" Rea ingin menjawab tapi takut.
"Makan! Kalori spagheti itu tidak akan membuatmu gemuk dalam semalam," Andra berkata setengah berdesis penuh ancaman. Sebenarnya Andra tahu, tubuh Rea tipe yang makan banyak tapi tidak mudah gemuk. Tapi doktrin dari Gina benar-benar merasuk ke kepala Rea. Pada akhirnya, Rea pasrah. Mulai memakan spagheti pesanan Andra. "Tubuh kayak triplek saja masih sok-sok-an diet," gerutu Andra pelan.
Rea menghentikan makannya, mata gadis itu melirik tajam pada Andra. Tapi Rea buru-buru menundukkan wajahnya kembali, saat tahu ternyata Andra tengah memperhatikannya.
"Kau membawanya ke mana saja?!" Gina bertanya sambil melipat tangannya di depan dada. Wanita itu sudah menunggu Andra di depan pintu. "Ke kantor lalu makan," jawab Andra singkat. "Sampai jam segini?" Cecar Gina.
"Macet Non, macet Non," Andra beralasan. "Mana ada jalanan macet hari gini," bantah Gina. "Tidak percaya ya sudah," kata Andra sambil lalu. Gina menuju mobil Andra, heran kenapa Rea belum turun.
"An, dia tidur. Angkat dia!" Teriak Gina. Andra langsung mendengus kesal. Tidak tahu jika Rea tertidur.
__ADS_1
"Merepotkan saja!" gerutu Andra.
******