
Kredit Pinterest.com
Rea dan Nana menarik nafasnya bersamaan. Minggu pertama ujian berlangsung lancar tanpa hambatan. Mereka tinggal melewati satu minggu lagi ujian dan semua selesai.
Bahkan Clara, si pembulli cukup tahu diri, tidak mengganggu Rea selama ujian berlangsung. Dan itu memberi dampak besar pada Rea. Dia bisa berkonsentrasi penuh pada lembar jawaban di hadapannya.
Sementara di ibukota, persiapan pernikahan Gina dan Nicky mulai dilakukan. Sebagai putri pejabat pemerintah dan pengusaha sukses. Tentu Gina mendapat pelayanan kelas wahid dalam mempersiapkan pernikahannya.
Semua pihak yang berpartisipasi dalam kesempatan itu adalah orang-orang yang sangat kompeten dibidangnya. Mulai dari WO, designer, MUA semua adalah para profesional. Mereka sudah terkenal sebagai pakar di bidangnya masing-masing.
"Kita akan lihat seberapa hebat mereka. Jadi untuk pernikahan Rea kita bisa benar-benar memilih yang terbaik."
Matt berkata pada Karl, sang ajudan. Gina dan Rea, dua putri Matt berbeda. Jika untuk pernikahannya kali ini, Gina lebih banyak mengambil peran. Maka untuk Rea, bisa dipastikan kalau putri bungsunya itu lebih memilih terima beres. Rea bukan tipe gadis detail seperti sang kakak. Rea jelas gadis simple dengan kata ribet yang sudah dia hapus dari kamusnya.
"Pa, Rea gak mau yang ribet-ribet."
Matt tersenyum, teringat rengekan manja Rea padanya. Padahal waktu itu, dia hanya disuruh memilih gaun untuk pemotretan foto keluarga mereka. Gina heboh dengan gaun princess-nya, sedang Rea memilih gaun paling sederhana yang ada di deretan rak.
Meski akhirnya, Rea menuruti saran sang kakak. Memakai gaun yang setipe dengan Gina, tapi lebih simple dan anggun.
"Pa, kira-kira Rea protes gak ya kalau dikasih gaun beginian?"
Lamunan Matt buyar oleh panggilan Berta. Gina sibuk dengan gaunnya sendiri, alhasil Berta yang harus menghandle keperluan yang lain.
"Dia tidak suka model terbuka, Ma."
Matt mulai menyortir beberapa gaun dengan belahan dada rendah, dan belahan paha tinggi. Model kemben. Dia sendiri juga tidak suka Rea jadi pusat perhatian karena pakaiannya. Pria itu mendapat libur satu hari, sebelum semua schedule-nya padat sampai hari pernikahan Gina. Bahkan pria itu tidak bisa ikut menjemput Rea pulang setelah kelulusannya.
Dari puluhan gaun yang di bawa oleh staf butik, tersisa sepuluh gaun yang nantinya akan dipilih oleh Rea sendiri. Gaun itu disimpan dikamar Rea sampai hari pernikahan tiba.
"Sudah memastikan jadual mereka kosong pas hari H?"
Berta kembali bertanya. Matt menjawab kalau Karl sudah memastikan kalau keluarga Andra bisa datang pada pesta pernikahan Gina.
"Ohhhh, putriku sebentar lagi akan menikah. Dan putri bungsuku, empat tahun lagi."
Berta mendelik mendengar perkataan dramatis dari sang suami. Sejak kapan Matt yang sangar berubah jadi melow.
*
__ADS_1
*
Kredit Pinterest.com
Ujian Rea dan Nana akhirnya selesai, dua gadis itu merayakannya dengan berjalan-jalan naik sepeda motor Rea yang jarang dipakai.
"Sudah memutuskan?"
Rea bertanya, ketika mereka sedang menikmati sore mereka dengan duduk santai di sebuah kafe yang sedang hit di kota itu. Nana mengedikkan bahunya mendengar pertanyaan Rea. Nana berada di kota ini dengan tugas utama menemani eyangnya.
Kakek dan nenek Nana belum mau diajak untuk tinggal di ibukota. Rumah Nana sebenarnya adalah di ibukota. Kota yang sama dengan tempat tinggal Rea.
"Lalu kalau eyangmu tidak mau pindah ke rumah orang tuamu. Kita bakal pisah dong setelah lulus."
Raut wajah Rea berubah sendu. Cuma Nana, sahabat yang dia punya. Hanya gadis itu yang menemani Rea dalam suka dan duka selama bersekolah di sini.
"Mau bagaimana lagi. Eyangku lebih sayang sapinya daripada aku."
Gerutu Nana. Eyang Nana adalah juragan sapi. Jumlah ternak sapinya lebih dari 40 ekor. Selain itu sawah mereka juga luas. Hal itu menjadi pertimbangan eyang Nana enggan pindah ke ibukota.
Raut sedih tergambar di wajah masing-masing. "Lalu kalau kamu kuliah mau ambil jurusan apa?"
Kali ini senyum Rea mengembang. Orang tua Nana sangat otoriter. Hingga semua yang dilakukan oleh Nana dan kakaknya harus sesuai keinginan mereka. Satu hal yang membuat Nana dengan senang hati ketika di suruh menemani eyangnya di kota ini. Di sini Nana bebas melakukan apa saja. Tanpa kekangan, tanpa protes dari papa dan mama Nana.
"Halo, Na...boleh duduk?"
Seorang pemuda langsung duduk di depan Rea dan Nana. Dua gadis itu saling pandang. Padahal mereka tidak memberi izin.
"Ngapain lu di mari?"
Nana langsung protes. Melihat pemuda yang duduk di hadapannya, bukannya menjawab pertanyaanya, malah menatap intens pada Rea. "Mulai lagi deh. Gini nih kalau berlian diajak jalan. Eksistensinya langsung menarik perhatian." Batin Nana melihat Rea yang acuh dengan kehadiran pemuda itu.
Tak berapa lama, satu makhluk paling menyebalkan di muka bumi, ikut duduk di samping Rea. Giliran Rea yang langsung menunjukkan wajah gusarnya. Ken, duduk dengan santai di depannya.
"Ngapain kamu di sini? Nggak kapok aku tampar?"
Rea masih kesal mengingat kejadian hari. Nana dan pemuda itu saling pandang. Tidak tahu arah pembicaraan Rea.
"Kalau cuma ditabok, gue gak kapok. Gue rela elu gampar lagi, asal gue dibolehin buat...."
__ADS_1
Ken melotot ketika Rea menginjak kakinya.
"Ampu deh Re, Nike gue."
"Makan tu Nike."
Ken mengusah sayang sepatunya. Tapi detik berikutnya Ken tersenyum. "Sesama pecinta Nike dilarang bertengkar. Malah disarankan untuk saling sayang." Cengir Ken tanpa dosa.
"Ampun deh anak pak Somat pede amat!"
Maki Nana. Ken mendelik ke arah Nana. Pasti nama bokapnya yang dibawa-bawa.
"Sammy, Nana. Elu kapan sih benerinnya?"
Nana melengos, enggan menanggapi protes Ken. "Siapa Na, boleh kenalan?"
Baik Ken maupun Rea langsung menoleh ke arah pemuda itu.
"Dia sudah ada yang punya. Sudah sold out. Jadi jangan mengganggunya."
Ketus Nana, gadis itu ikut sebal dengan kelakuan pemuda yang tidak lain adalah mantannya. Mereka berdua malah jadi berdebat sendiri. Membuat Rea memilih pergi setelah ponselnya berbunyi.
Sesaat Rea memilih menjawab panggilan telepon yang ternyata dari Andra. Obrolan manis keduanya membuat Ken meradang. Terlebih setelah pemuda itu tahu siapa tunangan Rea.
"Tunangan Andrea Kirana adalah Deandra Oliver Sky. Pemilik Andra and Public Accounting Office. Pertunangan mereka terjadi lebih kurang lima bulan yang lalu. Dan hal itu masih dirahasiakan dari publik."
Ken mengepalkan tangannya, dia cemburu melihat bagaimana bahagianya Rea saat bicara dengan Andra meski hanya lewat ponsel saja.
"Tenang Re, aku masih punya empat tahun untuk meluluhkan hatimu. Aku akan melakukan semua cara untuk berada di dekatmu."
Bisa dipastikan jika Ken akan memilih kampus yang sama dengan Rea saat mereka pindah ke ibukota.
*
*
Sedang di tempat lain, Janson Scott langsung tersenyum, setelah melihat satu foto yang berada di atas meja. Satu ekspresi dari Janson dan itu cukup untuk memastikan kalau gadis itulah yang dicari olehnya.
"Dia akan masuk kampusku tahun ini. Dan aku akan menggunakan kesempatan itu untuk mengganggunya."
Senyum Janson semakin lebar. Baik, akan dia nikmati masa hukumannya di hotel prodeo itu dengan nyaman. Sementara pria di hadapannya yang akan melakukan tugasnya.
__ADS_1
****