Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Gagal


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Dua sudut bibir Brad terangkat membentuk sebuah senyuman yang begitu sempurna. Pria itu terlihat begitu tampan saat tersenyum. Di depan sana teriakan penuh kebahagiaan terdengar dari bibir Rea. Gadis itu sangat menikmati bermain dengan ombak yang berkejaran di pantai itu.


Hukuman pergi ke kantor pajak ternyata hanya kedok Brad untuk membawa pergi Rea ke sini. Entah apa yang tengah merasuki pikiran pria itu. Hingga dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan tunangan Andra tersebut.


Untuk mengurangi gangguan, Brad bahkan sengaja mematikan ponsel Rea yang tertinggal di mobilnya. Niat awal untuk balas dendam pada Rea, akankah niat itu kini sudah menghilang.


Brad menggelengkan kepalanya pelan. Awalnya dia terobsesi pada Rea karena cerita sang kakak. Diapun ingin membalas semua perbuatan Andra dan Matt melalui Rea. Tapi belakangan, hati kecilnya meronta, menolak jauh-jauh niat untuk balas dendam.


Sikap polos Rea berhasil mengubah pikiran Brad. Rea tidak bersalah dalam hal ini, kenapa harus dia yang menanggung kesalahan dua orang itu. Terlebih kecantikan Rea mampu menyihir pikiran dan hati Brad. Mengubah benci dan obsesi menjadi sebuah rasa yang begitu asing untuk Brad. Rasa yang membuat dirinya bisa tersenyum untuk pertama kalinya.


Seperti sekarang ini, senyum Brad berulang kali terukir di bibir tipisnya. Saat melihat kehebohan Rea yang bermain air di depan sana. Gadis itu seolah tidak tahu kalau ada Brad tengah menatapnya tajam.


Rea sendiri seperti hanyut dalam dunianya sendiri. Dia berkejaran dengan ombak pantai. Memainkan air yang membasahi kakinya. Stresnya beberapa hari ini, seolah hilang setelah puas bermain air.


"Eeehhhh."


Rea terkejut ketika Brad tiba-tiba menarik tangannya. Membuat dirinya kini berada di depan dosen killernya.


"Berhenti, kau sudah terlalu lama bermain air."


"Tapi Rea, belum selesai......"


Protes Rea tenggelam ketika Brad menarik tangan Rea menjauh dari sana. Berjalan menuju sebuah villa yang berada di tepi pantai itu. Gadis itu mengerutkan dahinya.


"Rumah siapa, Pak?"


Brad tidak menjawab. Pria itu masuk sembari menggandeng Rea. Tapi sebelum masuk, Rea menarik diri. Dia masih tahu diri, untuk tidak sembarangan masuk ke rumah pria yang belum dia kenal.


"Rea gak mau. Rea mau pulang aja. Lagian Bapak bohong sama saya."


"Tapi kamu suka kan?"


Rea terdiam. Bodohnya, Rea malah menikmati bermain air, tanpa mengingat kalau ini bisa jadi kesalahpahaman yang membuat hubungannya dengan Andra semakin rumit.


"Rea mau pulang."

__ADS_1


"Tunggulah sampai makan siang siap. Setelah itu kita pulang."


Brad melangkah masuk ke rumah itu. Berjalan menuju dapur. Lalu tanpa Rea duga. Pria itu menggulung lengan kemeja putihnya. Lantas mulai membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan masakan. Seolah semua sudah disiapkan sebelumnya


Dan sebuah pemandangan indah pun mulai tersaji di depan mata Rea. Bradley Scott, dosen yang terkenal killer di kampusnya, player. Bahkan gosipnya tukang tidur dengan banyak mahasiswi perempuan.


Kini pria itu dengan lihai memainkan pisaunya, mengupas bawang bombay dengan cepat. Menyalakan kompor, memasak air. Mengiris bawang bombay. Dengan tangan sebelah memasukkan spaghetti ke air mendidih. Mengupas udang dengan cepat. Membersihkan cumi.


Gila! Dia seksi sekali saat memasak. Rea dibuat menganga dengan pemandangan di depannya. Bradley Scott memasak. Ini kejadian langka. Andai Rea gadis lain. Dia pasti sudah merekam kejadian itu. Lalu mengunggahnya di media sosialnya.


Tak berapa lama, aroma harum yang mengusik cacing di perut Rea mulai menusuk hidung gadis cantik itu. Aroma oregano, thyme dan rempah khas Italia lainnya, begitu menggoda indera penciuman Rea. Ditambah melihat siapa pelakunya.


Lima belas menit Rea berdiri mematung di tempatnya. Hingga suara berat Brad mencairkan kebekuan Rea


"Makanlah dulu. Setelah itu kita pulang."


Brad berucap sembari membawa dua piring spaghetti seafood dengan saos bolognese yang terlihat begitu menggiurkan.


"Makanlah."


Rea menatap pria yang biasanya irit omong saat dikelas itu. Brad tengah meletakkan dua piring spaghetti itu di sebuah meja dengan view menghadap ke laut.


Satu suara penuh penekanan membuat Rea memandang lurus pada Brad. Pria itu melihat padanya dengan tatapan tajam, penuh intimidasi. Dua tangan pria itu bertaut di depan wajah Brad. Menimbulkan kesan kalau dia tidak ingin dibantah.


"Saya pulang saja."


Lirih Rea. Dia takut, dia sudah terlalu lama keluar dari kampus dengan Brad. Dia juga belum mengabari teman-temannya juga Andra kalau ternyata dia berada di sini. Bukan di kantor pajak.


Sorot mata Brad berubah mendengar perkataan Rea. Tatapan yang tadinya lembut, kini terlihat menukik tajam. Bradley tidak suka dibantah perintahnya.


Pria itu berjalan ke arah Rea dengan binar mata penuh rasa tidak suka. Rea memundurkan langkah melihat Brad yang mendekat ke arahnya. Sikap ramah Brad berubah. Pria itu terlihat kesal.


"Apa kamu memang suka dipaksa?"


Tanya Brad begitu pria itu berdiri di hadapan Rea. Aroma maskulin seketikamenguar dari tubuh tegap Brad. Langsung menusuk indera penciuman Rea. Aroma yang hampir sama dengan milik Andra. Mungkin dua orang ini memakai parfum yang sama.


"Maksud Bapak?"


Tanya Rea balik. Gadis itu melirik pintu geser yang berada di sebelahnya. Hatinya berkata untuk waspada pada pria di hadapannya ini.

__ADS_1


"Saya hanya ingin mengajakmu makan siang. Dan kamu tidak mau. Kamu tidak meng...."


"Bapak menipu saya!"


Potong Rea cepat. "Kenapa Bapak membawa saya kemari? Bukannya kita akan pergi ke kantor pajak buat survei kenapa saya malah....mmmphhhh."


Rea membulatkan matanya ketika Brad tanpa ragu membungkam bibirnya dengan ciuman. Bradley Scott mencium Rea. Bisa dibayangkan bagaimana shocknya Rea. Gadis itu berontak, ingin melepaskan diri. Tapi Brad dengan cepat menahan semua pergerakan Rea.


Rea terus menolak ciuman Brad, membuat pria itu emosi. "Apa karena kamu sudah bertunangan lalu kamu menolak berciuman denganku?"


Rea terdiam dengan wajah memerah menahan amarah. Dia sungguh terluka harga dirinya. Bagaimana bisa Brad mencium dirinya.


"Saya merasa telah mengkhianati tunangan saya dengan membiarkan Bapak mencium saya. Bapak tahu, Bapak keterlaluan. Saya tidak peduli kalau Bapak mau melakukan hal ini dengan wanita lain. Tapi jangan dengan saya. Saya tidak suka!"


Rea menepis tangan Brad yang berada di kiri kanan tubuhnya. Menjauh dari sana. Mata gadis itu berkaca-kaca.


"Apa saya tidak sebanding dengan dia?"


Rea menatap Brand intens. "Bapak tahu, kenapa dia berbeda. Dia tidak pernah memaksa saya."


Akhirnya Rea menyadari satu hal. Andra telah banyak bersabar menghadapi dirinya. Dia tidak seharusnya membuat Andra menunggu terlalu lama.


Mendengar jawaban Rea, Brad emosi. Pria itu menarik tubuh Rea, bermaksud mencium gadis itu kembali. Tapi Rea berhasil menghindar. Hingga Brad pada akhirnya melempar Rea ke sofa terdekat. Pria itu langsung menindih tubuh Rea. Tapi lagi-lagi Rea melawan. Gadis itu menekuk lututnya hingga mengenai perut dosen itu.


Brad meringis menahan nyeri di perutnya. Kesempatan itu digunakan Rea untuk lari. Dia mengambil langkah seribu, keluar dari tempat itu. Meninggalkan Brad yang berteriak marah. Menggebrak meja, menyadari kalau semua rencananya gagal.


"Maafkan aku. Kak. Maafkan aku sudah membuatmu menunggu."


Rea berlari sembari mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Sisi lain dari dirinya berpikir, dia harus menemui Steve.


****



Kredit Pinterest.com


Dia beneran ganteng, apalagi kalau senyum 🥰🥰


Jangan lupa ritual jempolnya ditunggu....

__ADS_1


****


__ADS_2