
Ken melempar sebuah flash disk ke atas meja kepsek. Sementara si kepala sekolah hanya terdiam.
"Terserah kalian akan menghukumnya bagaimana. Tapi itu bukti kalau mereka membuli Rea. Hampir melecehkannya."
Ken lalu berbalik. Keluar dari ruangan kepsek. Mengabaikan tatapan penuh permohonan dari Clara, Nita juga teman-temannya. Di luar ruangan, Ken bertemu Nana. Gadis itu tidak banyak bertanya seperti biasanya. Keduanya menaiki tangga menuju lantai dua. Tempat Rea biasanya suka ngadem. Keduanya menarik nafas bersamaan. Rea pergi bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal.
"Lu tahu semua tentang dia kan?"
Ken tiba-tiba bertanya. Nana tidak menjawab. Sebab dia tahu, identitas Rea belum bisa diberitahukan pada sembarangan orang. Termasuk Ken.
"Maaf untuk itu, gue gak bisa kasih tahu. Sebagai clue aja...Kak Alex, bodyguard Rea saja sudah seperti itu. Jadi elu bisa bayangin seperti apa orang tua Rea."
Nana menjawab. Ken terdiam sesaat. Anak buahnya belum berhasil menguak siapa orang tua Rea. Status Rea bukan lagi anak panti tapi sudah ada yang mengadopsi. Tapi siapa orang tua Rea masih misteri.
"Gue jadi malas ada di sini."
Kata Nana. Ken menoleh ke arah sahabat karib Nana itu. "Sama."
Ken dan Nana berjalan gontai, keluar dari sekolah itu. Nana harus berjalan ke rumah Rea karena dia meninggalkan motornya di sana.
*
*
Kredit Pinterest.com
Andra langsung masuk ke dalam pesawat begitu burung besi itu mendarat. Alex sudah lebih dulu keluar. Pria itu menunggu di dekat garbarata. Tak lama, pria itu tampak menggendong Rea yang masih tidur dalam balutan jas Alex.
Tanpa kata, keduanya langsung ke dalam mobil yang sudah menunggu. Tidak ada kata yang terucap selama perjalanan mereka. Alex cukup tahu kalau Andra sangat marah. Matt sendiri yang menghubungi Andra, dan menceritakan semuanya.
Perlu beberapa waktu hingga mobil itu masuk ke kediaman Aherne. Terlihat Mark yang sudah menunggu di depan pintu. Dengan Berta dan Gina yang menunggu di dalam.
"Re....."
Berta dan Gina bergumam bersamanya. Begitu Rea direbahkan di kasurnya. Mark dengan cepat memeriksanya.
"Kau sudah mengurusnya?"
Andra bertanya. Pria itu duduk di sofa di kamar Rea. Pusing seketika mendera kepala Andra. Di depannya, Alex menjawab. Dia memberitahu apa yang dia lakukan untuk membalas Clara.
Andra tersenyum puas mendengar jawaban Alex. Tidak dia sangka kalau otak Alex kriminal juga. Bisa dipastikan, setelah ini Clara dan keluarganya akan menangis darah.
"Rea...kamu bangun, Sayang."
__ADS_1
Semua langsung berlari ke arah ranjang. Melihat Rea yang sedang dibantu duduk oleh Mark. Lemas, itulah yang Rea rasakan.
Melihat Andra dan yang lainnya ada di hadapannya, membuat Rea mengusap mata beberapa kali.
"Kamu gak mimpi Re. Kamu pulang."
Mendengar suara Mark, Rea langsung memeluk pria itu. Meski detik berikutnya, Andra segera menarik Rea dalam pelukannya.
"Jangan meluk dia. Dia mulai doyan perempuan."
Rea merengut, diikuti yang lain menepuk pelan dahi masing-masing.
"Aku ini kakaknya, An."
Andra mencebik mendengar ucapan Mark.
"Status kakakmu siapa tahu hanya kedok. Sebenarnya kamu ada maksud lain."
"Kak Andra jangan begitu. Kak Mark..."
Andra langsung memberi kode diam pada Rea. Gadis itu diam seketika. Sementara Berta langsung berkomentar, "Cemburu mbok ya lihat tempat, An."
"Jaga-jaga, Tante." Jawab Andra enteng.
"Masih lemas? Mau pasang infus?"
"Tan, boleh gak aku nginep sini?"
Tanya Andra santai sembari memakan makanannya. Berta langsung menatap tajam pada Andra. Dan sebuah penolakan langsung Andra dapat. Gina, Rea dan Mark serta Alex hampir meledakkan tawa mereka, melihat wajah manyun Andra.
"Tante kangenlah sama Rea."
"Alah, kamu pikir Tante tidak tahu, kamu kan baru liburan tiga hari dari sana kan. Gak boleh nginep sampai sah menikah...."
Uhuuukk...Rea langsung tersedak. Andra tersenyum iseng. "Ya udah deh, kalau gitu minggu depan, Andra nebeng di nikahan Gina."
Rea melotot mendengar ucapan Andra. "Jangan aneh-aneh deh, Kak."
Pada akhirnya, tawa langsung meledak di meja makan itu. Yang satu jelas ngebet ingin nikah. Yang satu masih takut dengan yang namanya nikah.
Keceriaan itu semakin meriah setelah Matt ikut bergabung. Pria itu sengaja pulang lebih awal untuk menemui Rea. Bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Matt saat memeluk sang putri.
Mereka masih sempat bersenda gurau di ruang keluarga. Hingga malam mulai merayap datang.
"Kak, lihat ponselku gak?"
__ADS_1
Rea bertanya pada Alex. Dan jawaban Alex membuat wajah Rea sendu. Hingga sebuah ponsel terulur di depan wajahnya. "Kau ingin menghubungi sohibmu? Pakailah."
Rea langsung menyambar ponsel Andra. Lalu menghubungi Nana. Detik berikutnya, obrolan seru mengalir antara dua gadis itu. Bagaimana Nana menceritakan kalau Ken melempar flash disk ke depan kepsek mereka.
"Gue seneng, elu baik-baik saja. Sudah pulang ke rumah elu. Gue pasti bakal rinduin elu, Re."
Nana mengusap air mata di sudut matanya. Dia tidak tahu lagi kapan akan bertemu Rea lagi. Pun dengan Rea. Gadis itu terdiam. Dengan ponsel Andra yang masih berada di tangannya. Dia juga tidak tahu kapan akan bertemu Nana lagi. Matt jelas tidak akan sembarangan mengizinkan Rea ke mana-mana.
Sebuah pelukan mengagetkan Rea. Tapi dia tidak menolak, sebab di sini hanya Andra yang berani memeluknya dengan cara seperti itu. "Selamat datang kembali, My Re...."
*
*
Kredit Pinterest.com
Empat hari berlalu, dan Rea mulai menyibukkan diri. Kalau tidak di kantor Andra. Dia akan berada di dojang. Seperti saat ini, dia tengah menyeringai melihat Rio di hadapannya. Pria itu tampak mengulum senyumnya. Enam bulan tidak bertemu dan di matanya, Rea bertambah cantik.
"Tambah cantik aja elu."
Rio pada akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji Rea. Gadis itu memakai seragam taekwondo, dengan rambut dikuncir tinggi. Menampilkan leher putih dan jenjang milik tunangan Andra itu.
"Jangan ngomong sembarangan ya kamu. Nanti kakakku marah."
Ketus Rea. Rio terkekeh. Dia tahu kalau kakak Rea sangat protektif. Terlebih Andra, tanpa Rio tahu kalau Andra adalah tunangan Rea. Latihan di mulai. Dan Rea benar-benar serius dalam berlatih. Beberapa kali, Rio terlihat kewalahan mengimbangi Rea.
"Oke, cukup. Lu bisa ikut ujian kenaikan sabuk bulan depan."
Rio berkata dengan nafas terengah-engah. Senyum Rea mengembang sempurna. Dia sangat senang mendengar perkataan Rio.
Tanpa Rea tahu, seorang pemuda berjalan mendekat ke arah mereka. Memakai seragam taekwondo yang sama dengan Rea.
"Sabeum, dia sudah datang."
Rio berbalik, meninggalkan Rea sibuk dengan samsaknya. Rea tidak terlalu memperhatikan anggota baru itu. Sampai satu suara menyapa Rea. Gadis itu cukup terkejut mendengar suara itu.
"Tidak mungkin kan kalau dia ada di sini."
Batin Rea seolah tidak memperdulikan sapaan itu. Hingga satu tangan menahan pukulan Rea.
"Kamu? Ngapain kamu di sini?" Mata Rea membola melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Kejutan....."
__ADS_1
Pria itu memiringkan wajahnya sembari tersenyum ke arah Rea.
****