
Kredit Pinterest.com
"Apaan sih?"
Rea terkejut ketika Wahyu menarik tangannya menuju koridor rumah sakit yang sepi. Wajah pria itu terlihat marah. Wahyu merasa dibohongi oleh Rea. Pria itu berpikir kalau Rea dan Alex punya hubungan lebih dari sekedar bodyguard dan tuannya.
Apalagi fisik Alex juga tidak kalah dengan tunangan Rea. Begitu yang Danu ceritakan.
"Kamu semalam pergi ke mana?"
Cecar Wahyu. Mata pria itu berkilat marah. Dia sudah lama menaruh hati pada Rea. Tapi gadis itu sama sekali tidak merespon sinyal yang Wahyu berikan.
"Aku pergi ke mana bukan urusanmu. Kita tidak ada hubungan apa-apa. Jadi jangan terlalu mencampuri urusanku. Aku juga tidak perlu menjelaskan apa-apa padamu."
Rea sebenarnya jengah dengan sikap dan tatapan Wahyu. Pria itu selalu menatapnya dengan tatapan yang menurut Rea mesum.
"Kamu jual diri ya. Kalo iya, aku juga mau. Berapa tarifmu semalam?"
Rea mendelik mendengar ucapan Wahyu. Bagaimana bisa pria itu berpikir kalau dirinya menjajakan diri.
"Jangan sembarangan kalau ngomong. Aku bukan wanita murahan!"
Rea menyentak cekalan tangan Wahyu. Lantas berlalu dari sana. Meninggalkan Wahyu dengan senyum misteriusnya.
Sedang Rea terus mengumpat sepanjang lorong menuju ruang praktek dokter Andreas. Dia diminta untuk mengantarkan laporan pada dokter itu.
"Permisi, Pak....."
Rea tidak mendapati sang dokter. Hanya seorang pasien yang terbaring di bed pasien.
"Dokternya gak ada, Mbak. Baru keluar ambil obat."
Rea mengangguk paham. Lalu meletakkan map di atas meja. Ketika Rea pamit untuk menunggu di luar. Tiba-tiba saja, si pasien itu merasa sesak. Dia melambai-lambai ke arah Rea minta tolong. Gadis itu pun mendekat. Bertanya kenapa, pasien itu memberi kode kalau dia merasa sesak.
Rea paham lalu melihat ke kiri dan kanannya. Ada selang oksigen yang terhubung dengan tabung oksigen. Rea langsung memasang selang itu di hidung pasien, menyetel kecepatan aliran oksigen.
"Bagaimana, Bu?"
Si ibu mengangguk, tanda kalau dia merasa lebih baik. Gadis itu melihat alat saturasi di meja sebelah pasien. Menyelipkannya di jari pasien itu.
Saat itulah, dokter Andreas masuk. Pria itu heran melihat keadaan pasiennya. Rea lantas menjelaskan apa yang sudah terjadi. Pria itu cukup terkejut. Dia lalu memeriksa keadaan pasiennya.
__ADS_1
"Oksigennya masih di 85%, Dok."
Andreas menoleh ke arah Rea, lantas memeriksa aliran oksigennya. Pria itu menatap tajam Rea dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pandangan Andreas membuat Rea sedikit takut. Gadis itu memundurkan langkahnya. Dia pikir telah membuat kesalahan. Lancang menyentuh pasien Andreas. Tapi kalau dia tidak menolong pasien itu, bisa dipastikan kalau keadaannya bisa memburuk. Sesak nafas sangat fatal akibatnya.
"Darimana kamu tahu cara pakai selang oksigen?"
Tanya Andreas, untuk orang awam, mereka tidak akan tahu caranya. Kecuali orang itu pernah mengalami atau diajari orang yang paham peralatan medis.
"Saya punya asma. Jadi saya sering pakai alat itu. Ditambah kakak saya dokter. Jadi saya sedikit tahu beberapa cara menggunakan alat medis."
Rea menjawab sedikit takut. Melihat tatapan tajam Andreas. Pria itu masih menatap tajam pada Rea.
"Siapa kakakmu?"
"Mark Harsya Olivander."
Andreas melotot mendengar nama Mark disebut Rea.
"Jadi kau adik Mark Olivander. Kenapa tidak bilang?"
Rea melongo mendengar Andreas tahu soal Mark.
"Dokter tahu soal kakak saya."
Rea menutup mulutnya, tidak percaya. Jika orang itu tahu kalau Mark belok, berarti dia termasuk dekat dengan dokter bermata biru itu.
"Pak dokter tahu kakak saya belok?"
Andreas mengangguk.
"Oalah, lihat betapa sempitnya dunia. Aku sangat penasaran dengan adik dokter belok itu. Ternyata, ck ck...sangat cantik."
"Saya cuma adik angkat, Pak."
Rea lebih memilih jujur daripada membuat orang lain salah paham.
"Aku tahu, aku tahu Mark anak tunggal. Dan mungkin kamu belum tahu kalau dia belum menemukan ayahnya. Kamu tentu tahu pahitnya kisah hidup kakakmu itu. Aku tidak heran jika dia jadi belok. Trauma psikisnya sulit diatasi."
Andreas yang tadinya bersikap dingin pada Rea. Kini bersikap sebaliknya. Sangat ramah dan juga hangat. Lagi-lagi, betapa berpengaruhnya sebuah koneksi. Rea hanya mengatakan dia mengenal Mark Olivander, sikap Andreas langsung berubah 180 derajat.
"Kamu adiknya Mark, berarti kamu tunangan Andra?"
Rea kembali tidak percaya kalau Andreas juga mengenal Andra.
__ADS_1
"Pak Dokter kenal Kak Andra juga?"
"Hanya sekilas tahu saja. Akrab tidak. Pertunangan kalian masih dirahasiakan kan?"
Andreas setengah berbisik. Dan Rea mengangguk sebagai jawaban. Untung saja waktu itu jam makan siang, jadi pak Beni tidak akan ribut mencarinya.
"Enak tidak?"
Andreas bertanya, ketika mereka tengah menikmati bento sebagai menu makan siang mereka.
Kredit Pinterest.com
"Enak, Pak Dokter buat sendiri?"
"Nggaklah, pesan. Saya punya langganan catering yang menyediakan makanan saya."
Rea ber-oo ria. Lantas melanjutkan makan siangnya. Keduanya masih terlibat obrolan yang mengasyikkan. Ternyata Andreas orang yang menyenangkan untuk diajak bicara.
Lama-lama, pria itu protes ketika Rea terus memanggilnya Pak.
"Aku bukan bapakmu. Lagipula aku seumuran Mark. Memangnya tampangku setua itu?"
Rea terkekeh mendengar protes Andreas. Ya, Andreas memang belum terlihat tua. Tadi memanggil Pak, hanya karena dia tidak tahu harua memanggil apa.
"Kenapa kamu tidak masuk kedokteran saja? Aku bisa rekomendasikan kamu ke kampus mana saja yang kamu inginkan. Kamu berbakat jadi dokter."
Rea melongo mengengar pertanyaan Andreas. Kedokteran? Itu adalah cita-cita sebenarnya. Tapi mengingat dia anak panti dan biaya kuliah kedokteran terkenal sangat mahal. Karena itu dia mengubur dalam cita-citanya itu.
Tapi sekarang, keadaannya berbeda. Dia tahu sang ayah akan memberikan apapun yang dia inginkan. Termasuk kuliah kedokteran. Dan pertanyaan Andreas membangkitkan dilema dalam diri Rea.
"Jika kamu mau masuk kedokteran. Aku jamin kamu bisa diterima di kampus terbaik di ibukota. Di tambah rekomendasi dariku dan Mark. Jalanmu akan makin mudah."
Kata-kata Andreas terus terngiang di telinga Rea. Gadis itu jadi bimbang dibuatnya. Ini dia baru membuka identitasnya sebagai adik Mark, si dokter belok. Belum kalau mereka tahu siapa ayahnya.
"Mereka bisa memberikan semua yang aku tunjuk dengan jariku."
Gumam Rea lagi. Lagi-lagi the power of koneksi sangatlah kuat. Manusia sekarang hanya memandang dari mana kamu berasal. Bukan melihat dari kemampuan dirimu.
Rea menarik nafasnya. Gadis itu ingin semua orang mengenalnya melalui kemampuannya bukan karena nama yang tersemat di belakangnya. Bukan karena siapa orang yang berdiri di belakangnya. Rea ingin membuktikan kalau dirinya memang pantas dihargai karena dia memang mampu.
****
__ADS_1