Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Saran Shane


__ADS_3

Setelah berita Rea sudah sadar tersebar, tak berapa lama ruangan itu sudah penuh dengan teman-teman Rea yang ingin menjenguknya. Rea mengulas senyum tipisnya, melihat semua orang sangat menyayanginya. Terlebih sikap Andra yang berubah manis padanya.


"Dia gak lagi kesambet jin tomang kan," batin Rea terkekeh di sela acara makannya yang disuapi sang mama.


"Kita masih akan memantaunya selama dua atau tiga hari ke depan," kata dokter Lambert ketika pria itu datang memeriksa Rea. Pemeriksaan darah kembali dilakukan.


Mark tampak mengangguk mendengarkan setiap instruksi dari dokter Lambert. "Sejauh ini tubuhnya belum menunjukkan tanda-tanda kecanduan dengan obat itu," ucap Mark.


"Bagus. Semoga itu tidak terjadi," kata dokter Lambert melihat ke arah Rea yang tertidur. "Sayang sekali jika dia harus berurusan dengan obat itu. Dia cantik, muda...."


"Cerdas," tambah Mark. Pria itupun ikut memandang Rea. Dua dokter itu menarik nafasnya bersamaan. Berbarengan dengan itu, alat pengukur kadar oksigen berbunyi. Mark sigap bergerak. "Dokter, saturasinya....." Pria itu langsung menaikkan jumlah oksigen ke tubuh Rea. Gadis itu mulai terbatuk-batuk. Sesak pasti Rea rasakan.


Sebuah nebulizer dinyalakan untuk meredakan sesak Rea, sepuluh menit kemudian, keadaan Rea berangsur membaik. Mark dan dokter Lambert bisa bernafas lega. "Sepertinya ini efeknya, Dok," kata Mark. Dokter itu mengangguk, lalu mulai memeriksa Rea lagi. "Aku akan meneliti darahnya dulu. Jika memang ini efeknya, maka dia harus berurusan dengan obat asma untuk sementara waktu," dokter Lambert mengambil kesimpulan.


Mark kembali mengangguk paham. Beberapa instruksi kembali dokter itu berikan.


****


"Bagaimana?" tanya Mark melihat Shane yang datang bersama Andra dari kantor polisi. Pria itu ke kantor polisi sebagai saksi juga mengantarkan bukti rekam medis Rea. Untuk memperkuat jeratan pada Janson Scot. Meski seharusnya tidak ada celah bagi Janson untuk lolos. Mengingat Matt langsung yang menuntutnya.


"Kacau," jawab Shane pelan. Sementara Andra melengos mendengar perkataan Shane. "Dia ngamuk begitu melihat Janson."


"Gimana aku gak ngamuk? Kamu bayangin, apa yang sudah dia lakukan ke Rea. Berapa kali Rea hampir gagal jantung gara-gara dia. Rasanya pengen aku gantung di alun-alun tu orang," geram Andra.


"Sudah....dia akan dapat balasannya. Yang penting sekarang Rea," Mark berubah ke mode serius. Berikutnya, pria itu menjelaskan keadaan Rea sekarang ini. Juga beberapa kemungkinan yang bisa terjadi.


Andra menarik nafasnya pelan, melirik ke arah Rea yang tengah memainkan ponselnya. "Aku jadi ragu untuk membiarkannya pulang," kata Mark sendu.


"Pulang? Apa maksudmu?" tanya Andra cemas.

__ADS_1


"Matt sudah menyetujui permintaan Rea untuk merampungkan studi di sekolah lamanya, tapi jika keadaannya begini. Apa tidak terlalu beresiko membiarkannya sendiri di sana," jelas Mark.


"Kenapa Matt menyetujuinya?" kesal Andra.


Mark selanjutnya bercerita soal Matt yang akan memberikan apapun, mengabulkan apapun permintaan Rea, jika Rea bisa sembuh. Dan Rea cuma ingin satu hal itu. Mau tidak mau Matt terpaksa mengabulkannya. Dengan perjanjian, setelah lulus, gadis itu langsung kembali di sini. Kuliah di sini.


"Masalahnya, kampus yang Rea inginkan menempatkan seluruh lulusannya ke pelosok negeri," info Andra.


"Kau pikir Matt akan membiarkannya. Bapaknya Gina itu kalau sudah posesif ampun deh. Itu halangan buatmu," Shane yang bicara kali ini.


Andra terdiam. Pasalnya Andra sudah cerita pada Shane soal dirinya yang sebenarnya tertarik pada Rea. Dia ingin mengikat gadis itu sebelum pulang ke kota asalnya. Melihat gelagat aneh dua sahabatnya, Mark pun mendesak keduanya untuk bicara.


"Kau harus bisa meyakinkan Gina dan Matt kalau kau sungguh-sungguh pada Rea. Dua orang itu overprotektif sekali dengan Rea. Apalagi Matt, kau tahu berapa lama Nicky mendapatkan izin Matt untuk menikahi Gina. Mereka pacaran mulai SMP sampai sekarang, baru tunangan," Andra meraup wajahnya kasar mendengar perkataan Mark.


"Salah ndiri, ngebully anak gadis orang. Apa aku bilang, bucin kan lu sekarang," ledek Shane. Andra pun melengos kesal, sebab perkataan Shane benar-benar terjadi.


******


"Dia kan sudah otewe dipenjara. Lagian aku sudah cukup melihat wajah kusut kak Andra, tiga hari ini. Gak tega aku," ledek Rea. Andra hanya bisa menggeram marah mendengar ejekan Rea.


"Kau lihat betapa baiknya adikku. Sekarang pikir, apa kau pantas untuknya?" tanya Gina.


Kakak Rea itu masih jengkel ketika semalam, Andra datang ke rumah menemui sang Papa. Secara khusus meminta Rea untuk dia pinang. Matt hampir melempar buku pada putra Daniar, sahabatnya itu. Bagaimana bisa, Andra datang tiba-tiba, padanya lalu meminta putri bungsunya untuk dinikahi.


"Enggak, dia belum lulus sekolah," tolak Matt.


"Tapi Rea sudah 19 tahun," Andra membujuk.


"Lalu?" tantang Matt. "Sudah dewasa dan diizinkan menikah," cengir Andra.

__ADS_1


"Ehhh, anak Daniar Haga Sky, 21 tahun ya peraturan barunya. Sebelum itu, hadapi dulu bapaknya," tegas Matt. Meski sebenarnya Matt hanya bercanda.


Andra menghembuskan nafasnya kasar. Untuk pertama kalinya dia merasakan cinta, tapi begitu dia ingin serius, ada saja cobaannya.


"Kau pikir mudah apa untuk meminang seorang gadis. Terlebih dia putri Matthew Aherne," Daniar, sang ayah memperingatkannya.


"Kenapa jadi runyam begini sih. Aku kan cuma jatuh cinta sama Rea, pengen serius. Kalau bisa aku ingin menikahinya. Apa susahnya sih," curhatnya pada Shane.


"Masalahnya, permintaanmu tiba-tiba. Yang jelas mereka masih shock dengan perasaanmu pada Rea. Kamu kan tukang ngebully dia. Dingin sama dia, kok tiba-tiba kamu pengen nikahin dia. Jelas semua orang bertanya-tanya. Kamu serius gak sama Rea. Lagi satu hal, kamu sibuk mau nikahin Rea, yang mau diajak nikah mau gak sama kamu," kata Shane.


Andra langsung menoleh pada Shane. "Dia suka padaku," balas Andra sembari tersenyum.


"Tahu dari mana kamu?" tanya Shane tidak percaya. Andra lantas menunjukkan sebuah pesan di ponselnya. Shane mengerutkan dahinya. "Dia curhat sama temannya," jelas Andra.


"Itu kan belum pasti. Kita belum dengar sendiri dari mulutnya Rea."


"Pokoknya aku bakal nikahin dia. Dia pasti bakalan cinta sama aku. Siapa sih yang bisa nolak pesonaku," sombong Andra.


"Nyatanya sampai sekarang kamu masih jomblo," ledek Shane. "Kayak dia enggak aja," balas Andra telak. Shane kicep seketika.


Diantara mereka berlima memang Andra dan Shane yang masih betah menyendiri tanpa pasangan. Meski sejatinya Andralah yang selalu menolak para wanita itu. Alasan yang lebih kurang sama juga terjadi pada Shane.


"Kalau menurutku, lebih baik kalian tunangan dulu. Itu lebih baik untuk kalian. Biarkan kamu dan Rea saling mengenal. Kalau dia memang menyukaimu, biarkan itu tumbuh menjadi cinta," saran Shane.


Sejenak Andra terdiam. "Tumben otak lu jalan," jawaban tak terduga keluar dari mulut Andra.


"Aseeeemmm lu, sudah dinasehatin juga," kesal Shane. Menatap jutek pada sang sahabat.


******

__ADS_1


__ADS_2