Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Mark's Problem


__ADS_3

Shane berlari masuk ke ruang Andra. Hasil audit terbaru mereka begitu mencurigakĆ n. Ketika Shane masuk, dilihatnya Andra tengah serius mengulik laptopnya.


"An....."


"Hemmmmm."


Pria itu sama sekali tidak mengalihkan pandangan matanya dari benda persegi di hadapannya.


"Datanya fiktif."


Andra menarik satu ujung bibirnya. Seolah kabar yang Shane bawa bukanlah hal yang mengejutkan untuknya. Shane pun mengerutkan dahinya.


"Kau tidak terkejut?"


"Mana ada cash flow yang berjalan begitu sempurna."


Shane terdiam. Ahhh, dia terlalu meremehkan Andra. Jika Andra sudah tahu masalahnya berarti pria itu sudah mempunyai rencana cadangan.


"Lalu?"


"Kerjakan ulang. Gunakan data yang baru ku kirim ke e-mailmu."


Andra menjawab enteng. Shane pun hanya bisa mendengus kesal. Dirinya tidak "sepeka" Andra dalam mencium ketidakberesan data. Semua audit akan dikerjakan oleh staf Andra, kecuali untuk kasus besar dengan resiko tinggi, dia akan menghandlenya sendiri.


Pria itu menuntun anak buahnya untuk membangun namanya sendiri. Setiap hasil audit akan melewati double check darinya. Jika semua benar, baru diserahkan pada yang klien mereka. Dengan nama auditor perseorangan, dibawah pengawasan Andra, dilindungi oleh nama besar kantor mereka.


Itu yang membuat kantor Andra berbeda. Setiap stafnya bisa mengembangkan diri. Mereka bisa membangun kredibilitas mereka sendiri. Hingga ketika semua siap. Andra bisa melepas mereka untuk berkarir di luar kantornya. Baik menjadi auditor independen atau mendirikan kantor mereka sendiri.


Setelah Shane keluar dari ruangannya. Andra menyandarkan tubuhnya di kursi. Pria itu memejamkan mata. Menarik nafasnya dalam. Rea.....satu nama itu tiba-tiba terlintas di kepalanya.


Rindu...pria itu merasakan rindu yang besar pada sang tunangan.


"Jadi memang benar kata Dilan. Rindu itu berat."


Gumam Andra sembari tersenyum. Pria itu lantas menyentuh bibirnya. Dia terbayang ciuman terakhir mereka tiga minggu lalu. Saat itu, baik dia maupun Rea sangat menikmati penyatuan bibir mereka. Sangat manis. Hingga dia pun enggan melepasnya.


"Sial!"


Andra seketika mengumpat. Fokus kerjanya ambyar gara-gara teringat manisnya bibir Rea. Pria itu meraih ponselnya. Memperlihatkan lock screen seorang gadis yang tengah tersenyum. Rea, sudut bibir Andra kembali tertarik. Dia masih tidak percaya jika cintanya akan berlabuh pada seorang gadis yang awalnya sangat dia benci.


Sebuah pesan masuk, membuat senyum Andra semakin lebar. Sebuah pesan singkat tapi mampu membuat hati Andra berbunga-bunga. "Begini ya rasanya jatuh cinta," gumam Andra pelan.


Senyum itu masih terpatri di bibir Andra ketika Mark masuk ke ruangannya dengan wajah kusut. Andra seketika menaikkan satu alisnya. Biasanya penampilan Mark selalu "wow" dan tidak pernah gagal. Tapi kali ini, berbeda.


"Kenapa kamu?"


Yang ditanya hanya menghembuskan nafasnya kasar. Pria itu mengusak rambutnya kasar. Lalu melihat pada Andra yang juga memandangnya dari balik meja kerjanya.


"Vio ingin putus dariku."


"Bagus dong."


Sebuah bantal sofa melayang tepat mengenai wajah Andra. "Asemmmm, Markkkk kau....."

__ADS_1


Tapi umpatan Andra terhenti ketika melihat wajah frustrasi kakak Rea itu. "Masalahnya?"


"Dia menemukan cinta sejatinya. Dan mau mengubah dirinya."


Bagus dong."


Mark mendelik mendengar jawaban Andra. Andra beranjak dari kursinya. Lalu mendudukkan diri di depan Mark.


"So it's time for you to make a difference too. Jadi sudah waktunya kau membuat perbedaan juga. Tidak semua wanita seperti ibumu. Pasti ada satu yang bisa membuatmu nyaman. Pasti ada yang bisa membuatmu melupakan traumamu. There must be one, somewhere out there. Pasti ada satu, di luar sana."


Mark menarik nafasnya pelan. Dia menjadi g**, karena membenci perempuan. Dia pikir semua perempuan sama seperti ibunya. Tukang mabuk, tukang judi, suka memakinya, suka memukulnya.


"Apa kamu belum bertemu yang seperti itu?"


Andra bertanya, sebab dia melihat interaksi Nana dan Mark waktu itu. Mark terlihat nyaman dan tidak menolak ketika Nana menyentuh kulit lengannya kala itu. Biasanya, pria itu akan memasang tampang bengisnya saat berhadapan dengan wanita tulen.


Tapi dengan Nana tidak, pria itu terlihat selalu tersenyum saat bersama Nana.


Mendengar perkataan Andra. Pikiran Mark pun langsung melayang pada Nana. Gadis yang sama dengan yang dipikirkan Andra. Nana adalah gadis pertama yang membuatnya tidak menunjukkan penolakan saat terjadi skinship di antara mereka. Di luar circle keluarga dan teman dekatnya tentunya.


"Dapat?"


Andra bertanya lagi. "Lepaskan Vio, jika dia memang sudah menemukan kembali jalannya. Dan sekarang giliranmu. Kamu tidak akan berada di tempat itu selamanya kan. Tempatkan milikmu di tempat yang seharusnya. Nikmat tahu, Bro."


Mark mendelik mendengar kalimat terakhir dari Andra. Mata Mark memicing tajam pada tunangan Rea itu.


"Apa maksud ucapanmu?" Mark bertanya penuh penekanan.


"Apa maksudmu bagaimana?"


"Kau mengatakan tempatkan milikmu ditempat yang seharusnya, dan kau bilang nikmat. Jangan bilang kalau kau sudah merusak Rea?" sentak Mark marah.


"Astaga, salah ngomong."


Batin Andra panik.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku......aduuuhhh Mark sakit, Bro!"


Andra meronta ketika Mark mencekik lehernya tanpa ampun.


"Katakan! Apa kamu pernah meniduri Rea?"


Andra terkejut sekaligus tersengal. Wajah putihnya langsung berubah merah.


"Tentu saja belum. Aku minta digantung apa kalau mengambilnya sekarang. Awww, Mark, Rea masih perawan. Aku belum melakukan apapun padanya selain menciumnya!" teriak Andra.


Mark melonggarkan cekikannya. Dada Andra naik turun, pria itu berusaha menetralkan detak jantungnya.


"Kau berani bersumpah?"


"Sumpah, Mark. Aku belum menyentuhnya....meski Rea sangat seksi dan menggoda." Cengir Andra. Sebuah pelototan langsung Andra terima dari Mark. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di samping Andra.


"Jangan coba-coba merusaknya." Mark kembali memperingatkan.

__ADS_1


"Tapi kalau dia yang minta, aku harus bagaimana?" tanya Andra tanpa dosa. Sebuah toyoran langsung Andra terima di kepalanya.


"Rea gak bakal seperti itu kalau bukan kamu yang mancing duluan. Aku jamin itu."


Andra hanya terdiam, sambil mengusap bekas toyoran Mark di kepalanya.


"Gegar otak nih pala gue."


"Jangan ngadi-ngadi deh elu!" sarkas Mark. Pria itu kembali terdiam. Dengan tubuh dia sandarkan pada punggung sofa. Pria itu menatap langit-langit ruang kerja Andra.


"Jalani saja dulu. Kita tidak tahu apa yang menunggu kita di ujung jalan atau kita temui di tengah jalan."


Terdengar helaan nafas berat Mark. "Seperti kamu, gak nyangka kan kalau kamu bakal terpikat sama adikku." Andra mengangguk.


"Btw, elu gak tertarik gitu sama Rea...."


"Ngaco lu!"


"Enggak, dengar dulu. Kenapa kamu malah menempatkan Rea sebagai adikmu bukan memandangnya sebagai gadis yang bisa kau miliki."


Mark berpikir sebentar. Sejak pertama dia melihat Rea, perasaan Mark sudah menyebut dia sebagai adik bukan perempuan yang bisa dia pacari.


"Dari pertama melihatnya, aku melihat sosok Rea sebagai adik. Tidak pernah terpikir olehku untuk memacarinya."


"Baguslah kalau begitu. Aku jadi tidak punya saingan."


Mark mendengus kesal. Kepalanya sudah pusing dengan masalahnya, eh Andra malah menambah puyeng kepalanya dengan pertanyaan yang tidak berguna sama sekali.


"Oh ya, Rea mulai magang minggu depan?"


Andra mengangguk. "Kau tahu di mana dia magang?"


"Rumah sakit?" jawab Andra enteng.


"Kau tidak khawatir?"


"Kenapa? Kan dia magang di rumah sakit."


"Masalahnya itu rumah sakit angkatan darat, Bro."


Ha? Andra melongo. Rumah sakit angkatan darat? Kepala Andra auto sakit dibuatnya.


"Puyeng gak tu kepala. Aseeekkkk, gue puyeng ada temannya."


Kekeh Mark dalam hati. Mengerjai Andra bisa membuat Mark sejenak melupakan masalahnya.


****



Kredit Pinterest.com


Andra yang mau ditinggal cuci mata sama Rea, 🤣🤣

__ADS_1


****


__ADS_2