Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Bertemu Nana


__ADS_3

Tatapan mata Mark benar-benar membuat Rea tidak berkutik. Rea seolah tidak bisa membalas setiap gerutuan yang keluar dari bibir tebal sang kakak. Iya, ini semua salahnya. Tidak berhati-hati. Padahal Mark sudah memperingatkannya.


"Sudah dibilangin suruh duduk diam di rumah saja. Masih juga ngeyel."


Pria yang otewe lempeng itu kembali menggumamkan kalimat yang sama. Memarahi Rea karena kecerobohannya membuat terkilirnya semakin parah. Kini kakinya harus dipasangi alat untuk menjaga kakinya agar tetap lurus. Juga lilitan perban yang lumayan banyak. Kaki Rea jadi dua kali lebih besar dari ukuran sebenarnya.


Rea sendiri menatap horor pada bentuk kakinya sekarang. Menggembung besar di bagian pergelangannya. "Kenapa jadi begini. Ini semua gara-gara si dosen brengsek itu!"


Rea menggerutu dalam hati. Gara-gara Brad dia harus memakai kruk untuk tiga hari ke depan. Juga dia terpaksa kuliah dari rumah.


Satu hari di rumah rasanya sangat membosankan. Gadis itu turun ke lantai bawah ketika dia merasa bosan di kamarnya. Dia baru saja menghubungi Andra, bicara sebentar. Dia terpaksa memutuskan panggilannya ketika Andra pamit ingin bertemu klien.


Rea menghembuskan nafasnya kasar, begitu dia sampai di tangga terakhir. Bersamaan dengan seorang ART-nya yang memberitahu kalau ada yang datang menjenguk. Tanpa menaruh curiga, dia mengiyakan saja ketika si ART memberitahu kalau tamunya sudah ada di ruang tamu.


Ketika Rea sampai di ruang tamu. Dilihatnya seorang pria tengah memandang foto keluarga Rea. Sebuah foto besar memang terpampang di sana.


"Aku baru tahu kalau kamu sangat cantik saat berdandan."


"Astaga, dia lagi."


Rea langsung manyun mengetahui siapa yang mengunjunginya. Si dosen brengsek.


"Ngapain Bapak ke sini?"


Brad hanya tersenyum melihat Rea yang tetap saja galak padanya. Meski senyum itu juga mengandung arti lain. Brad cukup tergoda dengan paha mulus Rea yang hanya terbalut hot pants hitam. Untungnya kaos Rea besar hingga lekuk pahanya tidak terlalu kentara.


"Jenguk kamulah." Jawab Brad santai.


Tanpa diminta, pria itu mendudukkan diri di sofa. Sebuah parcel besar berada di atas meja. Rea mendelik mendengar jawaban Brad. Tidak kapok juga ni orang. Kalau dulu dia kesal dengan Ken, sekarang jengkelnya dua kali lipat saat menghadapi Brad.


"Mending Bapak pulang aja sana. Saya enek lihat Bapak."


"Tapi aku suka lihat kamu."


"Aje gile ni satu orang."


Rea mengumpat. Bisa-bisanya Brad begitu santai saat dia diusir Rea.


"Beri aku lima belas menit. Setelah itu aku akan pergi."


"Tapi jangan ajakin saya ngobrol. Saya gak mood bicara sama Bapak."


"Tidak masalah."


"Kamu diam saja aku sudah senang. Asal bisa melihat wajahmu."


Dan benar saja, setelah lima belas menatap Rea tanpa bicara. Pria itu pamit pulang. Dengan gaya pamit yang membuat hati Rea dongkol.

__ADS_1


"Seperti permintaanmu. Aku tidak akan mengembalikan ponselmu. Aku yakin papamu sudan membelikan yang baru. Aku hanya akan mengembalikan ini."


Brad menunduk meletakkan sebuah dompet berisi kartu identitas Rea dan juga kartu sakti serta dokumen penting lainnya.


"Cepatlah sembuh. Aku rindu melihatmu berada di kelasku."


Rea melongo mendengar ucapan Brad, terlebih ketika Brad mencium puncak kepala Rea. Rea benar-benar ingin memaki pria itu. Dia sudah bersusah payah membujuk Andra agar tidak menghajar Brad. Eh, pria itu malah semakin membuat masalah.


"Benar-benar dosen brengsek!"


*


*


Satu minggu berlalu, kaki Rea sudah sembuh. Meski Mark terus memperingatkan dirinya untuk berhati-hati. Selama kakinya pincang, banyak temannya yang memberi perhatian. Lebih-lebih Ken. Pemuda tanggung itu sungguh peduli padanya. Meski pada akhirnya, membuat Andra dan Ken bersitegang hampir berkelahi.


Andra yang emosian dan Ken yang slengekan. Yang satu berapi-api, yang satu santai setengah mati. Rea harus ekstra menghadapi dua orang itu. Pada akhirnya Andra yang mengalah, menjauh dari Ken agar emosinya tidak meledak lagi.


Weekend tiba, Rea sedang me time dengan nongkrong di salah satu kafe yang terlihat nyaman. Tidak terlalu ramai membuat Rea betah duduk di sana. Gadis itu duduk di dekat jendela. Sendiri, tapi Rea sangat menikmati.



Kredit Pinterest.com


Beberapa kali menarik nafasnya, Rea merasa sangat rilek dan santai. Tidak ada Ken, tidak si dosen brengsek yang menatapnya tajam. Hari yang sempurna. Gadis itu beberapa kali mengulum senyumnya, sembari berchatting ria dengan Nana.


"Seneng ya bisa nongki tanpa gangguan."


Satu emoticon nyengir, Rea kirim sebagai balasan chat Nana.


"Btw, aku juga lagi nongki ni."


"Di mana?"


"Kayak elu tahu aja, gue nongki di mana."


Keduanya terus bertukar pesan, tanpa sadar kalau keduanya dekat. Nana ada disudut kafe, sedang Rea di dekat jendela. Sampai satu teriakan pengunjung yang terpeleset membuat semua orang berdiri, saat itulah Nana dan Rea saling bertemu pandang.


Nana langsung menjerit histeris melihat Rea. Pun dengan Rea yang langsung melebarkan senyumnya. Keduanya berpelukan sangat erat. Meluapkan rindu yang lama terpendam. Keduanya tidak menyangka kalau bisa bertemu di tempat ini.


"Anjiirr, gue baru mau ke rumah elu. Ehh, sudah ketemu lu duluan di mari."


Nana berucap antusias, melihat wajah Rea dengan mata berbinar bahagia. Dia bisa bersama lagi dengan sahabatnya.


"Terus gimana ceritanya kamu bisa pulang ke sini. Eyangmu apa kabar?"


Detik berikutnya, Nana bercerita antusias. Kalau pada akhirnya Eyangnya mau pindah ke sini. Melepaskan sapi dan sawahnya.

__ADS_1


"Mewek dong eyangmu sapinya dijual."


Nana terkekeh mengiyakan. Setelahnya keduanya mengobrol ngalor ngidul. Semua hal dibahas. Termasuk Nana yang sekarang kuliah mengambil jurusan design, dengan spesialisasi design perhiasan.


Gadis itu menceritakan kalau dia ditantang untuk membuktikan kemampuannya dibidang design perhiasan. Orang tuanya memberinya modal untuk membuka outlet perhiasan. Jika dalam dua tahun, Nana mampu mengembalikan modalnya lima puluh persen saja. Orang tua Nana akan mendukung pilihan sang putri. Kalau tidak....Nana memberi kode berhenti.


"Lalu?"


"Aku sedang mencari koneksi distributor batu mulia atau batu permata dan bahan-bahan lainnya. Hanya saja aku kewalahan. Aku tidak bisa menghandle pembukuan dan produksi sendirian. Aku perlu partner."


Dua gadis itu saling pandang. Hingga senyum mengembang di bibir keduanya. Mereka tahu bisa bekerjasama.


"Ahhh bertemu denganmu adalah anugerah Rea."


Nana memeluk erat sang sahabat, hingga pelukan Nana menguat ketika dia melihat seorang pria yang turun dari mobil di parkiran kafe itu.


Jantung Nana dipompa sepuluh kali lipat memandang pria bermata biru yang masuk ke kafe dan mulai berjalan ke arah mereka.


"Kak Mark...."


Rea langsung menoleh dan melihat sang kakak mendekat. Yeeesss, hati Rea bersorak gembira. Sang kakak masih mengharapkan Nana.


Begitupun dengan Mark, pria tinggi besar itu jelas terkejut saat melihat Nana bersama Rea. Tapi detik berikutnya, rasa terkejutnya berubah menjadi rasa bahagia. Dia merasa Nana adalah gadis yang ditakdirkan untuknya.


"Senang bertemu denganmu....sayang."


Mark berbisik di telinga Nana sembari memeluk tubuh gadis itu. Nana membulatkan mata mendengar panggilan Mark untuknya.


"Ehemmm, aku pulang sendiri aja deh."


Nana segera melepaskan pelukan Mark. Sikap gadis itu menjadi canggung. Melihat tatapan mengejek dari Rea. Tapi Mark tidak peduli. Pria itu lantas duduk di samping Nana. Membuat gadis itu jadi salah tingkah.


"Jadi ada yang CLBK nih?"


"Gak lah, gue kan gak punya hubungan sama kakak elu."


"Bukan cinta lama bersemi kembali. Tapi cinta lama belum kelar."


Rea terbahak, tapi Mark dan Nana saling pandang. Seolah yang dikatakan Rea benar sekali.


"Jadi apa jawabanmu?"


Nana segera menoleh ke arah Mark. Dia tentu terkejut ketika dia ditodong pertanyaan tersebut. Dia belum tahu apa yang ada dalam hatinya. Meski tidak dia pungkiri kalau dia punya perasaan lebih pada Mark. Dia menyukai kakak angkat Rea itu.


Jangan lupa ritual jempolnya ditunggu 😘😘😘


*****

__ADS_1


__ADS_2