Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Jomblo


__ADS_3

Dalam seminggu ini, kegiatan magang Rea dan Nana akan berakhir. Mereka akan kembali berseķolah seperti biasa. Mereka tinggal menunggu waktu untuk ujian. Dan lulus. Bisa dipastikan, kalau keluarga Rea sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kepulangan Rea.


Sejak kejadian tidak mengenakkan yang berhubungan dengan Wahyu. Gadis itu semakin menjaga jarak, semakin memasang sikap waspada saat berdekatan dengan Wahyu.


Tapi hal itu sepertinya membuat Wahyu tidak senang. Terlebih Rea selalu memasang wajah sopan pada yang lain, tapi tidak padanya. Pria itu semakin tidak suka ketika melihat Ken yang kembali mengunjungi Rea.


Pria itu menganggap kalau Rea gadis matre. Hanya mau dekat dengan mereka yang berduit. Ditambah lagi, di rumah sakit, Rea juga terlihat dekat dengan dokter Andreas. Dokter muda, tampan dan tentu saja kaya. Hingga terbersit niat jahat di benak Wahyu.


"Halo...."


Rea terlonjak melihat Wahyu berdiri menghadangnya. Gadis itu baru kembali dari toilet. Setelah bertemu Andreas untuk berpamitan. Lusa adalah hari terakhir mereka magang di sana. Dan besok akan diadakan perpisahan kecil-kecilan.


"Ngapain kamu?"


Rea bertanya judes. Dia kesal dengan ulah Wahyu yang mengagetkan dirinya. Melihat wajah kesal Rea, Wahyu tertawa. Gadis itu semakin terlihat cantik saat wajahnya marah.


"Galak amat sih. Jadi penasaran gimana liarnya kamu kalau lagi berduaan."


Rea melotot mendengar perkataan tidak sopan Wahyu. Gadis itu berjalan melewati Wahyu, berpikir untuk tidak meladeni pria yang menurut Rea, gila.


"Urusan kita belum selesai. Kamu mau pergi ke mana?"


Wahyu mencekal tangan Rea.


"Lepas atau aku teriak!"


Rea mencoba mengancam. Tapi sepertinya itu tidak mempan untuk Wahyu.


"Teriak saja. Tempat ini jarang sekali dilalui orang."


Rea mencoba menyentak cekalan tangan Wahyu tapi pria itu malah mengeratkan pegangannya. Detik berikutnya, pria itu berusaha mencium Rea. Rea langsung memalingkan wajahnya. Hingga Wahyu gagal menciumnya.


"Sok belagu lu....pakai acara jual mahal segala!"


Wahyu mulai naik pitam. Pria itu kembali berusaha mencium Rea, kali ini dua tangan pria itu menahan tangan gadis itu. Sedang tubuh Wahyu menghimpit tubuh Rea ke dinding.


"Brengsek!"


Akhirnya makian kasar keluar dari bibir Rea. Melihat gelagat Wahyu yang semakin tidak karuan. Rea mulai memasang kuda-kudanya. Dalam sekali hentak, tubuh Wahyu sudah terkapar di lantai. Dengan suara makian dan ringisan yang terdengar bersamaan.


"Jangan menyebutku murahan! Kau memang brengsek!"


Maki Rea. Saat itu Andreas lewat. Melihat Wahyu yang terkapar di lantai. Dan wajah marah Rea. Andreas bisa menebak apa yang sudah terjadi.


"Kenapa? Dia mengganggumu?"


Tanpa menjawab pertanyaan Andreas, Rea berlalu dari sana.


"Kau kena batunya, Yu."

__ADS_1


Ledek Andreas. "Sial!" Maki Wahyu.


Sejak saat itu Rea selalu menghindari Wahyu, bahkan sampai mereka berpamitan, Rea hanya bersalaman sebagai basa basi saja. Tidak seperti dengan yang lainnya.


"Yah, calon mantu idaman sold out deh."


Seru pak Beni yang menjadi lawakan terakhir sebagai ucapan selamat tinggal.


*


*


Sudah seminggu ini, Rea dan Nana kembali bersekolah. Dan jika sudah kembali ke sini, Rea harus menghadapi dua manusia paling menyebalkan menurutnya. Clara dan Ken.


Dua-duanya membuat darah Rea menanjak naik. Yang satu dengan ledekan serta bulliannya. Yang satu dengan rayuan gombal mukiyonya.


"Eh anak panti lagi ngadem di mari."


Celetuk Clara yang lewat di belakang Rea.


"Uupps sorry salah, sugar baby."


Desis Clara. Rea menghela nafasnya untuk menetralkan emosinya. Setelah mereka kembali dari magang. Bullian Clara semakin menjadi saja.


Suasana belajar Rea seperti neraka saja. Bahkan di dalam kelas, tak jarang Clara membuli Rea terang-terangan. Hal itu dilakukan ketika guru mereka tengah lengah atau saat pergantian jam pelajaran.


Beberapa kali, Nana memperingatkan Clara tapi anak itu tidak menggubris. Gangguan Clara semakin menjadi-jadi.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Rea. Gadis itu menoleh ke kiri dan kanannya. Tidak terlihat orang yang mengirimkan pesan itu. Rea memang memotong sedikit rambutnya dan merapikannya.


"Tapi itu membuatmu terlihat lebih cantik."


Rea seketika berlari keluar sekolahnya. Jika pesan itu berkata demikian. Berarti pengirimnya ada di sekitar sini. Dan benar saja, begitu dia keluar gerbang sekolah. Rea melihat mobil Alex terparkir di sana.


"Kak Andra!"


Seru Rea. Yang dipanggil namanya langsung mengangkat wajahnya. Senyum Andra langsung terkembang sempurna. "Astaga, Re."


Andra hampir terjengkang ketika Rea berlari lalu memeluk tubuh Andra. Rindu.... Rea merasakan rindu pada Andra. Begitupun pria itu. Andra mengusap lembut punggung Rea. Dengan wajah yang berada di ceruk leher Rea.


"Rindu padaku?"


Rea mengangguk dalam dekapan Andra. Semakin berbunga-bungalah hati Andra. Rea mana pernah mengatakan perasaannya pada Andra. Baru kali ini, pria itu mendengar kata rindu meluncur dari bibir sang tunangan.


Andra seketika merasa gemas. Kalau tidak ingat di tempat umum sudah habis bibir Rea dia cium.


Sebuah deheman membuat Rea langsung melepaskan diri dari pelukan Andra.


"Ganggu aja lu!"

__ADS_1


Maki Andra. Sementara Alex hanya mengedikkan bahunya saja. Mengabaikan pelototan marah Andra.


"Masih di lingkungan sekolah An, eling. Kalau gak, nanti Rea kena sanksi."


Andra mencebik kesal mendengar peringatan Alex.


"Coba kasih sanksi Rea, gue beli ni sekolah. Terus gue hancurin. Gue ratain sama tanah terus gue jadiin hanggar pesawat gue."


Giliran Alex yang berdecak jengkel. Begini ni kalau mode CEO-nya sudah on. Kagak lihat tempat waton mangap aja.


"Sudah deh jangan bertengkar. Rea yang salah. Rea yang mulai."


Rea menengahi. Dia tidak mau ada keributan di sekolahnya.


"Masih lama pulangnya?" Andra bertanya sembari melihat Rea yang duduk di depannya. Pria itu terlihat tampan meski hanya memakai kemeja putih dan celana hitam. Sejak tadi, Andra belum melepas maskernya.



Kredit Pinterest.com


Author malah salfok sama jari tangannya yang panjang, 😁😁


"Jam terakhir kosong. Maklum materi sudah habis, tinggal menunggu ujian bulan depan."


Andra tersenyum lebar. Itu berarti kelulusan Rea tidak lama lagi. Dan gadis itu bisa kembali ke ibukota.


"Mereka akan datang menjemputmu."


"Siapa?"


"Kakakmulah. Oh iya, Shane dan Mark sebenarnya ikut. Tapi mereka masih molor di rumah. Kecapekan nyetir bergantian."


"Kakak ada di sini?"


Mata Rea berbinar cerah. Mendengar sang kakak juga ikut ke sini. Andra mengangguk mengiyakan.


"Oh iya, kenapa Kakak tiba-tiba kemari?"


Rea merasa aneh, bukankah tiga minggu yang lalu Andra sudah kemari. "Rindu padamulah apa lagi."


Seloroh Alex dari kursi depan. Pria itu masih bisa mendengar meski telinganya sudah disumpal dengan earphone.


Sengaja Alex melakukannya, untuk menghindari mendengar rayuan pulau kelapa milik Andra.


"Jangan ikut campur. Diam kau!"


Alex mendengus geram. Tahu begini, dia mending ikutan molor Shane dan Mark. Enak, tidak kena omel dari bosnya.


"Gini amat jadi jomblo."

__ADS_1


Gerutu Alex dalam hati.


****


__ADS_2