Andra Dan Rea Let The Story Begin

Andra Dan Rea Let The Story Begin
Kalah Saing


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Andra dan Shane mulai sibuk wara wiri ke kantor polisi. Keduanya patuh pada prosedur dari pihak kepolisian. Sementara ini, keduanya dimintai keterangan sebagai saksi.


Di depan polisi, Andra menceritakan semua detailnya. Tidak ada yang ditutupi sama sekali. Begitupun dengan Shane.


"Kita harus menemukan Stacey, kuncinya ada padanya."


Kata Andra, dan pria itu mulai bergerak. Dia menghubungi Jack, kepala pengawalnya. Sebagai pewaris tunggal Sky Airlines, Andra punya tim yang dikirim papanya, untuk menjadi pengawal bayangannya. Meski Andra jarang sekali menggunakan mereka.


"Halo Jack, bisa kau carikan aku seseorang."


"Tentu saja, Tuan."


Andra mematikan ponselnya lalu mengirimkan data Stacey pada Jack.


Andra baru saja akan menyalakan mesin mobilnya ketika sebuah pesan masuk. Pria itu menarik satu ujung bibirnya.


"Bawa dia kembali."


Satu pesan Andra kirim pada Jack. "Settle?"


"On the way."


Shane tersenyum. Dia tahu Andra punya sedikit otak kriminal dan psycho. Jadi terkadang pria itu bisa jadi sosok yang menyeramkan ketika sisi gelapnya muncul.


"Dia pergi ke Macau menggunakan maskapaimu. Sepertinya dia baru saja menang jackpot."


Satu pesan dari Jack yang membuat Andra mengulum senyumnya.


"Cari tahu siapa yang memberikan jackpot padanya."


Sebuah emoticon hormat menjadi balasan atas pesan Andra.


"Mau bermain-main denganku rupanya."


Andra tertawa sinis. Hingga Shane bergidik ngeri dibuatnya. "Lu jangan kumat sarapnya. Pawang lu kagak ada di mari."


Andra seketika mendelik mendengar ucapan Shane.


"Dia ingin merusak reputasimu."


Perkataan Shane diangguki Andra. Dia masih menebak siapa orang yang ada di belakang Stacey.


*


*


Nana mengusak rambutnya. Ternyata laporannya bermasalah, beberapa kali dia merevisinya tapi belum balance juga. Dia sudah memeriksa ulang transaksi dari awal sampai akhir. Tapi belum juga ketemu salahnya di mana.


Beberapa kali Nana menoleh ke arah Rea. Tapi gadis itu masih sibuk dengan kertas kerjanya sendiri.

__ADS_1


"Apa?"


"Nggak balance." Rengek Nana.


Rea beranjak dari duduknya. Gadis itu menyerahkan buku besarnya, lalu mengambil alih buku besar Nana. Mereka bertukar tugas.


Nana tersenyum saking senangnya. Tinggal mengerjakan neraca rugi laba, sangat gampang untuknya. Rea sesaat fokus pada kertas kerja Nana.


"Nana, kamu keliru menghitung sewa dibayar di muka-nya."


Desis Rea gemas setelah mencocokkan buku besar dan transaksinya. Nana melongo, tidak percaya jika dia bisa membuat kesalahan.


"Mumet ciiiin."


Mungkin yang dikatakan Nana benar adanya. Tiga hari mereka berkutat dengan laporan keuangan koperasi itu. Mereka bertemu sedikit saja masalah, bisa ambyar semua laporan mereka.


"Istirahat dulu kalau capek."


Pak Bambang muncul, keluar dari ruang kerjanya. Bisa dibayangkan bagaimana pusingnya ketiga orang itu jika Rea dan Nana tidak membantu.


"Untung kalian datang. Kalau tidak. Kita gak pulang ini."


Seloroh bu Jiah. Keduanya mengerjakan laporan tahunan di ruang pak Bambang. Rea jadi heran. Jadual rapat anggota tahunan sudah ada sejak lama. Kenapa mereka baru ribut seminggu sebelum rapat diadakan.


Hari itu, hampir jam enam ketika Rea dan Nana keluar dari kantor koperasi itu. Keduanya berjalan gontai. Lelah sekali rasanya. Setelah melambaikan tangan pada yang lain. Rea dan Nana melangkah keluar dari tempat.


"Ra, gerbang barat dikunci gak ya?" gumam Nana.


*


*


"Terima kasih."


Senyum mengembang di bibir semua orang. Rapat tahunan berjalan lancar. Tidak ada interupsi dari anggota. Semua menerima laporan tahunan mereka. Rea dan Nana langsung mengembangkan senyumnya, ketika pak Bambang secara khusus menyampaikan terima kasihnya pada mereka berdua.


"Sudah biar diberesin sama cleaning service. Masih jam kerja mereka."


Bu Jiah mencegah Rea dan Nana ketika akan membersihkan meeting room itu.


"Ini bagian kalian."


Pak Bambang menyerahkan dua amplop pada Rea dan Nana. Dua gadis itu saling pandang.


"Ini apa, Pak?"


"Bagian kalian. Kan kalian sudah bantu buat laporan. Untuk staf ada bagiannya sendiri."


Lagi-lagi, senyum mengembang di bibir Rea dan Nana. Boleh ni buat beli kado untuk dibawa ke kondangannya si Fery.


"Senyumnya disimpan buat besok saja. Pak Joko sudah minta kalian besok untuk bantu di sana."


Pak Joko dari bagian seleksi calon tentara baru.

__ADS_1


"Yang benar, Pak?"


Tanya Nana antusias.


"Iya, besok kalian bisa cuci mata. Tapi di luar saja. Nanti kalian kaget kalau ikut masuk ke ruang seleksi."


Rea dan Nana saling pandang. Kepo. Mereka bertanya. Tapi tiga orang itu tidak mau memberitahu.


Benar saja keesokan paginya. Nana baru saja membuka matanya. Dan pergi ke balkon mengambil handuk. Ketika gadis itu berteriak dan masuk kembali ke dalam kamar. Rea yang baru selesai mandi, langsung ditarik Nana ke balkon.


"Apaan sih?"


"Cowok Re, cowok Rea!"


Mata Nana berbinar cerah. Sementara Rea malah terdiam. Melihat banyaknya pria yang mengantri di rumah sakit depan mereka. Tampang mereka sih boleh. Tapi kalau dibandingkan dengan Andra....mereka bukan lawan. Bahkan dengan Alex sekalipun, masih kece Alex ke mana-mana.


Nana memang sudah jomblo sejak Rea kembali. Jadi gadis itu sedang gencar-gencarnya tebar pesona. Melakukan banyak seleksi pada cowok yang dia temui.


Pak Joko langsung memberi instruksi pada Rea dan Nana mengenai apa yang harus mereka lakukan. Membagikan formulir pendaftaran, lalu menerimanya kembali. Lantas memanggil calon tentara itu untuk melakukan tes fisik.


Yang membuat suasana panas adalah suitan menggoda pada Rea dan Nana dari para calon tentara itu. Tak jarang mereka terang-terangan minta kenalan serta nomor ponsel Rea dan Nana. Hingga akhirnya, pak Joko minta Danu dan Wahyu untuk menjaga di belakang dua gadis itu. Barulah para taruna itu bisa tertib.


Dua pria itu jelas merasa senang. Mereka bisa berdekatan dengan Rea. Apalagi Wahyu yang mengincar Rea sejak gadis itu magang di sana.


"Eri Yanuar."


Rea berteriak memanggil sebuah nama. Dan seorang pria tampan bertubuh tinggi dengan kulit putih mendekat ke arahnya. Nana seketika menyenggol lengan Rea yang melongo. Wajah pria itu sekilas mirip Andra.


Rea langsung menggelengkan kepalanya. Andra tidak mungkin ada di sini.


"Doppleganger-nya Andra tu."


Bisik Nana. Rea hanya mengulum senyumnya. Seleksi itu berlangsung seharian nonstop. Bahkan untuk makan siang mereka harus bergantian dengan Danu dan Wahyu. Saat Rea dan Nana berjalan menuju ruang makan, mereka melihat pintu ruang seleksi yang sedikit terbuka.


Mata keduanya langsung membola, melihat sekilas para calon tentara itu yang berdiri hanya memakai pakaian dalam mereka. Ha? Dua gadis itu melongo, meski detik berikutnya Rea segera menarik Nana dari sana.


Nana masih setengah shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sementara Rea tidak terlalu. Dia beberapa kali melihat abs Andra, Mark, Shane dan Nicky. Rea bahkan pernah sekali melihat Andra yang hanya memakai handuk di pinggangnya.


"OMO....OMO....."


Nana terus menggumamkan kata itu. Bahkan ketika gadis itu tengah mengunyah makanannya.


"Jangan bilang kamu pernah melihat Andra begitu ya?"


Nana menebak, melihat wajah terkejut Rea hanya sesaat.


"Pernah sekali atau dua."


Nana mendelik ke arah Rea. Ini pengalaman pertama bagi Nana, tapi dia tidak menyangka kalau Rea malah sudah pernah mengalami.


"Aku kalah saing." Batin Nana.


*****

__ADS_1


__ADS_2