
Sejak kejadian hari itu, sikap Ken berubah dingin. Dia tidak lagi seperti dulu, yang suka nimbrung obrolan Rea dengan yang lainnya. Dia menjauh dari gadis itu. Menjauh dari Devi dan Jerry. Rasa bersalah di hati Rea semakin besar.
Sementara Rea kuliah, yang lain mulai menyiapkan pernikahan Rea. Seperti perkiraan Matt, Rea benar-benar tipe simple. Tidak ribet. Dia hanya meminta satu syarat untuk gaun pengantinnya. Tidak terbuka. Hanya itu yang dia minta. Yang lain terserah. Bahkan untuk konsep pernikahannya, gadis itu menyerahkan sepenuhnya pada sang kakak. Alhasil sang kakak yang baru melahirkan, harus wara wiri mengurusi keperluan pernikahan Rea dan Andra. Dibantu Berta dan Katya tentunya. Bahkan kadang Devi juga ikut membantu.
Rea benar-benar berkonsentrasi pada ujian yang sudah di depan mata. Selama itu, Brad tetap menjadi dosen pembimbingnya. Rea cukup bersyukur karena Brad tidak banyak memberinya masalah selama belajar bersama. Namun sepertinya hari-hari Rea yang nyaman tidak berlangsung lama.
Baru juga dia kemarin melewati kencan satu hari penuh tawa dan bahagia dengan Andra. Siang itu dia disambut wajah dingin Brad. Ditambah tatapan menukik tajam dari sang dosen killer. Baru juga masuk ke ruangan Brad, Rea rasanya ingin keluar lagi. Benar-benar ingin lari.
"Masuk!"
Satu kata dengan intonasi tegas dan setengah memaksa, membuat Rea menelan ludahnya. Dia tidak bisa ke mana-mana, selain menghadapi buruknya mood Bradley. Rea pikir apa salahnya kali ini.
Rea duduk di tempat biasanya. Membuka laptopnya, lalu melanjutkan materi kemarin. Sepuluh menit....dua puluh menit. Rea menutup kembali laptopnya. Lalu memandang lurus pada Brad, yang sejak dua puluh menit lalu, menatap Rea tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bisa gak Bapak berhenti mandangin saya?"
Rea bertanya gusar. Pria di hadapannya itu membuatnya tidak bisa belajar sama sekali. Mendengar pertanyaan Rea, Bradley malah menopang dagu dengan dua tangannya.
"Apa itu benar?"
Rea mendengus kesal mendengar Brad malah balik bertanya padanya.
"Apanya?"
"Kau akan menikah?"
Ah elah, itu lagi. Rea langsung mengacak rambutnya. Tinggal dua minggu lagi dan pria itu baru bertanya sekarang.
"Iya....saya akan menikah."
Brad mengatupkan rahangnya. Dia tidak menyangka kalau rumor yang dia dengar benar. Pantas saja, dia sekarang sering melihat Ken yang uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Ternyata ini jawabannya. Pria itu patah hati rupanya.
"Kamu yakin?"
Brad memiringkan kepalanya sedikit. Dia ingin mendengar jawaban dari Rea langsung. Di depan Brad, Rea seketika menggigit bibir bawahnya. Benteng yang dia bangun selama ini, akhirnya runtuh juga. Tidak dia pungkiri kalau dia mulai goyah.
"Yakin."
Brad menarik sudut bibirnya. Dia menatap Rea. Gadis 21 tahun yang telah menggetarkan hatinya. Hidupnya benar-benar berubah sejak mengenal Rea. Dia yang psycho, tukang main perempuan. Hobi one night stand. Semuanya sembuh begitu dia mengenal Rea.
"Kamu sama sekali tidak akan berubah pikiran?"
Rea menggeleng mantap. Detik berikutnya, gadis itu beranjak dari kursinya. Dia pikir tidak akan bisa belajar lagi dengan suasana hati seperti ini. Pikirannya tidak fokus dan hatinya kacau. Akan sia-sia jika dia memaksakan diri untuk belajar. Lagipula, materinya tidak banyak lagi. Dia hanya perlu banyak berlatih di kantor Andra.
Rea baru saja akan menarik handle pintu ruangan Brad, ketika pria itu menarik tangan Rea. Membawanya kembali ke mejanya.
"Katakan padaku kalau kamu berubah pikiran dan menolak pernikahan ini."
Rea membulatkan matanya mendengar perkataan Brad.
"Bapak jangan gila ya. Saya tidak akan merubah keputusan saya. Saya mencintai Andra dan saya akan menikah dengannya."
"Dengan hati yang sudah separuh beŕpaling darinya. Kamu sedang bunuh diri namanya."
"Saya tidak paham dengan yang sedang Bapak bicarakan."
Rea memalingkan wajahnya saat menjawab pertanyaan Brad.
"Bahkan kamu sendiri tidak yakin dengan jawabanmu."
__ADS_1
Senyum mengejek terukir di bibir sang dosen.
"Saya selalu yakin dengan jalan yang sudah saya pilih. Saya sudah mengambil keputusan dan saya tidak akan mundur."
"Kalau begitu buktikan."
Brad menantang Rea. Dia sangat yakin kalau Rea sedikit banyak punya rasa padanya.
"Jangan menguji saya."
Rea menepis tangan Brad yang menahan tubuhnya di meja pria itu. Kembali berlalu pergi. Tapi lagi-lagi....Brad menahan tubuhnya. Lalu mencium bibir Rea, seperti kejadian di pantai waktu itu.
Jika saat itu, Rea langsung menolak. Kali ini tidak. Gadis itu justru terdiam. Dengan bibir Brad yang mulai memainkan miliknya.
"Balas, sayang."
Ucapan lembut Brad, bagai bom yang meledak dalam diri Rea. Meski sedikit ragu, tapi akhirnya bibir Rea bergerak, membalas setiap pagutan yang Brad berikan.
Hati Brad bersorak gembira. Yang dipikirkannya benar. Rea punya rasa padanya. Pria itu tanpa ragu semakin intens melummat bibir Rea. Dengan mata Rea yang terpejam, menikmati setiap gerakan bibir Brad.
Beberapa waktu berlalu, hingga seolah terkena hantaman balok di kepalanya. Rea tersadar, gadis itu buru-buru mendorong jauh tubuh Brad. Hingga tautan bibir mereka terurai.
"Kamu jelas punya rasa padaku. Tidak perlu mengelak lagi. Batalkan pernikahan kalian. Dan menikahlah denganku."
Brad berkata sembari menatap Rea yang mengusap bibirnya yang basah karena ciuman panas mereka barusan.
"Ini sebuah kesalahan. Ciuman tadi hanya karena saya terbawa suasana. Ciuman tadi tidak menandakan kalau saya punya perasaan pada Bapak."
"Perlu kita mengulanginya? Untuk memastikan kalau kamu tidak sedang terbawa suasana. Tapi karena kamu memang mencintai saya."
"Omong kosong! Saya hanya mencintai dia. Dan itu jelas bukan Anda."
Rea menegaskan lagi perasaannya. Ya, yang tadi hanya karena dia terbawa suasana. Dia tidak memiliki perasaan apapun pada Bradley.
Brad menahan Rea yang ingin keluar dari ruangannya.
"Lepas atau saya teriak!"
"Teriaklah dan kupastikan kalau kamu hari ini akan berakhir di ranjangku."
"Bapak sudah gila!"
Rea berteriak saat Brad menyeret tubuhnya menuju ke sofa. Gadis itu dengan segera minta tolong.
"Berteriaklah, karena tidak ada yang akan menolongmu."
Bruuukkkkk,
Tubuh Brad terjungkal ke belakang karena Rea mendorong tubuh pria itu dengan kuat. Ciuman tadi adalah kesalahan dan Rea tidak ingin mengulangi hal yang sama. Begitu tubuh Brad tersingkir dari atas tubuh Rea. Gadis itu buru-buru mengambil tasnya. Lalu melesat keluar dari sana. Nafas Rea terengah-engah. Dia juga tidak memperhatikan jalan. Hingga dia tidak tahu kalau ada seorang pria berdiri di depan pintu ruangan Brad.
"Kamu kenapa, Re?"
Suara Andra membuat Rea sadar. Sedang Andra langsung memandang curiga pada Rea. Terlebih dia mendengar teriakan Brad dari dalam sana.
"Apa dia melakukan hal buruk padamu?"
Rea tidak menjawab, tapi raut wajah panik Rea cukup menjadi jawaban bagi Andra.
"Dosen sialan!"
__ADS_1
Andra masuk ke dalam ruangan Brad. Tanpa basa basi, Andra langsung menghadiahkan bogem mentah pada pria itu. Brad yang baru saja bangun karena dorongan Rea. Kembali jatuh tersungkur.
Melihat Andra memukul Brad, Rea menjerit. Gadis itu terkejut. Apalagi Andra kembali ingin memukul Brad. Jika saja Rea tidak mencegahnya.
"Apa yang sudah dia lakukan padamu?"
Andra bertanya dengan suara naik satu oktaf. Suara tinggi Andra membuat Rea berjengit. Hal itu membuat Brad naik pitam. Andra tidak pernah berteriak padanya.
"Jangan membentaknya!"
Brad berkata sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Kau diam! Ini bukan urusanmu!"
"Tentu saja urusanku! Kau berteriak padanya. Kau membuatnya takut. Dan aku tidak suka itu."
Dua pria itu saling menatap tajam. Sementara Rea mulai terisak lirih. Rea jelas terkejut.
"Kau membuatnya menangis. Kau brengseeekk!"
Kini berganti Brad yang memukul Andra. Pria itu terhuyung ke belakang.
"Berhenti!"
Teriakan Rea membuat Brad dan Andra menghentikan gerakan mereka. Tangan masing-masing sudah terkepal. Siap menghantam wajah lawan.
"Jangan bertengkar karena aku!"
Rea langsung berbalik, lalu berlari keluar dari sana.
"Re....tunggu. Baby, jangan pergi."
"Jangan pernah memaksanya menikah jika dia belum bersedia."
Perkataan Brad membuat Andra menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau tahu soal dia? Dia sendiri yang meminta pernikahan ini."
"Dia memutuskan menikah denganmu dalam keadaan tertekan."
Brad tahu jelas posisi hati Rea tengah bimbang.
"Jangan ikut campur soal hubungan kami. Mulai detik ini, kau bukan lagi dosen pembimbingnya."
Andra berlalu keluar dari sana, setelah mengatakan hal itu. Sepeninggal Andra, Brad mengusap pipinya yang perih karena pukulan Andra. Pria itu lantas menarik nafasnya pelan.
Terlepas dari apapun rasa yang Brad miliki untuk Rea. Pria itu jelas tidak ingin membuat atau melihat Rea menangis.
"Aku harap semua baik-baik saja."
Kalaupun dia tidak bisa memiliki Rea, dia ingin gadis itu bahagia dengan siapapun pilihannya.
Sementara itu, Rea yang bingung dan marah. Melajukan mobilnya tanpa arah tujuan. Ciuman dosen gilanya. Perkelahian Andra dan Brad. Semua membuat kepalanya terasa mau pecah. Dia ingin lari dan bersembunyi dari dua pria itu. Dia benar-benar tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang.
Dia mencintai Andra atau mulai berpaling dari pria itu. Aaarrggghhhh, Rea memukul kemudi mobilnya frustrasi. Rea pikir, kenapa semua jadi ruwet begini. Dia hanya ingin bahagia. Apa itu salah?
Bahagia....kini kata itu yang berputar di kepala Rea. Seperti apakah kebahagiaan yang tengah dia cari?
***
__ADS_1
Ritual jempolnya jangan lupa...
Ditunggu...ditunggu...😘😘