Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Bocah Kurang Ajar


__ADS_3

Andra masuk tergesa-tergesa ke kantor Jack. Kantor Jack merupakan sebuah ruangan yang penuh dengan layar monitor. Dengan beberapa anak buah yang membantu Jack di sana. Selebihnya adalah anak buah yang bekerja di lapangan. Jack menghandle keamanan keluarga Sky, mulai dari pengamanan dirinya, sang ayah dan ibunya. Sekarang ditambah Rea.


Matt terlalu sibuk dan Karl, sang ajudan tidak mampu menghandle semuanya. Sedang keamanan internal keluarga hanya bisa dilimpahkan pada orang yang benar-benar bisa dipercaya.


"Aku mengotak atik CCTV penjara tempat Janson di hukum. Dan aku menemukan ini."


Andra berkata sebelum Jack sempat bertanya. Pria itu lantas memutar sebuah rekaman CCTV di salah satu monitor milik Jack. Dua pria itu lantas terdiam. Mengamati rekaman itu dengan seksama.


"Siapa dia?"


Gumam Jack. Karena kamera pengawas itu berada di depan Janson, hingga wajah pria yang mengunjungi Jack tidak terlihat. Apalagi pria itu memakai topi dan masker. Dan pria itu sama sekali tidak melepas masker dan topinya.


"Tidak...bukan itu yang menjadi poinnya. Pria itu mengunjungi Janson beberapa kali. Lihat apa yang pria itu tunjukkan pada Janson terakhir kali mereka bertemu."


Andra lantas mempercepat rekaman itu hingga memperlihatkan pria itu menunjukkan sesuatu pada Janson. Keduanya memicingkan mata, melihat gambar yang sudah diperbesar oleh Andra.


Mereka saling pandang penuh arti. Hingga hembusan nafas kasar keluar dari dua pria itu.


"Minta mereka untuk lebih waspada."


Jack mengangguk memahami permintaan Andra. "Kira-kira dia siapa?"


Andra dan Jack pun terhanyut dalam pikiran masing-masing.


*


*


"Kau menemukannya?"


Devi dan Jerry saling bertanya panik. Mereka baru saja bangun dari tidur mereka. Tidak tahu kenapa mereka bisa tertidur ketika sedang mengerjakan tugas mereka. Saling menggelengkan kepala, menjadi jawaban yang mengecewakan untuk mereka berdua.


"Kalian kenapa?"


Tanya Sita yang tiba-tiba muncul dari arah toilet. Sita terlihat heran, melihat wajah panik Devi dan Jerry. Terlihat berlebihan untuk seorang teman.


"Rea...kamu lihat dia. Kami janjian mau pulang bareng. Tapi dia gak ada."


Jerry berusaha menjawab pertanyaan Sita setenang mungkin. Sita menarik sudut bibirnya.


"Bukankah dia tadi bilang mau ke perpustakaan. Katanya mau cari bahan referensi, kalian tidak ingat?"


Jerry dan Devi saling pandang. Lalu keduanya berlalu dari sana. Setelah pamit pada Sita. Sementara itu, Bradley, pria itu sudah lebih dari setengah jam menatap wajah Rea yang tertidur di depannya.


Pria itu sengaja meletakkan aromaterapi dengan campuran obat tidur hingga gadis itu terlelap. Di sini, di ruangannya. Telunjuk Bradley mulai menelusuri lekuk wajah Rea. Mulai dari dahi, turun ke hidung lantas berakhir di bibir pink Rea. Diusapnya pelan bibir Rea. Lantas Brad menghisap telunjuknya itu.


"Manis."


Senyum Brad terukir di bibirnya. Pria itu lantas menyandarkan tubuhnya ke kursinya. Kembali memandang penuh minat ke arah Rea. Dengan dalih akan meminjamkan buku referensi yang Rea perlukan, Brad berhasil membawa Rea ke ruangannya. Dan berakhir dengan Rea yang tertidur di depan Brad.


Sebuah kecupan, Brad berikan di puncak kepala Rea, tepat ketika Brad menjauh dari Rea, pintu ruangannya dibuka tanpa ketukan.


Brad tentu terkejut, melihat siapa yang menerobos masuk ke ruangannya tanpa izin. Mengganggu kesenangannya saja. Dia masih ingin bersama Rea. Meski beberapa pesan masuk ke ponselnya, memperingatkan dirinya kalau Devi dan Jerry mulai mencari Rea.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Seharusnya saya yang bertanya. Apa yang Anda lakukan padanya?"


"Dia tertidur, kelihatannya sangat lelah. Jadi aku biarkan saja."

__ADS_1


"Bohong!"


Brad tersenyum sinis. Tidak menyangka kalau tamu tidak diundangnya ternyata berani padanya.


"Lalu apa maumu?" Tantang Brad.


"Dia harus pulang."


Pemuda itu menggendong Rea, lantas membawanya keluar dari ruangan Brad. Sedang Brad hanya menyeringai melihat ulah pemuda tanggung itu.


"Kau mulai berani berulah Kenzo Alexander."


*


*


Jerry dan Devi jelas terkejut melihat Rea dalam gendongan seorang pemuda yang tidak mereka kenal. Jerry mencegat Ken.


"Apa yang kau lakukan pada teman kami?"


Salak Jerry. "Jadi kalian teman Rea. Kalau kalian memang temannya, seharusnya kalian mencegah dia tidur di ruangan Bradley Scott." Balas Ken sengit. Ken marah, sebab dia sudah tahu reputasi Brad yang seorang penjahat wanita.


Tanpa menunggu reaksi Jerry dan Devi. Ken berlalu melewati kedua teman Rea itu.


"Hei kau mau membawanya ke mana?"


"Aku akan mengantarnya pulang."


"Tunggu dulu! Haruskah kami percaya padamu?"


Jerry mencegat Ken di depan mobilnya. Ken tidak menggubris ucapan Jerry. Setelah menempatkan Rea di kursi penumpang dan memakaikan sabuk pengaman Rea. Ken berbalik menghadapi Jerry.


Mobil Ken melaju meninggalkan parkiran kampus diikuti mobil Jerry dan Devi serta tatapan penuh rasa penasaran seorang wanita.


*


*


"Sainganmu sepertinya bertambah banyak."


Brad mendengus geram mendengar ucapan wanita itu.


"Sepertinya aku tidak menyelidiki lebih dulu tentang siapa yang kubantu masuk ke sini."


Perkataan Brad membuat lawan bicaranya mengerutkan dahinya.


"Kau membantunya masuk ke sini?"


"Dia Kenzo Alexander, putra Sammy Pratama. Salah satu sponsor untuk kampus jika kami mengadakan acara di luar program pembelajaran kampus."


Wanita itu terkekeh mendengar nada bicara Bradd yang terdengar penuh penyesalan.


"Kau kalah dengan kekuasaan sekarang."


"Diam kau!"


Desis Brad penuh penekanan. Dia tidak menyangka kalau Ken berani masuk ke ruangannya tanpa izin. Dan membawa Rea pergi.


"Tidak masalah untuk hari ini. Lain kali kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi, Rea."

__ADS_1


Jerry dan Devi cukup terkejut ketika tahu, Ken mengetahui arah rumah Rea. Sedang di dalam mobil Ken, Rea mulai membuka matanya. Gadis itu membulatkan matanya melihat Ken yang berada di sampingnya.


"Lu udah bangun?"


"Kenapa kamu di sini?"


"Lebih berhati-hati saat bersama Bradley Scott. Apa lu tahu, elu tidur di kantor dia. Dia itu suka mengincar mahasiswa baru."


Rea membelalakkan matanya mendengar ucapàn Ken. Dia tidak percaya, kalau dosen yang digilai banyak siswi itu punya reputasi yang buruk.


"Lalu kenapa aku berada di sini?"


"Jika gue gak bawa elu dari sana. Entah apa yang akan dia lakukan padamu. Dia bahaya, Re."


Rea melipat tangannya. Melihat ketus pada Ken.


"Kalian semua sama bahayanya."


Ken mendelik mendengar ucapan sadis Rea. "Re, kenapa lu nuduh gue begitu."


"Alah semua pria sama saja."


"Termasuk tunanganmu?"


Giliran Rea yang langsung menunjukkan wajah protesnya. Ken dengan cepat menyahut ucapan Rea. Mereka masih lanjut berdebat bahkan ketika mobil Ken masuk ke rumah besar Rea. Di mana Andra dan Alex sudah menunggu. Plus Nicky dan Gina.


Rea membanting pintu mobil Ken, mengabaikan ucapan Ken.


"Kau tidak apa-apa, Re?"


Andra memeluk Rea yang balas memeluk Andra. Gadis itu menggeleng pelan dalam pelukan Andra. Setengah jam menghilang cukup membuat Andra dan yang lainnya cemas.


"Aku ketiduran saat membaca referensi di ruangan Bradley Scott, dosen mata kuliah perpajakan."


Jawab Rea. Tapi ekor mata Andra menangkap Ken yang menggelengkan kepalanya.


"Suruh dia lebih berhati-hati saat berada di dekat Bradley Scott. Gue pikir Rea tidak hanya tertidur. Dia sama sekali tidak bangun waktu gue gendong dia keluar dari ruangan dosen itu."


Andra menatap tajam pada Ken, mendengar pemuda tanggung itu menggendong Rea.


"Kau menggendongnya?


"Memangnya gue harus gimana lagi, Om."


Andra naik pitam mendengar Ken memanggilnya Om.


"Dasar bocah kurang ajar."


****



Kredit Pinterest.com


Ken, bocah kurang ajar...


Jangan lupa ritual jempolnya...


****

__ADS_1


__ADS_2