
Seminggu berlalu, hubungan Andra dan Rea boleh dibilang mulai mengalami peningkatan. Rasa tidak terima Rea atas pertunangan paksa yang Andra lakukan padanya, perlahan mulai sirna. Karena memang sejatinya Rea menyukai Andra. Pun dengan Andra yang berubah menjadi pria bucin sekarang. Pria itu juga memperlihatkan bagaimana posesifnya dirinya pada Rea.
Seperti sekarang, dia protes ketika Gina menunjukkan seragam baru Rea. Meski Rea pun juga protes. Kenapa seragamnya jadi berubah drastis begitu. "Kamu gak salah Gi, seragam Rea begitu?" protes Andra begitu melihat seragam Rea. Rea bahkan bolak balik melihat seragam itu dari dekat.
Mereka sedang berada di kamar Rea, packing. Karena besok, Rea akan pulang ke kota lamanya. "La, Kakak cuma ngikutin gambar yang dikirim Nana." Balas Gina.
Andra dan Rea saling pandang. Melihat seragam itu, bisa dipastikan kalau paha Rea akan sedikit terekspose. "Ganti!" Protes Andra langsung. Dia tentu tidak mau Rea memakai seragam seperti itu.
"Mau ganti bagaimana sih An. Ini saja sudah aku panjangin lima senti. Nanti Rea harus selalu pakai hot pants. Sekolahnya kok lama-lama mau niru yang di luar sana," Gina ikut menggerutu. Kembali melihat seragam Rea yang berwarna putih hitam itu.
Kredit Pinterest.com
Kira-kira begini seragamnya ya guys,
"Benar-benar cosplay jadi anak sekolah Cina atau Korea kalau begini," gumam Rea, memasukkan empat setelan seragam itu ke dalam kopernya.
"Nggak usah bawa banyak barang. Cuma enam bulan doang." Andra berkata dari arah belakang. Pria itu duduk di sofa, sembari memainkan ponsel sekaligus mengulik laptopnya. Andra tengah merampungkan pekerjaannya sebelum besok akan mengantar Rea bersama Mark.
"Nggak kok. Ini cuma bawa baju berapa." Jawab Rea.
Gadis itu kembali berkutat dengan packingnya. Hingga sebuah tarikan nafas membuat Andra menghentikan pekerjaannya. Pria itu melihat ke arah Rea yang tengah memasukkan beberapa buku ke sebuah paperbag.
"Sudahlah." Rea terkejut ketika Andra memeluknya dari belakang. "Kau membuatku jantungan," protes Rea. Andra terkekeh di pundak Rea. Pria itu memejamkan mata, menikmati aroma lavender Rea yang akan sangat dia rindukan.
Rea hanya perlu waktu dua bulan untuk mengubah Andra, dari pria dingin, judes dengan mulut sepedas cabai dragon breath, juga tukang buli menjadi seorang pria dengan tinģkat kebucinan melewati level akut.
"Kenapa sih harus balik ke sana? Nanti kalau Clara ngapa-ngapain kamu gimana?" tanya Andra cemas.
__ADS_1
Rea terkekeh. Gadis itu sendiri tengah membiasakan diri dengan sikap Andra yang ternyata sangat manja jika sudah cinta mati. Juga kecemburuan Andra yang tingkat dewa.
"Aku lawan baliklah," jawab Rea. Keduanya kini sudah duduk di sofa setelah Andra menyingkirkan laptopnya. "Yakin berani?"
Rea menarik nafasnya. Lantas mengangguk. "Setidaknya aku tidak akan menunduk saat dia meremehkanku." Balas Rea. Untuk sesaat, keheningan menyapa, saat Andra menatap intens pada Rea.
Dia sangat gelisah dengan kepulangan Rea kali ini. Untuk pertama kalinya, Andra merasa takut kehilangan, takut ditinggalkan. "Berjanjilah padaku untuk setia." Kata Andra kemudian. Rea langsung terkekeh mendengar ucapan Andra.
"Kata-kata itu seharusnya untukmu. Dibanding aku, akan lebih banyak yang nguber kamu." Rea tertawa keras selanjutnya. Hingga sebuah ciuman membungkam tawa Rea. Andra mencium gadis itu sembari menahan tangan Rea. Sebab Andra tahu, Rea pasti melawan.
Dan benar saja, Rea terus berontak sementara Andra semakin memperdalam ciumannya. Andra tahu, dia belum sepenuhnya "menguasai" hati Rea. Sebab Rea masih marah dengan sikapnya di masa lalu.
****
Malam itu semua datang untuk makan malam di rumah Matt. Sebagai pengantar untuk Rea. Daniar dan Katya pun datang. Semua jelas merasa sedih atas kepergian Rea. Padahal dia pergi hanya enam bulan saja.
Andra langsung memutar matanya malas. Melihat drama sang Mama yang akan segera di mulai. Dan terpaksalah Rea harus meladeni tingkah calon ibu mertuanya itu. Ibu mertua? Rea seketika nyengir mengingat hal itu. Tidakkah masih terlalu cepat untuk memikirkan sebuah pernikahan. Meski calonnya sudah ada.
Rea melihat Andra yang tengah berbincang dengan Shane dan Nicky. Sementara Bryan asyik bergurau dengan Gina dan Terry. Rea akan sangat merindukan suasana ini. Kehangatan dan kebersamaan ini... Rea akan selalu menantikannya.
*
*
*
"Sudah siap?" Mark bertanya setelah berhasil menguasai diri. Melihat Rea dengan tampilan anak sekolahnya, membuat Rea terlihat imut meski aura dewasa tetap terpancar dari Rea.
"Kependekan gak sih Kak?" Rea bertanya ragu pada Mark. Dia tidak pernah memakai pakaian sependek itu saat keluar rumah. Berulang kali melihat tampilan dirinya di cermin.
__ADS_1
"Agak sih, tapi mau bagaimana lagi. Keputusan sekolahmu begitu. Meski yang lebih pendek banyak."
Mark menjawab sembari menggandeng Rea keluar dari kamar. Untuk sementara dia harus tinggal di hotel. Sebab rumah yang disiapkan Matt baru bisa ditempati nanti sore. Dan dua pria itu harus kembali nanti malam. Sebab Andra ada audit penting besok. Juga Mark ada schedule operasi.
Andra langsung melebarkan matanya melihat tampilan Rea. Mau protes, dia sudah melakukannya dari kemarin. Hingga akhirnya hanya sebuah helaan nafas yang keluar dari bibir pria tampan itu.
"Jaga sikapmu dan tingkahmu!" desis Andra penuh penekanan. Rea hanya mengangguk pasrah mendengar peringatan Andra. Dia tahu itu soal pakaiannya.
Ketiganya melangkahkan kaki masuk ke gerbang sekolah Rea yang ternyata di luar ekspektasi Andra dan Mark. Mereka pikir sekolah Rea akan terlihat kuno atau semacam itulah. Tapi nyatanya tidak. Gedung sekolah Rea terhitung bagus dan boleh dibilang megah serta mewah.
Setelah melapor pada satpam. Ketiganya diantar ke ruang Kepala Sekolah yang memang sudah Mark hubungi terlebih dahulu. Rea berkali-kali menarik nafasnya, menenangkan diri. Juga menghilangkan bayangan soal Clara yang membullinya.
"Kamu bisa Rea, kamu bisa!" Rea meneguhkan tekad hatinya. Dia harus bisa melewati enam bulan ini dengan baik.
Pak Rudi, kepala sekolah yang baru terlihat ramah pada Rea. Sikapnya tidak jauh beda dengan pak Munawar. Setelah beberapa penjelasan dari Mark dan Andra, akhirnya Rea resmi kembali ke sekolah itu. Dalam pada itu Mark yang mewakili Matt sebagai wali Rea sedang menjelaskan kondisi Rea. Termasuk kasus penculikan Rea.
Rea menarik nafasnya dalam, ketika dia memilih keluar dari ruangan Kepsek. Sebab prosedur untuk masuk kembali ke sini ternyata cukup rumit. Meski Rea tidak dikeluarkan tapi absen empat bulannya menjadi masalah.
Gadis itu mengedarkan pandangannya, mengamati sekolahnya. Ada banyak hal yang berubah, sama seperti dirinya. Gadis itu setengah melamun, hingga sebuah teriakan membuatnya menoleh. "Rea.......!"
Senyum Rea mengembang, melihat siapa yang memanggilnya. Hingga tidak lama, kedua gadis itu berpelukan. Rindu yang keduanya rasakan terbayar sudah. Nana...sahabat satu-satunya Rea bahkan menangis ketika melihat Rea berdiri di hadapannya.
"Ini beneran kamu kan, Rea?" tanya Nana sembari mengusap air matanya. Nana masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sang sahabat berdiri didepannya dengan tampilan yang berbeda. Tidak ada Rea yang dekil, pemalu dan minder. Sahabatnya itu kini sudah berubah cantik dan percaya diri. Semua yang melekat di diri Rea terlihat begitu sempurna.
Dua gadis itu sejenak berbincang dengan antusias. Hingga deheman keras dari belakang mereka, membubarkan acara jumpa kangen dan tawa dua gadis itu.
"Siapa Re?"
*****
__ADS_1