Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Pupus


__ADS_3

Daniar sesaat membulatkan mata ketika Andra tiba-tiba mengatakan ingin menikah dengan Rea dua bulan mendatang. Pikiran pria itu segera dipenuhi tanda tanya. Bukankah waktu itu Andra bilang akan menikahi Rea setelah gadis itu lulus kuliah. Kenapa sang putra jadi berubah pikiran.


"Kamu tidak menghamili dia kan?"


Pertanyaan Daniar penuh dengan nada menuduh. Andra tentu saja menyangkal. Menyentuh saja hanya sebatas berciuman. Bagaimana bisa Rea hamil.


"Enak saja. Rea gak hamil ya."


Andra sendiri terlalu bahagia hingga tidak mempertanyakan kenapa Rea meminta memajukan pernikahan mereka.


"Jika kau menikah, kau tahu kan konsekuensinya."


"Aku akan segera masuk kantormu."


Andra menjawab sumringah. Demi mendengar hal itu, Daniar dan Katya langsung mengembangkan senyum. Apalagi yang keduanya tunggu selain mengiyakan permintaan sang putra. Toh tidak ada ruginya menikahkan sang putra. Mereka malah akan mendapatkan keuntungan.


Andra akan ada yang mengurus. Tidak rebutan Katya dengan sang papa. Pria itu dengan sukarela mau masuk kantor tanpa banyak drama dan paksaan. Dan yang terakhir, mereka mendapat mantu yang cantik dan cucu keluarga Sky bisa langsung diproses.


Jika di keluarga Andra, pria itu mendapat restu tanpa banyak halangan, di sisi Rea justru sebaliknya. Sang papa menatap tajam pada Rea, begitu sang putri mengutarakan keinginannya untuk menikah.


"Apa dia memaksamu atau menekanmu?"


Rea menggelengkan kepalanya. Dia sudah tahu akan sulit membujuk sang papa. Apalagi sang kakak ipar yang kini sangat protektif padanya sejak kejadian penculikan Janson padanya.


"Ini murni keinginan Rea. Rea pikir sudah membuat kak Andra menunggu terlalu lama."


"Apa kamu mencintainya dan yakin dengan pilihanmu."


Rea terdiam, lantas menganggukkan kepalanya. Dia pikir harus bisa meyakinkan sang ayah dan kakaknya.


"Apa ada hal lain yang membuatmu ingin mempercepat pernikahan kalian?"


Nicky yang bertanya. Pria itu pikir kalau Rea bukanlah tipe yang mendadak dan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Gadis itu selalu memperhitungkan semua kondisi sebelum mengambil keputusan.


Mendengar pertanyaan Nicky, Rea menggeleng.


*


*


Huft...Rea menghembuskan nafasnya kasar. Gadis itu kini sedang berada di kamarnya. Keputusan dari Matt belum keluar, dia akan mempertimbangkannya dulu.


Begitu Rea duduk di sofa, terdengar pintu diketuk dan Gina melangkah masuk. Perempuan itu langsung ikut duduk di samping Rea.


"Ada masalah?"


Tanya Gina to the poin. Dia tahu kalau sang adik sedang gundah. Permintaan Rea mungkin hanya salah satu cara untuk meredakan kegundahan gadis itu. Mendengar pertanyaan Gina, Rea langsung memeluk tubuh sang kakak. Mencari kenyamanan dalam pelukan sang kakak.

__ADS_1


"Katakan yang kamu rasakan."


"Rea hanya ingin memantapkan pilihan Rea. Rea tidak mau mengecewakan kak Andra yang sudah menunggu Rea lama."


"Apa hal lain yang mengganggu pikiranmu?"


Rea menarik nafasnya, ada binar keraguan dalam hati Rea. Haruskan dia jujur pada Gina. Haruskah dia mengakui kalau dia sejujurnya takut akan berpaling dari Andra. Dan mulai luluh pada Brad.


"Tidak. Rea hanya berpikir bukankah hal yang bagus harusnya disegerakan."


Kali ini Gina mengangguk setuju. Lagipula, umur Rea hampir masuk 21, jadi tidak masalah jika sang adik ingin berumah tangga. Mengingat Rea dan Andra sudah bertunangan cukup lama.


Tidak masalah sang adik ingin menikah, sebab Andra sendiri pernah berkata kalau dia tidak akan mengekang kebebasan Rea dalam berkarir dan mengembangkan diri. Asal semua masih berada di jalurnya.


Pada akhirnya Gina pun menganggukkan kepalanya ketika Rea bertanya, apa dia menyetujui keinginannya untuk menikah dengan Andra.


"Bagaimana?"


"Dia memang ingin menikah, tanpa ada paksaan dari siapapun. Bahkan Andra sekalipun tidak pernah menuntut hal ini pada Rea."


Matt menarik nafasnya dalam. Sepertinya tidak ada jalan lain selain mengabulkan permintaan sang putri. Dia sendiri hanya ingin melihat Rea bahagia, itu saja. Dan dia pikir, Andra adalah pria yang tepat untuk sang putri.


Dua hari berlalu, Andra dan dua orang tuanya datang ke kediaman Aherne malam itu. Rea yang melihat kedua orang tua Andra cukup terkejut. Meski begitu, gadis itu langsung menampilkan senyum terbaiknya. Menyambut kedua orang Andra. Mencium punggung tangan dua orang itu. Yang dibalas sebuah pelukan hangat dari Katya.


"Putrimu cantik sekali, Berta."


Makan malam berlangsung hangat, diiringi obrolan ringan yang terjadi di sela-sela acara santap mereka. Setelah itu, semua orang berpindah ke ruang keluarga. Di mana obrolan kembali berlanjut. Hingga ketika Matt meminta perhatian semua orang. Semua orang menghentikan obrolan mereka.


Pria itu menatap pada Andra dan Rea yang duduk berdampingan. Sungguh serasi. Matt tidak bisa menyangkalnya. Senyum keduanya tidak pernah pudar kala bersama. Bahkan tangan Andra sejak tadi selalu menggenggam jemari Rea. Menempatkannya di atas pangkuan pria itu. Jangan lupakan binar cinta yang terpancar dari mata masing-masing. Matt benar-benar harus merelakan Rea menjadi milik Andra.


Ketika semua orang terdiam. Matt dan Daniar saling tatap, lantas mengangguk satu sama lain. Tak lama, Matt mulai bicara. Ada rasa tidak rela ketika pada akhirnya dia mengatakan menyetujui keinginan Rea untuk menikah dengan Andra.


Bisa dibayangkan bagaimana rona bahagia yang tercipta di ruangan itu. Andra reflek memeluk Rea dan menghujani wajah sang tunangan dengan kecupan singkat. Pria itu pikir tidak ada kata yang bisa mengggambarkan perasaannya sekarang ini.


Begitupun dengan Rea, gadis itu beberapa kali melirik ke arah Matt, sang papa. Tidak percaya jika sang ayah begitu mudah mengabulkan keinginannya.


"Kamu ingat kan janji Papa, Papa akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu."


Mata Rea berkaca-kaca. Terlebih ketika Matt mengangguk, meyakinkan Rea kalau dia serius dengan keputusannya.


Malam itu secara tidak resmi, Daniar mengajukan lamaran pada Rea. Dan gadis itu mengangguk menerima lamaran Andra. Untuk lamaran resmi akan diadakan sebulan sebelum hari H. Setelah ujian Rea selesai.


"Bodo amat dengan sertifikasi akuntan. Itu tidak penting jika kamu bisa menjadi nyonya Deandra Sky."


Seloroh Shane yang ternyata menyusul ke sana setelah makan malam usai. Bersama Alex tentunya. Rea mengerutkan dahinya begitu mendengar ocehan Shane.


"Jangan didengarkan."

__ADS_1


Andra memeluk lengan Rea sambil memberikan kode diam pada Shane.


"Apa salahnya kalau dia tahu siapa kau?"


"Belum waktunya. Aku tidak ingin publik menganggapnya matre karena menikah denganku."


Shane terdiam. Yang dikatakan Andra adalah benar. Sangat beresiko sekali jika bersinggungan dengan keluarga kelas atas semisal keluarga Andra. Shane tahu bagaimana Andra selama ini mengelabui awak media dan paparazi dengan membuat dirinya adalah akuntan untuk Sky Airline Corp.


Meski Andra selalu ketahuan pulang dan pergi ke rumah besar Sky. Tapi dia tidak pernah menggubrisnya. Andra selalu membiarkan publik berspekulasi soal dirinya.


*


*


"Aduuuhhh sakit!"


Rea berteriak ketika Ken tiba-tiba mencekal tangannya. Membawanya ke sudut sepi.


"Apa berita yang kudengar benar. Kau akan menikah dengannya?"


Pria itu menatap tajam pada Rea. Dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Jerry dan Devi yang membahas rencana pernikahan Rea dan Andra.


Kecewa, Ken jelas kecewa. Dia pikir masih memiliki peluang untuk merebut Rea dari Andra. Selama ini, dia berusaha bekerja keras. Meningkatkan kemampuannya agar bisa menyamai Andra. Tapi nyatanya semua itu sia-sia. Rea memutuskan menerima Andra.


"Jawab, Re."


Rea sedikit tersentak mendengar nada tinggi Ken.


"Iya. Aku akan menikah dengan Andra setelah ujianku selesai."


Jawaban Rea membuat tubuh Ken melemas. Cekalan di tangan Rea melemah. Gadis itu buru-buru menepis tangan Ken. Takut ada yang melihatnya dan salah paham.


"Apa kau yakin? Apa tidak ada kesempatan sedikitpun untukku bisa masuk ke hatimu?"


"Ken, sudah kubilang dari awal bukan. Kalau aku tidak menyukaimu. Aku hanya menganggapmu teman. Tidak lebih."


Perasaan Ken sakit. Memang yang dikatakan Rea benar. Gadis itu sudah menolaknya bahkan sejak kali pertama Ken mengungkapkan rasa cintanya.


Pria itu hanya bisa menatap Rea dengan lara yang terlukis jelas di wajah Ken. Pupus sudah harapan Ken untuk memiliki cinta Rea.


****


Ada yang mau hibur Ken yang lagi patah hati 🤭


Maaf agak telat up...meski begitu othor tetep minta ritual jempolnya jangan lupa ya....mode malak mulu...


***

__ADS_1


__ADS_2