
Setelah perdebatan antara Andra dan Rea kemarin, hubungan keduanya agak merenggang. Pria itu jadi sedikit bicara pada Rea. Sedikit menjaga jarak. Hal itu membuat Rea berpikir. Apa dia keterlaluan pada Andra.
Rea pikir menikah bukan perkara mudah. Iya, dia tidak akan kekurangan secara materi saat bersama Andra. Walau Rea tidak terlalu mempermasalahkan soal materi. Dia sudah biasa hidup susah. Bisa makan saja dia sudah senang. Menurut Rea setelah menikah ada banyak hal yang akan berubah dalam diri kita.
Dan Rea belum siap untuk itu. Andra memang sudah dewasa, tapi dia. Dia pikir belum. Masalah dengan Andra membuat pikiran Rea jadi tidak fokus pada pelajarannya. Hinģga dia yang biasanya punya fokus di kelas. Beberapa kali ketahuan melamun.
Jika oleh dosen lain hanya diingatkan agar lebih fokus. Tapi berbeda ketika Bradley Scott yang menangkap basah dirinya tengah melamun.
"Sudah gue bilang, lu harus hati-hati saat ada dia di dekatmu."
Ken mendesis kesal. Brad tidak menghukum Rea saat kali pertama Rea ketahuan melamun olehnya. Tapi saat Brad memergokinya tidak fokus dan gagal menjawab pertanyaannya, sebuah detensi Rea dapat. Ken, Jerry dan Devi jelas protes ketika hukuman Rea adalah melakukan survei ke kantor pajak bersamanya. Jelas-jelas itu modus. Namun Brad mengatakan ada orang yang akan ikut dengan mereka. Jadi mereka tidak hanya pergi berdua.
"Kau pandai sekali memanfaatkan situasi."
Batin Sita, hanya dia yang bisa melihat senyum samar Brad saat berhasil menjerat Rea bersamanya.
Rea melangkah gontai masuk ke kamarnya. Hari ini dia sangat lelah. Detensi dari Brad membuat moodnya hancur. Baru membayangkan saja sudah membuat kepalanya puyeng. Bagaimana lusa dia akan melewati harinya dengan si dosen killer.
"Re, boleh kakak masuk?"
Gina berdiri di pintu kamar Rea. Gadis itu mengangguk. Membiarkan Gina duduk di ranjangnya. Perlahan Gina mulai bicara. Wanita itutahu permasalahan antara Rea dan Andra.
Sebab Shane dan Alex bercerita padanya. Mood Andra berantakan, siapa lagi kalau bukan Rea penyebabnya. Gina sendiri sudah bicara pada Andra. Dia menyalahkan Andra yang memilih Rea untuk jadi pendampingnya. Sudah tahu Rea baru 20 tahun. Dia sudah sibuk ingin menikahi Rea. Kalau Andra ingin segera menikah, seharusnya dia mencari wanita yang sudah siap untuk diajak menikah.
"Tapi aku cuma mau Rea."
"Kalau begitu tunggu dia dan bersabarlah."
"Tapi G, di kampus banyak yang ngincer dia."
"Lalu apa Rea merespon. Bukannya Rea cuma berteman sama Devi dan Jerry."
Andra kicep mendengar jawaban Gina. Semua ucapan Gina benar, tepat sasaran tidak ada yang meleset.
"Kakak dengar kamu ada masalah dengan Andra. Dia uring-uringan mulu di kantor."
Rea diam, belum menjawab. Hingga kemudian dia dengan ragu mulai menjawab.
__ADS_1
"Sepertinya Rea yang salah. Kak Andra pengen nikahin Rea tapi Rea belum mau."
Gina mengusap lembut kepala Rea. "Alasannya?"
Rea menghela nafasnya. Hingga gadis itu menceritakan kalau dirinya belum siap menjalani rumah tanģga. Bukan karena tidak mencintai Andra. Dia masih ingin mengejar mimpinya. Mewujudkan cita-citanya.
Di sisi lain, Gina tampak mendengarkan cerita Rea. Dia hanya mendengarkan tanpa menyela, hingga Rea selesai bercerita.
"Apa Rea salah kalau Rea berpikiran seperti itu?"
Gina merengkuh tubuh sang adik ke dalam pelukannya. Sebagai seorang psikiater, dia tahu bagaimana perasaan Rea.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Kami tidak memerlukan bukti apapun untuk melihatmu pantas atau tidak untuk berada dalam keluarga ini ataupun di sisi Andra. Kami mencintaimu melebihi apapun. Jadi jangan pernah berkecil hati. Abaikan ucapan orang di luar sana. Jangan didengarkan."
****
"Adduuuhhhh, kenapa kau jewer telingaku!"
Andra segera memegangi tangan Gina yang tengah menarik telinganya. Sementara Gina malah semakin gemas, memegangi kuping Andra.
Ha? Andra melongo. Kenapa juga Rea menangis karenanya. Hingga Gina pun menceritakan curhatan Rea. Mendengar hal itu, Andra hanya terdiam.
"Aku kan sudah memperingatkanmu. Ketika kau memaksakan pertunangan ini pada Rea. Dia masih terlalu muda. Jalannya masih panjang. Dia mencintaimu. Tapi kalau kamu ngebet pengen kawin, dia bersedia mundur."
"Ehhh kok gitu?"
"Lalu maumu bagaimana? Dia masih ingin mengejar cita-citanya. Setidaknya sampai lulus kuliah."
Andra terdiam mendengar penjelasan Gina.
"Kamu seharusnya paham, Rea bukan gadis biasa. Dia punya tekad untuk mengejar cita-citanya. Dia ingin memperbaiki dirinya. Dia sadar dia cuma anak panti yang bahkan ayah dan ibunya dia tidak tahu. Jadi dia ingin membuat dirinya sedikit berharga. Apa itu salah? Sekarang aku mohon pengertianmu. Tiga tahun lagi An, mungkin tidak sampai. Rea cerdas, sangat pintar. Dia akan menyelesaikan kuliahnya dengan cepat."
Andra termenung. Apa dia keterlaluan pada Rea. Apa dia terlalu menekan Rea. Di tengah lamunannya, ponsel Andra berbunyi. Satu pesan masuk ke ponselnya. Sebuah pesan yang membuat kepala Andra puyeng jadinya.
Di sisi lain,
"Pak kok ke sini sih. Ini kan bukan jalan ke kantor pajak."
__ADS_1
Rea protes sembari memeriksa map-nya. Sementara pria di sampingnya hanya diam. Tidak menjawab. Hanya fokus pada jalanan di depannya. Brad memang mengatakan kalau ada orang lain yang ikut. Tapi mereka naik mobil sendiri. Jadi di mobil Brad hanya mereka berdua.
Diabaikan, lama-lama Rea kesal juga. Apalagi dia hanya didiamkan sejak tadi. Tanpa sepatahkatapun yang keluar dari bibir tipis pria itu.
"Pak...kita mau ke mana sih sebenarnya. Bapak bohong ya sama saya."
Cerocos Rea. Gadis itu sedikit panik dengan sikap dan tatapan Brad. Sikapnya dingin dengan tatapan dingin dan tajam. Tidak bersahabat sama sekali.
"Pak...bapak!"
Akhirnya Rea berteriak saking jengkelnya. Mereka tengah berhenti di lampu merah. "Kalau Bapak tidak bicara, saya keluar!"
Rea mengancam. Gadis itu sudah meraih handle pintu. Ketika tangan Bradley menahan tangan Rea.
"Tetap di tempatmu. Kita akan sampai sebentar lagi."
Bradley berkata dengan tatapan yang ...melembut saat bicara padanya. Rea terkesima mendengar ucapan Bradley. Untuk pertama kalinya dia mendengar suara Brad di luar kelas.
"Tapi ini mau ke mana? Bapak mengajak saya ke mana?"
"Kencan."
"Ha?" Rea melongo mendengar jawaban Brad. Pria itu sendiri heran pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa mengatakan kata itu.
"Bapak jangan bercanda ya. Saya sudah punya tunangan."
"Saya tidak peduli."
Rea mendelik mendengar jawaban Brad. Baru ingin menjawab, pandangan Rea teralihkan pada pemandangan pantai yang mulai terlihat. Pantai? Dia sudah lama tidak mengunjungi pantai. Sesaat gadis itu menatap Bradley penuh selidik. Apa yang dosen killernya itu rencanakan dengan membawa Rea ke sana.
"Bapak ngapain bawa saya ke sini? Jangan macam-macam ya."
"Memangnya salah kalau saya mengajakmu liburan satu hari ini."
Ha? Rea kembali melongo. Liburan? Dia tidak salah dengar? Bradley mengajaknya liburan. Ini pasti ada yang salah. Rea memandang curiga pada Brad.
****
__ADS_1