
Rea terpaku menatap cincin bulan sabit yang ada di jari telunjuknya. Andra tidak menutupi jika Arka yang memberikan benda itu padanya. Sesaat wanita itu tertegun, hingga Rea kemudian beranjak menuju meja rias. Dibukanya salah satu laci di sana. Sebuah kotak kayu usang dia keluarkan. Kotak yang bahkan Andra pun tidak tahu, perlahan dibukanya benda itu. Seuntai kalung dengan liontin bulan sabit dan bintang seketika terjuntai keluar.
Sejenak Rea terdiam, hingga kemudian wanita itu berlari keluar dari kamarnya. Wanita itu menuju ruang kerja Andra. Belum sempat Rea membuka pintu, dia mendengar percakapan Andra dan Jack.
"Jadi dia memilih pergi?"
"Demi keselamatan Rea. Kau tahu sendiri, dia itu siapa?"
Hening sejenak. Terdengar helaan nafas dari dua pria itu.
"Aku tidak menyangka jika Arka dan Rea kakak adik."
Duarrrr
Rea memundurkan langkahnya, begitu mendengar apa yang diucapkan oleh sang suami. Arka adalah kakaknya. Tidak mungkin, tidak mungkin ini terjadi.
"Nyatanya hasil tes DNA-nya begitu. Mau bagaimana lagi. Dia kakak iparmu sekarang. Kakak iparmu..... mafia."
Lagi, satu kenyataan serasa menghamtam kepala Rea. Arka kakaknya dan dia seorang mafia. Rasanya kepala Rea mau pecah. Tak berapa lama terdengar Andra dan Jack kembali berbincang soal Arka. Soal alasan kenapa pria itu memilih pergi. Juga soal Arka yang melarang Jack untuk memberitahu soal siapa pria itu pada Rea.
Bulir bening itu mengalir tiba-tiba, Rea tidak tahu kenapa Arka tidak mau memberitahunya kalau mereka bersaudara. Meski dengan alasan keselamatan dirinya. Apa Arka tidak tahu kalau dirinya selalu bermimpi bisa menemukan keluarganya, minimal tahu kalau dia punya saudara. Kini harapan itu terwujud, Arka adalah saudara kandungnya. Tapi kenapa pria itu tidak mau menemuinya sebelum pergi. Apa dirinya tidak berharga hingga Arka tidak mau bertemu dengannya.
Hingga percakapan Andra dan Jack kembali terdengar. "Dia berjanji akan pulang. Saat itu dia akan menemui Rea. Dia akan menjelaskan semua."
Rea berbalik, kembali ke kamarnya. Wanita itu duduk di meja riasnya. Cincin dan kalung itu masih tergeletak di atas meja. Pelan, Rea mengusap air matanya. "Baiklah jika Kakak tidak ingin bertemu dengan Rea, maka Rea tidak akan memaksa. Tapi jika Kakak pulang dan tidak segera menemuiku, awaaaasss."
Rea menggeram pelan. Setelah itu dia memakai cincin pemberian sang kakak, lalu memakai kalung miliknya sendiri. Dua benda yang rupanya ditinggalkan oleh orang tua mereka untuk dua beradik itu. Hatinya cukup bahagia, dia punya seorang kakak. Dan sempat bertemu sebentar. Di lain waktu dia akan membuat sang kakak membayar semua waktu yang telah mereka lewatkan.
*
*
Hari pesta pernikahan Rea dan Andra tiba. Setelah ditunda sekian lama dengan berbagai sebab dan masalah yang menimpa sepasang suami istri itu. Akhirnya hari yang dinantikan oleh dua keluarga besar itu berhasil dihelat juga.
Kandungan Rea memasuki usia empat bulan, tapi gaun pengantin Rea tidak ada masalah. Gaun itu memang dibuat longgar sejak awal, jadi sampai hari H, malah pas di tubuh Rea yang mulai berisi.
"Gaunnya malah cucok meong tu, nek."
__ADS_1
Rea terkekeh mendengar ucapan stylish yang ditugaskan untuk membantu Rea memakai gaun mewah itu. Stylish yang tergolong makhluk jadi-jadian itu, begitu Jack menyebutnya, berkali-kali memuji kecantikan Rea.
Hampir semua orang tahu kalau Rea tengah mengandung. Tapi Daniar tetap akan mengumumkan secara resmi soal pernikahan Andra dan Rea, juga soal kehamilan sang menantu. Pria itu jelas sangat bahagia dengan semua yang telah terjadi. Bersama Matt, dua pria itu saling berpelukan saat bertemu di ruang make up Rea. Sama-sama mengagumi kecantikan Rea.
"Eh, mau diapain istriku?"
Galak Andra begitu tahu dua pria itu sama-sama memeluk Rea dengan Berta dan Katya duduk di samping kiri dan kanan Rea. Mereka baru saja nyolong start mengambil gambar dengan Rea.
"Apaan sih, Rea kan putri kami."
Tegas Daniar dan Matt bersamaan. Tapi jawaban Andra membuat dua pria itu kicep seketika. "Itu dulu, sebelum dia dinikahkan padaku dengan persetujuan Anda...Andra menunjuk Matt.....dan restu dari Anda...Andra menunjuk sang papa....."
Dua pria itu menggaruk kepala masing-masing. Yang dikatakan Andra benar. Sementara para perempuan hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan unfaedah para pria itu.
"Masak peluk aja gak boleh sih."
Protes Matt. Dia merasa belum puas menghabiskan waktu dengan putri "nemu gedhe"-nya alias adopsi.
"Gak boleh. Minggir sana. Mending kalian ke depan deh. Terima tamu, Nicky kewalahan kalau suruh "among tamu" segitu banyaknya. Siapa suruh ngundang orang gak kira-kira."
"Ah elah An, closing ini, closing."
Gerutu Daniar yang beranjak keluar dari sana diikuti sang istri juga Matt serta Berta. Setelah semua keluar, Andra mendekat ke arah Rea. Sekilas dia melihat kesedihan di wajah sang istri.
Tanya Andra, lantas duduk di samping Rea. Wanita itu terlihat menyentuh cincin dari Arka. Andra seketika tahu kalau Rea tengah memikirkan sang kakak.
"Aku yakin dia juga merindukanmu, Re."
Andra lantas menyentuh tangan Rea, hingga wanita itu mengangkat wajahnya.
"Semua akan baik-baik saja."
Dua pasang mata itu bertemu. Rea jelas tahu maksud Andra. Perlahan wanita itu mengulas senyumnya. Lantas mencium bibir Andra.
"Terima kasih."
Giliran Andra yang mengukir senyumnya. "Aku akan menunggu kakak pulang."
Satu bulir bening itu meleleh di sudut mata Rea. Tapi dengan segera Rea mengusapnya. Selanjutnya, Andra dan Rea mulai berjalan menuju hall, tempat pesta pernikahan digelar. Di depan pintu, semua teman menyambut mereka. Sang kakak, Gina dan Nicky, Mark dengan Nana, Shane plus Dena, Alex dengan Devi. Bryan serta Terry. Dan yang mengejutkan adalah kedatangan Vio dengan seorang wanita cantik. Satu hal yang membuat semua orang melebarkan senyumnya.
__ADS_1
Juga jangan lupakan duo kampret yang selalu membuat Andra darah tinggi. Bradley dengan Yuki serta Ken dengan Alisha. "Awas kalau buat kacau."
"Astaga, kita sudah bawa istri masing-masing juga masih kamu cemburui. Keterlaluan kamu An."
Maki Ken. Semua hanya tertawa melihat adegan itu. Dari dulu tidak pernah berubah. Dari zaman masih single sampai jadi double semua. Heran.
Saat pintu hall terbuka, sebuah dekorasi pelaminan mewah menyambut mata Rea dan Andra. Keduanya berjalan di tengah taburan kelopak mawar yang diterbangkan oleh Kai dan Naina.
Kredit Pinterest.com
Sesaat Andra dan Rea saling pandang sembari tersenyum. "Terimakasih untuk empat tahun kisah cinta kita. Hingga kita bisa bersatu. Terima kasih untuk semua hal yang sudah kamu berikan padaku selama ini. Cinta, perhatian, kasih sayang, benci, sakit hati, kecewa, marah bahkan dendam. Semua itu akan mewarnai kisah kita selanjutnya. Hanya kali ini akan ada satu jalan keluar untuk semua rasa itu....cinta....."
"Aku mencintaimu, Andrea Kirana."
"Aku juga mencintaimu, Deandra Oliver Sky."
Sebuah ciuman manis menjadi penutup serangkaian kisah cinta antara Andra dan Rea. Meski mereka tahu, kisah mereka tidak akan berhenti di sini. Karena esok, perjalanan baru mereka akan kembali berlanjut.
*
Sementara itu, di Negara M, seorang pria terlihat menggeram marah. Jack sudah memberikan link streaming pernikahan sang adik. Tapi Arka justru terlibat baku tembak dengan kelompok pemberontak di wilayah selatan negara itu.
Satu ringisan terdengar, kala sebutir peluru menembus bahu Arka. Kali ini dia benar-benar tertembak. Tubuh Arka ambruk seketika. Dalam temaram cahaya malam. Pria itu melihat jari telunjuknya yang bersimbah darah, di sana ada sebentuk cincin yang melingkar.
"Tunggu aku pulang, Re."
"Panggilkan Andreas"
Teriak Max, perlahan Arka menutup mata. Tangannya terkepal, hingga cincin bulan sabit dan bintang itu terlihat nyata.
END
****
Untuk Rea dan Andra selesai sampai di sini ya readers. Kisah selanjutnya soal Arka...
Terima kasih sudah menyimak kisah Andra dan Rea sejak awal. Terima kasih juga buat dukungannya. Papay....ketemu di cerita author yang lain...
__ADS_1
****