Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Tugas Alex


__ADS_3

Andra melempar barang yang ada di atas nakas di sisi tempat tidurnya. Hal itu membuat Rea yang berada di kamar mandi, langsung berlari keluar dari sana. Wanita itu kaget melihat barang yang berserakan di lantai. Rea menarik nafasnya pelan, lalu mendekat ke arah Andra.


"Ada apa Kak?"


Bukannya menjawab, sang suami malah memberikan tatapan nyalangnya. Andra mengalami sedikit masalah dengan kakinya. Setelah cidera tulang punggung yang dia alami. Cidera membuat kakinya lemah, tidak kuat menahan beban tubuhnya. Hingga selama seminggu ini, pria itu menggunakan kursi roda untuk bergerak.


Hal itu membuat mood Andra berantakan. Pria itu jadi sering uring-uringan. Marah tanpa sebab. Semua orang tentu merasa cemas dengan keadaan Andra. Bahkan mereka sudah menghubungi Gina untuk berkonsultasi. Dan menurut Gina, keadaan itu wajar terjadi pada pasien seperti Andra.


Andra mengalami tekanan mental, setelah hidupnya yang baik-baik saja, sehat, tiba-tiba berubah. Dia menjadi tidak bisa berjalan. Tidak bisa melakukan hal yang dia suka. Meski untuk Andra sifatnya sementara. Tapi tentu saja itu tetap berpengaruh pada kondisi psikis Andra. Hingga yang Gina minta adalah bersabar. Terutama Rea, karena sang adik yang lebih banyak berinteraksi dengan sang suami.


"Tidak ada apa-apa."


Andra menjawab ketus. Pria itu memalingkan wajahnya. Tidak mau melihat sang istri. Selama seminggu ini, Andra merasa menjadi pria yang tidak berguna. Semua harus dibantu, semua harus dilayani. Dia tidak bisa melakukan semua hal sendiri seperti dulu. Dia merasa menjadi beban bagi semua orang. Terutama Rea, sang istri.


Rea jelas semakin lelah, karena seminggu ini dia juga menghandle urusan kantor bersama Daniar. Belum lagi morning sick yang dia alami. Meski begitu, Rea tidak mengeluh sama sekali. Di depan Andra, wanita itu selalu berusaha tersenyum.


Jauh di lubuk hati Rea, wanita itu merasa bersalah. Berapa banyak orang yang terluka karena melindunginya. Bradley, Andra, semua terluka karena dirinya. Dia merasa menjadi orang yang tidak berguna. Tapi hal itu lagi-lagi Rea simpan sendiri. Hanya satu orang yang tahu persis perasaannya. Steve, pria itu tidak bisa dia bohongi. Sepintar apapun Rea menutupi keadaan hatinya. Steve selalu bisa membuat dirinya bicara.


Mendengar jawaban ketus Andra, Rea hanya bisa menarik nafasnya. Dia harus bersabar. Semua yang terjadi pada Andra adalah salahnya. Wanita itu menyentuh tangan Andra. Mengusapnya pelan.


"Marah saja jika kakak ingin marah, jangan memendamnya."


Andra memejamkan mata mendengar perkataan Rea. Justru karena kesabaran Rea selama seminggu ini, membuat keadaan Andra terpuruk. Semua hal dihandle oleh Rea. Bahkan sampai urusan kantor, Rea yang menangani dibantu oleh sang ayah. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk terapi, menguatkan otot kakinya agar dia bisa berjalan kembali seiring cideranya yang semakin membaik.


Andra menepis tangan Rea, pria itu merebahkan tubuhnya, membelakangi Rea. Andra merasa kesal pada dirinya sendiri.


*


*


Rea menghela nafasnya. Satu meeting baru saja selesai dia hadiri. Wanita itu baru saja menghubungi sang kakak, Gina dan Mark. Memastikan kalau Andra baik-baik saja. Sebab dia tidak bisa menemani sang suami terapi hari ini. Schedulenya penuh sampai petang nanti.


Dari seberang, Gina menjawab kalau dia akan mencoba mendekati Andra. Gina sedikit banyak tahu sisi lain Andra. Jadi dia akan berusaha mengurangi tekanan mental Andra soal keadaannya sekarang. Beberapa kali Rea terlihat menarik nafasnya. Berusaha meringankan rasa sesak di dada.


Wanita itu duduk di lobby sebuah hotel seorang diri, menunggu Alex yang akan menjemputnya. Bulir bening itu hampir meluncur turun dari sudut mata Rea, ketika sebuah sapaan membuat Rea mengedipkan matanya cepat. Menyamarkan air matanya.

__ADS_1


"Nyonya Sky, Anda di sini?"


Rea sesaat terkejut melihat Johannes Arka yang berdiri di depannya. Sosok dingin, namun entah kenapa Rea merasa nyaman saat di dekat Arka. Rea pun menjawab kalau sedang menunggu Alex. Seringai tipis terukir di bibir Arka.


Merasa cukup mengenal baik Arka, Rea akhirnya membiarkan Arka duduk di sana menemaninya sebelum Alex datang. Tanpa Rea tahu, Arka telah menyabotase mobil Alex. Hingga pria itu akan sedikit terlambat untuk menjemput Rea. Dan Arka berdalih sedang menunggu kliennya yang datang terlambat.


Arka tersenyum manis saat mendengar Rea mau bicara padanya, menjawab semua pertanyaannya tanpa takut. Sebagai pembuka obrolan, Arka meminta maaf pada Rea soal kelakuan sang istri. Sonya sendiri sedang mendekam di penjara, menunggu proses sidang bersama Stacey. Bisa dibayangkan bagaimana senangnya Sonya dapat lepas dari jerat siksa Arka.


Percakapan keduanya mengalir begitu saja. Rea sangat menyukai Arka yang lebih banyak mendengarkan perkataannya. Sifat yang hampir seperti Steve.


"Sudah lebih baik?"


Eh? Rea bertanya sembari menatap intens pada Arka. Pria itu lagi-lagi tersenyum. Ada rasa hangat menjalar di hati Rea kala melihat senyuman Arka. Untuk sesaat dia merasa terlindungi. Untuk sedetik, dia merasa ada orang yang benar-benar menyayanginya tulus selain keluarganya. Dia merasa mendapat figur seorang kakak di diri Arka.


Pertemuan tak lebih dari setengah jam itu, menyisakan rasa ambigu di hati Rea. Terlebih ketika akan pergi, Arka mengusap lembut kepalanya, dan mencium puncak kepalanya. Astaga, apa maksudnya coba.


Selama beberapa hari hal itu membuat Rea berpikir. Apa yang sebenarnya ingin Arka lakukan padanya. Atau lebih tepatnya perasaan apa yang Arka punya untuknya.


"Melamun lagi, Re."


Rea berjengit ketika Alex menegurnya. Mereka tengah rapat, dan Rea lebih banyak melamun daripada mendengarkan presentasi dari bagian marketing.


Alex kembali mencecar Rea setelah rapat selesai. Rea yang kepalang kepo pun bercerita pada Alex.


"Kamu serius?"


Rea mengangguk. Lebih lanjut lagi, Rea juga mengatakan kalau Arka beberapa kali mengirim pesan, bertanya apa dirinya baik-baik saja. Tapi Rea mengabaikan pesan itu. Terlabih, dia tidak merasa memberikan nomor ponselnya pada pria itu.


"Haish, setelah Janson, Ken, Bradley sekarang nongol Arka. Kamu pakai pelet ya?"


Rea menendang kaki Alex, kebiasaan Rea kalau sedang kesal. "Sembarangan! Pelet dari mana? Muka gue aja standar gini. Gak ada cakep-cakepnya."


Jawaban Rea justru membuat Alex mengerutkan dahinya. Rea tidak pernah sadar kalau kecantikan alaminya, justru membuat jantung banyak pria ketar ketir di luar sana. Alex percaya jika saja Rea bukanlah Nyonya Sky, banyak yang mengejar wanita yang Alex akui semakin mempesona itu.


"Dia gak mungkin suka sama kamu kan?"

__ADS_1


Pertanyaan Alex seketika membuat Rea menghentikan gerakan jari di laptopnya. Wanita itu menatap lurus pada Alex.


"Maksudmu?"


"Aduh Re, jangan polos-polos amat napa jadi cewek."


Sifaf Rea satu ini yang kadang membuat Alex dan Jack kelabakan. Untuk ukuran wanita dewasa, Rea terlalu polos untuk membaca situasi yang berhubungan dengan perasaan di sekitarnya.


"Mana mungkin Arka suka sama aku."


"Kenapa gak? Bininya di penjara. Alah Re, kalau gak ingat aku yang sudah jagain kamu dari dulu. Aku juga sudah punya rasa sama kamu."


Rea mendelik mendelik mendengar pengakuan Alex. Haisshh kenapa semua jadi begini sih. Kesembuhan Andra baru lima puluh persen, pria itu baru belajar berjalan dua hari ini. Satu kemajuan yang membuat tingkat tekanan mental Andra berkurang drastis. Pria itu mulai bisa mengendalikan rasa marahnya.


"Setelah Andra sembuh, aku mau jadi guru Paud aja deh. Pusing aku mikirin yang beginian."


Alex tergelak mendengar ocehan Rea.


"Jadi guru Paud sana. Aku jamin akan lebih banyak pria yang mengejarmu."


Rea melongo mendengar jawaban Alex disela gelak tawanya. Dan tatapan Rea yang penuh pertanyaan membuat Alex semakin gemas dengan sikap polos Rea.


"Banyak pria yang mencari wanita dengan sisi feminisme dan keibuan yang mereka punya."


"Lah kalau begitu aku harus bagaimana. Aku gak mau ada skandal atau apapun yang bisa merusak pernikahanku dengan Andra."


"Ya kamu cukup bersikap sewajarnya pada para fans kamu itu. Selebihnya biar aku dan Jack yang bekerja."


Rea menatap Alex dengan pandangan penuh permohonan. " Lex, bantuin aku ya. Aku cuma cinta sama Andra, aku gak mau ada masalah dalam pernikahan kami."


Alex mengangguk mantap. Memang itulah tugas Alex. Tanpa Rea dan Alex sadari, seseorang tersenyum penuh arti di ujung sana. Mendengar percakapan Rea dan Andra.


***


Moon maaf ya guys, kemarin othor gak up...

__ADS_1


Ritual jempolnya tapi tetep jangan lupa...


Itu harus ya reader 🤭🤭🤭


__ADS_2