Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Dasar Akuntan Mesum!


__ADS_3

"Rea.....tunggu. Re.......!" Andra meraih tangan Rea ketika mereka sampai di pintu. Tapi gadis itu menepis kasar tangan Andra. Rea setengah mengangkat gaunnya, berlari menuruni tangga. Namun Andra dengan cepat menyusulnya. Meraih tangan Rea kembali lantas menariknya. Hingga tubuh gadis itu berbalik ke arah Andra.


Dalam kesempatan itu, satu tangan Andra meraih pinggang Rea, satu tangan lagi berada di tengkuk Rea. Dalam hitungan detik, Andra menyatukan bibir mereka. Menautkan bibirnya ke bibir Rea dengan sempurna.


Rea jelas shock dengan apa yang Andra lakukan. Mata gadis itu membulat kala Andra mulai menggerakkan bibirnya. Memagutnya lembut dan dalam. Untuk beberapa saat, gadis itu masih tidak sadar dengan apa yang Andra lakukan.


Hingga Rea mendorong jauh tubuh Andra kala gadis itu mendapatkan kesadarannya kembali. Seulas senyum terbit di bibir Andra. "Apa yang Kakak lakukan?!" protes Rea. Posisi mereka masih sama. Sebab Andra tidak melepaskan pinggang Rea, mengingat mereka ada di tengah tangga.


"Menciummu, apalagi. Kamu kan tunanganku, wajar dong jika aku menciummu," jawab Andra santai. Pria itu sangat menyukai ekspresi kesal Rea.


"Siapa yang bilang aku mau tunangan sama Kakak? Aku gak mau! Kalian semua bohong padaku. Aku gak suka!" tegas Rea.


Mendengar hal itu, Andra malah merapatkan tubuh Rea ke tubuhnya. Hingga gadis itu gelagapan di buatnya. Tangan Rea menahan dada Rea agar tidak menempel pada miliknya. "Duhhh serangan jantung beneran dah gue," gerutu Rea melihat wajah Andra dari jarak yang sangat dekat.


"Suka atau tidak suka, kita sudah bertunangan. Dan setelah kamu lulus kuliah kita akan menikah. Jangan berpikir aku akan melepaskanmu setelah ini," desis Andra penuh penekanan. Kali ini Rea kembali shock kala Andra mengungkapkan kalau mereka akan menikah setelah dia lulus kuliah.


"Aku tidak pernah menyetujui itu. Kenapa Kakak memaksaku?"


"Kau ini tipe keras kepala. Gengsian. Kalau gak dipaksa gak bakal jalan."


"Nggak! Nggak! Aku gak mau jadi mainan Kakak! Cari perempuan lain kalau Kakak mau main-main....."


"Rea....aku tidak pernah seserius ini untuk urusan beginian. Aku baru sadar, kalau jatuh cinta padamu akhir-akhir ini."


Deg...deg.....deg.....Jantung Rea berpacu seperti orang yang sedang maraton. Dia tidak salah dengar kan? Andra bilang jatuh cinta padanya. Demi apapun, Rea tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

__ADS_1


"Maaf jika aku sering kasar padamu. Maaf jika aku sering membullimu. Asal kamu tahu, itu hanyalah caraku untuk mencoba menahanmu masuk ke hatiku. Tapi nyatanya aku gagal. Saat aku melihatmu di sana....saat aku melihat Mark melakukan apapun untuk menyelamatkanmu. Aku sadar, aku tidak bisa kehilanganmu. Aku tidak mau melihatmu pergi dari sisiku."


Andra menatap lekat manik mata Rea. Pria itu melihat bagaimana terkejutnya Rea mendengar pengakuannya.


"Apalagi saat tahu kalau kau juga menyukaiku." Kali ini Rea yang protes. "Mana ada aku menyukai Kakak."


" Aku tahu pasti yang kau rasakan padaku. Jadi proteslah, sebab yang kau lakukan tidak ada gunanya. Kita bertunangan. Dan jangan berpikir aku akan melepaskanmu." Andra menegaskan kembali ucapannya.


"Aku tidak menyukai Kakak. Aku tidak mau menerima pertunangan ini."


"Mau aku hubungi Nana? Agar dia mau cerita bagaimana kamu menyukaiku sejak lama."


Mata cantik Rea membulat sempurna mendengar nama sang sahabat disebut. Jika Andra sudah menghubungi Nana, habislah semua rahasianya. Mengingat betapa embernya mulut Nana kalau sudah berhadapan dengan pria tampan. Apalagi pria itu model Andra, yang manipulatif. Pandai menjebak orang dengan kata-katanya. "Mati aku kalau Nana sudah bicara."


Andra jelas merasa menang, melihat wajah kalah telak Rea. "Eehhh....." Rea terperangah kala Andra semakin mengeratkan pelukannya pada pinggangnya. "Jadi jangan mengelak lagi, sebab itu tidak ada gunanya."


"Gila! Bibirmu bikin nagih, Re," batin Andra.


"Aku mencintaimu Andrea Kirana Aherne," bisik Andra ketika pria itu mengurai ciumannya, saat Rea mencubit dada Andra. Gadis itu mulai kehabisan oksigen.


*******


Mata Rea mengerjap perlahan, sinar matahari yang masuk ke kamarnya, terasa mengganggunya. "Eennģhh," gadis itu menggeliat. Mengubah posisi tidurnya. Tidak tahu kenapa tidurnya begitu nyaman kali ini. Gadis itu kembali melanjutkan tidurnya. Tanpa tahu, tubuhnya berada dalam pelukan Andra.


Pria itu hanya tersenyum, mendapati Rea yang memeluk tubuhnya. Menjadikan lengannya sebagai bantal. Andra sesaat menatap wajah Rea yang terlihat damai dalam tidurnya. Sebuah ciuman melandas di bibir gadis itu. Satu hal yang kini sangat disukai Andra. Selanjutnya pria itu ikut memejamkan matanya kembali. Menaikkan selimut Rea, menutupi punggung gadis itu.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian, Rea merasakan ada yang aneh dengan gulingnya. Gulingnya biasanya sangat lembut, kenapa yang sekarang berbeda. Terasa keras dan liat, tapi hangat. Juga sebuah aroma yang tiba-tiba masuk ke indera penciumannya. "Ini adalah parfum Kak Andra."


Gadis itu segera membuka matanya. Dan sebuah pemandangan langsung membuat ludah Rea tercekat. Saat ini Rea berada dalam pelukan Andra. Dengan dirinya yang tidur di atas dada Andra yang setengah terbuka. "OMO!" Rea ingin berteriak tapi suaranya tertahan melihat bagaimana tampannya Andra kala itu.


"Mati aku! Mati aku!" Jantung Rea kembali berpacu seperti maraton sepuluh km. "Gila! Gimana gue mau menyangkal gak suka kalau ni cowok gantengnya spek dewa begini." Rea seketika menggigit bibir bawahnya, teringat bagaimana Andra mengambil ciuman pertamanya dan pernyataan cinta pria itu.


"Ini semua pasti mimpi!" Rea berperang melawan batinnya sendiri. Hingga pelukan Andra yang semakin menguat, menegaskan kalau ini bukan mimpi. Jadi ini nyata? Real? Bukan mimpi? Apalagi saat melihat cincin yang dia pakai dijari manisnya.


Ehhh tunggu, kenapa dia ada di sini? Kenapa dia dan Andra tidur bareng. Semalam tidak terjadi apa-apa kan? Gadis itu melirik pakaiannya, juga pakaian Andra. Masih utuh, bahkan Andra masih terlihat memakai gaspernya. Pria itu hanya melepas jasnya.


"Kak......" Rea memberanikan diri bersuara. Tidak ada jawaban. Dia harus segera keluar dari situasi yang bisa membunuhnya ini.


"Kak Andra bangun! Kenapa Rea bisa ada di sini!" teriak Rea pada akhirnya. Gadis itu pegal plus deg-degan. "Apa sih Re?" tanya Andra santai dengan suara seraknya.


"Kak lepas! Lepas!" Rea berontak. Kala Andra menarik tubuhnya untuk berada di atas tubuhnya. "Morning, Baby," kata pria itu.


Dan sebuah kecupan, langsung mendarat di bibir Rea. Seiring mata pria itu yang terbuka. Plus senyum bak malaikat yang terukir di wajah Andra.


"OMG, Nana tolong bangunin gue. Bilangin gue kalau ini semua unreal. Gak nyata!" teriak Rea dalam hati.


Sesaat dua mata itu saling memandang. Hingga detik berikutnya, Andra membalik posisinya. Membuat Rea berada di bawah tubuh Andra.


"Ngapain?" tanya Rea galak.


"Morning kiss," mata Rea membulat ketika Andra mencium dirinya tiba-tiba. Belum 24 jam bertunangan dan Andra sudah menciumnya berkali-kali.

__ADS_1


"Dasar akuntan mesum!" Teriak Rea mendorong jauh tubuh besar Andra. Sementara pria itu hanya terkekeh mendengar protes sang tunangan.


*****


__ADS_2