Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Ketemu!


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


"Ngapain elu di mari?"


Pertanyaan yang spontan keluar dari bibir Nana. Sementara pria atau mungkin lebih pantas disebut cowok di depan mereka langsung membuka helm full face-nya.


Menampilkan Ken yang rambutnya berantakan tapi terlihat tampan. Menurut pandangan umum ya. Tapi bagi Rea itu biasa.


"Kan sudah gue bilang. Gue kangen sama elu, Re."


Ken berkata, sembari menatap lurus pada Rea. Cantik, gadis itu terlihat semakin cantik di mata Ken, sejak terakhir kali dia melihatnya.


"Gombal mukiyo lagi. Hadeuuuhh, bisa gak sih rayuan elu tu ditempatkan di tempat yang tepat?"


"Dialah tempat yang paling tepat untuk menerima semua rayuan....eh gue kagak merayu ya. Itu beneran. Gue kangen banget sama elu."


Ken turun dari motor sport hitamnya. Sementara Rea tampak menaikkan satu alisnya. Mau apa ni anak, pikir Rea. Hingga tiba-tiba, Ken mencium sekilas pipi Rea, membuat gadis itu reflek memukul mundur dada Ken.


"Jangan kurang ajar kamu ya!"


Rea memperingatkan Ken. Gadis itu mengusap-usap pipinya yang baru saja di cium Ken. Sementara si Ken malah nyengir tanpa dosa.


"Pipinya aja manis, gimana....."


Ken mendelik, ketika Nana menendang tulang kering Ken.


"Ampun deh, dua orang ini. KDRT mulu perasaan. KDRT kalau pernah kewong sih oke. La ini, baru juga nyium pipi. Langsung gaskeeun di hajar aja."


"Makanya tu mulut kalau perlu disekolahin biar pinter."


"Ini juga udah pinter, Na...."


Nana melongo, dari mana Ken tahu. Setahu Nana, pria itu hanya kenal Rea. Eh salah, tahu Rea.


Danu yang masih bermain voli sejenak malah fokus pada Rea , Nana dan Ken yang tengah bicara di depan kos mereka. Pria itu cukup penasaran. Siapa lagi, pria dengan motor sport mahal yang mendatangi Rea.


"Anak sekarang ya, kalau bonyoknya kaya. Mereka enak tinggal minta ini sama itu."


Seloroh teman Danu yang turut melihat ke arah Rea. Danu hanya mengedikkan bahunya acuh. Lalu melanjutkan permainan voli mereka. Danu membiarkan saja, sebab dilihatnya Rea dan pria itu terlihat akrab. Meski sesekali terdengar Nana berteriak.


"Nggak dibolehin masuk gitu, Re."


Ken kembali bertanya sambil menaikkan alisnya.


"Lu kagak bisa baca. Di larang membawa cowok ke dalam kamar kos."


Kembali Nana yang menyahut. Sementara Rea hanya sesekali menimpali perkataan Ken. Pada akhirnya Ken menyerah juga, setelah gagal membujuk Rea agar mau makan dengannya.

__ADS_1


"Oke deh kalo gak mau makan bareng gue. Tapi boleh dong gue ke sini lagi. Biar gak dibolehin masuk. Gak apa-apa. Yang penting gue bisa ketemu sama pacar gue."


"Aku bukan pacarmu ya. Catat itu!"


"Otewe deh kalau begitu."


Nana berdecak kesal. Ken benar-benar tidak punya malu. Sudah ditolak juga, masih saja keukeuh tidak mau menyerah. Padahal kalau di sekolahan, tu anak yang dikejar-kejar cewek. Tapi sekarang sepertinya Ken kena batunya. Dia nguber Rea setengah mati. Padahal Rea sudah punya tunangan.


"Apa ya reaksi Ken kalau dia tahu, Rea sudah punya tunangan."


Gumam Nana, melihat Ken yang terus saja menggoda Rea. Satu lagi pengganggu datang dalam hidup Rea. Kadang Rea ingin kembali ke keadaan lamanya. Hingga tidak banyak yang mengganggu dirinya. Hidupnya terasa tenang. Tapi mau bagaimana lagi. Dia juga tidak boleh tampil seadanya, setelah menyandang nama belakang Matt, sang ayah.


*


*



Kredit Pinterest.com


Andra melangkah masuk ke kantornya. Dia tidak berharap banyak. Kemungkinan dia tidak akan menemukan satu staf pun di kantornya. Sebenarnya kalau di tidak punya klien pun, dia masih bisa menggaji seluruh stafnya. Mengingat dirinya punya 40% saham Sky Airlines. Rekeningnya sudah sangat gemuk dari zaman dahulu kala.


Pria itu tengah memainkan ponselnya, hingga sapaan selamat pagi, membuat Andra mengalihkan perhatiannya pada orang yang menyapanya.


"Dion, ngapain masih di sini?"


Andra melongo melihat stafnya itu masih di sana. Andra lalu melihat melewati Dion. Dilihatnya, kubikel-kubikel itu masih berisi stafnya, tidak kosong seperti perkiraannya.


Tanya Andra setelah semua stafnya mengucapkan selamat pagi padanya.


"Kami masih single, Pak. Jadi boleh dong kita kerja di sini. Lagian tabungan kita masih tebel. Bisa buat hidup setahun ke depan."


"Anggap saja kita sedang liburan. Kalau sepi klien begini."


Beberapa staf menjawab.


"Kalau aku gak bisa gaji kalian, jangan nyalahin lo." Seloroh Andra.


Dan mereka kompak berteriak tidak masalah. Sebab mereka tahu pasti kalau Andra tidak akan membiarkan mereka bekerja tanpa gaji.


Pria itu berucap dengan mata berkaca-kaca. Baru kemarin dia rasanya ingin mundur dari dunia per-akuntansian. Mulai masuk ke Sky Airlines Company. Tapi rupanya, kenyataan berkata lain.


"Anak buahmu cinta mati padamu."


Goda Shane, begitu mereka masuk ke ruang kerja Andra. Pria itu berbalik menghadap Shane.


"Maksudmu?"


"Mereka beramai-ramai mengirim petisi ke pusat. Mereka siap melawan balik narasumber yang sudah berani membuat pernyataan itu."

__ADS_1


Andra membulatkan matanya. Tidak percaya kalau stafnya begitu loyal padanya.


"Wah, cancel nih acara gue balik ke kantor bokap."


"Bukannya limit time-nya sampai elu nikah."


"Atau umur gue 30."


Tambah Andra. Itu adalah perjanjian Andra dan papanya. Meski perusahaan itu sudah bisa Andra kuasai saat dia berusia 20 tahun. Nyatanya sama sampai sekarang, Andra belum mau memimpin perusahaan itu.


Dia masih beralasan ingin meraih passionnya di bidang akuntansi. Pria itu memang mengambil jurusan akuntansi saat kuliah. Lalu mengambil managemen bisnis untuk S2-nya. Otak Andra benar-benar encer. Di usianya yang akan genap 25 tahun. Dia sudah merampungkan pendidikannya.


Andra bahkan merintis kantor akuntan publiknya ketika dia sudah masuk separuh masa pendidikan S2-nya. Kurang lebih dalam 3 tahun ini, kantornya berkembang pesat.


Jatuh bangun sudah Andra jalani. Mulai sepi klien, tidak ada klien sama sekali. Andra bahkan berhutang banyak pada sang ayah di awal karirnya. Sang ayah adalah penyandang dana utamanya. Tapi tetap saja semua dihitung hutang.


"Klien kan sepi nih. Bagaimana kalau kita liburan. Sudah lama kita gak ngadain acara begituan. Kita selalu kebanjiran klien."


Usul Shane. Andra sejenak berpikir. Hingga wajahnya berbinar senang. "Baik kita piknik. Gue yang tanggung semua biayanya. Asal pikniknya ke....."


Shane yang sudah bersorak kegirangan seketika langsung mingkem. Sekaligus manyun.


"Modus lu kelihatan banget."


Gerutu Shane. Andra terbahak mendengar gerutuan Shane. Meski begitu, pria itu langsung keluar ruangan Andra. Dan tak lama, sorak kegembiraan terdengar dari luar ruangan Andra. Diiringi teriakan terima kasih dari para stafnya.


"Elu yakin, konsepnya famili day."


Andra mengangguk mendengar pertanyaan Shane. Pria itu kembali menggerutu. "Terus gue suruh ngajak siapa dong."


"Gue bilang yang sudah married. Yang single atawe jomblo, ya udah sendirian aja."


"Elu kejem, An."


Maki Shane, lalu kembali ke luar ruangan sang atasan. Mulai melakukan pendataan untuk peserta family day mereka.


Sepeninggal Shane, Andra kembali membuka laptopnya. Ada e-mail dari Jack yang berisi sebuah video tentang Stacey yang tengah beradu mulut dengan sesama tahanan. Tak lama sebuah file dengan warning, "Use your headphone."


Meski begitu, Andra hanya menghilangkan volume-nya, kemudian dia menyentuh icon play.


Andra seketika mengumpat pada Jack. Bagaimana bisa dia mengirimkan video Stacey sedang indehoy dengan seorang pria yang wajahnya terlihat buram.


Meski itu bukti, setidaknya peringatan Jack harusnya 21+, bukan use your headphone.


"Dia minta di potong rambutnya."


Geram Andra. Mengingat rambut Jack memang gondrong. Pria itu selalu mengikatnya. Mengabaikan suara yang menggoda imun Andra. Pria itu mulai mencari tahu soal wajah pria dalam video itu.


"Ketemu!"

__ADS_1


*****


__ADS_2