
Di sebuah taman kanak-kanak, di sebuah desa. Tampak Rea yang tengah mengajar di sana. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir gadis itu. Selama enam bulan, Rea menenangkan diri atau lebih tepatnya kabur dari Andra. Bersusah payah membujuk sang papa, akhirnya pria itu mengizinkan sang putri menyepi ke tempat ini. Dengan syarat sebulan sekali Rea harus pulang.
Gadis itu setuju, berbekal info dari bu Rani, ibu panti tempat Rea tinggal dulu. Gadis itu bisa mengajar di sebuah TK, impian gadis itu sebelum bercita-cita menjadi seorang akuntan.
Anak-anak itu terlihat antusias saat diajak menyanyi bersama. Menyanyi sambil bertepuk tangan. Sungguh menyenangkan bisa melihat wajah berbinar polos milik anak-anak tersebut.
Pukul sepuluh, anak-anak itu sudah dijemput oleh orang tua masing-masing. Mereka melambaikan tangan pada Rea dan dua orang guru lainnya, setelah mencium punggung tangan wanita itu.
"Mbak Rea jadi pulang?"
Seorang wanita berhijab yang biasa dipanggil bu Yani bertanya pada Rea. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu, tiap akhir pekan, awal bulan, Rea akan pulang ke ibukota.
"Jadi dong Mbak. Kalo gak pulang bisa ngamuk babe."
Rea memang tidak mengungkap siapa dirinya yang sebenar. Dia hanya mengatakan "babenya" menyuruhnya pulang setiap bulan.
"Sayang amat sama mbak Rea."
"Ya jelas sayang dong bu Yani. Orang cakepnya kebangetan gitu. Gak percaya deh kalau mbak Rea belum punya pacar."
"Memang belum. Masih jomblo."
Rea terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Jomblo? Secara fisik, sosok itu memang tidak ada di sampingnya. Tapi kenyataannya, seberapa jauh dia lari menghindar, bayangannya justru semakin lekat dalam benak Rea.
Rea hanya membawa sling bagnya saat menaiki kereta pulang ke ibukota. Dalam tiap kesempatan pulang, gadis itu tidak ingin dijemput. Dia akan menggunakan taksi untuk mengantarnya ke kediaman Aherne. Rea benar-benar menyembunyikan dirinya dengan baik enam bulan ini. Selalu bepergian dengan kendaraan umum. Tidak pernah menggunakan kartu saktinya sama sekali.
Tiap pulang, gadis itu sudah disediakan cash oleh Nicky. Tapi sepertinya, acara petak umpet Rea tidak akan bertahan lama. Sebab dua bulan terakhir, Jack mendapat laporan kalau setiap awal bulan, akan ada taksi yang masuk ke kediaman Aherne. Setelah tiga hari, akan ada yang menjemput lagi. Jack mulai curiga. Karena itu, sejak kemarin, pria itu sudah stand by di dekat rumah Matt Aherne.
Ternyata dugaan Jack benar, setelah dua hari zonk. Hari ini dia melihat taksi masuk ke kediaman Aherne. Begitu taksi itu berhenti, terdengar jelas suara Kai, putra Gina memanggil Aunty. Tidak salah lagi, itu pasti Rea. Sekarang tugas Jack tinggal menunggu tiga hari lagi, dan dia akan menemukan ke mana pawang sang tuan bersembunyi.
__ADS_1
Jack belum berani memberitahu Andra. Dia akan menunggu sampai semua jelas baru dia akan memberitahu atasannya. Hari kedua Jack memata-matai Rea. Gadis itu sama sekali tidak keluar dari rumahnya. Dia hanya berada di rumah, bermain bersama Kai. Tidak ada hal lain yang Rea lakukan. Hingga menjelang makan siang, sebuah mobil masuk ke kediaman Rea.
Jack langsung mengenali mobil itu sebagai mobil Bradley Scott, begitu Jack melacak nomor platnya. Kesal, Jack memukul kemudinya. Hampir dua jam, Brad berada di rumah itu. Selama itu suara Kai berceloteh dan tertawa tidak berhenti terdengar. Apalagi bocah itu kerap menyebut Aunty dan om Brad. Itu berarti kalau Rea dan Brad berada ruang tengah bukan berada di kamar gadis itu.
Mobil Brad berlalu pergi, dengan Rea yang mengantar sampai pintu. Sekilas Jack bisa melihat kalau gadis incaran Andra itu terlihat semakin cantik. Jack mengulum senyumnya melihat Rea memakai pakaian tertutup saat bertemu Bradley.
Hari terakhir, Jack sudah stand by di sana sejak pagi. Dia tidak tahu kapan Rea akan berangkat. Pria itu sempat putus asa, kalau Rea berangkat malam, alhasil dia masih seharian nongki di sana. Tapi dugaannya salah, sekitar jam sepuluh sebuah taksi masuk, tak lama Rea masuk ke dalamnya setelah memeluk sang ayah. Rea tahu, sang ayah ingin dia pulang. Bahkan pria itu siap membangun sebuah taman kanak-kanak dan paud jika Rea mau pulang.
Rea menghela nafasnya mendengar permintaan sang papa. Juga obrolannya dengan Gina dan Nicky. "Andra berubah mengerikan sejak hari itu."
Kata Nicky, Andra kembali menjadi sosok yang sama seperti saat belum bertemu dengannya. Kata Gina malah lebih parah. Andra menjadi pribadi yang kasar bahkan pada perempuan.
"Re, jika dia terus begini maka kepribadiannya yang lain akan menguasainya. Ini buruk. Selama ini emosinya stabil karena kamu mampu mengendalikan emosinya."
Rea kembali menarik nafasnya. Dia baru tahu kalau Andra punya dua kepribadian. Kepribadian yang lain muncul karena rasa kecewanya pada mantan kekasihnya yang dulu. Kepribadian itu mulai memudar saat Andra melihat dirinya yang berbeda. Bertemu dengan Rea adalah anugerah untuk Andra. Karena itu sampai kapanpun pria itu tidak akan melepaskan Rea.
Taksi Rea masuk ke stasiun kereta api. Jack dengan cepat menghubungi anak buahnya yang berada di titik terdekat dengan stasiun itu. Tak berapa lama, sebuah laporan masuk ke ponsel Jack. "We'll start to hunting."
*
*
Andra melonggarkan dasi yang terasa mencekik sedari tadi. Hampir pukul delapan malam dan dia masih disibukkan dengan berkas yang masih bertaburan di atas meja. Alex malah sudah melempar dasi dan jasnya ke sembarang arah. Pria itu tengah memegang Ipad di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mulai meraih berkas di atas meja.
"Perasaan kita udah nglembur tiap hari, tapi kerjaan gak berkurang."
Andra melirik judes ke arah Alex. Apa dia pikir hanya dirinya saja yang seperti itu. Dia apalagi, kepala rasanya sudah mau pecah. Ditambah tiap bertemu sang papa, hanya nama Rea yang Daniar tanyakan. Sudah ketemu apa belum.
Dua pria itu menghembuskan nafas kasar bersamaan. Keduanya kembali tenggelam dalam kesibukan mereka untuk beberapa waktu. Hingga terdengar suara pintu dibuka. Andra dan Alex sontak menoleh ke pintu.
__ADS_1
"Apa aku mengganggu?"
Jack bertanya, meski Andra dan Alex tahu kalau itu hanya basa basi. Pria dengan rambut dikuncir tersebut duduk di kursi depan Andra.
"Singkirkan pekerjaanmu dulu. Yang ini lebih penting."
Jack menyerahkan sebuah amplop tebal pada Andra. Karena kepo, Alex ikut mendekat. Kedua pria itu akhirnya memilih mengabaikan pekerjaan mereka. Andra sejenak menatap tajam pada Jack. Jack menautkan alisnya, menyuruh Andra membuka amplop itu.
Tangan Andra gemetar, jantung pria itu berdebar kencang saat dia menatap lembar pertama dari foto yang dibawa Jack. Mata pria itu berkaca-kaca. Dia yang enam bulan ini dia rindukan, sudah ketemu. Andra mengangkat wajahnya. Memandang Jack untuk meminta kepastian kalau yang dia lihat adalah benar dia.
"Ya itu memang dia. Aku bahkan sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dia pulang ke kediaman Aherne sebulan sekali."
Alex pun ikut melihat gambar Rea. Pria itupun terkejut. Melihat Rea yang bertambah cantik di matanya.
"Di mana dia sekarang?"
Jack mengulurkan ponselnya. Lalu menunjukkan sharelock yang dikirim anak buahnya.
"Let's make surprise for her. Mari buat kejutan untuknya."
Kata Andra sembari tersenyum licik.
"Berani sekali kau lari dariku. Berani sekali kau bersembunyi dariku. Lihatlah Andrea Kirana Aherne, apa yang bisa kulakukan untuk menjeratmu kali ini."
Batin Andra, kali ini dia tidak segan untuk memaksa. Tidak peduli Rea menurut atau tidak. Dia akan membawa gadis itu pulang. Andra tidak akan memberi kesempatan Rea untuk bisa kabur lagi darinya.
***
Ritual jempolnya jangan lupa..
__ADS_1
Like, komen dan vote, ditunggu ya....