Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Jodoh


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Setelah kejadian hari itu, Rea benar-benar menjaga jarak dengan Bradley Scott. Tapi hal itu tidak membuat Brad marah. Tidak masalah Rea menjauhinya, toh dia tetap bisa memandang gadis itu saat mengajar.


Dua minggu berlalu, suasana ruang perkuliahan masih heboh, karena isinya obrolàn unfaedah dari penghuninya. Untuk beberapa waktu kehebohan itu masih berlangsung. Hingga seorang dosen pengampu makul akuntansi biaya, masuk. Membawa seorang siswa baru yang langsung membuat mata Rea membulat.


Gadis itu seketika menepuk jidatnya. "Kenapa juga ni anak ngikutin gue." Keluh Rea dalam hati.


Sementara Jerry dan Devi saling pandang. Sedang Sita menatap penuh minat pada siswa baru itu. Perkenalan singkat di mulai dan siswa baru itu tegas menyebut Rea sebagai pacarnya. Siapa lagi kalau bukan Ken, playboy buaya buntung.


Sorakan penuh ejekan membahana seantero kelas. Tapi Ken dengan pedenya mengabaikan itu semua. Pemuda tanggung itu duduk di depan Rea setelah memaksa penghuninya bergeser.


"Ngapain kamu di sini?"


"Apalagi, belajar nyambi ngejar elu."


"Etdah buset, ni anak narsis abis." Celetuk Jerry.


"Kalau Rea nolak elu, gue mau kok nampung elu." Sita melancarkan godaannya.


"Anjirrrr, gue gak suka sama yang bekas. Gue suka yang ori."


Jawaban Ken sukses membuat Sita mendengus kesal. Juga menimbulkan tanda tanya pada orang lain yang mendengar ucapan Ken. Sementara Rea dan Jerry hanya saling pandang. Selama ini mereka lihat Sita anak baik. Tidak pernah neko-neko. Tapi kenapa Ken bicara seperti itu.


"Maksud kamu apa, bilang begitu soal Sita?"


Rea bertanya setelah makul itu selesai. Ken menatap lurus Rea. Gadis ini masih terlalu polos.


Rea adalah burung dalam sangkar emas. Tidak diperbolehkan mencoba hal baru yang mungkin terasa berbeda untuk kehidupan Rea yang lempeng.


"Elu tu terlalu polos jadi cewek, Re."


Ken mengusak gemas poni Rea. Dan hal itu sukses membuat Andra yang menjemput Rea emosi.


"Gue bilangin ya, hati-hati berteman sama Sita. Dia gak sepolos yang elu kira."


"Eh anak ingusan. Ngapain kamu di sini?"


"Eh ada si Om. Mau jemput? Kirain Rea gak ada yang jemput. Mau tak anterin kalau Rea gak ada yang jemput." Cengir Ken tanpa dosa.


Sunggguh pemuda tanggung itu tidak ada takut-takutnya dengan Andra. Sudah tahu kalau Andra tunangannya Rea. Dan pria itu emosian. Masih saja suka mengerjai Andra.


"Aku belum setua itu. Lagian kenapa kamu masih di sini. Cepetan balik kantor sana." Salak Andra.


"Tapi kalau sama Rea......jauh."


Ken membuat kode jauh dengan jarinya. Hal itu sukses menaikkan emosi Andra. Tunangan Rea itu baru akan membalas, ketika Rea mengusap lengan Andra. Menenangkan pria itu.

__ADS_1


Hal itu membuat Ken cemburu. Terlebih setelah itu, Rea menarik Andra menjauh. Agar keduanya tidak berdebat lagi. Rea melambaikan tangannya pada Ken sebelum menghilang dari hadapan pemuda itu.


"Cemburu? Perlu tempat curhat?"


Sita tiba-tiba muncul di samping Ken. Ken hanya melirik Sita sekilas.


"Curhat? Sama elu? Mending gue balik kantor."


Ken berlalu dari hadapan Sita, membuat wanita itu kembali kesal. Awas kau Ken! Sita sebenarnya sangat menyukai berondong. Sebab dia terlalu banyak bermain dengan pria yang lebih tua. Terlebih wajah Ken manis sekaligus tampan. Membuat Sita tambah penasaran.


*


*


Di dalam mobil, Andra masih terus mengomel soal kehadiran Ken di kampus Rea. Bagaimana bisa, playboy buaya buntung itu masuk ke kampus Rea. Pria itu terus bicara tanpa henti, membuat telinga Rea panas dibuatnya.


"Kak, bisa berhenti ngomel gak sih."


Bukannya diam, bibir Andra malah makin lancar memaki Ken. Sampai di kantor, pria itu masih terus ngedumel tidak jelas. Hingga Shane dan Alex kompak bertanya kenapa.


"Kesambet jin tomang."


Rea menjawab asal. "Rea.....!" Andra berteriak dari ruangannya.


"Jinnya ngamuk tu."


Rea masuk ke ruangan Andra sambil cekikikan. Begitu masuk, gadis itu langsung kicep melihat tatapan penuh ancaman dari Andra.


Andra terdiam, memandang tajam pada sang tunangan. Memakai celana kulot dengan kaos yang ditutupi outer senada dengan warna kulotnya, membuat tampilan Rea simple tapi berkelas. Ditambah pakaian Rea mampu menyembunyikan lekuk tubuh tunangannya tersebut.


Rea mendekat, melihat kode dari Andra.


"Tadi bilang apa?"


Andra bertanya penuh penekanan. Rea mengerutkan dahinya. Apa? Yang mana? Gadis itu malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Di depannya Andra sudah gemas melihat ekspresi bingung Rea.


"Ehhh."


Rea terkejut ketika tiba-tiba Andra sudah menariknya duduk di sofa.


"Kak, nanti ada yang lihat."


"Sudah aku kunci otomatis. Ulangi, tadi bilang apa?"


Desak Andra, pria itu semakin memepet tubuh Rea.


"Yang mana sih, Kak?"


"Yang kesambet apa?"

__ADS_1


"Jin tomang...awww geli, Kak."


Rea menghindar dari Andra yang mulai mengendus lehernya. "Katakan lagi, aku kesambet jin tomang. Beneran aku kesambet, habis kamu."


Ancam Andra, sembari mencium leher Rea, naik hingga mencapai bibir gadis itu. Dua tangan Rea, menahan bahu Andra, sedikit memukul. Berharap pria itu melepaskan ciumannnya. Tapi dugaannya salah, Andra menarik tangan Rea, menempatkannya di atas kepala gadis itu. Hingga gadis itu tidak berkutik dibuatnya.


"Stop!"


Rea memalingkan wajahnya, agar ciuman mereka terhenti. Dilihatnya Andra, yang wajahnya menyeringai ke arahnya.


Nafas Rea tersengal. Terlebih tubuh besar Andra hampir menindih tubuhnya. "Ayo bilang lagi aku kesambet jin tomang."


Astaga, begitu saja dia marah. Dan aku hampir mati karena kehabisan oksigen. Rea menggerutu dalam hati.


"Kak...berat." Kata Rea berusaha mencari celah untuk lepas dari himpitan Andra.


"Katakan dulu...."


"Nggak...nggak....aku nanti bilang begitu, kakak gak lepasin aku sampai nanti sore. Nanti ketahuan papa, Kak."


"Bagus, kalau Matt sampai tahu. Kita bakal nikah besok."


Wajah Andra berbinar saat mengatakan hal itu, berbeda dengan Rea, yang langsung mendelik mendengarnya.


"Kak jangan dong."


"Kenapa sih Re? Kamu gak cinta sama aku?"


"Bukan begitu....."


"Lalu?"


"Kan aku mau masih mau kuliah. Masih ini itu...lagian aku baru 19 tahun."


"20 tahun, Rea sayang. Lagian kamu masih bisa ini itu, meski kita sudah menikah. Kamu bisa kuliah, kerja. Terserah kamu mau melakukan apa. Aku gak ngelarang. Aku tu cuma pengen semua orang tahu kalau kamu milik aku."


Rea menatap dalam bola mata Andra. Dia tahu Andra sangat mencintainya. Begitupun dirinya. Meski begitu, untuk menikah...nanti dulu. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangannya sebelum memutuskan untuk menikah.


"Bisa kita bicarakan lagi lain waktu. Please, beri aku waktu untuk berpikir. Ini terlalu mendadak untukku. Mulai dari pertunangan, rasa cinta kakak ke aku. Ini bagiku terlalu cepat."


Andra bangkit dengan cepat dari tubuh Rea. Meninggalkan gadis itu yang langsung terduduk di tempatnya. Raut kecewa jelas terlihat di wajah Andra. Ini adalah kesekian kalinya dia mendapat penolakan halus dari Rea.


Dia ingin secepatnya mengikat gadis itu dalam sebuah pernikahan. Memastikan Rea selalu aman dalam pengawasannya. Tapi sepertinya Rea belum bersedia.


Melihat wajah kecewa Andra, Rea merasa bersalah. Tapi dia benar-benar belum siap untuk menikah. Karena sejak awal, meski Rea mencintai Andra begitupun sebaliknya. Dia akan menyerahkan semuanya pada yang namanya jodoh. Jadi Rea akan lihat, apa dia berjodoh dengan Andra atau sebaliknya. Mereka akan berpisah di tengah jalan karena jodoh bukanlah milik mereka berdua.


***


Jangan lupa ritual jempolnya ditunggu...

__ADS_1


****


__ADS_2