Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Tidak Mungkin


__ADS_3

Dua hari dirawat, Nana akhirnya diperbolehkan pulang. Setelah Mark memastikan kalau tidak ada luka dalam serius. Gadis itu secara pribadi diantar oleh Mark. Meski Nana berusaha menolak, tapi Mark ngotot ingin mengantarnya pulang.


Mark mulai paham kalau Nana tidak terlalu dekat dengan keluarganya. Ada sesuatu yang membuat papa dan mama Nana tidak menyayangi Nana seperti keluarga lain.


Pria itu cukup paham dengan apa yang Nana rasakan. Sebab dia juga mengalaminya. Punya ibu, tapi tidak perhatian padanya. Tidak sayang pada dirinya. Pria itu menghela nafasnya, ketika membiarkan Nana masuk ke rumahnya. Bahkan tidak ada yang menjemput atau menyambutnya.


Mark melajukan mobilnya, dia menolak ketika Nana memintanya untuk mampir. Dia tidak ingin menambah masalah pada gadis itu.


Begitu Nana masuk ke rumah, sang mama menyambutnya dengan tatapan tidak menyenangkan. Seolah, kepulangan Nana bukanlah hal yang membahagiakan.


"Sudah sembuh kamu?"


Pertanyaan singkat yang bernada sinis masuk ke telinga Nana. Entah kenapa dia lebih senang tinggal dengan eyangnya di kampung. Ini adalah rumahnya tapi kenapa dia tidak merasa nyaman dan bahagia di sini.


"Oh iya, papamu berpesan kalau sudah sembuh cepatlah mulai bisnismu. Nanti kelamaan nganggur malah ilang semua duitnya."


"Tapi modalnya kan gak ada, Ma."


"Bukannya temanmu itu anak gubernur. Kamu bisa pinjam uang padanya."


"Nana gak bisa pinjam uang padanya."


"Terserah, pokoknya dua tahun, uang itu harus kembali."


Mama Nana berlalu dari sana. Meninggalkan Nana yang langsung melangkah gontai ke kamarnya di lantai dua.


Di depan kamar, dia bertemu kakaknya. Gadis yang lebih tua lima tahun itu, mengikuti Nana masuk ke kamarnya.


"Maafkan Kakak, gak jenguk kamu. Papa melarang."


"Tidak apa-apa. Aku banyak yang nemenin Nana kok."


Dua hari di rumah sakit. Rea dan yang lainnya bergantian mengunjunginya. Bahkan Alex dan Shane yang menemaninya kalau Rea masih kuliah. Bisa dibayangkan dong. Bagaimana ributnya Alex dan Nana. Dua orang itu selalu berdebat kalau bertemu. Hingga Shane hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya.


"Na, lu cerewet amat sih. Ada gak sih yang kalem kayak Rea gitu."


"Wwooohh, naksir Rea ni ceritanya. Aku bilangin Andra nih. Biar kamu diceburin ke air comberan."


"Sadis amat lu. Gue nanya, bukannya dijawab malah dapat makian."


"Ada, kakak gue kalem kayak Rea."


Bola mata Shane membulat. Ada yang seperti Nana tapi versi kalem.


"Kenalin dong."

__ADS_1


"Idih ogah punya ipar kayak elu."


Shane manyun dibuatnya. Sementara Nana tertawa ngakak melihat kemanyunan Shane.


Sebenarnya Nana dan kakaknya cukup tertekan dengan sikap kedua orang tuanya. Dena, kakak Nana, sebenarnya sangat ingin menjadi guru TK. Dia sangat menyukai anak-anak. Tapi dia terpaksa menuruti keinginan orang tuanya untuk mengelola bisnis restoran keluarga mereka. Meski setengah hati. Hanya di sela waktu luangnya. Dena akan pergi ke TK untuk mengajar anak-anak yang imut dan lucu tersebut.


"Kakak minta maaf ya. Nggak bisa jadi kakak yang baik buat kamu."


Nana meneteskan air matanya. Ketika Dena memeluk tubuhnya. Bahu keduanya bergetar. Dua adik beradik itu sama-sama menangis pilu. Mengingat orang tuanya yang seolah tidak sayang pada mereka.


"Kakak gak pengen pacaran?"


Nana tiba-tiba teringat Shane, dia pria baik. Pasti bagus kalau kakaknya bisa berteman dengan pria itu.


"Kakak gak punya temen cowok. Bagaimana mau pacaran."


"Tak kenalin sama temannya Nana, mau? Dia baik orangnya. Akuntan kerjaannya."


Dena sejenak berpikir. Papa dan mamanya tidak melarang dirinya untuk pacaran. Jadi bolehlah. Nambah pengalaman sekaligus teman. Nana berseru senang saat sang kakak mengangguk. Gadis itu lalu mengirimkan nomor ponsel Shane pada Dena.


*


*


Untuk urusan berlian akan diurus oleh Ken. Meski Andra sempat protes ketika Rea harus bekerjasama dengan Ken. Jelas itu bisa menjadi kesempatan bagi Ken untuk bisa dekat dengan Rea.


"Kalau elu mau protes. Suruh mereka pakai jasa kargomu. Sky Airlines kan punya jasa ekspedisi."


Usul Alex membuat Andra mengembangkan senyumnya. Memang benar maskapai penerbangannya punya ekspedisi, dan untuk pengiriman berlian kebanyakan menggunakan kargo pesawat dengan pengawalan ekstra ketat.


"Mereka ke mana?"


"Nyari ruko."


Jawab Andra singkat sembari tersenyum. Dia sengaja memerintahkan Jack, menyewa orang untuk menyamar menjadi agen properti. Menyewakan ruko pada Rea dengan harga murah. Sebab itu properti mamanya.


"Dengan begitu, aku tetap bisa mengawasinya."


Tapi tak lama, ponsel Andra berbunyi. Nama Rea tertera di sana.


"Ya...Re..."


"Jangan aneh-aneh. Aku akan menyewanya jika harga sewanya sesuai harga pasar. Jika tidak, aku akan mencari tempat lain."


Tuuut, sambungan terputus. Andra mendengus kesal. Bagaimana Rea tahu kalau itu salah satu rencananya. Akhirnya, Andra hanya bisa mengirim pesan pada Jack untuk menaikkan harga sewa sesuai harga pasar.

__ADS_1


Diujung sana, Rea tersenyum karena dia mendapatkan harga sewa terjangkau. Sesuai harga pasar. Selanjutnya besok dia dan Nana akan mulai mendekor ulang ruko itu.Ruko dua lantai itu, bisa dia gunakan sebagai kantor dan outlet di lantai bawahnya.


Sementara di sisi lain, Ken cukup terkejut ketika Andra mengajaknya bertemu. Hingga di sinilah keduanya berada. Duduk saling berhadapan di sebuah ruang VVIP sebuah restoran.


"Ada apa sih, Om?" Ken bertanya santai. Sementara Andra, seperti biasa kalau Ken menyebutnya Om. Kesal, apa lagi.


Tapi mengingat ini demi kepentingan Rea. Andra memilih menahan diri. Kalau tidak, bisa dipastikan akan ada adu mulut antara dirinya dan pemuda tanggung di hadapannya, yang hari ini terlihat keren dengan style formalnya. Ken baru saja menghadiri rapat direksi. Jadi dia berpakaian formal hari ini.



Kredit Pinterest.com


"Ini soal pengiriman berlian Rea. Aku yang akan mengurus kargonya. Kau bisa mencari distributornya."


Ken memicingkan matanya mendengar ucapan Andra. "Apa maksudnya ini?"


Kenapa Andra tiba-tiba meminta pengiriman dilakukan olehnya. Memangnya Andra bisa melakukannya.


"Sudah jelas bukan, untuk kargonya akan kuurus. Kau tinggal menyiapkan dokumennya saja."


"Kamu jangan aneh-aneh. Pengiriman berlian, perlu prosedur dan teknis yang rumit. Ini semua ori, jadi akan ada agen khusus yang...."


Andra menghentikan penjelasan Ken dengan tangannya. Pria itu melihat Ken dengan tatapan tajam.


"Aku tahu prosedurnya, protokolnya juga teknisnya. Karena aku punya ekspedisi. Jadi urusan kargo aku yang handle."


Ken membulatkan matanya, mendengar Andra punya perusahaan ekpedisi. Setahu Ken, profesi Andra hanyalah akuntan. Tidak ada sampingan atau lainnya.


"Jangan bohong kamu."


Nada bicara Ken berubah formal sejak tadi.


"Tidak percaya, lihatlah ini."


Andra menunjukkan sebuah dokumen yang langsung mata Ken membulat sempurna, saat membacanya.


"Ini tidak mungkin, kau pasti bohong."


Ken melihat wajah Andra yang terlihat tenang dan yakin. Tidak ada keraguan sama sekali di wajah Andra.


***


Ritual jempolnya jangan lupa 😘😘😘


**

__ADS_1


__ADS_2