
Di ibukota, Andra mulai disibukkan dengan pekerjaannya. Beberapa waktu berlalu, setelah sempat mengalami surut klien, bahkan hampir tidak punya klien. Kantor Andra mulai kedatangan job lagi. Ini tidak lepas dari peran Daniar yang memberikan instruksi untuk menggunakan kantor Andra sebagai pilihan auditor ya.
"Ini kalau publik tahu, kantor itu punyamu kamu akan dihujat sama netijen di luar sana. Konspirasi lah, nepotisme lah dan lah...lah....yang lain. Pokoknya kong kali kong gitulah."
Cerocos Shane nonstop. Andra menulikan telinganya jika Shane sudah mulai mengomel. Dia tahu benar maksud sang ayah melakukan ini. Selain untuk mendongkrak popularitas kantornya. Daniar ingin Andra mulai mengenal seluk beluk kantornya. Aliran dananya, dan yang jelas ayahnya ingin dirinya memindai, musuh yang mungkin ada dalam lingkup kantornya kelak. Hingga Andra mampu menyiapkan diri untuk menghadapinya.
"Sepertinya waktuku makin dekat kembali ke tempat asalku."
Batin Andra, menatap kantor yang tengah dia tempati. Pada akhirnya, Andra hanya bisa menarik nafasnya dalam. Bagaimanapun kantor papanya adalah tanggungjawabnya. Mau tidak mau dia harus kembali ke sana. Cepat atau lambat.
"Ada berita kurang baik."
Jack menghubungi Andra suatu hari. Pria berambut panjang itu menginfokan kalau Stacey berhasil bebas bersyarat dengan jaminan. Ada seseorang yang bersedia membayar jaminan untuk Stacey. Tapi Jack belum tahu siapa orangnya.
Andea menarik nafasnya pelan. Kenapa perasaannya jadi tidak enak begini sih. Dia pikir akan banyak masalah yang akan terjadi ke depannya.
"Ke mana dia pergi?"
"Kembali ke kota asalnya."
Mendengar jawaban Jack, Andra pikir semua masalah selesai. Wanita itu tidak akan mengganggu kantornya lagi. Padahal kenyataannya, wanita bernama Stacey Orico itu kini sedang menikmati sesi panas dengan pria yang selalu menemui Janson Scot.
"Faster, baby."
Suara itu terdengar dari bibir Stacey ketika keduanya hampir mencapai puncak masing-masing. Tak berapa lama, tubuh keduanya tumbang dengan tubuh bermandikan peluh.
Pakaian keduanya masih utuh, hanya terbuka di beberapa tempat saja. Maklum, mereka masih berada di ruang dosen pria itu. Menyamar sebagai mahasiswa baru, Stacey berhasil masuk ke kampus itu. Tampilan Stacey memang seperti anak muda. Stylist dan modis. Hingga tidak ada yang menyangka kalau dia sudah berumur 25 tahun.
"Jadi kenapa kau memintaku keluar? Apa kau rindu pada service-ku?"
Tanya Stacey menggoda. Sementara pria di hadapannya tersenyum meremehkan. Rindu? Pria itu bahkan bisa menikmati perawan tiap hari kalau dia mau. Dengan satu kedipan mata dari pria itu, bisa dipastikan kebanyakan mahasiswi yang masih polos, yang berasal dari luar kota akan langsung berakhir di tangannya.
Tanpa protes, tanpa banyak kata. Rupanya selain kepribadian ganda, pria itu bisa disebut penjahat wanita juga. Terhitung berapa banyak mahasiswi yang menghabiskan malam dengannya. Benar-benar dosen brengsek. Tapi karena mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, jadi tidak ada yang berani buka suara. Atau pria itu bisa membuat mereka tidak lulus dalam ujian selanjutnya.
"Aku ingin kau melakukan misi penting untukku."
Mata Stacey membulat. Misi? Misi yang bagaimana? Terakhir kali misi yang pria itu berikan, membuat dirinya berakhir di penjara. Meski, pria itu juga yang membebaskannya.
"Misi apa?" tanya Stacey turun dari pangkuan pria itu. Sementara yang ditanya malah melamun. Bayangan Rea semakin nyata di pelupuk matanya.
__ADS_1
*
*
Kredit Pinterest.com
Beberapa hari menjelang kelulusan.
Ken mengerutkan dahinya, melihat Rea yang berjalan diapit dua teman genk Clara. Pemuda itu sebenarnya tidak tahu itu teman Clara. Hanya sedikit curiga saja dengan gerak-gerik mereka.
Sementara itu, Rea didorong masuk ke sebuah ruangan, yang dia tahu milik anak-anak dari bagian broadcasting atau penyiaran. Begitu masuk, Rea langsung dipaksa duduk. Gadis itu tentu bingung, terlebih ada satu kamera di sana.
"Mau apa kalian?"
Rea bertanya, ada sedikit kepanikan yang tersirat dalam suara Rea. Situasi ini mengingatkan dirinya saat disekap oleh Janson Scott.
"Mau apa? Tentu saja mau buat perhitungan sama elu!" Suara Clara terdengar emosi.
Gadis itu mendekati Rea. Tanpa ampun langsung menjambak rambut panjang Rea. Rea hanya meringis pelan, enggan menunjukkan rasa sakitnya. Mata Rea menatap Clara dengan pandangan menantang.
"Apa maksudmu?"
"Elu sudah berani ngancam gue, elu sudah buat tangan gue sakit. Jadi gue bakal membalasnya hari ini."
"Jangan menyentuhku atau aku akan teriak!"
Rea mencoba mengancam. Tapi Clara dan teman-temannya malah tertawa terbahak. "Elu gak tahu ini di mana? Ini ruang penyiaran, semua kedap suara dan kacanya tidak tembus pandang dari luar." Kata Clara semakin kuat menarik rambut Rea. Dua teman Clara memegangi tangan Rea hingga gadis itu tidak bisa berontak.
"Teriak saja kalau lu mau!"
"Kita lakukan aja sekarang. Gue penasaran sama bodynya sugar baby tu kayak apa?"
Satu suara membuat Rea mengangkat paksa wajahnya.
"Nita?"
Kenapa mantan Ken juga ada di sini. Ah sial, kenapa dia jadi terjebak di sini, dengan orang-orang menyebalkan dan mantan pemuda yang sudah dia tolak berkali-kali.
__ADS_1
"Lakukan aja sekarang!"
Rea membulatkan matanya, melihat seorang teman Clara membawa gunting, mendekat ke arahnya. Sedang yang lain menghidupkan kamera.
"Kalian mau apa?"
Rea mulai panik. Nafasnya mulai tersengal. Tidak, bahaya jika asmanya sampai kambuh.
"Sudah gue bilang, gue mau lihat body sugar baby yang sudah muasin banyak pria termasuk pacar gue!"
Teriak Nita kesal. Gadis itu benar-benar belum terima diputuskan oleh Ken. Rea tentu takut mendengar ucapan Nita. Terlebih satu teman Clara sudah membuang blazernya. Dan orang itu mulai menggunting kemejanya. Tepat di bagian bahunya. Rea berontak sekuat tenaga, dia ingin lari dari tempat ini.
Apalagi di depan sana, kamera mulai merekam bagaimana bahu mulusnya yang mulai terekspose.
"Elu seksi juga ya. Pantas banyak yang doyan!"
Clara berbisik di telinga Rea. Nafas Rea semakin sesak. Dia semakin susah bergerak. Empat orang kini memegangi tubuh Rea. Satu orang mulai menggunting kemeja sebelahnya lagi.
"Ahh, tidak! Aku tidak mau kalah begitu saja!"
Dua bahu Rea kini terekspose, Nita dan Clara jelas saling pandang, melihat bagaimana mulusnya tubuh bagian atas Rea.
"Seksi abis. Pantas Ken nguber dia terus."
Nita mendengus mendengar komporan Clara. Dua gadis itu kemudian terkejut ketika terdengar satu jeritan dari hadapan mereka.
Rea berhasil melepaskan diri dari cekalan keempat temannya. Gadis itu kini berdiri dengan gunting yang berada di tangannya. Tatapan matanya penuh amarah dan emosi.
"Gue muak dengan kalian semua!"
Maki Rea, meski dadanya benar-benar sesak. Tubuh Rea hanya terbalut tank top berwarna nude hingga sekilas tubuhnya seperti tidak berpakaian.
"Kau tidak akan menang melawan kami!"
Rea tertawa mengejek. Wajahnya sembab, rambut berantakan, bahkan di beberapa tempat sudah dipotong Clara sembarangan.
Dari semua waktu yang sudah Rea lalui, mungkin ini adalah puncak dari semua rasa yang Rea pendam selama ini. Mungkin ini adalah hal yang sudah lama ingin Rea lakukan. Tapi gadis itu menahan diri. Namun tidak hari ini, mereka sudah melecehkan dirinya, dan Rea tidak terima.
****
__ADS_1