
"Plakkkkk."
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ken. Saking kerasnya tamparan Rea, pipi Ken sampai memerah. Gadis itu marah. Sangat marah ketika Ken lancang menciumnya. Mata Rea berkaca-kaca menahan amarah. Nafasnya tersengal, dengan emosi mencapai ubun-ubunnya.
"Kau mau tahu siapa mereka. Dia tunanganku, dan yang lain adalah kakakku."
Rahang Rea mengeras. Sementara di depannya, Ken melotot tidak percaya. Rea sudah bertunangan. Fakta itu yang bisa ditangkap oleh otaknya.
"Jika kau berani menyebutku sugar baby lagi. Kupatahkan kakimu."
Rea berjalan melewati Ken dengan cepat. Sampai di luar kelas, dia menarik nafasnya berulang-ulang. Dia sungguh muak dengan semua ini. Tanpa melihat Ken lagi. Rea pergi dari sana.
Ketika dia baru saja berbelok di lorong sekolahnya, Rea kembali menggeram marah. Clara tengah berjalan ke arahnya. Lawan Rea itu langsung mengembangkan senyumnya. Tempat itu sepi, dia bisa mengerjai Rea di sini.
"Halo sugar baby. Dari mana?" Clara melihat melewati bahu Rea dan melihat Ken yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Senyum smirk Clara terukir jelas di bibir gadis itu.
"Gue gak tahu kalau lu terima tawaran di dalam sekolah juga. Wah apa jadinya jika kepsek tahu. Lu akan langsung dikeluarin. Tanpa bisa ikut ujian."
Rea berdecih kesal mendengar ancaman Clara. Senyum meremehkan terlihat di dua sudut bibir Rea.
"Dikeluarkan? Jangan memancing amarah gue. Jika gue mau, gue bisa beli tempat ini. Bahkan dengan pabrik bokap lu sekalian."
Satu jari telunjuk Rea menunjuk kasar dada Clara. Sedikit mendorongnya. Hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Hampir jatuh.
"Cihh....sugar baby mulai unjuk gigi."
Clara mendengus kesal. Beraninya Rea menyentuh dirinya. Rea menarik nafasnya, seraya berlalu dari sana.
"Urusan kita belum selesai. Lu gak boleh pergi!"
"Urusan apa?"
Tantang Rea, mata gadis itu berkilat marah.
"Jangan sok nantangin gue. Elu cuma anak panti dan sekarang elu merangkap menjadi sugar baby.....arrgghhhh!!!"
Clara berteriak ketika Rea memelintir tangan Clara ke belakang punggung. Clara meronta, menjerit. Meminta tolong pada teman-temannya. Tapi temannya tidak berani mendekat. Karena satu teman Clara yang mendekat langsung ditendang oleh Rea.
"Gue peringatin sama elu. Sekali lagi elu nyebut gue sugar baby, gue patahin tangan elu....kreeekkkk...."
"Aaarrgghhhh!!"
Clara meraung ketika Rea menekan kuat pelintirannya di tangan gadis itu.
__ADS_1
"Dan kalau elu melapor ke kepsek, gue gak akan tinggal diam. Gue bakal sebarin foto elu yang sering ke diskotek."
Bisik Rea. Clara langsung membulatkan matanya. Tidak mungkin Rea tahu rahasiannya. Clara jatuh terjerembab kala Rea mendorong tubuh gadis itu.
"Jangan pernah usik hidup gue lagi. Atau gue patahin tangan sama kaki kalian."
Semua teman Clara mundur ketakutan mendengar ancaman Rea. Baru kali ini mereka melihat Rea menunjukkan sisi lain dari dirinya. Rea berjalan dengan amarah yang masih tersisa di dadanya.
Dicium Ken, dibulli Clara. Dia ingin semua segera berakhir. Gadis itu mengusap-usap bibirnya kasar. Berusaha menghilangkan bekas ciuman Ken. Rea berkali-kali merutuki kebodohannya. Ketidakwaspadaannya berakibat fatal. Padahal Rio selalu berpesan padanya, tetap waspada di manapun juga. Bahkan ketika kau sedang bersama orang yang dekat denganmu.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Umpat Rea berkali-kali sembari memukuli kepalanya sendiri. Tanpa dia tahu, Ken memperhatikan semua itu dari lantai dua.
"Halo, bisa kau carikan aku identitas seseorang. Aku akan mengirim fotonya. Data lengkap, sedetailnya. Bahkan mungkin hal yang masih disembunyikan dari publik."
"Aku akan terus mengejarmu meski kau sudah bertunangan. Aku jadi penasaran, siapa tunanganmu." Batin Ken.
*
*
"Kenapa muka lu?"
"What?"
Nana hampir berteriak. Dia tidak percaya kalau Rea melakukan hal itu. Biasanya gadis itu lebih memilih diam. Nana baru saja akan bertanya lagi, ketika dilihatnya Clara yang berjalan sembari memegangi tangannya. Dilihatnya juga teman-teman Clara yang melihat takut ke arah Rea.
"Lu apain mereka sampai ketakutan begitu?"
Nana kepo melihat Clara yang melintas di hadapan mereka dengan pandangan penuh permusuhan. "Aku pelintir tangan dia."
Jawab Rea sambil berjalan menunggu gerbang. Mereka memutuskan berjalan kaki hari ini. Motor Nana ada di rumah Rea. Nana melongo mendengar ucapan Rea.
"Kenapa gak dari dulu, elu patahin tangan dia."
Rea menghembuskan nafasnya kasar mendengar komporan dari Nana. Kembali, tanpa Rea sadari. Ken mengawasi gadis itu dari belakang. Mengikuti gadis itu diam-diam.
"Lu beneran mau balik ke ibukota?" Teman Ken bertemu. Sementara Ken menatap lurus ke arah Rea. "Dia akan kembali ke ibukota setelah lulus."
Satu info yang didapat anak buahnya. Membuat Ken menerima tawaran sang ayah untuk kembali ke ibukota. Kuliah sambil belajar mengelola perusahaan keluarganya.
Ken mengangguk. Matanya masih menatap tajam pada Rea.
__ADS_1
*
*
Beberapa minggu berlalu, dan ujian itu akhirnya datang juga. Selama masa persiapan ujian, Clara terus saja mengganggu Rea. Tapi gadis itu kali ini memilih diam. Mengikuti saran Andra dan kakak-kakaknya. Rea benar-benar menahan diri. Ditambah, Nana dan Alex yang disuruh menjadi tempat cooling down Rea. Tentu saja yang jadi sasaran adalah Alex. Pria itu kerap menjadi samsak pelampiasan kemarahan Rea.
"Gue pokoknya mau minta ganti rugi sama tunangan elu!"
Teriak Alex ketika pria menjadi sasaran tinju Rea. "Minta sana!"
Galak Rea. Alex mendengus kesal. Rea cantik, tapi kalau marah dia seperti orang kesetanan.
Pagi itu, Rea dan Nana berangkat untuk mengikuti ujian kompetensi. Ujian yang berhubungan dengan jurusan yang dia ambil.
Kredit Google.com
Ujian kompetensi itu memakan waktu seminggu. Setelah itu berlanjut dengan mata pelajaran wajib lainnya.
Dua gadis itu saling pandang. Lalu menarik nafas bersamaan. Keduanya melangkah penuh percaya diri menuju ruangan ujian masing-masing. Mereka yakin bisa menyelesaikan ujian mereka dengan baik.
*
*
Sementara itu, di sebuah ruang kantor. Lebih tepatnya ruangan seorang dosen. Brad, tersenyum sumringah. Melihat beberapa foto yang berhasil didapatkan anak buahnya waktu mengikuti Andra.
Beberapa kali, pria itu melontarkan ******* penuh kekaguman pada kecantikan wanita yang berada di sisi Andra. Benar, wanita itu adalah Rea. Binar terpesona jelas terpancar dari dua bola matanya.
"Cantik, dia sempurna."
Gumam Brad. Pria itu selanjutnya membuka laptopnya. "Andrea Kirana." Gumam Brad lagi.
Sepertinya dia kemarin melihat sepintas nama Rea terpampang di layar PC staf administrasi tempat dia mengajar. Detik berikutnya, senyum pria itu mengembang sempurna. Rea berada dalam list calon mahasiswa baru yang akan masuk ke kampusnya.
Rea akan mengikuti ujian berbasis komputer yang akan diadakan kampusnya dalam beberapa bulan ke depan.
"I'll wait for your coming, Baby."
(Aku akan menunggu kedatanganmu, Sayang)
Brad membatin tidak sabar. Kembali menatap foto Rea yang dikirim anak buahnya itu melalui e-mailnya. Pria itu benar-benar terpana pada kecantikan Rea.
__ADS_1
****