Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Tidak Boleh Gagal


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa, Rea akan bangun dan menyiapkan semua keperluannya. Gadis itu bahkan dengan lincah memasak makanannya sendiri. Rea membuka kulkasnya dan memilih apa yang akan dia masak hari ini. Gadis itu memanyunkan bibirnya, dia ingat kalau hari ini, dia dan yang lainnya akan kondangan ke seorang kenalan guru TK di desa sebelah.


"Jadi gak usah masak banyak deh."


Gumam Rea, sembari mengambil bahan sayur cap cay. Menu andalan Rea, kulkas gadis itu banyak sekali berisi sayur dan buah. Sembari mengobrol dengan Kai sang ponakan via video call. Rea mulai ritual memasaknya. Gadis itu sesekali tersenyum, mendengar celotehan sang keponakan. Meski apa yang Kai katakan belum terlalu jelas.


Rea menempati sebuah rumah petak kecil yang dia sewa untuk satu tahun ini. Pemilik aslinya masih tinggal di kota. Alhasil rumah itu kosong. Dengan bantuan bu Rani, lagi-lagi Rea bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak. Hingga sang papa tidak lagi merecokinya ini dan itu.


Kai masih berbicara diujung sana dengan mulut mengunyah sarapannya dengan gemas. Aiihhh, lucu sekali anak satu ini. Gadis itu menyelesaikan sarapannya setelah Kai pamit akan mandi, putra Gina itu mulai masuk pendidikan pra TK. Dia yang mengeluh bosan di rumah, merengek pada sang ibu, agar diizinkan untuk bermain di luar. Alhasil Gina mendaftarkannya ke ke sebuah daycare, tapi di sana juga diajarkan beberapa pelajaran dasar seperti pengenalan huruf dan angka.


Rea keluar rumahnya setelah waktu menunjukkan pukul 6.45 menit. Sebab kadang ada anak yang jam tujuh sudah datang ke sekolah. Memakai setelah formal sederhana, gadis itu terlihat cantik. Terlebih untuk seorang pria yang berada di ujung jalan, dekat rumah Rea.


Andra, mata pria itu berbinar bahagia sekaligus berkaca-kaca. Tidak dia pungkiri kalau, dia sangat merindukan Rea. Rambut panjang Rea telah gadis itu potong hinฤga sebatas bahu. Namun hal itu justru membuat tampilan Rea semakin segar. Pria itu sedikit merendahkan tubuhnya, saat Rea melintas dengan motor maticnya.


Pria tersebut menunggu sebentar lantas mulai melajukan mobilnya, mengikuti Rea. Senyum Andra mengembang kala melihat Rea yang menggandeng murid TK-nya yang baru saja datang. Gadis kecil itu melompat-lompat saking senangnya. Sesekali menggoyangkan gandengan tangan Rea. Lucu sekali.


Tak berapa lama, murid Rea yang lain mulai berdatangan. Gadis itu melebarkan senyumnya, saat menyambut anak muridnya bersama dua guru lainnya. Tak berapa lama mobil Andra meninggalkan tempat itu. Dia tidak mau menimbulkan kecurigaan warga sekitar. Mengingat daerah itu adalah desa.


Sementara itu, Rea mulai mengajar dengan riang. Dia sangat menyukai anak kecil. Kai bahkan suka sekali kalau Rea mengajarinya.


"Kamu benar-benar berbakat mengajar, Re."


Kata Mark suatu hari. Sungguh Andra bisa mengamuk kalau saja dia tahu, hanya dirinya, Alex dan Shane yang tidak tahu soal keberadaan Rea. Mark sering datang berkunjung kala Rea pulang. Dengan Nana tentunya.


"Aku galau, Kak. Sertifikat Akuntanku sudah turun. Tapi mereka mengirimkannya padanya. Brad terlambat mengambilnya."


Mark menarik nafasnya, dia pikir tidak akan ada masalah. Toh Rea tidak melakukan audit. Hingga gadis itu menuruti perkataan Mark. Melakukan apa yang disukainya sekarang.


Jam sekolah usai, Rea dan yang lainnya mulai keluar dari sana. Melajukannya menuju desa sebelah. Sore hari, Rea kembali ke rumahnya. Gadis itu sangat lelah.


Rea bergegas memeriksa ponselnya. Sedikit heran ketika sang ayah, menghubunginya beberapa kali. Juga Nicky, bahkan Karl, ajudan sang papa. Rea baru akan menghubungi kembali sang papa ketika pintu rumahnya diketuk.


Rea membuka pintu, bersamaan dengan sang papa yang mulai bicara di ujung sana.


"Re...kamu...."


Pintu dibuka, Rea langsung menganga melihat siapa yang berada di depan pintunya.


"Kau...."


"Nice to meet you again, Baby."

__ADS_1


Terdengar suara Matt di ponsel Rea. Andra dengan cepat merebut ponsel Rea lantas mematikan panggilannya. Sebuah pesan Andra kirim pada Matt. Di tempatnya Rea hanya bisa berdiri mematung. Melihat Andra yang perlahan berjalan ke arahnya.


Tanpa kata pria yang memakai pakaian serba hitam itu menahan wajah Rea, lantas mencium lembut bibir Rea, setelah menutup pintu menggunakan kakinya. Rea terkejut, ingin berontak. Tapi Andra menahan tubuhnya. Mengunci tubuhnya tanpa memberinya celah untuk melepaskan diri.



Kredit Instagram @ ratih 20740


"Apa yang Kakak lakukan di sini?"


Rea bertanya kesal, sembari mengusap bibirnya kasar. Sementara didepannya, Andra tersenyum manis menatap wajah kesal Rea. Tidak ada yang berubah dari diri Rea. Gadis itu bahkan terlihat semakin cantik di mata Andra.


"Kamu masih bertanya kenapa aku ada di sini. Tentu saja untuk menjemputmu pulang."


"Jangan sembarangan, siapa juga yang mau pulang dengan Kakak."


Rea menepis penjara tangan Andra, menjauh dari pria yang sangat dia rindukan. Mata Rea membulat, kala Andra menarik tangannya, memasukkan tubuh langsing itu dalam pelukannya.


"Maafkan aku. Aku bersalah padamu. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya. Beri aku kesempatan."


Rea hampir meledakkan tangisnya mendengar perkataan Andra, pria itu meletakkan kepalanya di bahu Rea. Pria itu kembali meminta maaf. Bahkan setelah enam bulan berlalu.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi."


"Pulanglah. Aku tidak akan pulang denganmu, Kak."


Rea berbalik, meninggalkan Andra.


"Aku tidak akan melepasmu kali ini. Tunggu saja, kamu akan ikut pulang denganku."


Andra berbalik, melangkah keluar dari rumah Rea. Meninggalkan Rea yang langsung memejamkan matanya. Dia sebenarnya masih mencintai Andra, enam bulan ini, dia banyak merenung. Pikirannya bisa berpikir jernih, hingga dia tahu apa yang hatinya inginkan dan rasakan.


Lamunan Rea pudar, ketika ponselnya kembali berdering.


"Ya...Pa...."


*


*


Andra menutup pintu kamar hotelnya. Melihat Jack yang ada di sana. Melihat bagaimana kusutnya wajah Andra, bisa dia tebak kalau Rea membuat bosnya marah lagi.

__ADS_1


"Jadi....."


"Kita jalankan rencana kedua. Aku tidak peduli jika Matt dan Nicky membunuhku."


"Kapan?"


"Akhir pekan ini."


Jack mengangguk paham, lalu keluar dari kamar Andra. Menyiapkan apa yang sang tuan inginkan.


Andra berdiri, menatap keluar jendela kamarnya. Kali ini dia tidak mau mengalah lagi. Tidak peduli apa akibat dari perbuatannya, dia akan tetap melakukan rencananya.


Rea menarik nafasnya pelan, dua hari berlalu. Dan Andra sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Dia tentu merasa sangat lega. Pria itu pasti sudah pulang ke ibukota. Mengingat Andra bukanlah pria tukang paksa di masa lalu.


Dua hari itu dia mengajar tanpa rasa was-was. Meski dua hari itu, ada yang aneh. Karena tiap hari selalu saja ada kiriman makanan untuk anak-anak murid juga para staf pengajar di sana. Semua beralasan ada donatur dari yayasan yang sedang memberikan donasinya. Rea hanya mengerutkan dahinya, karena makanan yang datang adalah menu favoritnya. Namun gadis itu buru-buru menepis pikiran buruk di kepalanya. Tidak mungkin Andra yang melakukannya.


Akhir pekan tiba, Rea tengah menikmati me time-nya. Memakai tank top, memakai lulur, memakai masker. Segala macam perawatan dia lakukan. Meski tiap kali dia pulang, Berta selalu mengundang terapist untuk merawat Rea.


Rea meregangkan tangannya. Merasakan kesegaran setelah mandi dan berendam. Gadis itu melirik jam di ponselnya, sudah jam 11, dia mulai berpikir untuk memasak. Tapi kegiatannya terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu. Gadis itu mengerutkan dahinya, siapa yang datang siang-siang begini.


Tanpa curiga, Rea membuka pintu. Dan matanya membulat sempurna, Melihat Andra yang kembali datang ke rumahnya.


"Ngapain lagi?"


Tanpa menjawab, pria itu menerobos masuk. Lantas mendudukkan dirinya di sofa sederhana di ruang tamu Rea.


"Kak...Kakak ngapain lagi ke sini. Cepat pulang sana. Nanti kalau ketahuan warga, bahaya."


"Bahaya apanya?"


Tanya Andra santai. Pria itu tersenyum, melihat penampilan Rea yang hanya memakai tank top dan hot pants. Kebiasaan yang tidak pernah hilang.


"Tampilannya saja sudah mendukung rencanaku."


Kekeh Andra dalam hati. Pria itu tengah menunggu aba-aba dari Jack melalui bluetooth headsetnya.


"Kali ini rencanaku tidak boleh gagal."


*****


Ritual jempolnya jangan lupa,

__ADS_1


Like, komen dan vote nya ditunggu ya..๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2