
Mata Rea berbinar terang ketika Andra mengajaknya ke sebuah tempat. Sebuah kawasan pejalan kaki dia pusat kota. Di sana banyak penjual jajanan dan makanan ringan yang sedang hits saat ini. Gadis itu melirik Andra, tidak biasanya pria itu mengajaknya jalan ke tempat beginian.
"Suka?"
Tanya Andra, dan Rea langsung mengangguk antusias. Senyum Rea terkembang ketika Andra menggenggam tangannya lantas masuk ke area yang mirip taman kota. Mereka berjalan di antara orang-orang yang juga berkunjung ke tempat itu.
Beberapa kali terlihat Andra yang mengulum senyum, melihat bagaimana bahagianya Rea hanya karena diajak ke tempat seperti ini. Cukup mudah membuat sang tunangan senang.
Tangan keduanya saling menggenggam erat. Seolah tak ingin terpisahkan. Andra sangat mencintai Rea. Dia tidak ingin hal buruk terjadi pada sang tunangan. Dia mau Rea selalu bahagia di sampingnya. Tersenyum manis seperti sekarang ini.
Mengikuti saran Shane untuk menghilangkan stres, Andra memutuskan mengajak Rea jalan-jalan. Gadis itu sangat antusias saat melihat stan penjual es krim favoritnya. Ya, makanan kesukaan Rea adalah es krim.
"Enak?"
Rea kembali mengangguk ketika tengah menikmati es krimnya. Dengan Andra yang menatapnya penuh arti. Satu usapan jari Andra di bibir Rea, membuat tubuh gadis itu meremang. Pun dengan Andra. Keduanya berdiri di bawah di bawah pohon dengan hiasan lampu berkerlap kerlip.
Dua insan itu saling bertatapan, hingga perlahan Andra mulai mencium bibir Rea lembut. Sekaligus membersihkan es krim yang belepotan di bibir gadis itu.
Aksi Andra yang tiba-tiba, membuat es krim di tangan Rea terjatuh begitu saja. Gadis itu langsung melepaskan tautan bibir Andra.
"Kak, es krimku...."
Rea protes melihat es krimnya jatuh di lantai pavling blok tempat itu.
"Nanti aku belikan sekalian dengan tokonya."
Pria itu kembali menarik tubuh Rea untuk merapat padanya. Tanpa jeda pria itu lagi-lagi melabuhkan bibirnya pada milik Rea. Tak berapa lama, keduanya sudah terhanyut dalam sebuah melodi manis penyatuan dua bibir yang sangat intens.
Andra melummatt bibir Rea dengan sang tunangan yang balik membalas pagutan Andra. Tidak ada hasrat, tidak ada gairah yang terpatik karena tindakan itu. Ciuman itu hanya menunjukkan bagaimana dalamnya perasaan kedua orang tersebut.
"Menikahlah denganku setelah semua ini usai."
Andra mengusap bibir Rea, juga kedua belah pipi gadis itu. Ditatapnya dalam dua bola mata Rea. Gadis yang menempati seluruh ruang di hatinya. Tidak ada tempat kosong lagi di hatinya.
Sebuah anggukan menjadi jawaban atas perkataan Andra. Kali ini, dia siap menikah dengan Andra. Toko Nana berjalan lancar. Dalam enam bulan ke depan, uang modal dari orang tua Nana bisa mereka kembalikan semuanya. Tidak hanya separuh, tapi seluruhnya.
"Aku mencintaimu, Andrea Kirana."
"Aku juga mencintaimu, Andra Sky."
Keduanya tersenyum lantas kembali bergandengan tangan menuju stand es krim sesuai janji Andra. Pria itu sungguh ingin memborong dagangan si penjual. Jika Rea tidak buru-buru mencegahnya.
__ADS_1
Berdalih Rea hanya ingin satu kotak besar. Tapi Andra yang terlanjur gengsi tidak mau mengalah. Walhasil teriakan ucapan terima kasih terus diucapkan pada Andra.
Ketika pria itu tetap membeli semua es krim di kedai itu. Lalu dibagikan pada seluruh orang yang berada di kawasan itu.
"Pacarku sultan."
Kekeh Rea.
"Emang iya. Baru tahu ya?"
Balas Andra narsis. Rea mencium gemas pipi Andra mendengar kepedean sang kekasih yang kadang kelewat akut.
"Sudah berani menggoda ya?"
Rea hanya nyengir sembari menggamit lengan Andra. Sementara pria itu menenteng satu paper bag. Berisi freezer mini yang penuh dengan es krim.
Tanpa sadar pemandangan manis itu membuat seseorang mengeratkan rahangnya kesal. Dia tidak suka melihat Andra dan Rea bahagia.
*
*
"Muka Bapak kenapa?"
Bradley langsung melengos mendengar pertanyaan Rea. Dia tidak ingin Rea melihatnya dalam keadaan berantakan seperti itu. Sementara Rea justru semakin kepo. Tidak tahu kenapa, dia tiba-tiba jadi peduli pada pria itu.
"Abis tawuran ya?"
"Enak saja! Aarrrgghh."
Brad meringis merasakan ngilu pada rahangnya akibat pukulan sang kakak.
"Diobatin dulu."
Brad menolak menerima pertolongan Rea. Pria itu menepis tangan Rea yang ingin menyentuh wajahnya. Satu sentuhan tangan Rea bisa membuatnya hilang kendali.
"Keluar sana!"
Ketus Brad. Tidak biasanya nada suara pria itu ketus, tinggi. Biasanya hanya dingin dan datar. Melihat wajah serius Brad saat mengusirnya. Rea akhirnya keluar dari dalam ruangan Bradley.
Gadis itu terdiam memikirkan keadaan Brad. Kira-kira apa yang terjadi pada pria itu. Tapi bodo amatlah, toh itu tidak ada hubungannya dengannya. Gadis itu mencoba tidak peduli pada Brad.
__ADS_1
Siapa bilang tidak ada hubungannya denganmu. Brad memijat kepalanya. Dia dan kakaknya sudah menabuh genderang perang. Bisa dipastikan kalau Janson tidak akan percaya lagi padanya. Brad menarik nafasnya dalam. Lantas menghembuskannya kasar.
"Rea...gadis itu sekarang dalam ancaman."
Brad membatin sembari memulai memeriksa pekerjaan kelas Rea. Brad tahu betul, sang kakak bukanlah orang yang asal bicara. Dia akan membuktikan setiap perkataannya.
Rea melambaikan tangannya pada Jerry dan Devi yang pulang lebih dulu. Gadis itu pun masuk ke mobilnya. Tepat ketika dia sudah masuk ke mobilnya. Tiba-tiba dia melihat Brad yang juga masuk ke mobilnya. Dua orang itu sempat bertatapan dari mobil masing-masing. Hingga Rea pun memutuskan melajukan mobilnya lebih dulu. Dengan mobil Brad yang mengikutinya.
Brad yang melihat mobil Rea masuk ke area tokonya, akhirnya tidak lagi mengikuti Rea.
*
*
Klub malam pusat kota. Seorang wanita tampak masuk ke sebuah ruangan di lantai tiga. Kamar VIP yang disediakan bagi mereka yang ingin melewati malam panas bersama wanita yang sudah mereka pilih.
Satu gerutuan keluar dari bibir wanita itu. Satu nama keluar dari bibir yang terpoles lipstick merah.
"Jika bukan gara-gara anak panti itu. Aku tidak akan berakhir ditempat laknat seperti ini. Jika bukan karena si Rea sialan itu, papa dan mama tidak mungkin mengusirku. Aku harus membalas semua yang dia lakukan padaku."
Wanita itu terus menggerutu hingga Janson yang lewat di belakangnya mendengar gerutuan wanita itu. Sebuah seringaian terlihat di bibir Janson.
Tak berapa lama, pintu ditutup dan masuklah wanita itu kedalam kamar. Meski ini bukan yang pertama kali. Tapi wanita itu jelas gugup. Dia tidak tahu seperti apa pria yang akan dia layani malam ini.
"Siapa namamu?"
Wanita itu mengangkat wajahnya. Dan nampaklah Janson di hadapannya.
"Clara."
Janson menarik sudut bibirnya. Wanita di hadapannya jelas masih muda. Mungkin seumuran Rea. Itu dalam pandangan Janson. Tanpa dia tahu siapa Clara sebenarnya.
Hidup Clara berubah 180° setelah dia dikeluarkan dari sekolahnya. Imbas dari apa yang dia lakukan pada Rea hari itu. Atas tekanan dari Alex, dia dikeluarkan. Ditambah campur tangan Ken, menekan bisnis keluarga Clara. Hidup gadis itu hancur berantakan.
Dia diusir oleh keluarganya karena dianggap membawa sial bagi keluarganya. Lontang lantung tanpa tujuan. Dia yang sudah akrab dengan diskotek dan klub malam, tanpa pikir panjang lagi. Langsung bergabung dengan kehidupan di klub malam tersebut.
Awalnya hanya bekerja sebagai pengantar minuman ke ruang VIP. Tapi setelah dia bertemu seorang pria tampan yang mengajaknya bercinta dengan bayaran yang tinggi. Clara pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Mulai malam itu sampai hari ini. Clara telah merubah diri menjadi seorang kupu-kupu malam. Setiap malam dia akan memuaskan para hidung belang yang berani membayar mahal atas jasanya.
Termasuk malam ini. Dan siapa sangka, kliennya malam ini adalah orang yang punya musuh sama dengannya. Andrea Kirana. Kalau Clara benar-benar benci pada Rea, maka Janson hanya ingin menggunakan Rea sebagai alat untuk membalaskan dendam.
__ADS_1
Dua tujuan yang berbeda, tapi satu target yang sama.
***