
Dua minggu berikutnya menjadi hari yang mendebarkan untuk Rea. Gadis itu sungguh tidak sabar untuk mengetahui hasil ujiannya. Lulus atau tidak. Bisa masuk ke kampus itu atau tidak.
Berulang kali hanya hal itu yang keluar dari bibirnya. Hingga semua orang saling pandang dibuatnya. Rea ternyata jadi cerewet saat panik. Gadis itu sering bicara sendiri. Mirip orang stres.
"Re, bisa duduk gak sih. Nanti aku panggilin Andra lo kalau gak bisa diam."
Gina sang kakak, berkata lembut ketika melihat Rea mondar mandir di dekat kolam renang.
Kredit Pinterest.com
Sepasang pengantin itu baru saja kembali dari honeymoon mereka beberapa hari yang lalu. Sesuai kesepakatan bersama, Nicky yang akan tinggal di rumah itu.
Sebab Matt terlanjur mengiyakan permintaan Daniar yang meminta Rea untuk tinggal di rumahnya setelah Andra dan Rea menikah. Nicky tidak masalah, sebab dia yang orang tuanya tinggal di luar daerah hanya memiliki apartemen di sini.
Mendengar perkataan Gina, Rea hanya memanyunkan bibirnya. Lalu mendudukkan diri di kursi tempat berjemur setelah berenang. Mulai memainkan ponselnya, hingga akhirnya gadis itu tertidur. Tanpa dia tahu kalau seorang pria berjalan masuk ke ŕumah itu. Mendekat ke arah Rea. Satu sudut bibir pria itu tertarik membentuk sebuah lengkungan.
*
*
Rea melompat kegirangan ketika dia menerima hasil ujiannya melalui e-mailnya. Bisa dipastikan jika hasilnya lulus. Tak berapa lama, gadis itu sibuk ber-email ria dengan teman-temannya. Gadis itu hanya berani memberikan alamat e-mailnya pada teman-temannya.
Dari sekian banyak temannya yang ikut ujian dengannya hari itu. Hanya Sita dan Jerry yang lulus ujian. Yang lain gagal. Rea hanya bisa menarik nafasnya dalam, masuk ke kampus tersebut sangat sulit. Dia tahu itu.
Satu minggu berlalu. Pagi itu, dia diantar oleh Nicky, si kakak ipar. Sekalian pergi ke area konstruksi. Pria itu lebih banyak diam dibanding yang lain. Itu yang membuat Rea tidak begitu akrab dengan Nicky.
"Hati- hati kalau memilih teman. Kamu ingat siapa kamu sekarang. Cari teman yang benar-benar tulus mau berteman sama kamu."
Rea melongo mendengar ucapan dari Nicky. Jarang bicara, sekalinya bicara mantap betul. Rea hanya mengangguk paham mendengar nasihat Nicky.
Gadis itu melambaikan tangannya pada sang kakak ipar. Lantas berlari masuk ke kampusnya. Di mana acara orientasi siswa baru akan berlangsung tiga hari ke depan.
Ketika dia masuk ke hall tempat berkumpul semua mahasiswa baru, dia melihat Jerry yang melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu langsung berlari ke arah Jerry. Keduanya berbincang sebentar. Hingga Jerry pun mengenalkan teman baru lainnya. Devi, kata Jerry dia baru saja berkenalan dengan gadis itu.
Devi sesaat melihat tajam ke arah Rea. Hingga gadis itu sedikit ngeri di buatnya. Tak berapa lama, acara itu dimulai. Diawali dengan pidato dari rektor kampus tersebut. Mengucapkan selamat datang pada peserta didik baru. Juga peringatan pada mahasiswa senior agar tidak melakukan senioritas di kampus mereka.
__ADS_1
"Haaaah."
Jerry menghembuskan nafasnya kasar. Pemanasan orientasi masak disuruh lari keliling hall dua kali. Anjirrrr, pria itu mengumpat pelan. Hingga tak lama, Sita muncul. Keempatnya mulai mengakrabkan diri dengan Devi yang ternyata pendiam sekali. Tapi beberapa waktu ini, Rea merasa nyaman dengan Devi.
Keempatnya masuk ke kelas untuk pertama kalinya. Mereka berempat mengambil jurusan yang sama. Hingga tak heran jika mereka bisa bersama.
Mereka sibuk berbincang ketika mendadak kelas menjadi sepi. Hingga perhatian semua siswa mengarah ke depan kelas. Di mana seorang pria dengan tatapan tajam berdiri di sana.
Pandangan mata pria itu menyapu seluruh penjuru kelas. Sampai tatapannya terhenti pada Rea. Memakai pakaian formal, lengkap dengan dasi dan jasnya. Pria itu terlihat sangat berwibawa dan berkharisma. Banyak dari mahasiswi yang mulai terpesona pada dosen itu.
Usianya di kisaran dua puluhan akhir, tak heran jika pria itu terlihat matang dan mapan. Banyak bisik-bisik terdengar di sekitar Rea. Sementara gadis itu malah terdiam. Dia menatap lurus pada sang dosen di depan sana. Sementara sang dosen mulai mengotak-atik Ipad-nya.
Kredit Pinterest.com
"Dia kan...."
"Kamu kenal, Re?"
Devi bertanya. Pria itu jelas menaruh perhatian lebih pada Rea.
Gumam Rea. Hal ini semakin menarik perhatian Devi. Terlebih beberapa kali, Devi menangkap pandangan tak biasa dari sang dosen pada Rea. Pandangan penuh minat, rasa tertarik. Tapi bukan tertarik karena suka. Devi lebih melihat itu sebagai obsesi atau sejenisnya.
"Perkenalkan nama saya Bradley Scott, mulai sekarang saya akan menjadi dosen pengampu untuk mata kuliah perpajakan...."
Penjelasan selanjutnya tidak terdengar lagi karena para gadis di sekitar Rea sudah berteriak histeris mendengar suara berat dan dalam Bradley Scott yang terdengar seksi di telinga mereka.
"Bradley Scott."
Baik Rea maupun Devi bergumam bersamaan. Selanjutnya mereka mulai mengikuti mata kuliah pertama mereka, yang seketika membuat kepala pening karena sang dosen langsung memberikan tugas untuk dikerjakan saat itu juga.
"Ini akan menjadi acuan saya untuk mengukur sejauh mana pengetahuan kalian soal ke-update-an peraturan pajak saat ini. Ingat pajak harus selalu up to date. Kita harus tahu saat pemerintah menaikkan atau menurunkan tarif pajak. Kalian mengerti?"
Tanya Bradley tegas. Jawaban "saya mengerti" membahana di ruang perkuliahan itu.
"Pantes aja dia disebut dosen killer. Galak."
__ADS_1
Guman Jerry si sebelah Sita. "Tapi kalau modelannya kayak gitu gue rela jadi korban ke-killer-an dia."
Seorang gadis menimpali gumanan Jerry. "Dia gak galak Jer, tapi tegas."
Rea ikut menyuarakan pendapatnya. Sementara Sita hanya sibuk dengan kertas kerjanya. Di depan sana, Bradley menatap lurus pada Rea sembari memiringkan kepalanya. Cantik, kata itu lagi yang terucap lirih dari bibir tipis Bradley.
Mengenakan celana jeans, dengan kemeja navy agak panjang hingga menutupi bokong padat Rea. Gadis itu terlihat stunning di mata Bradley. Kaki jenjang Rea terbentuk sempurna saat mengenakan jeans. Rambut panjangnya dia ikat sebagian. Padahal Bradley sudah membayangkan leher jenjang Rea yang menggoda, seperti yang pernah dia lihat saat gadis itu menabrak dirinya. Atau....dia yang menabrakkan dirinya pada Rea.
"Dia sangat mempesona."
*
*
"Saya curiga dengan dosen pengampu makul perpajakan."
Jack langsung mengangkat wajahnya. "Namanya?"
"Bradley Scott."
Wajah Jack berubah serius. Pria itu mulai mengulik Macbook-nya. Beberapa waktu berlalu, dahi Jack berkerut. Hanya nama belakang saja yang sama. Mereka tidak punya hubungan darah sama sekali dan tidak saling mengenal. Satu-satunya adik Janson Scott berada di luar negeri. Dan tidak ada laporan kalau adik Janson kembali ke sini.
"Tetaplah waspada. Jaga Rea, jangan sampai lengah. Awasi orang-orang yang menurutmu mencurigakan."
Perintah Jack, dan dua orang yang berada di depan Jack langsung menganggukkan kepala paham.
"Saya akan menjaga Nona Rea dengan nyawa saya."
"Tidak perlu sampai seperti itu."
"Hubungi aku atau Alex atau siapapun itu jika sesuatu terjadi pada Rea. Kalian bekerjasamalah dengan baik."
Jack sesaat melihat jauh ke luar jendela kantornya. Janson Scott sudah dipenjara, tapi kenapa feeling Jack mengatakan masih ada ancaman untuk Rea.
***
Duh Leo kok gue nyesel ya jadiin elu psycho di novel gue...
__ADS_1
Btw jangan lupa ritual jempolnya ya 😘😘
****