Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Hamil


__ADS_3

Andra memajukan tubuhnya, sementara Rea semakin memundurkan diri. Sorot tajam mata Andra, membuat Rea sedikit takut. Rea tahu setelah menikah, akan ada banyak hal yang berubah. Lebih tepatnya kita akan mengenal sosok suami atau istri kita lebih dalam. Kita akan mengetahui bagaimana sifat dan kepribadian mereka, yang selama ini mungkin tidak kita ketahui.


Seperti sekarang ini, Rea mungkin harus terbiasa menghadapi sikap Andra saat pria itu marah. Meski Rea pernah melihat bagaimana Andra kalau emosi enam bulan lalu.


"Sudah aku katakan kalau aku ingin kamu memutus hubungan dengannya."


Andra kembali mengulangi perkataannya. Pria itu memenjarakan sang istri dengan dua lengannya. Rea meneguk salivanya pelan. Dia merasa keadaannya terancam.


"Tapi ini hanya urusan skripsi, tidak ada hal lain...."


Perkataan Rea teredam ketika Andra mencium bibir gadis yang hampir sebulan ini menjadi istrinya. Andra mungkin sedikit memberi kelonggaran pada Rea, soal hak yang belum pernah dia minta. Namun setelah kejadian hari ini, Andra mungkin akan berpikir ulang. Dia akan menjadikan Rea miliknya, seutuhnya. Agar gadis itu tidak bisa lari darinya. Juga karena dirinya menginginkan anak dari Rea.


Ciuman Andra awalnya hanya bertujuan untuk membungkam protes Rea. Tapi lama-lama, pertukaran saliva itu berubah menjadi lebih intens. Di sisi lain, Rea merasa kalau dia belum menjadi istri yang baik karena belum bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.


Rea mencintai Andra, dia tahu itu. Sebulan ini, dia mulai menerima pernikahannya dengan Andra. Dia bertekad menjadi istri yang baik untuk sang suami. Mungkin, semua bisa dimulai dari sekarang. Saat ciuman mereka semakin dalam, Rea tahu Andra menginginkan lebih dari itu. Apalagi kelembutan ciuman Andra membuat Rea terlena.


Awalnya jelas terasa kalau Andra menciumnya dengan amarah menggelegak di dada. Tapi selang beberapa waktu, hanya ada cinta yang teasa di antara pagutan bibir mereka.


Brruukkkk,


Sepatu dan tas yang berisi laptop Rea, terjatuh begitu saja. Saat Rea mengalungkan dua tangannya di leher kokoh Andra. Sementara tangan pria itu semakin menekan tengkuk Rea. Untuk memperdalam ciuman mereka.


"Aku menginginkanmu, By."


Pria itu berucap ketika mereka melepas tautan bibir mereka untuk menarik nafas. Sesaat dua mata itu saling pandang, hingga seulas senyum terukir di bibir Rea. Sebuah anggukan menjadi tanda kalau lampu hijau telah menyala. ACC diterima. Permintaan dikabulkan. Senyum Andra merekah, satu keinginan Andra adalah, dia tidak ingin memaksa Rea untuk melayaninya. Dia ingin gadis itu dengan sukarela memberikan miliknya padanya. Tanpa paksaan.


Detik berikutnya, keduanya sudah mulai bercumbu di atas kasur besar mereka. Suasana dingin AC seketika berubah panas, saat Andra mulai menikmati tiap jengkal tubuh sang istri. Bagi keduanya ini adalah pengalaman pertama. Andra berusaha berlaku selembut mungkin saat menyentuh tubuh Rea.


Mata pria itu membulat, ketika melihat bagaimana seksinya tubuh Rea tanpa balutan sehelai benang pun. Dia tentu ingat bagaimana tubuh Rea empat tahun lalu. Waktu itu, gadis tersebut belum tumbuh sesempurna saat ini. Tapi sekarang, tubuh Rea benar-benar menggoda, dengan buah dada yang terlihat sintal dan kenyal. Serta bagian belakang tubuh Rea yang bulat dan padat.


"Kak....ini masih sore."


Rea teringat kalau ini hampir waktunya makan malam. Sementara sang suami justru sedang on fire berusaha memasuki dirinya.


"Biarkan aku masuk dulu, By."


Balas Andra setengah tersengal. Sudah berapa kali dia mencoba, mendobrak masuk ke tubuh Rea. Tapi tak kunjung berhasil. Rea sudah meringis sejak tadi. Perih dan panas mulai terasa di area pribadinya.


"Ampun...susah amat tinggal masuk doang."


Gerutu Andra yang tengah mencium bibir Rea. Menghilangkan ketegangan diwajah sang istri.


"Biarkan aku masuk oke? Sakit...tapi cuma sebentar."

__ADS_1


Pria itu menatap dalam wajah Rea yang bermandikan peluh. Sesaat dua mata itu beradu pandang, hingga kemudian Rea menarik leher Andra, mencium bibir sang suami. Gerakan Rea, membuat dibawah sana kembali berbenturan, tapi kali ini lain. Milik Andra jelas telah merobek sesuatu didalam tubuh Rea.


Ringisan Rea terdengar, seiring tangan gadis itu mencengkeram kuat lengan kekar Andra. Rasa sakit yang teramat sangat membuat tubuh Rea serasa terbelah. Kebalikannya, Andra justru terpaku, merasakan nikmat penyatuan untuk pertama kalinya.


"Maaf."


Hanya itu yang mampu Andra ucapakan kala dia mencium lembut mata Rea yang penuh air mata. Rasa sakit jelas terpancar di sana. Untuk beberapa waktu, tidak ada yang berani bergerak. Hingga suara dessahhan Andra terdengar saat pria itu mulai memacu diri. Menikmati sesi panas mereka untuk pertama kali.


*


*


"Re, makan dulu. Kamu dari tadi siang belum makan."


Andra mengguncang pelan tubuh Rea. Gadis yang kini sudah berubah status menjadi wanita itu hanya menggeliat. Keadaan Rea masih polos tanpa pakaian yang menutupi keindahan tubuhnya. Tubuh yang beberapa waktu lalu sudah membuat Andra menggila.


"Sakit, Kak."


Keluh Rea. Andra mengulum senyumnya. Dia ingat memang sedikit lepas kendali saat memacu diri tadi.


"Siapa suruh tubuhmu sangat menggiurkan. Jadi gak bisa berhenti aku."


Kekeh Andra tanpa rasa bersalah. Rea mendelik mendengar jawaban enteng dari Andra. Pria itu tidak tahu apa kalau tubuhnya rasanya remuk redam, dengan pinggang mau patah. Hadeeuuhh, perasaan dia sering olahraga. Tapi kenapa juga dia seperti kalah dengan Andra. Hingga kemudian dia teringat bagaimana hobinya Andra dengan gym. Pria itu selalu menghabiskan waktu liburnya di ruang kebugaran di lantai dua.


Rea menelan ludah, teringat kembali bagaimana seksinya tubuh polos Andra. Otot tubuh sang suami terbentuk sempurna. Rea bergidik ngeri. Bagaimana dirinya bisa bertahan dengan gempuran Andra, jika pria itu bisa membuatnya berkali-kali melayang ke angkasa. Gila, ini pengalaman pertama yang membuat Rea merasa menjadi wanita paling beruntung saat ini.


Rea melotot mendengar perkataan Andra. Lagi? Yang benar saja. Rea mencebik, lalu memaksakan diri bangun. Menaikkan selimut sampai ke batas dada. Dilihatnya, Andra yang sudah segar. Bisa dipastikan jika pria itu sudah mandi. Andra mengulurkan satu piring nasi komplit dengan lauk pauknya. Wanita itu ingin protes.


"Makan nasi. Kalau cuma makan buah, kamu nanti tidak kuat melayaniku."


Rea membulatkan matanya mendengar perkataan Andra. Meski begitu dia tetap memakan makanannya.


"Kak, jadi tidak enak sama papa dan mama. Aku gak turun makan malam."


"Kenapa? Justru mereka merasa senang."


Kata Andra sembari merapikan rambut Rea yang berantakan karena ulahnya. Pria itu lagi-lagi tersenyum, melihat banyaknya kissmark yang berhasil dia buat di tubuh Rea. Daniar dan Katya tentu tidak masalah, justru mereka merasa bahagia. Akhirnya, keinginan mereka untuk segera memiliki cucu akan segera terwujud.


"Baby...."


"Apa...?"


Rea menyahut sembari mengunyah nasinya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu."


Rea menhentikan acara makannya. "Aku nggak tu." Jawab Rea dengan gaya tengilnya.


"Kok gak sih? Masih kurang dibikin lelahnya?"


Bola mata Rea membulat sempurna, sementara Andra memberikan tatapan menggodanya.


"Apa sih?"


Andra terkekeh melihat jengkelnya wajah sang istri. Pria itu mengusap pelan kepala Rea, sayang.


Di sisi lain, Nana baru saja membuka matanya. Wanita itu perlahan menyingkirkan tangan Mark yang melingkar di perutnya. Menuruni ranjang dengan pelan, lantas berjalan masuk ke kamar mandi. Perutnya terasa aneh sejak tadi. Mual dan tidak nyaman. Dia pikir apa dirinya masuk angin. Wanita itu ingat dirinya tidak pernah telat makan.


Nana membuka keran air di wastafel, dilihatnya wajahnya juga sedikit pucat. Fix, dia sakit. Wanita itu mencuci wajahnya, berpikir untuk segera pulang. Sebab hari sudah larut malam.


Sementara Mark, pria itu ikut terbangun setelah tidak merasakan Nana di sampingnya. Matanya berputar mencari keberadaan Nana. Hingga suara muntah terdengar dari kamar mandi. Rasa panik menyeruak di dada Mark, kala pria itu menyusul masuk ke sana. Dia khawatir kalau wanita yang dia cintai sakit.


"Ada apa, Na?"


Pria itu langsung memijat tengkuk Nana. Berusaha memberikan kenyamanan lebih pada Nana.


"Gak tahu, rasanya mual gitu. Pengen muntah tapi gak bisa."


Mark mengerutkan keningnya, sedikit berpikir. Nana tidak pernah bermasalah dengan kesehatannya. Hingga pria itu kemudian teringat keluhan Nana. Kalau bulan ini, dia belum mendapat tamu bulanannya. Waktu itu Mark menjawab, mungkin saja telat. Pengaruh dari stres pekerjaan Nana yang membludak.


Namun setelah dipikir-pikir, apa mungkin Nana....Pria itu melesat keluar lagi dari kamar mandi. Berlari ke arah mobil. Dia tahu benar resiko dari dirinya yang beberapa kali mengajak Nana bercinta. Ada kemungkinan jika wanita itu hamil anaknya. Jika itu terjadi, bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Mark. Dia benar-benar pria normal.


"Coba ini."


Kata Mark menyerahkan dua alat test pack pada Nana. Sementara wanita itu melongo. Test pack? Dia tidak mungkin hamil kan? Namun mengingat dia dan Mark pernah bercinta mungkin saja hal ini bisa terjadi. Dengan langkah gontai Nana masuk ke bilik shower. Tak berapa lama keluar dengan wajah sendu. Dia memang belum mengetahui hasilnya. Tapi bagaimana jika dirinya benar-benar hamil.


"Bagaimana?"


Tanpa menjawab pertanyaan Mark. Wanita itu menyerahkan hasil tes packnya pada Mark. Pria itu sejenak terdiam. Hingga kemudian, pria itu berteriak senang. Garis dua. Nana hamil. Dia akan menjadi seorang ayah.


"Kamu hamil sayang!"


Teriak Mark, sementara Nana malah terbengong. Hamil? Yang benar saja. Dirinya mengandung anak Mark.


****


Ritula jempolnya ditunggu,

__ADS_1


Like, komen dan votenya jangan lupa...😘


*****


__ADS_2