Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Jengah


__ADS_3

"Kakak, tidak memberitahu soal Vio pada Nana?"


Rea bertanya sambil melipat tangannya. Sedikit kesal, karena merasa sang kakak membohongi Nana. Sang kakak tidak jujur soal masa lalu.


"Itu...aku memang belum memberitahu Nana soal Vio. Aku pikir, akan menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya."


Mark menjawab sendu. Dia sebenarnya merasa bersalah pada Nana. Wanita itu sama sekali tidak curiga pada Vio. Bahkan Nana mulai akrab dengan Vio.


"Kau sebaiknya mengatakan yang sebenarnya pada Nana, dia gadis baik yang mau menerima kamu sepaket dengan masa lalumu yang au ah gelap itu."


Andra menambahkan. Mark menarik nafasnya dalam, memikirkan ucapan Rea dan Andra.


*


Andra mengerutkan dahinya, melihat Rea yang keluar dari kamar ganti memakai pakaian kebesarannya. Tank top dan hot pants. Ini tidak biasanya, karena Rea selalu memakai piyamanya.


"Kenapa kamu balik ke selera asal?"


Andra bertanya setelah melepas kaosnya, dan naik ke kasur besar mereka. Sementara Rea berusaha membiasakan diri dengan pakaian tersebut di depan sang suami. Lama-lama dia gerah juga pakai piyama, sebab piyama bukanlah style-nya saat tidur.


"Kok diam?"


Bagi Andra hal itu justru lebih baik. Dia suka Rea yang tampil apa adanya di depannya. Terlebih seksi, Andra suka itu. Asal tidak sembarangan seksi di depan orang lain. Apalagi pria lain.


"Nggak biasa pakai begituan kalau tidur."


Jawab Rea lirih. Andra mengulum senyumnya. Ternyata selama ini Rea pura-pura padanya. Pria itu lantas merebahkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh Rea dari belakang. Dada Andra langsung bersentuhan dengan punggung Rea yang hanya terlapisi tank top tipis, dan Andra yakin sang istri tidak memakai bra.


"Re..Baby...."


"Apa?"


Rea mulai terbiasa tidur dipeluk Andra seperti itu. Kala pagi menjelang, terkadang gantian Rea yang memeluk Andra. Rea merasa nyaman di pelukan sang suami.


"Kata Mark kita disuruh gas poll, biar Nana ada temannya."


"Teman? Teman apa?"


"Teman hamil."


Rea membulatkan mata. Ada-ada saja modus Andra. Mana membawa nama Mark dengan Nana lagi.


"Bilang saja kamu mau!"


Andra seketika membalikkan tubuh Rea. Mata Andra berbinar senang, mendengar perkataan Rea.


"Jadi boleh ni. Biar kamu hamil barengan ma Nana, ma Dena juga."


"Devi gak sekalian?"

__ADS_1


"Kata Alex sih bakal digass poll juga. Biar kalian momongnya bareng. Jadi boleh ya?"


Rea nyengir mendengar permintaan Andra. Wanita itu lantas memberi kode silang dengan dua jarinya. Andra lemas seketika, dia tahu kode palang itu artinya sang istri sedang berhalangan. Bakal dianggurin dia seminggu ini.


"Aishhh, sia-sia dong kecebongku kemarin lomba berenang jauh-jauh, ujung-ujungnya dibuang."


Bibir Andra mengerucut. Pantas saja Rea berani berpakaian seksi di hadapannya. Ternyata itu karena dia tidak bisa disentuh. Pria itu mendengus kesal. Lantas berbalik, memeluk gulingnya. Rea terkekeh geli melihat mode ngambek Andra.


"Kak..."


Rea gantian yang memeluk Rea. Hingga mata Andra langsung membulat. Dada Rea tanpa bra menghimpit punggungnya. "Jangan mancing, By. Nanti aku yang susah."


"Issshhh, jangan ngambek."


Rea mengeratkan pelukannya. Menempatkan dagunya di ceruk leher Andra. Menghirup wangi maskulin Andra yang mulai menjadi candu untuknya.


"Maafkan aku ya, Kak."


Andra mengerutkan dahi, tidak paham maaf Rea untuk apa.


"Maafkan Rea soal hari itu. Rea gak percaya sama Kakak. Rea malah percaya kalau Kakak sama wanita itu sudah..."


Andra membalik badannya. Dilihatnya mata Rea yang sudah berkaca-kaca. Pria itu langsung mendekap tubuh sang istri.


"Kamu tahu? Waktu itu rasanya aku hancur. Apalagi saat kamu mengatakan ingin putus. Membatalkan pernikahan kita. Aku ingin marah. Aku ingin berteriak. Kenapa kamu tidak percaya padaku."


"Maaf."


Rea berucap lirih. Andra meraih dagu Rea, membuat Rea menatap dirinya.


"Aku benci padamu waktu itu. Benci sekali. Beraninya kau minta putus padaku. Aku berencana membalas dendam padamu. Bagaimanapun caranya, kau harus menikah denganku, agar aku bisa menyiksamu."


Rea mendelik, kala Andra mencekik leher jenjang wanita itu. Rea terkejut, peristiwa ini sama persis dengan kejadian di rumah sakit waktu itu. Rea hampir berontak, ditambah dengan cerita Andra yang menikahinya untuk balas dendam.


"Jadi kamu menikahiku karena ingin balas dendam padaku?"


Tanya Rea, ketika Andra melepaskan cekikannya.


"Niat awalku iya....tapi begitu melihatmu memakai gaun pengantin waktu itu. Niatku bubar jalan semua. Aku mana tega menyiksa gadis cantik yang sedang berjalan ke arahku. Gadis cantik menyebalkan yang sudah mencuri hatiku sejak awal bertemu."


Rea tertegun mendengar ucapan Andra. Tidak percaya jika mulut Andra bisa berubah lemes sejak mereka menikah.


"Apalagi ketika aku berhasil mendapatkan kehormatanmu."


Seringai Andra. Rea langsung melengos, malu, mengingat malam panjang yang beberapa kali mereka lewati. Malam panas penuh hasrat dan gairah.


"Jangan mengacuhkanku."


"Lalu sekarang Kakak masih ingin membalas dendam padaku?"

__ADS_1


Tanya Rea setelah wanita itu kembali menatap Andra. "Masih, aku mau balas dendam padamu. Balas dendam sampai kamu minta ampun padaku."


"Kok gitu sih?"


"Lihat saja, seminggu lagi. Jangan harap kamu bisa tidur nyenyak tiap malam."


Andra tersenyum smirk, melihat wajah kebingungan Rea. Hingga pria itu meraih tubuh Rea, lantas mendekap erat tubuh sang istri.


"Aku mencintaimu Re, my angel baby. Cuma kamu yang bisa menghilangkan sisi lain dari diriku yang menyeramkan."


Pria itu lantas bercerita soal dia yang harus rutin terapi pada Gina selama dua tahun. Gina menangkap ada sisi lain dalam diri Andra yang mulai terbentuk. Pria itu kemungkinan punya kepribadian ganda. Hingga ketika Andra bertemu Rea, kepribadian itu mulai bisa dikendalikan. Teralihkan dengan kesibukan Andra membenci Rea kala itu.


"Jadi aku ini cuma obyek pelampiasan?"


Andra mengangguk. Rea seketika menepis pelukan Andra. Mencoba turun dari ranjang besar itu. Tapi Andra sigap mencegahnya.


"Itu dulu, tapi setelah kamu lempar gelang aku hari itu, aku sadar kalau aku bisa saja menyakitimu jika aku hanya memanfaatkanmu. Jadi aku putuskan untuk mulai mencintaimu."


Rea tertegun.


"Jangan tinggalin aku. Susah tahu dapatin kamu. Berapa lama aku harus nunggu. Bayangin susahnya ngejebak kamu biar kita dinikahkan sama warga...."


Rea mendelik mendengar kejujuran Andra.


"Jadi kamu yang ngatur supaya kita digerebek warga?" Todong Rea.


Andra mengangguk pelan. Rea seketika menepuk jidatnya sendiri, lalu berkacak pinggang. Wanita itu berjalan mondar mandir di depan Andra.


"Kamu kan kalau gak dipaksa gak bakalan mau. Hayo tunangan juga kalau gak dipaksa, kamu juga gak bakalan mau."


"Tukang paksa!"


"Baru tahu ya?"


Cengir Andra. Pria itu lantas merengkuh pinggang Rea, sembari duduk di ranjangnya.


"Baby aku tahu, aku tukang paksa. Tapi aku beneran cinta sama kamu."


Kata Andra memelas. "Lah kenapa tingkahnya jadi kayak bayi begini."


Batin Rea, jengah melihat kelakuan sang suami.


*****


Ritual jempol jangan lupa....


Like, komen dan votenya...ditunggu...


***

__ADS_1


__ADS_2